Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Kontroversi Puisi Pamplet Rendra


Puisi pamplet -  Terbitnya kumpulan Potret Pembangunan dalam Puisi tidak hanya menimbulkan debat mengenai persoalan estetika saja, melainkan juga melibatkan masalah hukum, yaitu ketika puisi-puisi pamplet dibacakan sendiri oleh penyairnya di depan khalayak.

Memang apabila dibaca dengan suara yang lantang, maka puisi pamplet Rendra terdengar retoris dan oratoris. Ungkapan-ungkapan dalam puisinya cenderung lugas, padat, dan tegas. Perubahan bentuk puisinya tentu amat mengejutkan publik yang umumnya tahu bahwa puisi-puisi Rendra ialah puisi yang spontan, dengan penggunaan bahasa yang sederhana, serta dengan imaji-imaji yang segar dan mempesona.

Namun saat itu, puisi-puisi pampletnya yang mengangkat tema-tema kritik sosial yang dianggap sebagian publik menjemukan. Dari sebagian puisi-puisinya, hanya beberapa yang mendekati syarat kesusasteraan seperti “Sajak Kenalan Lama” dan “Sajak Sebatang Lisong”. Selain itu, puisi-puisi pampletnya yang mengangkat masalah krisis industri dan krisis pendidikan juga mendapat kritikan.

Bahwa masalah pendidikan yang terdapat dalam puisinya merupakan satu masalah yang ia temui dan tidak mencakup kependidikan seluruhnya. Begitu pun dalam masalah industri, tidak begitu jelas duduk perkara yang ia bicarakan, sementara di kehidupan pribadinya ia menyukai produk impor, dan bertolak belakang dari pokok-pokok gagasan yang dikandung puisinya (Edi Haryono, 1994).

Segi paradoks tersebut dikaitkan dengan biografi Rendra sebagai seorang seniman sekaligus seorang awam. Namun perkara atas puisi pamplet Rendra yang paling banyak mendapat sorotan ialah peristiwa pembacaan puisinya di TIM pada 28 April 1978.

Saat itu, ketika ia sedang mendeklamasikan puisinya tiba-tiba ada orang yang melempar amoniak ke area penonton. Dua pemuda langsung muntah-muntah dan pingsan. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, Rendra ditahan di kantor polisi.

Menurut pihak berwenang, puisi-puisi Rendra dianggap menghasut masyarakat dengan data-data sosial yang menggambarkan kekeliruan mengenai hasil pembangunan.

Namun menurut Ajip Rosidi, selaku ketua DKJ, bahwa puisi-puisi Rendra berpijak dari kenyataan yang terdapat di Indonesia. Ajip mendukung upaya yang dilakukan Rendra. Hal itu pun disetujui oleh Gregorius Sugiharto, ketua Fraksi Karya di DPR, ia berpendapat: “Penahanan itu satu kehormatan baginya, sebab tentunya ia sudah memperhitungkan bahwa cara-cara protesnya itu suatu saat pasti berurusan dengan yang berwajib.” (Edi Haryono, 1994).

Sebuah esai yang ditulis Hidayat Lpd memperbandingkan kehadiran Rendra dan Pablo Neruda sebagai penyair di tengah situasi faktual masyarakat. Menurut Hidayat, apabila “Pablo Neruda berhasil menciptakan suasana politik dari peristiwa kesenian.” Sebaliknya Rendra—dengan puisi puisi pampletnya—“ingin menciptakan peristiwa kesenian dengan syair politiknya." (Edi Haryono, 1994).

Rendra dan Neruda berbeda dalam soal peletakan peristiwa kesenian dan suasana politik di dalam puisinya. Neruda lebih memprioritaskan kekuatan estetika, baru kemudian dari situ memunculkan suasana politis yang digagasnya. Sebaliknya Rendra mensubordinasi kekuatan estetika, karena hal pokok yang ditekan di dalam puisinya ialah pengutaraan gagasannya yang mudah ditangkap pembaca.

Sekalipun ia tidak total menghilangkan sesuatu yang imajinatif dari puisinya, tetapi kadarnya terlalu timpang ketimbang gagasan yang termuat dalam puisinya. Maka dari itu ada yang berpendapat sinis terhadap Rendra, puisi-puisi pampletnya dianggap sebagian kalangan telah melampaui batas-batas kesenian. Larik-larik puisinya tak lebih daripada larik-larik pernyataan politik. Namun ada pula yang membelanya, bahwa puisi-puisi Rendra adalah “refleksi keilmuan Timur”.

Karena bahasa puisi pamplet yang lugas dan tak rumit itulah, jadi penyebab mengapa puisi-puisi Potret Pembangunan dalam Puisi diterima baik oleh masyarakat. Dengan demikian pula, Rendra seakan menyeragamkan puisi pampletnya dengan selera masyarakat, sebab mereka menyukai puisi protes sosial ketimbang puisi yang kontemplatif atau religius.

Lagi pula, antara isi puisi dan kenyataan yang dirasakan masyarakat tak jauh berbeda, bahkan representasi dari situasi-situasi yang marak terjadi pada periode 1970-an. Kepopuleran Rendra, bukan lagi karena kualitas puisi-puisinya, melainkan karena nama besarnya, dan itu yang menyebabkan masyarakat selalu memadati acara pembacaan puisinya di mana pun.

Setelah menonton pembacaan puisi Rendra di TIM pada 1985, K.H. Abdurrahman Wahid berpendapat bahwa Rendra itu bagaikan “jeans belel” atau “ventilasi”. Sebagai jeans belel, apa pun yang terlahir dari Rendra akan selalu diminati oleh masyarakat. Juga sebagai ventilasi, karya-karya Rendra dapat menyediakan udara bagi ruang yang pengap, sumpeg, atau mandeg dan membutuhkan udara yang segar agar bisa keluar dari keadaan yang stagnan itu. (Redaksi/PYN)

Baca juga: Pendekatan Sosiologi Sastra

Baca juga:  Pengertian Mimetik

Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra

Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra


Pendekatan sosiologi sastra - Sosiologi sastra merupakan sebuah pendekatan yang mengungkap keterhubungan antara karya sastera dan masyarakat (publik). Aktivitas sosiologi sastra berada pada luar ranah sastra (berkebalikan dengan psikologi sastra), tetapi bukan berarti lahirnya karya sastra tanpa pengaruh lingkungan sosial-budaya di mana si sastrawan tersebut tinggal dan hidup.

Dalam hal ini juga, pemikiran sosiologi sastera Andre Hardjana berangkat dari situasi sosial-budaya sebagai landasan bagi sasterawan untuk menciptakan karya kreatifnya. Karena begitulah yang terjadi pada roman-roman awal kesusasteraan modern Indonesia yang banyak mengangkat realitas adat-istiadat setempat. Andre berkata: “..bahwa roman-roman awal sastra Indonesia menunjukkan tata kemasyarakatan yang ada dan sekaligus juga melukiskan tafsiran dari tata kemasyarakatan tersebut.”

Tetapi pendekatan yang terlampau sosiologis terhadap karya sastera tidaklah dapat dijadikan acuan mutlak untuk menentukan makna dan nilainya, sebab hal itu bisa menyebabkan pandangan yang fragmental. Pengidentikkan unsur-unsur tertentu di dalam karya sastra dengan sesuatu di luar karya sastra sebagai suatu kebenaran merupakan satu contoh dari penyempitan interpretasi. Hasilnya berupa dogmatisme maupun fanatisme yang membela kepentingan-kepentingan yang bersifat politis ketimbang dari cara mendekati karya sastra itu sendiri.

Lebih jauh Andre mengatakan demikian: “Pembahasan sastra semata mata atas suatu karya sastra politik adalah dangkal dan menyesatkan karena tidak sampai pada titik-titik yang tersembunyi di balik peristiwa sastra itu.

Dalam pada itu, Andre juga tidak mengesampingkan posisi sastrawan sebagai pihak yang memproduksi karya sastra. Ia berpendapat:

“Akhirnya memang harus diakui bahwa seorang pengarang dapat belajar
pengetahuan sosial dan berlatih kepekaan sosial dari ilmu sosiologi, hingga
dapat membuat sastranya lebih berbobot dan mesra dalam pergulatan
dengan dunianya dan lebih terasa nyata bagi pembacanya. Tetapi terlalu
menonjolkan pengetahuan sosial, termasuk politik dan ideologi, tanpa
dibarengi oleh kelincahan menulis dan daya khayal yang kuat hanya akan
melahirkan tulang kerangka ideologi yang tidak berdarah daging.”

Sementara itu, Robert Escarpit membahas sosiologi sastra dengan menggunakan fakta sastra. Fakta sastra terbagi atas pencipta, karya, dan publik. Masing-masing fakta sastra memiliki “persoalan teknis” sendiri.

Di sepanjang uraiannya mengenai sejarah perkembangan sosiologi sastra, ia sampai pada maksud utama yang hendak dibahasnya, yaitu masalah politik perbukuan. Ia menyebutkan bahwa sosiologi sastra harus dapat memperhatikan kekhasan fakta sastra serta memberikan keuntungan kepada para pengarang dan pembaca dengan cara membantu ilmu sastra tradisional, baik sejarah maupun kritik, agar menjadi tugas-tugas khusus yang dicakupnya.

Dengan demikian, pernyataan Escarpit itu sejalan dengan simpulan Sapardi Djoko Damono, bahwa sastra dilihat sebagai buku, tidak hanya pikiran kita yang mempertanyakan bagaimana dan seperti apa sastra itu seharusnya.

Sedangkan dalam buku Pedoman Penelitan Sosiologi Sastra Sapardi melihat kecenderungan penelitian dalam sosiologi sastra dari aspek dokumenter yang berlandaskan pada keadaan zaman sebagai cerminan sosial. Sapardi juga mengangkat gagasan Swingewood mengenai slogan “sastra sebagai cerminan masyarakat”. Dalam pada itu, slogan itu seringkali melupakan pengarang, kesadaran, dan tujuannya. Ketiga hal itu melahirkan peralatan sastra tertentu yang tidak sekadar menggambarkan masyarakat.

Karena itu, untuk melakukan pendekatan sosiologi, peneliti dan kritikus sastra harus memerhatikan dua hal berikut:
  • Peralatan sastra murni yang dipergunakan pengarang untuk menampilkan masa sosial dalam dunia rekaannya, dan
  • Pengarang itu sendiri, lengkap dengan kesadaran dan tujuannya dalam menulis karyanya. (Redaksi/PYN)
Baca juga: Pengertian Mimetik

Pengertian Mimetik

Pengertian Mimetik dalam sastra


Pengertian mimetik - Menurut asal bahasanya, mimetik berasal dari bahasa Yunani, yakni mimesis yang sejak dahulu digunakan sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara karya seni dan kenyataan. Pada awalnya istilah mimesis mencuat ke permukaan karena perdebatan antara Plato dan Aristoteles.

Perdebatan tersebut terus berkembang dengan konsep-konsep yang diperbaharui hingga di kemudian hari ada seorang sarjana, yakni M.H. Abrams, yang membagi empat pendekatan dalam sastra lewat bukunya The Mirror and the Lamp, antara lain pendekatan objektif, pendekatan ekspresif, pendekatan pragmatik, dan pendekatan mimetik.

Seperti diartikan dari bahasa Yunani, mimetik juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang memiliki terjemahan yang berlainan: imitation dan representation. Jan van Luxemburg dkk berpendapat bahwa sastra tak dapat dimungkiri berasal dari kenyataan, begitu pun sebaliknya terdapat tuntutan dari sastra agar mencerminkan kenyataan.

Agar lebih jelas pangkal pokok pembicaraan mengenai mimetik, agaknya perlu kembali menyimak perdebatan Plato dan Aristoteles mengenai hubungan antara karya seni dan kenyataan dari zaman Yunani kuno.

Gagasan mimetik Plato dipengaruhi oleh pendirian filsafatnya yang bersifat hierarkis. Seperti pikirannya mengenai tataran tentang Ada yang masing-masing mencoba melahirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Bagi Plato, dunia empiris tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, peneladanan, pembayangan ataupun peniruan.

Dalam pandangan demikian, seni hanya dapat menyarankan kenyataan atau merupakan copy atas kenyataan (realitas) yang ada. Seperti dikemukakan oleh Matius Ali, bahwa mimetik merupakan tiruan dari yang ”asli” dari dunia Idea. Plato menyebut karya seni sebagai ”tiruan dari” (mimesis-memeseos). Atau dengan kata lain, karya seni sebenarnya adalah tiruan dari tiruan; tingkat kenyataan ”asli” berasal dari tingkat dunia Idea.

Kesempurnaan yang ideal atau mutlak tidak terdapat dalam suatu karya seni, meskipun Plato mengakui sendiri bahwa ”seni yang sungguh-sungguh” berupaya mengatasi kenyataan sehari-hari. Yang dimaksud seni yang sungguh-sungguh itu adalah seni yang benar atau truthful, dan si seniman harus bersikap rendah hati atau modest.

Oleh sebab itu, mengapa Plato menganggap kerja tukang lebih mendekati kenyataan ketimbang seniman. Ia juga menampik kehadiran puisi, sebab puisi (termasuk seni lainnya, kecuali seni musik) hanya mengumbar nafsu-nafsu rendah yang menyebabkan irasionalitas berkembang dalam suatu negara, bukannya justru memperkuat rasio atau nalar.

Di pihak lain, Aristoteles berlainan pendapat dengan Plato. Aristoteles mengatakan bahwa seni justru ”menyucikan jiwa manusia” melalui proses yang dinamakan katharsis. Penekanan terhadap nafsu-nafsu rendah disanggah Aristotels sebab karya seni justru membebaskan dari nafsu rendah tersebut atau dalam kalimat Teeuw: ”karya seni mempunyai dampak tetapi lewat pemuasan estetik keadaan jiwa dan budi manusia justru ditingkatkan, dia menjadi budiman.”

Aristoteles juga berpendapat bahwa seniman lebih tinggi hasil kreativitasnya daripada tukang karena karya seni menampilkan dunia yang tidak sekadar meniru, melainkan menampilkan kemungkinan-kemungkinan dunia melalui tafsir atau interpretasi. Karya seni tidak berhenti begitu saja setelah selesai diciptakan oleh seniman, tetapi terus dalam keadaan ”baru” (terutama untuk karya seni yang bermutu) pada setiap pembaca.

Jika Plato mengatakan seni adalah imitasi dari suatu keterangan yang bijaksana, sebagai perwujudan suatu idea, maka Aristoteles mengatakan bahwa seni tidak hanya tiruan dari suatu benda yang ada di alam, tetapi lebih sebagai ”tiruan dari sesuatu yang universal” (imitation of something that is universal).

Apabila ditelusuri ke sejarahnya, maka mimesis pertama-tama berurusan dengan hasrat untuk meniru segala sesuatu, yakni ketika bersentuhan dengan alam semesta. Hasil-hasil kebudayaan prasejarah membuktikan hal itu melalui gambar-gambar relief, batu-batu yang dipahat seperti arca, atau candi.

Muhammad Al Fayyadl mengatakan demikian: ”Hasrat mimetik ini tak pernah padam, karena sepanjang hidupnya manusia selalu mengimpikan dirinya seperti sesuatu yang ia tiru. Impian ini merupakan bentuk kerinduan akan arkhe yang transenden dan ideal.”

Pengertian mimesis secara etimologi dibagi menjadi oleh Fayyadl dengan menyitir pendapat Derrida: (1) kehadiran yang menunjuk pada kemampuan sesuatu untuk menghadirkan, memproduksi, melahirkan, dan menampakkan dirinya dalam suatu bentuk citraan, kesan, atau impresi; (2) hubungan antara dua hal yang setara dan tidak memiliki prioritas ontologis. (Redaksi/PYN)

Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Fungsi Puisi untuk Masyarakat


Fungsi puisi - Di luar proses penciptaanya, puisi dapat memberikan impuls positif untuk masyarakat. Seperti diungkapkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kegiatan berpuisi yang mencakup mencipta maupun membaca puisi dapat menyokong “kebulatan jiwa” manusia yang telah terkikis oleh rasionalisme dan materialisme.

Takdir mengatakan bahwa rohani manusia membutuhkan penyeimbang untuk mengatasi merosotnya perasaan, intuisi, tanggung jawab, dan solidaritas yang kini semakin terkikis kemajuan teknologi. Bisa dikatakan kehadiran puisi bagi masyarakat dapat menghaluskan budi pekerti manusia. Pasalnya, puisi adalah cerminan keseimbangan karena membuat pembaca menjaga jarak dengan realitas.

Itu sebabnya, Takdir menyambut baik perpuisian Indonesia yang menurutnya telah sampai pada tingkat “indivudualisme” yang jauh. Pengertian individualisme tersebut pernah ia ungkap dalam sebuah esainya: “Agaknya, bedanya dengan individualis yang lain ialah bahwa individualisme saya adalah membebaskan diri untuk kemauan sendiri mengikatkan diri kembali kepada
masyarakat dan kebudayaan.”

Dengan demikian, corak-corak baru dalam perpuisian di Indonesia yang timbul pada suatu periode tertentu merupakan gejala-gejala yang sehat, tetapi mereka (baca: penyair) tidak hanya sekadar melepaskan diri dari bayang-bayang tradisi kesusasteraan para pendahulunya, melainkan ikut-serta secara aktif terlibat dalam kehidupan masyarakatnya.

Tujuan itu dapat tercapai dengan mengharapkan agar, “puisi kita pun mesti naik meninggi dan lebar meluas, sehingga menjadi tenaga positif dalam krisis kebudayaan semesta yang meliputi dunia sekarang.”

Pada pihak lain, Octavio Paz melihat puisi sebagai suara kalbu atau suara asali dari penyair. Puisi adalah lambang dari kejujuran; suara puisi adalah kebenaran yang paling mendasar. Dalam kalimatnya ia mengatakan: “... (puisi) mengingatkan kita tentang realitas-realitas tertentu yang terkuburkan, memulihkan kembali realitas-realitas itu ke kehidupan dan menampilkannya.”

Ia juga mengatakan bahwa puisi merupakan suara lain, the other voice, di antara agama dan revolusi. Bagi Paz, puisi baru dapat dikatakan modern apabila “sifat dan fitrahnya yang mendalam, juga karena suara dan pengaruhnya yang antimodern, suara yang mengekspresikan realitas-realitas yang tetap, terhadap, dan jauh lebih tua dibanding perubahan-perubahan sejarah.”

Meskipun situasi zaman terus berubah, dari abad ke abad, tetapi nilai puisi yang esensial itu tak akan terpengaruh oleh segala bentuk situasi, sebab, “ketika mereka (penyair) menjadi diri mereka sendiri, pada saat itu pula, mereka adalah orang-orang lain.”

Hakikat puisi yang terdalam tidak ditentukan oleh penemuan-penemuan dari pemikiran tertentu manusia, sebab hakikat itu telah lahir semenjak manusia ada dan telah berusia tua maupun muda dan juga lintas zaman dan generasi. (Redaksi/PYN)

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 2)



bahasa Indonesia, ejaan yang disempurnakan, EYD

Bahasa Indonesia - Bahasa jurnalistik dalam ragam bahasa Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dari ragam bahasa lain. Meski begitu sesungguhnya bahasa jurnalistik berpengaruh besar terhadap pembaca. Pasalnya, ketika pembaca membaca berita setiap hari, maka pembentukan kesadaran berbahasa bertumpu terhadap apa yang ia baca.

Bagaimana jadinya jika pemakaian bahasa Indonesia dalam ranah jurnalistik masih kacau-balau? Tentu hal ini bisa mengacaukan pemahaman pembaca terhadap bahasa Indonesia. Karena itu, sudah seharusnya jurnalis menjadi garda depan penjaga bahasa Indonesia lantaran ia setiap waktu berkecimpung dan bercengkerama dengan bahasa.

Setelah kami menerbitkan artikel Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 1), maka perkenankan kami menerbitkan bagian dua ini. Selamat membaca dan ditunggu kritik serta saran dari pembaca.

*** 

1. “Dari penjelasan petugas medis di RSUD Dr Fauziah Bireuen, Sofyan, menyebutkan ketiga korban penembakan yang terjadi 31 Desember lalu, yakni Daud, Suparno, dan Sunyoto telah diberangkatkan dari Bireuen, kemarin pukul 05.00 WIB.”

Kata depan dari justru merusak kalimat, sebaiknya dihapus agar subjek, predikat, dan objek jelas.

2. “...antara lain keanekaragaman burung cenderawasih, burung kasuari, kanguru pohon, kanguru tanah, walabi, buaya, dan beberapa jenis satwa lainnya.”

Karena sudah menggunakan antara lain, frase dan beberapa jenis satwa lainnya dihapus saja. “Antara lain” bermakna tidak semua disebut. Kalimat dapat diubah: ...antara lain keanekaragaman burung cenderawasih, burung kasuari, kanguru pohon, kanguru tanah, walabi, dan buaya.

3. “Said Qosim imigran asal Afghanistan yang selamat, dalam pengakuannya kepada P3KSJ, dia mengeluarkan uang Rp36 juta untuk membayar calo yang menjanjikan bisa tiba ke Australia.

Dalam kalimat ini subjek tumpang-tindih. Kalimat dapat diubah.

Sain Qosim, imigran asal Afghanistann yang selamat, dalam pengakuannya kepada P3KSJ mengatakan, mengeluarkan uang Rp36 juta untuk membayar calo yang menjanjikan bisa tiba ke Australia.

4. Dengan pemanfaatan komponen dalam negeri bisa menekan harga cukup signifikan dalam pembelian pesawat nirawak.

Kata "dengan" merusak struktur kalimat dan dapat diganti.

a.                   Pemanfaatan komponen dalam negeri bisa menekan harga cukup signifikan dalam pembelian pesawat nirawak.
b.                  Dengan pemanfaatan komponen dalam negeri, harga yang cukup signifikan dari pembelian pesawat nirawak dapat ditekan.

5. “MESKI Diego Michiels mengaku tidak ada tekanan, Manajer Pelita Jaya Lalu Mara Satria Wangsa dan agen Diego, Ron Ravel, sangat yakin jika pemain keturunan Indonesia dan Belanda itu berbohong.”

Kata penghubung jika bermakna pengandaian. Karena itu, tepat apabila diganti kata bahwa.

6. “Kini, setelah diprotes, proyek untuk mencegah kemalasan anggota dewan menghadiri rapat itu diturunkan harganya menjadi Rp 3,7 miliar.”

Kalimat mengandung bentuk cakapan. Kalimat dapat diubah.

Kini, setelah diprotes, harga proyek untuk mencegah kemalasan anggota dewan menghadiri rapat itu diturunkan menjadi Rp3,7 miliar.

7. "Kelompok-kelompok milisi saling berlomba untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan."

Kata berlomba sudah bermakna resiprokal, lebih baik kata saling dihilangkan.

8. “polisi yang ditugaskan menjaga....

Kata yang tepat bukan ditugaskan menjaga, melainkan ditugasi menjaga. Kata ditugaskan digunakan jika struktur diubah menjadi 'penjagaan ditugaskan kepada polisi'.

9. “Jika masuk dalam siaga 4, maka pembaruan data akan dilakukan pada pukul 18.00 WIB.”

Kalimat tidak punya induk kalimat karena diawali tanda hubung jika dan maka. Kata masuk dalam dapat dilugaskan menjadi 'masuk'. Kalimat ini dapat diubah.

Jika debit air masuk siaga 4, pembaruan data akan dilakukan pada pukul 18.00 WIB.

10. “mengaku optimis"

Kata sifat yang tepat bukan optimis, melainkan optimistis.

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 1)


Bahasa Indonesia - Menggunakan bahasa nasional terutama dalam ragam tulisan merupakan hal yang sangat penting mengingat bangsa Indonesia sudah memiliki bahasa resmi yang mulai diikrarkan dalam Sumpah Pemuda hampir satu abad yang lalu.

Sebagai bangsa yang memiliki bahasa resmi sudah seyogianya kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dalam tulisan kali ini, kami mengulas penggunaan ragam tulisan yang salah kaprah dalam surat kabar. Agar lebih mudah dibaca, jadi kami buat poin per poin disertai penjelasan singkat.

Dengan demikian, selamat membaca dan menganalisis. Kami tunggu kritik dan saran jika memang ulasan di bawah ini banyak yang kurang tepat.

***

1.  "Terbang dengan ukuran lebih kecil harganya lebih murah dan yang lebih besar tentu saja lebih mahal".

Kalimat demikian mengandung unsur cakapan. Agar baku dan menegaskan subjek, dapat diubah: "Harga terbang dengan lebih kecil lebih murah dan yang lebih besar tentu saja lebih mahal".

2.  Frasa berhasil diidentikkan lebih pas diganti dengan bisa/dapat diidentikkan atau berhasil mengidentikkan.

3. "Bila selama ini semua orang hanya mengetahui Yao Ming, tapi ternyata masih banyak sejumlah pemain Asia lainnya yang turut meramaikan kompetisi bola basket paling bergengsi itu".

Penggunaan kata hubung tidak tepat dan kata banyak sejumlah juga berlebihan. Kalimat dapat diubah menjadi dua bagian.

a.         Bila selama ini semua orang hanya mengetahui Yao Ming, ternyata masih banyak pemain Asia lainnya yang  turun meramaikan kompetisi bola basket paling bergengsi itu.
b.         Selama ini semua orang hanya mengetahui Yao Ming, tetapi ternyata masih banyak pemain Asia lainnya yang turun meramaikan kompetisi bola basket paling bergengsi itu.


4. "HARI pertama warga Ibu Kota yang beraktivitas di kawasan Jalan Sudirman di tahun 2012 harus melihat melintasi jalan yang buruk."

Kalimat belum berstruktur baik dalam subjek, predikat, dan objek. Kalimat itu dapat diubah.

Pada hari pertama beraktivitas di kawasan Jalan Sudirman pada 2012, warga Ibu Kota harus melihat dan melintasi jalan yang buruk.

5. "Di rumah itu tidak hanya jadi tempat berkumpulnya para penggila sepeda tua".

Kata depan di kalimat ini merusak struktur kalimat. Sebaiknya, kata depan di dihapus.

6. Judul 'Longsor, Jalur Wonosobo-Purworejo Putus' lebih baik diubah menjadi ‘Longsor Memutus Jalur Wonosobo-Purwerejo’.

7. Minggu (1/2) malam pukul 21.30 WIB. Kata malam harus dihilangkan karena pukul 21.30 WIB bermakna malam.

8. Penulisan tenggat waktu berlebihan karena tenggat sudah bermakna ‘batas waktu’.

9. "Partai-partai politik kian lama kian pragmatis dalam memunculkan pemimpin dan kader terbaiknya."

Kata ganti –nya tidak tepat karena bermakna jamak, sebaiknya kader terbaik mereka. Termasuk pula frasa banyak calon-calon, sebaiknya diganti banyak calon.

10. "antardua organisasi" dapat diganti dengan yang lebih tepat, yakni "di antara kedua".

Surat Singkat tentang Esai

Esai, Asrul Sani, Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer

Esai – Orang katakan bahwa sebuah esai lahirlah. Dan dengan ini orang hendak mengatakan bahwa yang lahir itu bukan kisah dan bukan sajak.

Toh sebelumnya kita belum tahun juga lagi apa sebenarnya yang telah muncul itu, karena di samping perkataan esai itu ada lagi perkataan “telaah” (studie) yang dalam pelaksanaannya hampir menyerupai esai.

Tak usah dikatakan lagi bahwa esai itu pada hakikatnya adalah percobaan, tetapi telaah pun sebetulnya tidak lebih dari percobaan bahkan kalau kita teruskan, maka roman pun, sajak pun pada dasarnya adalah percobaan.

Esai adalah pintu bersembunyi bunyi dari kehendak yang hendak mengatakan “beginilah sebenarnya”. Jadi, esai adalah permintaan kerelaan. Ini barangkali membikin penggolongan ke dalam esai ini menjadi sesuatu yang bersifat main sandiwara, tetapi semenjak segala ayam-ayam di jalan raya hampir telah umum mendengar perkataan “esay”, maka tidak ada gunanya kita mempertengkarkan apakah seorang esais lebih rendah atau lebih tinggi dari penyair atau pengarang roman (perasaan ini mungkin timbul, karena orang pernah mengatakan bahwa pengeritik sebetulnya adalah seniman yang kandas), seperti juga tidak ada gunanya mempertengkarkan, apakah jantung berdebar karena pekerjaan urat saraf atau otot.

Dalam menuliskan rententan kalimat yang tertera di atas ini, saya berusaha mengemukakan hal-hal yang berdasarkan karangan-karangan yang umum dianggap redaktur-redaktur atau pengertik kesusaasteraan sebagai “esay”. Seringkali saya harus bantah bahwa yang dikemukakan itu adalah esai.

Esai belum lagi begitu lama dianggap sebagai bentuk seni dalam seni sastera. Orang tidak begitu pasti untuk dapat menggolongkannya kepada salah satu bentuk yang ada. Apakah penciptanya sarjana ataukah seniman?

Akhirnya orang mengatakan juga, bahwa esai harus mengandung nilai keindahan. Saya tidak menentang perkataan “keindahan”, tetapi tafsir dari perkataan ini begitu banyak dan begitu bergalau, sehingga saya berasa seolah-olah saya tidak bertambah maju oleh karenanya.

Tetapi biarpun kita biarkan perkataan “keindahan” ini menyinggung kita seperti angin pagi mengelus-elus wajah, masih juga kita akan bertanya, apa betulkah yang indah itu adalah sesuatu yang membuat kita senang.

Kaum eksistensialis mengatakan bahwa kehidupan ini ditandai oleh kemulaan. Ini ada juga benarnya. Apakah kita sekarang harus mengatakan bahwa hidup ini tidak indah dan dengan demikian kita mengambil pisau belati lalu dengan cermat memotong-motong usus kita sampai bisa dijadikan sate?

Dengan perkataan “keindahan” belum lagi kita dapat menentukan tempat untuk esai.
Kebimbangan untuk mula-mula mengakui esai sebagai hasil seni, ialah karena esai lebih lagi daripada sajak bergantung pada zaman hidup pembikinnya, sehingga harga abadinya agak dilalaikan orang.

Tetapi kalau kita temukan esai-esai besar seperti esai Montaigne misalnya, atau Surat-Surat Parsi Montesquieu yang juga dapat dianggap esai yang sampai sekarang masih “laku”, maka ketakutan akan dimakan waktu ini segera dapat dihindarkan.

Ada esai yang panjang umurnya dan sajak yang pendek umur. Akhirnya esai adalah puisi. Seperti juga penyair mendasarkan sajaknya kepada pengalaman roh dan jadadnya, demikian pula esais menghendaki pengalaman hidup.

Pengarang yang memendam dirinya dalam kamar studie tidak mungkin dapat “menemui” esai yang sebenarnya, di mana suara hati jelas kedengaran seperti di dalam sajak-sajak, di mana segala-galanya diperlagakan seperti Cervantes memperlagakan tokohnya dalam Don Quixote, seperti Flaubert dalam Madame Bovary—ah, akhirny karangan-karangan yang disebut di atas ini adalah esai-esai yang diperjalang—dan di mana tidak ditemui…, teori-teori mentah, di mana kita temui “sajak-sajak” dalam kumpulan yang dipisahkan.

Ia bersifat kesusasteraan bukan karena masalahnya tetapi karena sesuatu yang mula-mula hanya memang dimengerti oleh pengarang, tetapi yag kemudian tidak lagi dapat dipisahkan dari darah dagingnya.

Ia mungkin sekali mengemukakan sekaligus sepuluh soal—seperti pengarang roman mungkin mengeluarkan sepuluh tokoh—tetapi tiap-tiap soal, tiap-tiap kata, tiap-tiap citaat ada kewajibannya, seperti juga tiap-tiap garis dan warna punya kewajiban dalam lukisan.

Tidak ada keberatannya mengemukakan contoh-contoh dari buku-buku ini sebagai titik lompatan, seperti yang Pramoedya Ananta Toer sering lakukan. Sebagai salah sebuah contoh dapat kita baca Kebalauan Hari Ini II, kepunyaan Ananta Toer dalam Mimbar Indonesia. Ia mengambil Vercors, Das Buch le Grand dari Heine dan banyak yang lain-lain lagi.

Tetapi pengambilan-pengambilannya ini tidak punya fungsi sama sekali, bahkan juga tidak sebagai sesuatu yang dapat memperkuat “tension” karangannya. Akhirnya kita mendapat kesan bahwa Ananta Toer hanya “melagakkan” bahwa dia akhir-akhir ini memang ada membaca buku, biarpun inti buku itu sering-sering lepas dari tangkapannya.

Dengan demikian, dapatlah esai dianggap hasil seni.

Saudara akan mengatakan bahwa pertandaan ini akan meragukan dalam pembagian kesusasteraan. Saya tidak mau melingkari sanggahan ini: biarpun tidak dengan pertandaan yang saya kemukakan di atas, pembagian itu memang sulit juga dijalankan.

Prosa dan puisi adalah seolah-olah dua sungai yang berhubungan, tidak diketahui mana batas air sungai yang satu dengan yang lain.

Perbedaan antara sajak dan esai ialah lebihnya kadar ideologi dalam esai.


Siasat, 1 April 1951


(Asrul Sani, Surat-Surat Kepercayaan, ‘Surat Singkat tentang Esai’, Pustaka Jaya: 1997, halaman 130-132)

Baca juga tulisan Asrul Sani yang lain: Chairil Anwar

Chairil Anwar

Chairil Anwar, puisi, penyair

Chairil Anwar - Pada tanggal 28 April lima tahun yang lalu, penyair Chairil Anwar Meninggal. Masa lima tahun adalah masa yang lama juga bagi kehidupan manusia, tetapi terlalu singkat bagi kehidupan puisi.

Toh banyak sekali yang telah terjadi dalam masa lima tahun terhadap puisi yang ditinggalkan oleh penyair ini. Sajak-sajaknya yang dulu hanya dikenal oleh segolongan kecil, sekarang dikenal oleh golongan yang lebih luas.

Ia yang mula-mula dianggap orang dewa, sekarang mulai disangsikan dan pengagumnya seolah-olah turun satu demi satu. Tetapi kebanyakan pengagum ini yang kemudian menjadi epigonnya tidak tahu di mana letaknya prestasi penyair ini yang terbesar. Lagi pula, pengagum-pengagum ini begitu naif, sehingga mereka menganggap penyair ini seolah-olah satu kemutlakan, satu simbol.

Chairil Anwar bukan simbol. Ia adalah penyair yang mulai menulis dalam zaman Jepang, meninggal sebelum penyerahan kedaulatan, meninggalkan beberapa genggam sajak.

Tempatnya sebagai penyair masih harus dipastikan. Kita baru dapat memastikan bahwa ia adalah “pengubah” yang besar dalam soal bahasa. Dengan dirinya sempurnalah perebutan bahasa dari tangan guru-guru, dan mulai saat itu bahasa Indonesia kembali ke tangan penyair.

Mulai saat itu puisi bukan lagi hasil percobaan tata bahasa yang telah ditetapkan hukum-hukumnya, tetapi pengucapan perasaan dan pikiran.

Harga penyair harus dinilai menurut buah tangannya yang terbesar dan bukan menurut buah tangan yang paling kandas. Padanya diminta untuk memuatkan perasaan-perasaan dalam kalimatnya. Sampai ke mana ia dapat mempergunakan bahasa untuk menyimpan perasaan ini yang nanti harus keluar kembali jika dibaca orang.

Chairil Anwar belum lagi diterakan. Pada pengeritik kesusasteraan Indonesia belum lagi membuat pembahasan yang lengkap tentang pekerjaannya. Orang masih dapat menulis pelbagai disertasi perihal penyair ini.

Apa yang sampai saat ini terjadi, ialah pelbagai orang mengeluarkan sekadar pendapatnya tentang Chairil. Dalam bentuk catatan, dalam bentuk ulasan, dalam bentuk sambutan, dan sebagainya.

“Gelanggang” menyetop pembicaraan perihal hubungan Chairil Anwar dan MacLeish karena soal ini dalam pelbagai karangan yang disiarkan dalam koran-koran lain telah condong kepada pertentangan dari “pendapat saya tentang soal ini” dan “pendapat itu orang tentang soal ini” menjadi “pendapat saya” dan “pendapat itu orang”.

Bukan karena kita tidak hormat kepada pendapat pelbagai sasterawan, tetapi karena kita tidak hendak memberi alasan untuk percakapan yang tidak subur.

Tiada orang yang akan dapat memberikan kata kepastian, bukan saja karena orang harus bekerja dengan hipotesis-hipotesis, tetapi juga karena hal yang patut diperhatikan ialah jika orang berkata “plagian” dan “plagiat” adalah dua. Soal ini tentu penting, tapi kepentingannya terletak dalam hubungannya dengan yang lain. Sedangkan masalah telah dipasang sedemikian rupa, sehingga “yang lain” itu terpaksa dikesampingkan.

Percakapan sonder itu tidak subur, hanya membuang waktu dan menghabiskan ruang. Tapi, kecuali karena jasa-jasanya bagi seni puisi Indonesia, antara lain karena itu, kami kenang kembali penyair Chairil Anwar di sini.

Ia seolah-olah dapat dibandingkan dengan sebidang tanah luas yang kosong yang belum dikerjakan.

Kita tidak tempatkan fotonya kali ini, tetapi tulisan yang paling akhir sekali ia tulis. (Catatan ini ia tulis dalam buku peringatan pelukis S. Tino sewaktu ia telah terbaring di tempat tidur, beberapa hari sebelum ia meninggal.

Di atas tulisan itu, Tino—sebagaimana dapat kita lihat di atas—telah menyematkan daun cemaran yang diambilnya dari karangan bunga waktu Chairil dikebumikan).

Apa yang ia tuliskan bukan barang baru, tapi memperlihatkan beberapa segi dari hal yang mengisi kehidupannya. Jika orang mau mengerti tulisan ini, orang harus hubungkan dengan tulisan-tulisannya yang lain—orang patut sadar ini, karena Chairil Anwar tidak pernah memanggul senjata.


Siasat, 2 Mei 1954


(Asrul Sani, Surat-Surat Kepercayaan, ‘Charil Anwar’, Pustaka Jaya: 1997, halaman 130-132)


Baca juga: Tiga Muka Satu Pokok  
Baca juga: Surat Singkat tentang Esai 

Pablo Neruda, Sebuah Biografi

Pablo Neruda - Pablo Neruda adalah salah satu penyair yang menjadi tonggak penting kehidupan sastra di Amerika Latin.

Ia cukup kompleks: sering kali berada antara drama dan lelucon, di mana kehidupan yang pribadi dan publik, estetika dan politik, lelaki dan seorang diplomat, merupakan dimensi yang tidak bisa dipisahkan.

Pablo Neruda, penyair Amerika Latin
Sumber gambar: colombotelegraph

Neruda mungkin adalah satu-satunya penulis di zaman modern yang bisa disandingkan dengan Victor Hugo. Selain menjadi penyair yang sangat berbakat dan produktif--dengan menghasilkan lebih dari 30 buku puisi yang tebalnya lebih dari empat ribu halaman--sejak usia dini ia terlibat dalam persoalan nasional dan internasional dengan gayanya yang naif, berani, sembrono, dan bahkan kontroversial.

Pada akhir tahun 1920-an, Neruda menemukan dirinya terlempar di Timur Jauh. Ia antara lain menyaksikan asap opium dan wiski murah serta pergolakan di kerajaan Inggris. Kurang dari satu dekade kemudian, Neruda berada di Spanyol saat pecahnya Perang Sipil: sebuah peristiwa yang mengubah dunianya menjadi terbalik dan akhirnya semakin militan dengan memihak komunisme.

Sementara itu, pada tahun 1940-an, sebagai anggota partai komunis, Neruda bertugas di senat Chili, di mana protesnya yang berani menentang pemerintahan yang korup dan menindas membuat jabatannya dilucuti dan dipaksa bersembunyi. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, ketaatan Neruda yang tak kenal menyerah pada garis "kiri" yang radikal sering membuat ia terjebak dalam suasana yang panas, terutama setelah desas-desus yang berkepanjangan tentang peristiwa keji di Uni Soviet.

Pada tahun-tahun terakhirnya, meski kesehatannya memburuk, Neruda berkampanye untuk membawa sosialisme ke negara asalnya, Chili. Namun hidupnya rasanya semakin sesak dan pendek lantaran melihat Jenderal Augusto Pinochet menghancurkan mimpi yang telah ia perjuangkan dengan gigih.

Entah bagaimana, di penghujung akhir hidupnya, pena Neruda sepertinya tidak pernah beristirahat. Ia terus menulis sajak, seolah mata air sajaknya tak pernah kering.

Karena itu, jika digambarkan, tidak kebetulan Neruda tampil seperti karakter dalam kebanyakan novel, drama atau cerita, juga seperti Michael Radford yang mengesankan dalam film Il Postino (1994), yang didasarkan atas novel Antonio Skarmeta yang berjudul Ardiente Paciencia (Burning Patience, 1985).

Tidaklah mengherankan jika kehidupan yang begitu penuh dengan hiperbola dalam segala hal telah memunculkan reaksi-reaksi ekstrem yang bermotif politik dari para kritikus dan penulis biografi Neruda, di antaranya, Volodia Teitelboim yang tampak membelokkan kisah Neruda ke arah hagiografi.

Dengan demikian, tentu saja sulit, bahkan mungkin dianggap kurang pantas, untuk tetap sepenuhnya tidak memihak ketika berhadapan dengan kehidupan yang sangat partisan dari Neruda.

Di sepanjang pengisahan buku ini, Dominic Moran agaknya tidak ragu membuat pandangan tentang hal-hal kontroversial Neruda: perlakuan terhadap berbagai wanita, kualitas dan nilai puisi politiknya, serta perilaku "samar-samar"-nya yang mengundang pertanyaan publik.

Untuk lebih jelas melihat sosok Neruda di mata Deminic Moran, kamu unduh ebook-nya secara cuma-cuma di bawah ini.

Unduh gratis ebook: Pablo Neruda

Teori Puisi Modern

Teori puisi modern - Kamu perlu ketahui bahwa T.S. Eliot, T.E. Hulme, dan Ezra Pound adalah tiga tokoh yang terkenal dan menjadi fenomena sastra di awal abad ke-20 karena membawa angin modernisme.

Mereka bertiga membuat suatu revolusi pada puisi Anglo-Amerika dengan alasan bahwa bentuk dan tema puitik tradisional sudah tidak bisa lagi merangkum pengalaman dunia modern.

puisi, sajak, sastra Inggris
Sumber gambar: irishtimes

Boleh dikatakan bahwa mereka menjadi pionir dalam sajak bebas dengan makna yang lebih luas dari gaya puisi tradisional Anglo-Saxon waktu itu.

Dalam kariernya yang singkat, T.E. Hulme memberikan dorongan intelektual untuk gerakan imagis Pound, yang disebut Eliot sebagai "titik awal puisi modern".

Di samping itu, puisi Eliot yang berjudul "The Waste Land" serta kumpulan puisi Pound yang berjudul "Cantos" menjadi terkenal lantaran teknik dan inovasinya yang berpengaruh dalam puisi bahasa Inggris.

Akan tetapi, bukan hanya eksperimen puitik yang membuat mereka menjadi penyair penting di abad 20.

Dalam segi pemikiran, Eliot, Hulme, dan Pound sejatinya membentuk dan mewariskan modernisme kepada masyarakat Barat. Mereka telah membangun sistem yang sangat berpengaruh pada nilai-nilai sastra melalui esai-esai yang kritis.

Namun, beberapa kritik terbaru belakangan ini mengenai awal kesusastraan abad ke-20 menyebutkan bahwa pemahaman kita tentang periode kesusasteraan agaknya dibatasi oleh sekelompok modernis tersebut sehingga mempengaruhi nilai-nilai sastra yang kita anut di kemudian hari.

Barangkali kita harus menolak dominasi teori sastra mereka dengan perdebatan yang lebih banyak lagi, terutama dalam ukuran sastra di awal abad ke-20.

Meski begitu, pemahaman pada bidang budaya yang dibangun oleh Eliot, Hulme, dan Pound tetap penting kita kaji jika ingin menggambarkan keragaman intelektual dalam periode tersebut.

Karena itulah, kalau kamu hendak mempelajari kritik sastra mereka yang sangat berpengaruh di awal abad ke-20 beserta kritik balik yang tak kalah kritis dari Rebecca Beasley, kamu unduh aja ebook-nya di bawah ini secara cuma-cuma.

Unduh ebook gratis: Theorists of Modernist Poetry