Pengertian Lekra

Pengertian Lekra

Lekra - Lembaga Kebudayaan Rakyat merupakan organisasi yang mewadahi para seniman Tanah Air yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950 oleh Joebaar Ajoeb, Njoto, A.S. Dharta, Henk Ngatung, Sudharnoto, dan M.S. Ashar.

Lekra lahir pada zaman Orde Lama, yakni ketika Presiden Sukarno berada di tampuk kekuasaan. Semboyan Lekra yang terkenal adalah "politik sebagai panglima". Artinya adalah politik berada pada tingkatan teratas dan kebudayaan menjadi syarat politik sekaligus menjadi arena pertarungan politik.

Lekra juga dikenal sebagai organisasi kebudayaan yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia lantaran para pendiri dan anggotanya merupakan anggota aktif PKI.

Pada saat itu, tidak hanya Lekra yang menjadi organisasi kesenian sekaligus alat yang ampuh untuk memobilisasi massa. Banyak juga organisasi atau partai politik yang melahirkan wadah bagi para seniman. Misalnya, Partai Nasional Indonesia mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Partai Indonesia (Partindo) melahirkan Lembaga Seni Budaya, dan Nahdlatul Ulama (NU) mendirikan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Di antara berbagai lembaga kesenian saat itu, hanya Lekra-lah yang terbilang menjadi organisasi seniman terbesar dan paling banyak anggotanya di Indonesia. Hal itu bisa terjadi karena Lekra menarik perhatian para seniman dari berbagai ranah kebudayaan.

Beberapa alasan para seniman memilih masuk Lekra di antaranya:
  • Pendirian Lekra jelas, yakni berpihak pada rakyat jelata
  • Lekra menjadi tempat berkumpul para seniman papan atas Indonesia
  • Seniman Lekra banyak yang disekolahkan ke luar negeri
Pertumbuhan Lekra yang pesat memang berhubungan erat dengan keberadaan PKI di Indonesia. Pasalnya, di Indonesia pada era 1950-an terdapat pertarungan ideologi di antara tiga kelompok besar: nasionalis, agama, dan komunis (Nasakom). Komunis termasuk kubu yang paling dominan sehingga tiga kelompok besar itu mengerucut menjadi dua, yaitu prokomunis dan antikomunis.

Pertarungan dua kubu besar tersebut memang sangat pelik dan Lekra saat itu menjadi organisasi kebudayaan yang kuat. Bagi Lekra, seni tidak boleh diperuntukkan hanya untuk seni. Mereka berpendapat bahwa seni harus mengacu kepada kondisi riil masyarakat atau seni harus berpihak pada politik. Oleh karena itu, seniman yang hanya sibuk dengan berseni bebas, kerap bereksperimen, dan tidak ikut dalam organisasi berarti berseberangan dengan nyawa revolusi. Dengan kata lain, berseberangan dengan revolusi artinya menjadi musuh rakyat.

Seniman yang tidak berada dalam jalur Lekra banyak yang tidak menyetujui konsepsi kebudayaan Lekra. Mereka antara lain Wiratmo Soekito, H.B. Jassin, dan Trisno Sumardjo yang di kemudian hari membuat Manifes Kebudayaan pada tanggal 17 Agustus 1963. Dalam beberapa bulan setelah diterbitkan, Manifes Kebudayaan mendapat dukungan dari seniman-seniman di berbagai wilayah yang berjumlah lebih dari 1.000 orang.

Pertanyaan kubu Manifes Kebudayaan tersebut akhirnya membuat Lekra berang. Mereka pun melakukan serangan bernada intimidasi kepada para pendukung Manifes Kebudayaan. Dengan berbagai cara, Lekra dan PKI pada akhirnya berhasil membuat Presiden Sukarno melarang Manifes Kebudayaan karena dianggap melemahkan revolusi. Secara resmi, Bung Karno melarang Manifes Kebudayaan pada tanggal 8 Mei 1964.
Menurut Ajip Rosidi dalam buku berjudul Mengenang Hidup Orang Lain: Sebuah Obituari, pada paruh kedua tahun 1970-an ada wacana bahwa Lekra bukanlah bagian dari organ PKI. Yang melontarkan wacana ini adalah Joebaar Ajoeb yang menjadi sekretaris jenderal Lekra setelah A.S. Dharta dipecat. Namun, wacana ini kemudian ditentang oleh tokoh Lekra yang lain, Basuki Resobowo, yang menganggap Joebaar melakukan kooptasi dengan rezim Orde Baru. (Ajip Rosidi, 2010: 42) 
Baca juga: Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965 

Analisis Semiotik Puisi

Analisis Semiotik Puisi

Analisis semiotik puisi – Tujuan dari menganalisis puisi adalah untuk memahami makna dari puisi.  Menganalisis puisi merupakan salah satu cara untuk memberi makna pada teks puisi. Sebagai salah satu genre karya sastra, puisi memiliki struktur yang bermakna dan berlapis-lapis. Hal itu tak lain bahwa karya sastra adalah sistem tanda yang mempunyai makna dengan menggunakan bahasa sebagai medium.

Medium dalam sastra adalah bahasa yang merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yakni sistem tanda yang memiliki arti. Bisa dibilang, medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas atau netral, sebagaimana bunyi pada seni musik atau cat warna pada lukisan.

Pada dasarnya, warna cat sebelum dipakai dalam lukisan sifatnya netral, belum berarti apa pun. Sedangkan kata-kata pada suatu bahasa sebelum dipakai dalam karya sastra merupakan lambang yang sudah memiliki arti yang ditentukan dalam konvensi atau perjanjian dalam masyarakat bahasa.

Perlu diketahui bahwa lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan yang berupa satuan bunyi memiliki arti berdasarkan konvensi dalam masyarakat tersebut. Itulah sebabnya, bahasa adalah sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi masyarakat. Nah, sistem tanda ini disebut dengan semiotik. Begitu juga ilmu yang mempelajari sistem tanda juga disebut semiotika atau semiologi.

Sebelum lebih jauh membicarkan semiotik, berikut ini beberapa pengertian tentang semiotik yang perlu Anda ketahui.
Menurut Thoughtco, semiotik adalah studi mengenai tanda dan simbol, khususnya ketika kita mengkomunikasikan sesuatu yang diucapkan dan tidak diucapkan. Contoh umum dari semiotik adalah rambu-rambu lalu lintas atau emotikon yang digunakan dalam komunikasi elektronik, logo atau merek yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk menjual sesuatu kepada pembeli setia (brand loyalty). Dengan kata lain, semiotik disebut sebagai teori dan studi tentang tanda dan simbol, terutama simbol sebagai elemen bahasa atau sistem komunikasi.
Menurut Study, semiotika adalah studi tentang sistem tanda. Semiotika mengeksplorasi bagaimana kata-kata dan tanda-tanda membuat makna. Dalam semiotika, tanda adalah segala sesuatu yang berdiri untuk sesuatu selain dirinya sendiri. Semiotika berfokus terutama pada tanda-tanda linguistik. Para sarjana linguistik modern memahami kata-kata tidak memiliki makna bawaan. Artinya, ketika kita mengucapkan kata "kelinci", maka itu bukan karena suara atau simbol huruf itu ada hubungannya dengan herbivora berbulu dan berkuping panjang tersebut. Sebenarnya, kata, suara, dan huruf semuanya tidak berhubungan langsung dengan makhluk yang kita sebut kelinci, kecuali bahwa manusia memberi nilai atau nama "kelinci" kepada binatang tersebut.
Menurut Encyclopedia Britannica, semotika atau juga disebut semiologi merupakan studi tentang tanda-tanda dan perilaku yang menggunakan tanda. Oleh salah satu pendirinya, Ferdinand de Saussure, semiotika didefinisikan sebagai studi mengenai "kehidupan tanda-tanda dalam masyarakat". Meskipun istilah ini digunakan pada abad ke-17 oleh filsuf Inggris John Locke, ide semiotika sebagai modus interdisipliner yang dipakai untuk memerika fenomena tanda justru muncul di bidang yang berbeda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Saussure dan filsuf Amerika Charles Sanders Peirce.
Pertama-tama, hal yang paling penting di dalam ranah semiotik ialah lapangan sistem tanda atau pengertian tentang tanda itu sendiri. Maka itu, dalam pengertian tanda terdapat dua prinsip: petanda atau signifier atau bermakna yang menandai dan berbentuk tanda; dan petanda atau sifnified yang berarti ditandai atau merupakan arti tanda.

Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, terdapat tiga jenis tanda yang pokok, yakni ikon, indeks, dan simbol. Di bawah ini akan dijelaskan ketiga jenis tanda tersebut.
  • Ikon merupakan tanda hubungan antara penanda dan petandanya yang bersifat persamaan bentuk alamiah. Misalnya, potret orang yang menandai orang yang dipotret; gambar kuda itu menandai kuda yang nyata.
  • Indeks ialah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya, asap itu menandai api; suara itu menandai orang atau sesuatu yang mengerluarkan suara.
  • Simbol ialah tanda yang tidak menampakkan hubungan alamiah antara petanda dan penandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer (manasuka) atau semau-maunya; hubungannya berdasarkan konvensi atau perjanjian masyarakat.
Sebuah sistem tanda yang pokok dan menggunakan lambang adalah bahasa. Arti simbol ditentukan oleh masyarakat. Misalnya, kata “ibu” bisa bermakna “orang yang melahirkan kita” itu terjadinya atas konvensi masyarakat bahasa Indonesia. Namun, masyarakat bahasa Inggris menyebutnya “mother” dan Prancis menyebut “la mere”.

Bahasa adalah sistem tanda yang di dalam karya sastra menjadi medium dan termasuk sistem tanda pada tingkat pertama. Dalam ilmu tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda pada tingkat pertama itu disebut dengan meaning (arti).

Karya sastra, di samping itu, juga termasuk sistem tanda yang didasarkan atas konvensi masyarakat sastra. Pasalnya, karya sastra merupakan sistem tanda yang lebih tinggi kedudukannya dari bahasa. Maka dari itu, disebut sebagai sistem semiotik tingkat kedua.

Bahasa tertentu itu mempunyai konvensi tertentu pula, dalam sastra konvensi bahasa itu disesuaikan dengan konvensi sastra. Lalu dalam karya sastra, arti kata-kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra. Dengan demikian, muncullah arti baru, yakni arti sastra tersebut. Dengan kata lain, arti sastra itu adalah arti dari arti (meaning of meaning). Untuk membedakannya dari arti bahasa, arti sastra itu disebut makna atau sifnificance.

Harus ditambahkan di sini, yang dimaksud makna sajak itu bukan semata-mata arti bahasanya, melainkan arti bahasa dan suasana, perasaan, intensitas arti, arti tambahan atau konotasi, dan pengertian yang muncul dari tanda-tanda kebahasaan yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Misalnya, baris puisi, ulangan, tipografi, enjabement, sajak, dan lain sebagainya.

Walaupun sastra itu dalam sistem semiotik tingkatannya lebih tinggi ketimbang bahasa dan sastra tidak bisa lepas dari sistem bahasa. Dalam artian ini, sastra tidak bisa lepas sama sekali dari sistem konvensi bahasa.

Hal tersebut bisa terjadi oleh apa yang sudah dikemukakan, yakni bahasa itu merupakan sistem tanda yang memiliki arti berdasarkan konvensi tertentu. Sastrawan dalam membentuk sistem dan maknanya dalam karya sastra harus pula mempertimbangkan konvensi bahasanya. Soalnya, jika ia sama sekali meninggalkannya, maka karyanya tidak dapat dimengerti dan dipahami pembaca lantaran telah berada di luar perjanjian yang disepakati secara konvensional.

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas, mengkaji dan menganalisis puisi tidak bisa lepas dari analisis semiotik. Puisi secara semiotik merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna serta ditentukan oleh konvensi masyarakat setempat.

Memahami puisi tidak lain dari memahami makna puisi. Sebagaimana menganalisis puisi merupakan usaha menangkap makna pada teks puisi.

Makna puisi ialah arti yang muncul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yakni arti yang bukan semata-mata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Dengan demikian, sudah jelaslah bahwa untuk menganalisis puisi perlu suatu analisis struktural dan semiotik lantaran sajak merupakan struktur tanda-tanda yang memiliki makna.

Studi sastra memang bersifat semiotik yang berarti usaha untuk menganalisis sastra (khususnya puisi) sebagai suatu sitem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra memiliki makna.

Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur puisi atau hubungan dalam antarunsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Menurut Preminger dkk (1974:981), kritikus menyendirikan satuan-satuan berfungsi dan konvensi-konvensi sastra yang berlaku. Satuan-satuan berfungsi itu, misalnya, penokohan, satuan bunyi, alur, setting, kata, kalimat, gaya bahasa, tipografi, dan sebagainya.

Preminger menjelaskan lebih lanjut bahwa bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh pengguna bahasa biasa.

Yang dimaksud dengan konvensi tambahan ialah konvensi sastra di luar konvensi ketatabahasaan. Misalnya, tipografi, enjambement, persajakan, dan konvensi-konvensi lain yang ada di dalam sastra.

Karena itulah, memberi makna pada sajak sama saja dengan mencari tanda-tanda yang memungkinkan munculnya makna puisi. Makanya, Jonathan Culler berpendapat di dalam bukunya yang berjudul The Pursuit of Signs (1981) bahwa menganalisis puisi adalah memburu tanda-tanda (pursuit of signs). (Pradopo, 2005: 120-124)
Baca juga: Pemaknaan Puisi
Baca juga: Teori Puisi Modern
Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat
Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Pemaknaan Puisi

Pemaknaan Puisi

Pemaknaan puisi – puisi adalah salah satu genre atau jenis sastra. Sering kali istilah puisi disamakan dengan sajak. Akan tetapi, sebenarnya tidak sama, puisi lebih merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah individu puisi.

Dalam pengertian di dalam bahasa Inggris, puisi ialah poetry dan sajak adalah poem. Memang, sebelum ada istilah puisi, istilah sajak untuk menyebut juga jenis sastranya (puisi) atau individu sastranya (sajak).

Memahami makna puisi atau sajak tidaklah mudah, lebih-lebih pada waktu sekarang, puisi makin kompleks dan aneh. Jenis sastra puisi lain dari jenis sastra prosa. Prosa tampaknya lebih mudah dipahami maknanya daripada puisi.

Hal tersebut disebabkan Bahasa prosa itu merupakan ucapan “biasa”, sedangkan puisi itu merupakan ucapan yang “tidak biasa”. Biasa atau tidak biasa itu bila keduanya dihubungkan dengan tata bahasa normatif. Biasanya prosa itu mengikuti atau sesuai dengan struktur bahasa normatif, sedangkan puisi itu biasanya menyimpang dari tata bahasa normatif.

Pengertian pemaknaan puisi atau pemberian makna puisi itu berhubungan dengan teori sastra masa kini yang lebih memberikan perhatian kepada pembaca dari lainnya.

Puisi bisa dianggap sebagai artefak yang akan memiliki arti jika diberi makna oleh pembaca. Akan tetapi, pemberian makna itu tidak boleh semau-maunya, melainkan berdasarkan atau dalam kerangka semiotik (ilmu/sistem tanda) karena karya sastra itu merupakan sistem tanda atau semiotik.

Pemaknaan ini istilah aslinya adalah konkretisasi. Konkretisasi ini istilah yang dikemukakan oleh Felix Vodicka yang berasal dari Roman Ingarden, yang berarti pengkonkretan makna karya sastra atas dasar pembacaan dengan tujuan estetik.

Memahami makna tersirat dalam puisi tidaklah gampang tanpa mengerti konvensi sastra, khususnya konvensi puisi. Puisi merupakan karya seni yang bermedium bahasa.

Selain itu, puisi mesti dipahami sebagai suatu sistem tanda yang memiliki makna berdasarkan konvensi. Oleh karena itu, bahasa disebut sebagai sistem tanda atau semiotik tingkat pertama (the first order semiotics).

Makna bahasa bisa disebut sebagai arti (meaning) yang ditentukan oleh konvensi masyarakat bahasa. Dalam karya sastra bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama ditingkatkan derajatnya menjadi sistem tanda tingkat kedua (second order semiotics), maka artinya pun ditentukan oleh konvensi sastra, menjadi arti sastra.

Oleh karena itu, kita bisa mengetahui makna dari puisi apabila mengetahui konvensi dari puisi itu. Salah satu konvensi puisi tersebut ialah ucapan atau ekspresi yang tidak langsung. Bahkan Riffaterre mengemukakan bahwa puisi itu dari waktu ke waktu selalu berubah karena evolusi selera dan konsep estetik yang berubah.

Akan tetapi, ada satu esensi yang tetap, yaitu puisi menyatakan suatu hal dengan arti yang lain atau puisi itu menyatakan sesuatu secara tidak langsung.

Di samping itu, puisi adalah struktur yang kompleks. Atau bisa dibilang puisi kerap menggunakan banyak alat bahasa atau sarana kepuitisan secara bersama-sama untuk mendapatkan jaringan efek yang sebanyak-banyaknya.

Itu sebabnya, puisi merupakan struktur yang kompleks, makan untuk memahaminya (atau untuk memberi makna) harus dianalisis. Dengan cara menganalisis, maka akan diketahui unsur-unsurnya yang bermakna atau yang harus diberi makna. (Pradopo, 2005: 278-279)

Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra
Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat
Baca juga: Teori Puisi Modern

Perbedaan Fakta dan Fiksi

Fakta dan fiksi - Dalam dunia karang-mengarang ada dua lapangan yang berbeda: pertama, yang disebut dalam bahasa Inggris fact, dan kedua, fiction. Dalama bahasa kita fact menjadi fakta, yaitu kenyataan yang terjadi atau dianggap benar.

Berdasarkan kenyataan itu wartawan menyusun berita, yang disampaikan kepada suarat kabarnya. Jadi, berita itu tidak boleh bohong. Jika sesuatu surat kabar acap memuat kabar bohong, lambat-laun surat kabar itu tidak akan laku dan kehilangan pasaran. Wartawan yang mengirimkan berita-berita dusta tidak akan dipercaya orang lagi dan akan sulit baginya untuk mencari pekerjaan dalam lapangan persuratkabaran.

Pekerjaan wartawan bukan saja mencari berita yang penting atau yang aneh-aneh, akan tetapi juga ia harus mengirimkan beritanya secepat mungkin kepada surat kabarnya. Ia tidak boleh ketinggalan waktu, dan kalau ada sesuatu yang amat penting, surat kabar itu mau mengeluarkan maklumat, demi kepentingan berita melulu. Misalnya, tatkala Jepang menyerah dalam peperangan dunia kedua, tatkala Presiden Kennedy ada yang membunuh, dan pada waktu Amerika sebagai negara pertama yang mendaratkan manusia di bulan.

Dalam tiga kejadian tersebut hampir tidak ada perbedaan antara surat kabar bukan sensasi dan surat kabar yang biasa mengejar-ngejar berita yang menggemparkan. Mungkin dalam cara menyusun beritanya yang berlainan, akan tetapi perihal isi bagi keduanya sama pentingnya, disebabkan dalam tanggapan keduanya kejadian-kejadian itu boleh mengubah perjalanan sejarah dunia.

Perbedaan Fakta dan Fiksi
Sumber gambar: Pixabay/voltamax

Maka dalam tajuk rencana masing-masing akan dikemukakan pemandangan, bagaimana kemungkinan-kemungkinan susunan dunia baru sesudah dikalahkannya Jepang oleh negara-negara sekutu. Dalam soal kedua, bagaimana Amerika melanjutkan sejarahnya tanpa presiden yang berani mempertahankan pendirian dan dalam soal ketiga, bagaimaan pentingnya jalan-jalan baru akan terbuka bagi lalu-lintas di angkasa yang pengaruhnya—juga dalam politik—jauh di luar dugaan.

Jauhlah berbeda fiction, yang kita salin menjadi fiksi, dengan berita-berita dalam surat kabar, oleh karena yang menjadi sendinya bukan kenyataan, melainkan khayal. Yang disebut fiksi biasanya roman dan cerpen adalah fiksi yang pendek. Dalam pembicaraan ini baiklah kita artikan fiksi itu kesusastraan saja, jadi tidak terbatas kepada roman belaka, oleh karena bentuk-bentuk kesusastraan lainnya seperti dongeng, yang dalam bahasa asing meliputi fairy tales, fabels, dongeng-dongeng mitologi sampai kepada yang modern, yaitu roman, dan cerpen, boleh dikatakan berdasarkan khayal semuanya. Sebagai contoh baik kami kemukakan cerpen “Pangeran Bahagia” karnagan Oscar Wilde (1856-1900).

Banyak orang menjelajah dunia untuk menyelidiki patung-patung dalam gereja atau kuil, umpamanya patung-patung Kristus dan Maria dalam gereja-gereja, patung-patung Firaun dalam piramida-piramida di Mesir, patung-patung Siwa di India, Ceylon dan Indonesia, patung-patungnya Buddha di India, Indo Cina, Tiongkok sampai ke Jepang.

Tinjauannya dan penyelidikannya tidak akan lagi merupakan berita yang dapat dimuat dalam surat-surat kabar, oleh karena patung-patung itu sudah diketahui umum. Selain daripada itu nicaya buah penyelidikannya panjang-panjang, yang boleh jadi merupakan buku. Maka karangan-karangan serupa itu disebut non-fiksi, artinya karangan yang masih berdasarkan kenyataan, akan tetapi bukan yang baru terjadi seperti berita pada waktu dibunuhnya Presiden Kennedy.

Sebagai contoh baiklah kita kutip sebagian dari buku kisah perjalanan Marcopolo (1254-1324), seorang Barat yang pertama-tama mengunjungi Tiongkok di bawah pemerintahan Maharaja Kublai Khan, turunan Jengis Khan. Dalam bukunya Kitab tentang Keajaiban-Keajaiban Dunia dimuat penglihatannya tentang istana Kublai Khan sebagai berikut:

Pabila Maharaja mengadakan perayaan di dalam istana, bersemayamlah baginda di atas takhta kerajaan dengan menghadap ke sebelah selatan. Di sebelah kiri bersimpuh permaisuri; di sebelah kanan—di tempat yang agak rendah—terdapat para putera, cucu dan lain-lain yang seturunan dengan baginda. Kursi putera mahkota letaknya agak tinggi dari tempat putera-putera baginda yang lain. Kalau para putera itu mengambil tempat duduk, kepala mereka tunduk setinggi kaki baginda. Raja-raja lain, demikian juga kaum bangsawan duduknya lebih rendah dari keluarga maharaja. Dan perempuan-perempuan semuanya di sebelah kiri. Susunan tempat duduknya seperti raja-raja dan perwira-perwira, menurut derajat kepangkatan suami masing-masing. Dengan demikian, baginda dapat melihat ke seluruh bangsal, sekalipun di hadapannya ada sebuah meja yang besar. Di halaman berkerumun utusan-utusan dari berbagai negeri, yang membawa upeti dan barang persembahan yang indah-indah.
Di antara mereka ada juga beberapa orang taklukan, yang mempersembahkan permohonan, agar dapat memerintah lagi negerinya masing-masing. Adat demikian adalah biasa dalam perayaan-perayaan serupa itu atau pada waktu peralatan kawin di sekitar istana.
Beberapa orang pegawai tinggi diwajibkan menerima tamu bangsa asing, yang menghadiri perayaan. Tamu-tamu itu diberi tempat yang istimewa dan oleh ponggawa tersebut diterangkanlah, bagaimana tata cara di dalam istana. Selain itu, para ponggawa tersebut tidak boleh diam; mereka harus berkeliling di seluruh bangsal, kalau-kalau ada tamu yang kurang mendapat perhatian. Jika ada tamu yang kekurangan minuman, daging atau lainnya segeralah para sahaya mempersembahkannya.

Demikianlah buku itu menjelaskan tentang Tiongkok yang dalam abad ke-13 mendapat perhatian luar biasa di Eropa. Konon Marcopolo adalah yang pertama-tama yang memberitakan tentang keadaan di Asia, dan Asia sangatlah penting bagi perdagangan Eropa.

Dalam tulisan Marcopolo di atas tidak ada sedikit pun yang membayangkan khayal, melainkan kenyataan belaka. Suatu penglihatan yang tajam dan ingatan yang kuat—sifat-sifat yang diperlukan oleh sastrawan.

Kalau seorang pengarang sastra menulis ceritanya banyak diliputi khayal, mungkin ada yang bertanya, apakah cerita-cerita sastra itu bohong dan tidak mengandung kebenaran? Kalau kita perhatian cerita “Pangeran Bahagia” misalnya, bahwa tidak mungkinlah ada sebuah patung yang pandai berbicara, benarlah cerita itu bohong.

Akan tetapi, adakah di antara pembaca yang rasa kejujurannya merasa tersinggung dalam membaca Pangeran Bahagia? Kiranya, malah banyak yang merasaka bersyukur dapat menikmati karangan kanak-kanak yang begitu indah. Terharu kita, bagaimana patung itu dipatuk matanya oleh burung laying-layang, hanya karena patung itu iba hatinya melihat begitu banyak orang yang menderita karena kemiskinan. Dan matanya yang dari batu nilam itu dihadiahkan kepada orang-orang miskin untuk membeli makanan dan pakaian. Lukisan itu ditambah pula dengan gaya Oscar Wilde yang hidup, sehingga terbayanglah di mata pembaca, bagaimana burung layang-layang berkasih-kasihan dengan gelagah.

Dia gembira, waktu gelagah meliuk menjawab pertanyaannya, apakah burung itu boleh berkawan dengan gelagah. Dan kegembiraannya digambarkan bagaimana burung itu melayang-layang di atas gelaga, memercikkan air dengan ujung sayapnya, sehingga berlingkar-lingkar air sungai.

Semua khayal, khayal belaka, dan kekuatan khayal itulah yang menentukan hasil tidaknya seseorang pengarang dalam ciptaannya. Tanpa khayal tidaklah mungkin karang-karangan besar seperti Mahabarata dapat tercipta oleh Vyasa kurang lebih 25 abad yang lalu; tidak mungkin pula Iliad dan Odyssey bisa tercipta oleh Homerus (abad 9 SM) dalam mitologi Yunani; demikian Hamlet oleh Shakespeare (1564-1616); Faust oleh Goethe (1749-1832); Perang dan Damai oleh Leo Tolstoy (1828-1910) dan lain-lain.

Sebab, walaupun Perang dan Damai mengandung kebenaran sejarah dengan menceritakan Napoleon Bonaparte, Tsar Alexander dan pertempuran di Austerlitz, namun tokoh-tokoh yang terpenting dalam roman itu, ialah Pierre Bazuhov, Natasha, dan Pangeran Andrey Bolkonsky adalah tokoh-tokoh ciptaan pengarang. Dan dalam cerita yang diliputi khayal itu dijalinkanlah oleh pengarang keyakinan atau pendiriannya, yang dalam kesusastraan disebut kebenaran. Dengan lain perkataan, kebenaran dalam kesusastraan bukanlah kebenaran kejadian, melainkan kebenaran dalam pendirian atau keyakinan, yang mesti dikemukakan pengarang dengan hati yang jujur. Jadi, jauhlah berbeda dengan berita surat kabar, yang bersendikan kebenaran kejadian.

Kebenaran dalam kesusastraan itu menjadi sendi utama sejak zaman dahulu, sampai kepada zaman modern ini. Pun tidak ada bedanya di Timur ataupun di Barat. Kebenaran dalam Bhagavad Gita dalam mitologi India adalah kebenaran sepanjang kepercayaan agama Hindu, yang dilukiskan dalam jawaban-jawaban Krisna, ketika kaum Pandawa sudah berhadapan dengan balatentara Kurawa di medan Kurukshetra, bahwa tidak mungkinlah bagi Arjuna untuk menggempur musuh, yang terdiri dari guru dan masih keluarganya. Demikianlah sembah Arjuna:
  • “Maka lemahlah anggotaku, keringlah bibirku, badanku gemetar dan rambutku pun remang.
  • Gandiwam pun terlepas dan kulitku pun panah dada kuasa lagi berdiri dan pikiranku pun serupa sesat;
  • Tambahan pula kulihat alamat yang tiada baik, o Krisna, dan pada perasaanku tindakan memberi selamat,
Kalau membunuh saudaraku dalam perkelahian;
  • Tiada kemenangan, o Krisna, pemerintahan dan kesukaan kuingini, apakah faedahnya pemerintahan, o Gowinda,
Kesukaan dan hidup ini?
  • Bukankah mereka yang menyebabkan kita bercintakan pemerintahan, kesukaan dan kenikmatan itu, berhadapan di sini dan akan mengorbankan jiwa serta miliknya;
  • Guru, ayah, anak dan nenek pun juga, mamak, mentua, cucu, menantu, dan kerabat yang lain demikian pula.
  • Mereka ini, ya, Pembunuh Madhu, tiada mau aku membunuhnya , biarpun aku sendiri dibunuh…..”
Bersabda Krisna:
  • ….. kalau Tuhan hendak menjalankan kewajiban diri sendiri, janganlah terkejut, sebab tiada lebih mulia lagi kepada kesatria itu daripada berperang dalam jalan yang sah.
  • Kesatria yang beruntung, yang dapat berperang dalam peperangan yang demikian, ya Prithaputera, adalah sebagai bertemu dengan pintu Surga yang terbuka.
  • Jikalau Tuan dalam peperangan yang sah ini tiada memenuhi kewajiban Tuan, maka timbullah kejahatan pada diri Tuan, karena Tuan buangkan kewajiban hidup dan kemegahan Tuan.
  • Dan segala makhluk akan memperkatakan cela Tuan yang tiada terhapuskan itu, cela yang kepada orang seperti Tuan, lebih daripada mati.
  • Ahli rata peperangan akan menyangka bahwa takutlah menghindarkan Tuan dari berperang itu dan mereka yang memandang tinggi pada Tuan, kini akan menghina Tuan.
  • Banyak kata-kata yang tiada pasti diperkatakan akan dikeluarkan menang menginyam kenikmatan dunia; dari sebab inilah maka Tuan hamba bangkit, ya, Kuntipuetera! seraya mengambil keputusan akan berperang.
  • Bersiaplah Tuan akan berperang, sambil menganggap bahagia dan celaka, menang dan kalah, untung dan rugi sama belaka dan tiada kejahatan akan menimpa Tuan.” (1) Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru, dikumpulkan oleh H.B. Jassin (Gunung Agung, Jakarta, 1962, hal 146-151)
Demikianlah keengganan seorang pahlawan, yang dapat mencemarkan namanya dibanteras oleh keyakinan dan kebenaran, disebabkan dalam Mahabharata golongan Pandawa itu golongan yang berbudi, golongan yang membela dan memperjuangkan keadilan dan Arjuna adalah seorang Pandawa. Sedang orang-orang Kurawa adalah orang-orang yang curang, yang tidak memegang sifat-sifat kesatriaan. Jadi, sekalipun mereka masih berkeluarga dengan Pandawa wajiblah diperangi, dan Krisna adalah inkarnasi dewa Wisnu, yang disembah dalam agama Hindu. Perlu kita perhatikan titah Krisna yang lain, bagaimana bersahaja ucapan-ucapannya dan tidak menggunakan filsafat yang tinggi-tinggi.

Titah Krisna:
  • “Dari manakah datangnya gentar dalam kesusahan ini pada Tuan, ya, Arjuna!”
  • Janganlah ikutkan hatimu lemah itu yang membawa cela pada laki-laki, ya, Prihaputera dan tiada pantas bagi Tuan.”
Secara demikian pendirian masing-masing pengarang dituangkan dalam ciptaannya, akan tetapi ada kalanya tangkapan orang bermacam-macam, sehingga  timbullah perang pena, yang mempersoalkan kebenaran, yang dimaksud oleh pengarang.

Yang banyak dipersengketakan di antaranya Hamlet. Banyak orang mengatakan, pangeran Hamlet itu seorang yang ragu, seorang yang tidak tahu bertindak. Beberapa kali ia mempunyai kesempatan yang baik untuk membalas dendam  terhadap Claudius, pamannya, yang menggantikan ayahnya, menjadi raja dan kawin dengan ibu Hamlet.

Sudah terbukti Claudius itu berdosa; dialah yang pasti membunuh ayahnya. Akan tetapi, pada waktu Claudius bertafakur dan kesempatan yang baik terbuka untuk membunuhnya, Hamlet kembali memasukkan belati dalam sarungnya. Katanya, kalau pamannya dibunuh pada saat itu, niscaya ia akan masuk Surga, padahal neraka bagiannya. Karena sikap itu, bagi kebanyakan, Hamlet orang yang ragu. Akan tetapi ada juga yang menyatakan, justru karena berbuat demikian, maka Hamlet seorang yang positif tahu bertindak karena memang betullah pendapatnya.

Selain dari itu, ada pula yang menyatakan, Hamlet adalah seorang putera mahkota yang sadar atas darah kerajaan yang mengalir dalam tubuhnya. Dia bangga tentang keturunannya dan dia pun bangga menjadi putera mahkota Denmark. Karena itu, dia mesti dipertunjukkan sebagai pahlawan yang gagah berani.

Akan tetapi, kata orang lain pula, Hamlet adalah tokoh zaman Shakespeare, zaman yang penuh keraguan dan tepatlah bilamana digambarkan terumbang-ambing oleh keraguan. Bertubi-tubi pendapat orang, yang satu menyerang yang lain, akan tetapi walaupun demikian sastrawan muda perlu mengikuti perdebatan itu, sebab hanya dengan jalan itulah kita dapat menyelami mutiara-mutiara yang indah di dasar laut kesusasteraan yang mahaluas.

Rasanya, hanya ciptaan-ciptaan kesenian—di antaranya kesusasteraan—yang begitu banyak diperdebatkan. Shakespeare meninggal 400 tahun yang lalu, akan tetapi Hamlet masih mearik perhatian para ahli, sehingga ada yang mengatakan, dia melambangkan manusia universal dari zaman ke zaman menjadi lawan Faust, yang dianggap manusia Barat, karena hanya mementingkan keduniaan.

Mungkin karena sastrawan tidak dikejar-kejar waktu seperti wartawan, ciptaannya banyak yang bernilai. Perang dan Damai ditulis Tolstoy dalam 6 tahun. Begitu juga Madame Bovary oleh Gustave Flaubert (1821-1880). Orang-Orang yang Malang dikerjakan Victor Hugo (1802-1885) tidak kurang dari 14 tahun.

Dalam waktu yang tidak merasa dikejar-kejar itu sastrawan dapat meneropong persoalannya lebih dalam dan mungkin itulah perbedaan antara sastrawan dan wartawan yang membawakan tokoh-tokoh yang dapat menggambarkan watak-watak yang diinginkannya, yaitu dalam suatu cerita yang diciptakan dari benak kepalanya atau yang disebut dengan khayal.

Sedangkan wartawan memberikan penerangan kepada khalayak dengan melancarkan berita tentang kejadian-kejadian dari hari ke hari. Tapi tidak semua sastrawan menulis karangannya sampai bertahun-tahun, ada juga yang hanya beberapa malam, bahkan ada pula yang cuma memerlukan satu malam saja.

Lama atau tidaknya sesuatu karangan ditulis tidak menjadi soal. Yang tetap diperhatikan adalah bagaimana pengarangan memecahkan persoalannya, dan caranya menghidangkan cerita. Perihal soal ini baik kita bicarakan dalam uraian-uraian yang lain. Tetapi yang perlu diketahui, bukan tidak ada sama sekali hubungan antara pengarang dan wartawan, Walt Whitman, Rudyard Kipling, H.G. Wells, Ernest Hemingway, Albert Camus adalah pengarang-pengarang ulung, yang tadinya menjadi wartawan dan kemudian menjadi pengarang.

Di antara pengarang-pengarang Indonesia yang (pernah) menjadi wartawan ialah Abdul Muis, Sanusi Pane, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Ramadhan KH, Gerson Poyk, S.M. Ardan, Satyagraha Hoerip Soeprobo, Bur Rasuanto, Ajip Rosidi, dan Goenawan Mohamad. Mungkin ada baiknya sastrawan menjadi wartawan pula, karena dnegan demikian akan diketahuinya masyarakat lebih banyak.

Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Baca juga: Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra

Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Kontroversi Puisi Pamplet Rendra


Puisi pamplet -  Terbitnya kumpulan Potret Pembangunan dalam Puisi tidak hanya menimbulkan debat mengenai persoalan estetika saja, melainkan juga melibatkan masalah hukum, yaitu ketika puisi-puisi pamplet dibacakan sendiri oleh penyairnya di depan khalayak.

Memang apabila dibaca dengan suara yang lantang, maka puisi pamplet Rendra terdengar retoris dan oratoris. Ungkapan-ungkapan dalam puisinya cenderung lugas, padat, dan tegas. Perubahan bentuk puisinya tentu amat mengejutkan publik yang umumnya tahu bahwa puisi-puisi Rendra ialah puisi yang spontan, dengan penggunaan bahasa yang sederhana, serta dengan imaji-imaji yang segar dan mempesona.

Namun saat itu, puisi-puisi pampletnya yang mengangkat tema-tema kritik sosial yang dianggap sebagian publik menjemukan. Dari sebagian puisi-puisinya, hanya beberapa yang mendekati syarat kesusasteraan seperti “Sajak Kenalan Lama” dan “Sajak Sebatang Lisong”. Selain itu, puisi-puisi pampletnya yang mengangkat masalah krisis industri dan krisis pendidikan juga mendapat kritikan.

Bahwa masalah pendidikan yang terdapat dalam puisinya merupakan satu masalah yang ia temui dan tidak mencakup kependidikan seluruhnya. Begitu pun dalam masalah industri, tidak begitu jelas duduk perkara yang ia bicarakan, sementara di kehidupan pribadinya ia menyukai produk impor, dan bertolak belakang dari pokok-pokok gagasan yang dikandung puisinya (Edi Haryono, 1994).

Segi paradoks tersebut dikaitkan dengan biografi Rendra sebagai seorang seniman sekaligus seorang awam. Namun perkara atas puisi pamplet Rendra yang paling banyak mendapat sorotan ialah peristiwa pembacaan puisinya di TIM pada 28 April 1978.

Saat itu, ketika ia sedang mendeklamasikan puisinya tiba-tiba ada orang yang melempar amoniak ke area penonton. Dua pemuda langsung muntah-muntah dan pingsan. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, Rendra ditahan di kantor polisi.

Menurut pihak berwenang, puisi-puisi Rendra dianggap menghasut masyarakat dengan data-data sosial yang menggambarkan kekeliruan mengenai hasil pembangunan.

Namun menurut Ajip Rosidi, selaku ketua DKJ, bahwa puisi-puisi Rendra berpijak dari kenyataan yang terdapat di Indonesia. Ajip mendukung upaya yang dilakukan Rendra. Hal itu pun disetujui oleh Gregorius Sugiharto, ketua Fraksi Karya di DPR, ia berpendapat: “Penahanan itu satu kehormatan baginya, sebab tentunya ia sudah memperhitungkan bahwa cara-cara protesnya itu suatu saat pasti berurusan dengan yang berwajib.” (Edi Haryono, 1994).

Sebuah esai yang ditulis Hidayat Lpd memperbandingkan kehadiran Rendra dan Pablo Neruda sebagai penyair di tengah situasi faktual masyarakat. Menurut Hidayat, apabila “Pablo Neruda berhasil menciptakan suasana politik dari peristiwa kesenian.” Sebaliknya Rendra—dengan puisi puisi pampletnya—“ingin menciptakan peristiwa kesenian dengan syair politiknya." (Edi Haryono, 1994).

Rendra dan Neruda berbeda dalam soal peletakan peristiwa kesenian dan suasana politik di dalam puisinya. Neruda lebih memprioritaskan kekuatan estetika, baru kemudian dari situ memunculkan suasana politis yang digagasnya. Sebaliknya Rendra mensubordinasi kekuatan estetika, karena hal pokok yang ditekan di dalam puisinya ialah pengutaraan gagasannya yang mudah ditangkap pembaca.

Sekalipun ia tidak total menghilangkan sesuatu yang imajinatif dari puisinya, tetapi kadarnya terlalu timpang ketimbang gagasan yang termuat dalam puisinya. Maka dari itu ada yang berpendapat sinis terhadap Rendra, puisi-puisi pampletnya dianggap sebagian kalangan telah melampaui batas-batas kesenian. Larik-larik puisinya tak lebih daripada larik-larik pernyataan politik. Namun ada pula yang membelanya, bahwa puisi-puisi Rendra adalah “refleksi keilmuan Timur”.

Karena bahasa puisi pamplet yang lugas dan tak rumit itulah, jadi penyebab mengapa puisi-puisi Potret Pembangunan dalam Puisi diterima baik oleh masyarakat. Dengan demikian pula, Rendra seakan menyeragamkan puisi pampletnya dengan selera masyarakat, sebab mereka menyukai puisi protes sosial ketimbang puisi yang kontemplatif atau religius.

Lagi pula, antara isi puisi dan kenyataan yang dirasakan masyarakat tak jauh berbeda, bahkan representasi dari situasi-situasi yang marak terjadi pada periode 1970-an. Kepopuleran Rendra, bukan lagi karena kualitas puisi-puisinya, melainkan karena nama besarnya, dan itu yang menyebabkan masyarakat selalu memadati acara pembacaan puisinya di mana pun.

Setelah menonton pembacaan puisi Rendra di TIM pada 1985, K.H. Abdurrahman Wahid berpendapat bahwa Rendra itu bagaikan “jeans belel” atau “ventilasi”. Sebagai jeans belel, apa pun yang terlahir dari Rendra akan selalu diminati oleh masyarakat. Juga sebagai ventilasi, karya-karya Rendra dapat menyediakan udara bagi ruang yang pengap, sumpeg, atau mandeg dan membutuhkan udara yang segar agar bisa keluar dari keadaan yang stagnan itu. (Redaksi/PYN)

Baca juga: Pendekatan Sosiologi Sastra

Baca juga:  Pengertian Mimetik

Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra

Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra


Pendekatan sosiologi sastra - Sosiologi sastra merupakan sebuah pendekatan yang mengungkap keterhubungan antara karya sastera dan masyarakat (publik). Aktivitas sosiologi sastra berada pada luar ranah sastra (berkebalikan dengan psikologi sastra), tetapi bukan berarti lahirnya karya sastra tanpa pengaruh lingkungan sosial-budaya di mana si sastrawan tersebut tinggal dan hidup.

Dalam hal ini juga, pemikiran sosiologi sastera Andre Hardjana berangkat dari situasi sosial-budaya sebagai landasan bagi sasterawan untuk menciptakan karya kreatifnya. Karena begitulah yang terjadi pada roman-roman awal kesusasteraan modern Indonesia yang banyak mengangkat realitas adat-istiadat setempat. Andre berkata: “..bahwa roman-roman awal sastra Indonesia menunjukkan tata kemasyarakatan yang ada dan sekaligus juga melukiskan tafsiran dari tata kemasyarakatan tersebut.”

Tetapi pendekatan yang terlampau sosiologis terhadap karya sastera tidaklah dapat dijadikan acuan mutlak untuk menentukan makna dan nilainya, sebab hal itu bisa menyebabkan pandangan yang fragmental. Pengidentikkan unsur-unsur tertentu di dalam karya sastra dengan sesuatu di luar karya sastra sebagai suatu kebenaran merupakan satu contoh dari penyempitan interpretasi. Hasilnya berupa dogmatisme maupun fanatisme yang membela kepentingan-kepentingan yang bersifat politis ketimbang dari cara mendekati karya sastra itu sendiri.

Lebih jauh Andre mengatakan demikian: “Pembahasan sastra semata mata atas suatu karya sastra politik adalah dangkal dan menyesatkan karena tidak sampai pada titik-titik yang tersembunyi di balik peristiwa sastra itu.

Dalam pada itu, Andre juga tidak mengesampingkan posisi sastrawan sebagai pihak yang memproduksi karya sastra. Ia berpendapat:

“Akhirnya memang harus diakui bahwa seorang pengarang dapat belajar
pengetahuan sosial dan berlatih kepekaan sosial dari ilmu sosiologi, hingga
dapat membuat sastranya lebih berbobot dan mesra dalam pergulatan
dengan dunianya dan lebih terasa nyata bagi pembacanya. Tetapi terlalu
menonjolkan pengetahuan sosial, termasuk politik dan ideologi, tanpa
dibarengi oleh kelincahan menulis dan daya khayal yang kuat hanya akan
melahirkan tulang kerangka ideologi yang tidak berdarah daging.”

Sementara itu, Robert Escarpit membahas sosiologi sastra dengan menggunakan fakta sastra. Fakta sastra terbagi atas pencipta, karya, dan publik. Masing-masing fakta sastra memiliki “persoalan teknis” sendiri.

Di sepanjang uraiannya mengenai sejarah perkembangan sosiologi sastra, ia sampai pada maksud utama yang hendak dibahasnya, yaitu masalah politik perbukuan. Ia menyebutkan bahwa sosiologi sastra harus dapat memperhatikan kekhasan fakta sastra serta memberikan keuntungan kepada para pengarang dan pembaca dengan cara membantu ilmu sastra tradisional, baik sejarah maupun kritik, agar menjadi tugas-tugas khusus yang dicakupnya.

Dengan demikian, pernyataan Escarpit itu sejalan dengan simpulan Sapardi Djoko Damono, bahwa sastra dilihat sebagai buku, tidak hanya pikiran kita yang mempertanyakan bagaimana dan seperti apa sastra itu seharusnya.

Sedangkan dalam buku Pedoman Penelitan Sosiologi Sastra Sapardi melihat kecenderungan penelitian dalam sosiologi sastra dari aspek dokumenter yang berlandaskan pada keadaan zaman sebagai cerminan sosial. Sapardi juga mengangkat gagasan Swingewood mengenai slogan “sastra sebagai cerminan masyarakat”. Dalam pada itu, slogan itu seringkali melupakan pengarang, kesadaran, dan tujuannya. Ketiga hal itu melahirkan peralatan sastra tertentu yang tidak sekadar menggambarkan masyarakat.

Karena itu, untuk melakukan pendekatan sosiologi, peneliti dan kritikus sastra harus memerhatikan dua hal berikut:
  • Peralatan sastra murni yang dipergunakan pengarang untuk menampilkan masa sosial dalam dunia rekaannya, dan
  • Pengarang itu sendiri, lengkap dengan kesadaran dan tujuannya dalam menulis karyanya. (Redaksi/PYN)
Baca juga: Pengertian Mimetik

Pengertian Mimetik

Pengertian Mimetik dalam sastra


Pengertian mimetik - Menurut asal bahasanya, mimetik berasal dari bahasa Yunani, yakni mimesis yang sejak dahulu digunakan sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara karya seni dan kenyataan. Pada awalnya istilah mimesis mencuat ke permukaan karena perdebatan antara Plato dan Aristoteles.

Perdebatan tersebut terus berkembang dengan konsep-konsep yang diperbaharui hingga di kemudian hari ada seorang sarjana, yakni M.H. Abrams, yang membagi empat pendekatan dalam sastra lewat bukunya The Mirror and the Lamp, antara lain pendekatan objektif, pendekatan ekspresif, pendekatan pragmatik, dan pendekatan mimetik.

Seperti diartikan dari bahasa Yunani, mimetik juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang memiliki terjemahan yang berlainan: imitation dan representation. Jan van Luxemburg dkk berpendapat bahwa sastra tak dapat dimungkiri berasal dari kenyataan, begitu pun sebaliknya terdapat tuntutan dari sastra agar mencerminkan kenyataan.

Agar lebih jelas pangkal pokok pembicaraan mengenai mimetik, agaknya perlu kembali menyimak perdebatan Plato dan Aristoteles mengenai hubungan antara karya seni dan kenyataan dari zaman Yunani kuno.

Gagasan mimetik Plato dipengaruhi oleh pendirian filsafatnya yang bersifat hierarkis. Seperti pikirannya mengenai tataran tentang Ada yang masing-masing mencoba melahirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Bagi Plato, dunia empiris tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, peneladanan, pembayangan ataupun peniruan.

Dalam pandangan demikian, seni hanya dapat menyarankan kenyataan atau merupakan copy atas kenyataan (realitas) yang ada. Seperti dikemukakan oleh Matius Ali, bahwa mimetik merupakan tiruan dari yang ”asli” dari dunia Idea. Plato menyebut karya seni sebagai ”tiruan dari” (mimesis-memeseos). Atau dengan kata lain, karya seni sebenarnya adalah tiruan dari tiruan; tingkat kenyataan ”asli” berasal dari tingkat dunia Idea.

Kesempurnaan yang ideal atau mutlak tidak terdapat dalam suatu karya seni, meskipun Plato mengakui sendiri bahwa ”seni yang sungguh-sungguh” berupaya mengatasi kenyataan sehari-hari. Yang dimaksud seni yang sungguh-sungguh itu adalah seni yang benar atau truthful, dan si seniman harus bersikap rendah hati atau modest.

Oleh sebab itu, mengapa Plato menganggap kerja tukang lebih mendekati kenyataan ketimbang seniman. Ia juga menampik kehadiran puisi, sebab puisi (termasuk seni lainnya, kecuali seni musik) hanya mengumbar nafsu-nafsu rendah yang menyebabkan irasionalitas berkembang dalam suatu negara, bukannya justru memperkuat rasio atau nalar.

Di pihak lain, Aristoteles berlainan pendapat dengan Plato. Aristoteles mengatakan bahwa seni justru ”menyucikan jiwa manusia” melalui proses yang dinamakan katharsis. Penekanan terhadap nafsu-nafsu rendah disanggah Aristotels sebab karya seni justru membebaskan dari nafsu rendah tersebut atau dalam kalimat Teeuw: ”karya seni mempunyai dampak tetapi lewat pemuasan estetik keadaan jiwa dan budi manusia justru ditingkatkan, dia menjadi budiman.”

Aristoteles juga berpendapat bahwa seniman lebih tinggi hasil kreativitasnya daripada tukang karena karya seni menampilkan dunia yang tidak sekadar meniru, melainkan menampilkan kemungkinan-kemungkinan dunia melalui tafsir atau interpretasi. Karya seni tidak berhenti begitu saja setelah selesai diciptakan oleh seniman, tetapi terus dalam keadaan ”baru” (terutama untuk karya seni yang bermutu) pada setiap pembaca.

Jika Plato mengatakan seni adalah imitasi dari suatu keterangan yang bijaksana, sebagai perwujudan suatu idea, maka Aristoteles mengatakan bahwa seni tidak hanya tiruan dari suatu benda yang ada di alam, tetapi lebih sebagai ”tiruan dari sesuatu yang universal” (imitation of something that is universal).

Apabila ditelusuri ke sejarahnya, maka mimesis pertama-tama berurusan dengan hasrat untuk meniru segala sesuatu, yakni ketika bersentuhan dengan alam semesta. Hasil-hasil kebudayaan prasejarah membuktikan hal itu melalui gambar-gambar relief, batu-batu yang dipahat seperti arca, atau candi.

Muhammad Al Fayyadl mengatakan demikian: ”Hasrat mimetik ini tak pernah padam, karena sepanjang hidupnya manusia selalu mengimpikan dirinya seperti sesuatu yang ia tiru. Impian ini merupakan bentuk kerinduan akan arkhe yang transenden dan ideal.”

Pengertian mimesis secara etimologi dibagi menjadi oleh Fayyadl dengan menyitir pendapat Derrida: (1) kehadiran yang menunjuk pada kemampuan sesuatu untuk menghadirkan, memproduksi, melahirkan, dan menampakkan dirinya dalam suatu bentuk citraan, kesan, atau impresi; (2) hubungan antara dua hal yang setara dan tidak memiliki prioritas ontologis. (Redaksi/PYN)

Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Fungsi Puisi untuk Masyarakat


Fungsi puisi - Di luar proses penciptaanya, puisi dapat memberikan impuls positif untuk masyarakat. Seperti diungkapkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kegiatan berpuisi yang mencakup mencipta maupun membaca puisi dapat menyokong “kebulatan jiwa” manusia yang telah terkikis oleh rasionalisme dan materialisme.

Takdir mengatakan bahwa rohani manusia membutuhkan penyeimbang untuk mengatasi merosotnya perasaan, intuisi, tanggung jawab, dan solidaritas yang kini semakin terkikis kemajuan teknologi. Bisa dikatakan kehadiran puisi bagi masyarakat dapat menghaluskan budi pekerti manusia. Pasalnya, puisi adalah cerminan keseimbangan karena membuat pembaca menjaga jarak dengan realitas.

Itu sebabnya, Takdir menyambut baik perpuisian Indonesia yang menurutnya telah sampai pada tingkat “indivudualisme” yang jauh. Pengertian individualisme tersebut pernah ia ungkap dalam sebuah esainya: “Agaknya, bedanya dengan individualis yang lain ialah bahwa individualisme saya adalah membebaskan diri untuk kemauan sendiri mengikatkan diri kembali kepada
masyarakat dan kebudayaan.”

Dengan demikian, corak-corak baru dalam perpuisian di Indonesia yang timbul pada suatu periode tertentu merupakan gejala-gejala yang sehat, tetapi mereka (baca: penyair) tidak hanya sekadar melepaskan diri dari bayang-bayang tradisi kesusasteraan para pendahulunya, melainkan ikut-serta secara aktif terlibat dalam kehidupan masyarakatnya.

Tujuan itu dapat tercapai dengan mengharapkan agar, “puisi kita pun mesti naik meninggi dan lebar meluas, sehingga menjadi tenaga positif dalam krisis kebudayaan semesta yang meliputi dunia sekarang.”

Pada pihak lain, Octavio Paz melihat puisi sebagai suara kalbu atau suara asali dari penyair. Puisi adalah lambang dari kejujuran; suara puisi adalah kebenaran yang paling mendasar. Dalam kalimatnya ia mengatakan: “... (puisi) mengingatkan kita tentang realitas-realitas tertentu yang terkuburkan, memulihkan kembali realitas-realitas itu ke kehidupan dan menampilkannya.”

Ia juga mengatakan bahwa puisi merupakan suara lain, the other voice, di antara agama dan revolusi. Bagi Paz, puisi baru dapat dikatakan modern apabila “sifat dan fitrahnya yang mendalam, juga karena suara dan pengaruhnya yang antimodern, suara yang mengekspresikan realitas-realitas yang tetap, terhadap, dan jauh lebih tua dibanding perubahan-perubahan sejarah.”

Meskipun situasi zaman terus berubah, dari abad ke abad, tetapi nilai puisi yang esensial itu tak akan terpengaruh oleh segala bentuk situasi, sebab, “ketika mereka (penyair) menjadi diri mereka sendiri, pada saat itu pula, mereka adalah orang-orang lain.”

Hakikat puisi yang terdalam tidak ditentukan oleh penemuan-penemuan dari pemikiran tertentu manusia, sebab hakikat itu telah lahir semenjak manusia ada dan telah berusia tua maupun muda dan juga lintas zaman dan generasi. (Redaksi/PYN)

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 2)



bahasa Indonesia, ejaan yang disempurnakan, EYD

Bahasa Indonesia - Bahasa jurnalistik dalam ragam bahasa Indonesia memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dari ragam bahasa lain. Meski begitu sesungguhnya bahasa jurnalistik berpengaruh besar terhadap pembaca. Pasalnya, ketika pembaca membaca berita setiap hari, maka pembentukan kesadaran berbahasa bertumpu terhadap apa yang ia baca.

Bagaimana jadinya jika pemakaian bahasa Indonesia dalam ranah jurnalistik masih kacau-balau? Tentu hal ini bisa mengacaukan pemahaman pembaca terhadap bahasa Indonesia. Karena itu, sudah seharusnya jurnalis menjadi garda depan penjaga bahasa Indonesia lantaran ia setiap waktu berkecimpung dan bercengkerama dengan bahasa.

Setelah kami menerbitkan artikel Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 1), maka perkenankan kami menerbitkan bagian dua ini. Selamat membaca dan ditunggu kritik serta saran dari pembaca.

*** 

1. “Dari penjelasan petugas medis di RSUD Dr Fauziah Bireuen, Sofyan, menyebutkan ketiga korban penembakan yang terjadi 31 Desember lalu, yakni Daud, Suparno, dan Sunyoto telah diberangkatkan dari Bireuen, kemarin pukul 05.00 WIB.”

Kata depan dari justru merusak kalimat, sebaiknya dihapus agar subjek, predikat, dan objek jelas.

2. “...antara lain keanekaragaman burung cenderawasih, burung kasuari, kanguru pohon, kanguru tanah, walabi, buaya, dan beberapa jenis satwa lainnya.”

Karena sudah menggunakan antara lain, frase dan beberapa jenis satwa lainnya dihapus saja. “Antara lain” bermakna tidak semua disebut. Kalimat dapat diubah: ...antara lain keanekaragaman burung cenderawasih, burung kasuari, kanguru pohon, kanguru tanah, walabi, dan buaya.

3. “Said Qosim imigran asal Afghanistan yang selamat, dalam pengakuannya kepada P3KSJ, dia mengeluarkan uang Rp36 juta untuk membayar calo yang menjanjikan bisa tiba ke Australia.

Dalam kalimat ini subjek tumpang-tindih. Kalimat dapat diubah.

Sain Qosim, imigran asal Afghanistann yang selamat, dalam pengakuannya kepada P3KSJ mengatakan, mengeluarkan uang Rp36 juta untuk membayar calo yang menjanjikan bisa tiba ke Australia.

4. Dengan pemanfaatan komponen dalam negeri bisa menekan harga cukup signifikan dalam pembelian pesawat nirawak.

Kata "dengan" merusak struktur kalimat dan dapat diganti.

a.                   Pemanfaatan komponen dalam negeri bisa menekan harga cukup signifikan dalam pembelian pesawat nirawak.
b.                  Dengan pemanfaatan komponen dalam negeri, harga yang cukup signifikan dari pembelian pesawat nirawak dapat ditekan.

5. “MESKI Diego Michiels mengaku tidak ada tekanan, Manajer Pelita Jaya Lalu Mara Satria Wangsa dan agen Diego, Ron Ravel, sangat yakin jika pemain keturunan Indonesia dan Belanda itu berbohong.”

Kata penghubung jika bermakna pengandaian. Karena itu, tepat apabila diganti kata bahwa.

6. “Kini, setelah diprotes, proyek untuk mencegah kemalasan anggota dewan menghadiri rapat itu diturunkan harganya menjadi Rp 3,7 miliar.”

Kalimat mengandung bentuk cakapan. Kalimat dapat diubah.

Kini, setelah diprotes, harga proyek untuk mencegah kemalasan anggota dewan menghadiri rapat itu diturunkan menjadi Rp3,7 miliar.

7. "Kelompok-kelompok milisi saling berlomba untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan."

Kata berlomba sudah bermakna resiprokal, lebih baik kata saling dihilangkan.

8. “polisi yang ditugaskan menjaga....

Kata yang tepat bukan ditugaskan menjaga, melainkan ditugasi menjaga. Kata ditugaskan digunakan jika struktur diubah menjadi 'penjagaan ditugaskan kepada polisi'.

9. “Jika masuk dalam siaga 4, maka pembaruan data akan dilakukan pada pukul 18.00 WIB.”

Kalimat tidak punya induk kalimat karena diawali tanda hubung jika dan maka. Kata masuk dalam dapat dilugaskan menjadi 'masuk'. Kalimat ini dapat diubah.

Jika debit air masuk siaga 4, pembaruan data akan dilakukan pada pukul 18.00 WIB.

10. “mengaku optimis"

Kata sifat yang tepat bukan optimis, melainkan optimistis.

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 1)


Bahasa Indonesia - Menggunakan bahasa nasional terutama dalam ragam tulisan merupakan hal yang sangat penting mengingat bangsa Indonesia sudah memiliki bahasa resmi yang mulai diikrarkan dalam Sumpah Pemuda hampir satu abad yang lalu.

Sebagai bangsa yang memiliki bahasa resmi sudah seyogianya kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dalam tulisan kali ini, kami mengulas penggunaan ragam tulisan yang salah kaprah dalam surat kabar. Agar lebih mudah dibaca, jadi kami buat poin per poin disertai penjelasan singkat.

Dengan demikian, selamat membaca dan menganalisis. Kami tunggu kritik dan saran jika memang ulasan di bawah ini banyak yang kurang tepat.

***

1.  "Terbang dengan ukuran lebih kecil harganya lebih murah dan yang lebih besar tentu saja lebih mahal".

Kalimat demikian mengandung unsur cakapan. Agar baku dan menegaskan subjek, dapat diubah: "Harga terbang dengan lebih kecil lebih murah dan yang lebih besar tentu saja lebih mahal".

2.  Frasa berhasil diidentikkan lebih pas diganti dengan bisa/dapat diidentikkan atau berhasil mengidentikkan.

3. "Bila selama ini semua orang hanya mengetahui Yao Ming, tapi ternyata masih banyak sejumlah pemain Asia lainnya yang turut meramaikan kompetisi bola basket paling bergengsi itu".

Penggunaan kata hubung tidak tepat dan kata banyak sejumlah juga berlebihan. Kalimat dapat diubah menjadi dua bagian.

a.         Bila selama ini semua orang hanya mengetahui Yao Ming, ternyata masih banyak pemain Asia lainnya yang  turun meramaikan kompetisi bola basket paling bergengsi itu.
b.         Selama ini semua orang hanya mengetahui Yao Ming, tetapi ternyata masih banyak pemain Asia lainnya yang turun meramaikan kompetisi bola basket paling bergengsi itu.


4. "HARI pertama warga Ibu Kota yang beraktivitas di kawasan Jalan Sudirman di tahun 2012 harus melihat melintasi jalan yang buruk."

Kalimat belum berstruktur baik dalam subjek, predikat, dan objek. Kalimat itu dapat diubah.

Pada hari pertama beraktivitas di kawasan Jalan Sudirman pada 2012, warga Ibu Kota harus melihat dan melintasi jalan yang buruk.

5. "Di rumah itu tidak hanya jadi tempat berkumpulnya para penggila sepeda tua".

Kata depan di kalimat ini merusak struktur kalimat. Sebaiknya, kata depan di dihapus.

6. Judul 'Longsor, Jalur Wonosobo-Purworejo Putus' lebih baik diubah menjadi ‘Longsor Memutus Jalur Wonosobo-Purwerejo’.

7. Minggu (1/2) malam pukul 21.30 WIB. Kata malam harus dihilangkan karena pukul 21.30 WIB bermakna malam.

8. Penulisan tenggat waktu berlebihan karena tenggat sudah bermakna ‘batas waktu’.

9. "Partai-partai politik kian lama kian pragmatis dalam memunculkan pemimpin dan kader terbaiknya."

Kata ganti –nya tidak tepat karena bermakna jamak, sebaiknya kader terbaik mereka. Termasuk pula frasa banyak calon-calon, sebaiknya diganti banyak calon.

10. "antardua organisasi" dapat diganti dengan yang lebih tepat, yakni "di antara kedua".