Tiga Muka Satu Pokok

(Tiga Muka Satu Pokok ini adalah sebuah esai yang ditulis Chairil Anwar. Dikutip dari buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, penerbit Narasi, 2018.)

Pada suatu pertemuan di rumah S.S., seorang kawan perempuan menerangkan bahwa dia juga hidup serta merasa sangat dalam dan luasnya, hanya dia kurang bisa menyatakan.

seniman, chairil anwar

Aku yang duduk di sampingnya bertanya sampai manakah maksudnya dengan keterangan ini.

“Kalau saya tidak salah tangkap, saudara mau mengatakan bahwa kesenian bisa dibataskan dalam kecekatan menyatakan pikiran dan perasaan saja. Ini tidak benar! Kesenian adalah “kesadaran mencipta” dari pikiran serta perasaan dan saudara mau menyamakan diri saudara dengan itu, sungguh pun persamaan psikologis dan jasad antara saudara dengan penyair samar sekali.”

“Yang tidak ada pada saya ialah kecekatan teknik saudara dan saya tidak ingin mengeluarkan isi dada saya.”

“Biarpun boleh jadi saudara berpikir dan berasa seberani dan segila Nietzsche; bahwa saudara juga merasakan sedalam itu tragedi penghidupan kita—bukan, bukan saya mau mendengarkan kejadian-kejadian serta peristiwa-peristiwa yang menarik serta mengiris hati dari penghidupan saudara, ini boleh saudara simpan—bahwa derita dan duka sudah saudara angkat pula menjadi kenikmatan seperti Beethoven?”

“Mengapa tidak? Lainnya antara saya dengan penyair, karena saya tidak melepaskan, membukakan perasaan saya. Ini boleh kita namakan suatu diskresi dari pihak saya.”

“Mari kita teruskan pembicaraan. Soal diskresi jangan kita singgung dulu! Jadi, menurut saudara, hasil kesenian hanya berdasarkan atas teknik saja. Baik! Tetapi bagaimanakan saudara menerangkan dua orang pelukis yang sama tinggi kepandaian tekniknya tapi membenci satu sama lain? Jika tidak turut berarti kebencian jiwa yang tidak bisa disingkirkan? Dan kebencian jiwa ini ‘kan berurat dalam berlainan berpikir dan merasa, berlainan menjalankan dari apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh keduanya?”

“Tapi….?”

“Kalau diteruskan pendapat saudara, jadi: bertambah tinggi teknik, bertambah tinggi kesenian. Mari saya bantah ini dengan contoh. Basuki Abdullah adalah seorang yang mempunyai kecekatan teknik lebih dari Affandi yang penuh passi (nafsu) dan emosi, ini pun jika kita masih menganggap teknik melukis akademis yang hampir terbantah sekarang oleh tiap hasil kesenian yang berderajat. Affandi mengharukan, sedang kita melihat Abdullah dengan acuh tak acuh. Affandi hidup lebih dalam dan lebih benar. Affandi matang akan pengalaman hidup, karena dengna dahsyat ia menceritakan hidupnya, jadi “Affandi oleh Affandi sendiri”. Dan soanya antara dua seniman, saudara: perbedaan intensitas, perbedaan maksud dan tujuan dalam mengalami, menjalani sehingga mereka tidak bersentuhan sejenak pun satu sama lain.”

Komposisi: Mengarang dan Kebiasaan Membaca

Mengarang dan kebiasaan membaca buku adalah hal penting yang wajib dijadikan kebiasaan penulis. Dan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendidik anda menjadi sastrawan. Di samping latihan yang teratur, seorang sastrawan membutuhkan bakat untuk dapat menghasilkan karya yang baik.

Tetapi mengarang dalam pengertiannya yang umum tidak memerlukan bakat; ia hanya memerlukan penguasaan atas beberapan pengertian dasar dan latihan. Dan tulisan ini mencoba untuk menjelaskan beberapa pengertian dasar tersebut, di samping mengajak anda untuk berlatih mengarang.

Baik pengertian dasar maupun latihan akan disertai contoh-contoh yang sangat terbatas. Sebenarnya contoh lebih bermanfaat daripada penjelasan panjang-lebar yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Dan contoh-contoh itu dapat anda dapatkan di luar tulisan ini.


Buku, majalah, dan koran merupakan sumber utama untuk contoh karang-mengarang. Seseorang yang ingin memiliki keterampilan mengarang mau tidak mau harus rajin mencari contoh karangan yang baik. Dengan kata lain, ia harus rajin membaca.

Harus diakui bahwa membaca sering lebih bermanfaat bagi calon pengarang daripada penjelasan yang berkepanjangan tentang cara mengarang.

Membaca berarti menambah pengetahuan kita tentang berbagai hal sekaligus: kosakata, cara penyusunan kalimat, teknik penyusunan alinea, pemilihan topik, pembatasan dan penentuan gagasan, dan gaya. Contoh di bawah ini akan dapat menjelaskan maksud kalimat di atas.
  • PENGANTAR REDAKSI
            Adik-adik yang manis!
            Bila majalah nomor 58 ini berada di tanganmu, pastilah kalian mmenerima rapot. Bagaimana nilainya? Bagus? Naik kelas? Jadi juara kelas?
            Bagi adik-adik yang naik kelas, kakak ucapkan selamat. Semogalah kalian lebih giat belajar lagi, guna mencapai cita-cita kalian. Bagi adik-adik yang tinggal kelas, kalian pun harus lebih keras memeras keringat dalam belajar, agar pada akhir tahun mendatang kalian dapat naik kelas, jadi juara kelas bahkan menjadi murid teladan.
            Nah, pokoknya semua tanpa kecuali kakak undang untuk bergembira dan bersantai bersama Tomtom.
            O ya, hampir lupa. Perlu kakak beritahukan, meskipun sekolah sedang libur, tetapi Tomtom tetap terbit seperti biasa.
            Selamat menikmati liburan panjang dan salam maniiiis!
                                                                                                            Kak Daktur


Contoh yang dikutip dari majalah Tomtom (Th. IV, no. 58 1977: 12) ini ditulis oleh salah seorang redaksi dan ditujukan untuk pembaca yang umumnya pelajar sekolah dasar.

Redaktur itu harus memilih kata-kata yang diperkirakan ada dalam kosakata pembacanya; ia tidak boleh menggunakan kata-kata istilah yang mungkin hanya dimengerti oleh ahli-ahli ilmu sosial atau dokter saja.

Dalam karang-mengarang, pemilihan kata itu sangat penting artinya. Pemilihan kata itu menunjukkan siapa penulis dan siapa pembacanya, di samping hubungan antara keduanya.

Dalam kutipan di atas, kata-kata yang sudah dipilih itu disusun dalam kalimat-kalimat yang boleh dikatakan sederhana.

Ada dua belas kalimat dalam contoh di atas dan sembila di antaranya adalah kalimat pendek yang sederhana. Hal itu tidak hanya menunjukkan bahwa penulisnya bisa menyusun kalimat-kalimat sederhana, tetapi menunjukkan bahwa ia menyadari siapa pembacanya.

Pelajar-pelajar sekolah dasar dan menengah akan mendapatkan kesulitan memahami kalimat yang terlampau berbelit-belit. Dan kesederhanaan itu juga ditunjukkan dalam teknik penyusunan alineanya.

Empat di antara enam alinea yang terdapat dalam contoh di atas masing-masing terdiri dari satu kalimat saja. Ini juga menunjukkan bahwa penulisnya menyadari benar siapa pembaca tulisannya.

Setiap alinea biasanya berisi sebutir pikiran, dan agar tidak berbelit-belit, butir-butir pikiran itu ditampilkan dalam masing-masing satu kalimat saja.

Majalah Tomtom yang memuat pengantar redaksi itu terbit pada bulan Desember 1977, bulan kenaikan kelas dan ujian.

Penulis harus pula memperhitungkan hal tersebut. Ia harus memilih topik atau pokok pembicaraan, yang sesuai dengan bulan terbitnya majalah. Dan memang yang menjadi pokok pembicaraan pengantar redaksi adalah rapor dan kenaikan kelas – tidak lupa ucapan selamat, di samping pemberitahuan bahwa majalah itu tetap terbit pada masa liburan.

Dua hal yang disebut terakhir itu nampaknya merupakan gagasan utama pengantar tersebut. Majalah itu tetap terbit walaupun para pelajar sedang dalam masa libur. Oleh sebab itu, redaktur perlu memberitahukan bahwa majalahnya tidak ikut libur terbit, dan pelajar-pelajar diharapkannya untuk tetap membeli Tomtom di waktu liburan.

Tetapi, tidak pantas rasanya apabila ajakan untuk membeli majalah itu disampaikan secara langsung begitu saja; caranya adalah menyelipkan gagasan itu di sela-sela pembicaraan tentang kenaikan kelas dan ucapan selamat.

Gaya penulisan pengantar itu pun khas majalah pelajar. Sikap penulis seperti seorang kakak yang sedang bercakap-cakap dengan adiknya. Keakraban menjadi tujuan utama gaya penulisan semacam itu, yang antara lain nampak dalam penggunaan kata “adik yang manis” dan “salam maniiiis!”. Demikian juga kalimat-kalimat pendek pada alinea kedua.

Untuk melanjutkan pembicaraan tentang peranan pembaca dalam karang-mengarang, kita kutip sebagian “Pengantar Redaksi” lain.
  • PENGANTAR REDAKSI 
Pada mulanya adalah komunikasi. Di dalam konteks pembangunan, ungkapan ini mendapatkan tempat yang lebih penting lagi; karena dalam pembangunan yang melibatkan demikian banyak manusia – dan bukan beberapa orang saja – proses bersama itu hanya mungkin berlangsung bilamana terjadi komunikasi di antara para peserta pembangunan itu.

Maka pembangunan bukan hanya membutuhkan teknologi dan modal, melainkan – lebih dasar dari itu – ia membutuhkan pengertian, proses kesadaran, dan dukungan masyarakat.

Tidaklah mengherankan kalau dalam REPELITA II ditegaskan bahwa pembangunan itu jangan hanya dilihat sebagai tujuan akhir, sebab ia juga merupakan proses untuk memajukan kehidupan masyarakat. Dan sebagai proses, pembangunan menuntut adanya komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Malahan dapat dikatakan bahwa pembangunan akan berhasil kalau ia dimulai dengan suatu sistem komunikasi yang teratur, ditunjang oleh suatu sarana komunikasi yang efektif, dilaksanakan dengan cara-cara yang wajar dan sehat serta dilangsungkan secara pesat dan terus-menerus antara para peserta pembangunan.

Semua ini adalah masuk akal, jelas, sederhana, dan juga bagus, apalagi kalau kita hanya membatasi pada hal-hal yang menyangkut ide dan cita dan melepaskan diri sejanak dari pembicaraan mengenai sampai berapa jarak yang ada antara ide ini dengan kenyataan.

Bagaimanapun, kini diakui peranan komunikasi yang sentral dalam pembangunan Indonesia. Sudah dicanangkan maklumat kunci suksesnya REPELITA II: “komunikasi dua arah” antara pemerintah dan masyarakat. Di mana-mana pejabat berbicara mencari feedback, perlunya informasi & data yang lengkap dan akurat untuk pembangunan.

Begitulah, kini jelas dikehendaki supaya komunikasi menunjang pembangunan. Ini ideal sekali, sekaligus tidak mudah. Kita di Indonesia belum cukup punya tradisi yang melembaga untuk menampung fungsi komunikasi yang mungkin lebih banyak ditandai oleh komunikasi politik: agitasi, propaganda, kampanye, desas-desus, kritik pedas, pameran, dsb, yang umumnya sedikit sekali berisi informasi, pendidikan, atau analisa yang positif dan komprehensif.

Juga komunikasi bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan hanya akan efektif menunjang pembangunan kalau ia terjadi dan berlangsung dalam iklim dan semangat yang benar-benar komunikatif. Artinya, karena komunikasi menyangkut “kebersamaan” dalam hidup bermasyarakat, ia minta banyak hal serba terang dan terbuka, kejujuran, dan saling menghormati antara komunikator dan komunikasi pembangunan.


Kutipan di atas adalah dua alinea pertama dari enam alinea “Pengantar Redaksi” majalah Prisma (Th. III, No 3, 1997: 2), ditulis oleh Ismid Hadad, redaktur majalah itu.

Dibandingkan dengan contoh pertama tadi nampak jelas bahwa meskipun keduanya merupakan “Pengantar Redaksi”, setiap unsur yang terdapat dalam contoh kedua ini berbeda.
Kata-kata yang dipilih oleh penulis menunjukkan bahwa ia tidak menunjukkan pengantarnya itu bagi pelajar sekolah menengah – apalagi sekolah dasar.

Bahkan ada beberapa kata yang hanya bisa dipahami oleh orang yang sudah pernah belajar serba sedikit tentang ilmu sosial.

Orang yang kosakatanya tidak mencakup kata-kata pinjaman dari bahasa asing, terutama Inggris, akan sedikit mengalami kesulitan menangkap maksud pengantar itu. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan tersebut memang sengaja ditujukan kepada golongan masyarakat terpelajar, yang menaruh minat terhadap masalah sosial negeri ini.

Susunan kalimat dalam kutipan itu pun tidak sederhana benar. Bahkan ada beberapa kalimat panjang yang rumit susunannya, yang dimaksudkan untuk menyampaikan pengertian yang rumit pula. Ini pun dengan jelas menunjukkan siapa penulis dan siapa pembacanya. Juga kedua alinea yang dikutip itu merupakan alinea yang panjang-panjang, yang tidak berisi sebutir gagasan sederhana.

Alinea kedua, misalnya, berisi tidak kurang dari sembilan kalimat, sebagian besar merupakan kalimat yang tidak sederhana susunannya. Gagasan yang ingin disampaikan penulis bukan gagasan sederhana, dan oleh karenanya tidak mungkin disampaikan dalam kalimat-kalimat yang terlalu sederhana.

Gaya penulisan pengantar redaksi di atas juga sama sekali lain dengan contoh pertama. Pengantar contoh kedua itu dimulai dengan kalimat “Pada mulanya adalah komunikasi”, kalimat yang mengingatkan kita kepada sebuah baris dalam kitab Injil atau kitab-kitab lain yang menggambarkan tentang awal mula dunia dan manusia.

Mau tidak mau kalimat serupa itu membawa kita kepada pokok pembicaraan yang sungguh-sungguh. Dan gaya penulisan yang ditunjukkan penulis selanjutnya membuktikan bahwa ia tidak menganggap pembaca sebagai orang-orang yang lebih muda usianya atau yang lebih rendah pengetahuannya; ia menganggap pembaca memiliki pengetahuan yang sama dengannya. Ia mengajak pembaca menyelami berbagai gagasan tentang komunikasi dan kepentingannya dalam pembangunan Indonesia.

Kedua kutipan di atas bukanlah merupakan contoh karangan yang sempurna cara penulisannya. Ada beberapa kekurangan yang masih bisa diperbaiki. Maksud pengambilannya sebagai contoh adalah untuk sekedar mempertunjukkan bahwa bahkan dengan judul yang sama dua orang penulis bisa menghasilkan karangan yang sangat berlainan unsur-unsurnya.

Majalah Tomtom adalah majalan anak-anak, sedangkan majalah Prisma adalah majalah ilmiah populer yang mengkhususkan diri pada penampilan masalah sosial; minat pengasuh dan pembacanya sangat berlainan; dua hal itulah yang menentukan perbedaan dalam pengantar yang mereka tulis.
Di samping kedua macam majalah tersebut, masih banyak lagi macam majalah lain. Ada majalah-majalah wanita, keluarga, mode, musik, olahraga, sastra, dan lain-lain. Masing-masing memuat karangan pembacanya.

Di samping majalah ada pula buku, yang juga bermacam-macam isi dan gaya penulisannya, tergantung dari penulis dan pembacanya.

Karangan atau buku yang berisi laporan ilmiah tentulah mempunyai isi dan gaya tulisan yang berbeda dengan buku atau karangan yang ditunjukan bagi anak-anak sekolah dasar dan menengah, lain lagi dengan buku atau karangan yang dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengusahaan pertanian. Masing-masing mengandung isi yang khas, yang menentukan gaya penulisannya.

Dalam zaman modern ini jarang sekali seorang penulis menguasai semua bidang penulisan. Pembagian bidang yang semakin terperinci menuntut sebagian besar kita menjadi spesialis, orang-orang yang menguasai bidang tertentu saja.

Tentu saja kenyataan itu tidak usah menuntup kemungkinan adanya satu dua orang yang memiliki kemampuan menulis tentang berbagai bidang, dalam berbagai gaya pula.

Tidak jarang seorang ahli ilmu sosial yang sangat pandai menyusun laporan ilmiah juga pandai menulis karangan yang dengan mudah bisa dibaca dan cernakan anak-anak. Namun begitu biasanya seorang penulis yang baik khusus menguasai satu bidang dan memiliki gaya penulisan yang khas di bidang itu.

Kalaupun ia menulis di bidang lain biasanya gaya penulisannya terpengaruh oleh bidang pertama tadi. Seorang wartawan yang juga pengarang akan menulis karya sastra yang bergaya jurnalis, atau karangan jurnalistis yang berbau sastra.

Karangan ini tidak akan membimbing anda menjadi seorang spesialis dalam penulisan. Pengertian dan latihan yang ditampilkan sangat umum sifatnya, dan anda sendirilah nanti yang akan menentukan spesialisasi diri anda sendiri.

Satu hal yang penting dicatat adalah bahwa meskipun setiap bidang menuntut gaya penulisan tersendiri, ada hal-hal umum yang harus dikuasai oleh siapa pun yang ingin menyusun karangan. Hal-hal yang umum itulah yang memungkinkan ditulisnya buku ini.

Tentu saja penguasaan atas hal-hal tersebut sama sekali tergantung kepada kegiatan dan minat anda sendiri.

Karangan ini saja tidak cukup membekali anda dengan keterampilan seorang penulis yang baik. Anda harus berusaha untuk menambah bekal dengan cara membaca sebanyak-banyaknya.

Hanya dengan cara itulah anda bisa semakin memahami seluk beluk penulisan dan akhirnya menguasainya.

Sekarang ini hampir setiap koran memuat berbagai macam karangan secara teratur di samping majalah dan buku yang semakin banyak diterbitkan. Tentu saja tidak semua karangan itu ditulis dengan sebaik-baiknya, tetapi paling sedikit anda akan bisa mendapatkan denga membaca sebanyak-banyaknya.

Kosa kata, cara penyusunan kalimat dan alinea, penentuan gagasan – semua itu dapat anda dapatkan dari membaca sebanyak-banyaknya.

Dengan membaca anda juga bisa mengenal berbagai bentuk gaya menulis, dan nantinya anda bisa mengembangkan salah satu gaya yang anda sukai dan kuasai. Gaya penulisan inilah yang sebenarnya paling sulit diajarkan; ia akan berkembang dengan sendirinya setelah anda membaca luas.

Tulisan ini juga akan berusaha untuk menunjukkan perbedaan utama antara karangan yang buruk dan yang baik, sehingga anda mempunyai.

Pengetahuan Dasar Tata Bahasa

Yang kita bicarakan adalah karang-mengarang dalam bahasa Indonesia. Setiap bahasa mempunyai aturan-aturan tertentu yang meliputi beberapa hal antara lain dalam hal pembentukan kata, penyusunan kalimat, dan penggunaan kata. Aturan-aturan itu ada yang keras, artinya sama sekali tidak boleh dilanggar, da nada yang lunak, artinya ada beberapa pilihan.

Itu semua disebut tata bahasa. Siapa pun yang ingin menulis karangan dalam bahasa Indonesia harus menguasai tata bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Tanpa penguasaan itu ia hanya akan menghasilkan karangan yang tidak terbaca, atau meskipun terbaca akan mudah menimbulkan salah paham.

Penguasaan tata bahasa dalam hal ini tidak berarti hapal istilah-istilah tata bahasa yang sangat banyak jumlahnya itu, tetapi berarti mampu menerapkan aturan-aturannya  dengan baik.

Kita ambil sebuah contoh berita berikut ini:
Pembangunan masjid Jami Purworejo hingga kini baru selesai tahap pertama, untuk menyelesaikannya masih diperlukan biaya Rp 32 juta lagi.
            Pemugaran tahap pertama di bagian serambi dengan menelan biaya Rp 24,5 juta, di antaranya bantuan presiden.

Contoh ini diambil dari harian Sinar Harapan (13/12/1977). Meskipun susunan kalimat-kalimat dalam berita yang disampaikan penulisnya. Tata bahasa masih diterapkan dengan memadai. Tetapi seandainya berita tersebut disusun seperti di bawah ini, masihkah kita bisa menangkap isinya:
            Jami, masjid pembangunan Purwerejo pertama, hingga tahap kini baru selesai. Masih Rp 32 juta. Diperlukan biaya lagi untuk menyelesaikannya.
            Pertama, tahap pemugaran serambi depan menelan presiden. Bantuan di bagian biaya Rp 24,5 juta
.


Contoh kedua itu, yang kami susun sendiri, terdiri dari sejumlah kata yang sama sekali tak berbeda dengan kutipan pertama. Tetapi perubahan letak kata dan penempatan tanda baca yang berlainan telah mengakibatkan kedua kutipan tersebut sama sekali berbeda isinya. Bahkan boleh dikatakan contoh kedua itu tak ada isinya sebab sulit sekali dipahami.

Alinea pertama mungkin masih mengandung isi, yang sama sekali berbeda dengan isi alinea pertama contoh pertama. Tetapi alinea kedua contoh kedua sama sekali tidak bisa dipahami, kecuali hanya sebagai kelakar.

Berita tersebut akan lebih parah lagi keadaannya seandainya si penulis sama sekali tidak mengindahkan aturan bahasa sehingga, misalnya, kata “pembangunan” diganti “perbangunan”, kata “diperlukan” diganti “memerlukan”, kata “untuk” diganti “terhadap”, dan seterusnya.

Apalagi kalau penempatan tanda baca semena-mena saja. Perlu selalu diingat bahwa tanda baca merupakan bagian yang sangat penting dalam tata bahasa, dan sering menjadi hal yang paling sulit diterapkan.

Karangan yang enak dibaca dan jelas maksudnya selalu ditulis menurut tata bahasa. Ada orang yang berpendapat bahwa beberapa sastrawan telah berhasil menciptakan karya sastra yang bagus tanpa mengindahkan tata bahasa sama sekali. Itu bohong besar. Tidak ada sastrawan besar yang tidak mengindahkan tata bahasa.

Tidak ada sastrawan besar yang tidak menguasai tata bahasa dengan sangat baik. Kalaupun dalam beberapa (alinea) karangannya nampak seolah-olah ia tidak mempedulikan tata bahasa, hal itu sebenarnya justru merupakan usahanya untuk memanfaatkan aturan yang sebaik-baiknya – agar apa yang dimaksudkannya bisa tersampaikan setepat-tepatnya.

Di samping itu kita harus pula selalu ingat bahwa sebenarnya ada bermacam-macam “tata bahasa” dalam bahasa mana pun, masing-masing sesuai untuk macam tulisan tertentu.

Tetapi anda tidak akan dibimbing untuk menjadi sastrawan besar. Oleh karena itu masalah di atas sebaiknya ditinggalkan saja. Kita sebaiknya sepakat untuk tunduk kepada aturan-atura yang ada dalam bahasa kita.

Hal itu bukan merupakan tugas yang sangat berat, sebab, seperti akan terbukti nanti, aturan-aturan tersebut tidaklah sekeras yang kita bayangkan.

Penggunaan Kamus

 Di samping  pengetahuan dasar tata bahasa yang baik, seorang penulis harus memiliki kosa kata yang memadai.

Dengan kosa kata yang terbatas ia bisa saja menyusun karangan, tetapi karangan tersebut pasti terasa membosankan dan hambar apabila ada terlalu banyak kata yang dipergunakan berulang-ulang.

Kosa kata yang terbatas juga bisa menyebabkan maksud penulis  tidak terkomunikasikan dengan semestinya. Ada berbagai cara untuk memperkaya kosa kata, antara lain membaca karangan orang lain dan membaca kamus.

Kamus diterbitkan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Menaruh kamus sebagai hiasan lemari buku belumm berarti memanfaatkannya. Seorang penulis yang baik harus selalu menyediakan kamus di sampingnya.

Jumlah kata begitu banyak dalam bahasa kita tidak mungkin dihapal seluruhnya; tidak setiap kata yang kita temui dalam karangan kita ketahui artinya. Lagi pula ada kata yang memiliki berbagai arti, da nada suatu arti yang bisa diwakili oleh berbagai kata. Hal itu menjadi masalah kita semua, baik sebagai pembaca maupun –dan terutama sekali – sebagai penulis.

Ada bermacam-macam kamus yang beredar, antara lain kamus istilah, kamus sinonim, dan kamus umum. Daam hal-hal tertentu, kamus-kamus itu besar sekali peranannya dalam membantu kita menyusun karangan.

Kalau kita menulis karangan yang menyinggung masalah kegagalan panen, misalnya, kamus istilah pertanian bisa sangat berguna. Dengan membaca kamus itu kita tidak akan membuat kesalahan yang memalukan, seperti misalnya menganggap hama wereng mempunyai bentuk seperti tikus sawah.

Kamus sinonim sangat bermanfaat apabila kita berusaha agar karangan kita tidak membosankan karena menggunakan kata-kata yang itu-itu saja.

Kalimat “Penulis telah berhasil menulis beberapa tulisan” akan lebih tidak menjemukan apabila diubah menjadi “Pengarang itu telah berhasil menyelesaikan beberapa tulisan” atau “Penulis itu telah berhasil menciptakan beberapa karangan.

Kamus umum yang baik mampu menolong kita dalam berbagai hal. Di samping memberikan batasan arti setiap kata yang dicantumkan di dalamnya, ia juga memberikan contoh penggunaannya.

Dalam kamus umum diperlihatkan bahwa tidak sedikit kata yang memiliki berbagai arti, kata-katang sudah tidak jelas lagi hubungan antara satu dan yang lain – bahkan ada yang sama sekali tidak ada hubungannya.

Coba anda perhatikan dua buah kalimat berikut ini:
  1. Jarak antara jarak-jarak di pagar itu rapat sekali.
  2. Keganasan harimau jadi-jadian itu semakin menjadi-jadi. Puncaknya terjadi ketika orang-orang sedang merayakan hari jadi desa itu.
Biasanya kita beranggapan bahwa kamus tidak begitu berguna; sebagai orang Indonesia ktia toh sudah menguasai bahasa Indonesia dengan sempurna, begitu pikir kita.

Pikiran demikian sama sekali keliru. Penulis yang tidak mau atau malas membuka kamus biasanya bukanlah orang yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.

Sastrawan yang besar pun biasa membuka-buka kamus, apalagi orang yang baru belajar karang-mengarang.

Kadang-kadang keengganan membaca kamus disebabkan karena rasa malu saja; mencari arti atau kata dalam kamus sama sekali bukanlah hal yang memalukan.

Kegiatan itu justru menunjukkan ketelitian. Penulis adalah orang yang mempergunakan kata-kata sebagai alat, oleh karenanya ia harus sangat teliti dalam menggunakan alatnya itu.
***

(Ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, dimuat di majalah Pengajaran Bahasa dan Sastra, Tahun III No.1 1977)

Sekeping Kenangan – Pengalaman Hidup yang Berharga di Balai Pustaka

Pada waktu itu taufan di atas Asia telah menghitami angkasa dengan ancaman “Perang Pasifik” yang setiap saat bisa meledak. Dari pembuangannya di Pulau Banda, Bung Hatta baru saja mengumandangkan peringatannya bahwa fasisme Jepang pasti bakal menyerang kepulauan Nusantara kita dan menjajah kita.

sastra indonesia, achdiat k mihardja, novel atheis

Dia memperingatkan kita bahwa imperialisme fasisme lebih jahat dan lebih kejam daripada imperialisme kapitalisme liberal. Karena itu, dia menganjurkan supaya kita waspada dan menentang penjajah baru yang sudah mengancam di ambang pintu itu.

Ketika itu saya baru berumah tangga dan punya anak satu, tinggal di kota Bandung. Bekerja? Tidak. Menganggur? Tidak juga. Punya penghasilan? Ya, lumayan.

Pertemuan dengan Raden Satjadibrata

Suatu Sabtu sore yang cerah. Saya sedang baca-baca buku di serambi muka rumah sewa di Gang Yuda. Datanglah seorang laki-laki setengah baya, berpakaian setelan jas tutup putih lengkap dengan “bendo” (tutup kepala dari batik model Sunda) menclok di atas kepalanya.

Kalau sekarang di zaman Orba ini adalah safari, maka di zaman itu pakaian putih pakai bendo itulah ciri amtenar (pegawai negeri), walaupun sebenarnya tidak ada peraturan yang mengharuskan. Amtenar yang muda-muda dan modern lebih suka pakai jas bukaan dan dasi, tanpa apa-apa di atas kepalanya. Tidak tanggung-tanggung, ala Barat-lah.

Karena saya sudah pernah satu-dua kali bertemu dengan tamu yang perlente dan berbendo itu di Jakarta (masih disebut Batavia atau Betawi ketika itu), maka segeralah saya mengenalnya. Bersalaman cara Sunda. Ramah menyenangkan. Dia itu pengarang Sunda terkenal, Raden Satjadibrata.

Dia datang dari Jakarta. Maksudnya datang ke rumah saya?

“Kieu, Raden,” katanya dalam bahasa Sunda. Dia menegur saya dengan dengan kata “raden”, suatu kata teguran di kalangan kaum “feudal” Sunda pada zaman itu; biasa digunakan oleh orang yang lebih tua untuk menenggang terhadap orang yang mudaan. Ternyata amtenar itu datang sebagai utusan pimpinan Balai Pustaka di Betawi untuk menawarkan pekerjaan.

Jadi “amtenar”?! Pegawai pemerintah jajahan Belanda?! Wah, saya bimbang. Ragu. Mengerutkan dahi sejenak.

Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang amtenar. Semangat nasionalisme yang idealistis dan kadang-kadang naïf-romantis mendominasi pada umumnya sikap para pemuda pelajar zaman itu.

Maklum, Sumpah Pemuda masih segar, dan pembuangan para pemimpin besar Sukarno, Hatta, Sjahrir, Iwa Kusumah Sumantri, dan lain-lain yang ketika itu masih muda-muda pula (usia 20-an dan 30-an) tidak mempan memadamkan semangat kebangsaan dan idealisme pada pemuda yang tetap menyala.

Menjadi wartawan freelance

Begitu tamat AMS (SMA) jurusan sastra-budaya Timur, saya langsung bekerja sebagai guru Taman Siswa di Kemayoran, Betawi. Kemudian jadi redaktur surat kabar harian dan majalah. Kemudian lagi buka warung, jualan beras, kayu bakar, minyak tanah, ikan asin, gula, garam, terasi, dan keperluan rakyat kecil sehari-hari lainnya. Tempatnya di Gang Kebon Manggu, Bandung.

Dalam warung itulah anak pertama kami lahir. Akhirnya kami membeli pabrik kue dan roti dari seorang Cina yang bangkrut kalah judi. Tapi selama itu saya pun bekerja sebagai wartawann freelance dan menulis di pelbagai surat kabar dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia, Sunda, maupun Belanda.

Barangkali saya dikenal Balai Pustaka itu lewat tulisan-tulisan saya. Itulah maka saya ditawari pekerjaan.

Dengan latar belakang pengalaman hidup yang bebas idealistis seperti itulah saya menghadapi utusan dari Balai Pustaka itu. Semangat nasionalisme yang non-kooperatif terhadap pemerintah jajahan masih menyala.

Tapi bersamaan dengan itu peringatan Bung Hatta akan ancaman imperialisme fasis Jepang yang lebih berbahaya itu nyaring pula suaranya. Saya seolah disuruh memilih pihak yang paling “kurang jahatnya” dan melepaskan sikap “non-kooperatif” itu.

Tapi dalam pada itu, saya ingin tahu juga, bagaimana detail perjanjiannya. Misalnya, apa pangkatnya? Berapa gajinya? Dan sebagainya.

Menerima tawaran kerja di Balai Pustaka

Pangkatnya!? Sebagai permulaan saya akan bekerja sebagai voluntair (magang) dengan gaji sebulan 40 gulden. Sesudah tiga bulan, baru diangkat sebagai pegawai tetap dengan pangkat adjunct hoofredacteur (semacam wakil redaktur kepala) dengan gaji permulaan 70 gulden.

Begitulah saya dengar keterangan tamu yang saya hormati itu. Tapi dengan hormat pula saya keluarkan buku catatan keluar-masuknya keuangan pabrik kue dan roti itu.

Hampir tak percaya agaknya meneer (tuan) Satja ketika melihat jumlah keuntungan bersih dari pabrik itu. Rata-rata per bulan ada sekitar 150 gulden. Zaman itu lebih dari lumayan untuk hidup suatu keluarga muda yang baru punya anak satu hidup di kota Bandung.

Tapi akhirnya saya terima juga tawaran itu. Terutama atas desakan ibu saya yang sangat menginginkan anaknya menjadi seorang amtenar.

Ibu, juga bapak, adalah keturunan “menak” yang malah bukan amtenar biasa, melainkan amtenar BB (Binnenlands Bestuur), yaitu golongan pejabat pangreh praja, yang dianggap golongan paling elite dan paling terhormat di kalangan masyarakat bangsa pribumi feudal-kolonial itu.

Puncaknya adalah “Regent” alias “Bupati” yang di kalangan masyarakat feodal Sunda dapat julukan “Panggung” atau “Pangawulaan” yang tiada lain artinya ialah orang yang harus disembah-sembah, diagung-agung, dipayungi kalau jalan kaki.

Pindah ke Jakarta

Di Betawi kami sewa rumah di Pejambon, kemudian di Petojo. Tiap hari saya kerja menggenjot sepeda ke kantor Balai Pustaka di belakang gedung Departemen Keuangan, dan Societeit Condordia, di sebelah Lapang Singa, sekarang dikenal sebagai Lapang Benteng.

Ya, naik sepeda! Semuanya naik sepeda. Aman. Sehat. Lalu lintas belum semrawut seperti Jakarta tahun 90-an ini. Atau naik trem. Santai. Atau jalan kaki kalau dekat-dekat rumahnya.

Ruangan kerja kami merupakan suatu bangsal yang luas dan tinggi atapnya dengan di sekelilingnya jendela-jendela besar yang berjeruji besi yang tebalnya setebal jempol kaki. Selalu terbuka lebar-lebar, sehingga hawa sangat leluasa masuk, membikin tempat itu enak sejuk untuk kerja otak dan ngelamun. Yang konon, tempat itu bekas kandang kuda pasukan kavaleri tentara kolonial Belanda sejak zaman Gubernur Daendels dulu.

Kadang-kadang mata humor saya melihat diri saya dan amtenar-amtenar yang bekerja di situ, seolah-olah kuda-kuda juga. Tapi kuda-kuda itu membunyikan ringkikannya berupa syair-syair, tembang-tembang, cerita-cerita, artikel-artikel, dan buku-buku.

Pokoknya, kuda-kuda yang pintar-pintar, deh, karena mereka adalah penulis-penulis yang masih langka di “zaman buta huruf  90%” itu. Semuanya orang Indonesia dari pelbagai kesukuan. Ada yang pakai kain panjang dengan blangkon model Yogya yang pakai jendolan telor asin di belakangnya. Ada yang pakai bendo seperti meneer Satja. Ada juga yang pakai kopiah Padang dari kain satin abu-abu yang mengkilat seperti yang biasa dipakai orang-orang Minang.

Pada hari pertama saya memasuki dunia keamtenaran itu saya diperkenalkan oleh meneer Satja kepada Dr. K.A.H Hidding, seorang orientalis Belanda yang menjadi kepala Balai Pustaka. Kemudian, kepada dua lagi orientalis Belanda, yaitu Dr. A.A. Fokker dan Dr. Uhlenbeck yang membantu kepala.

Bayangin! Mereka doktor-doktor! Bukan main! Jelas, pemerintah jajahan Belanda sadar bahwa sebuah lembaga pemerintah mengelola urusan penerbitan sastra, bahasa, dan budaya untuk masyarakat pribumi bukan soal yang sepele seperti menyediakan nasi goreng untuk sarapan.

Ini soal menyediakan makanan otak dan jiwa; soal pendidikan budaya dan moral masyarakat yang harus “baik, indah, dan benar” menurut ukuran dan kepentingan masyarakat yang pada zaman itu masih bercorak feolda-kolonial.

Bangsal besar bekas kandang kuda itu dibagi dalam empat bagian yang tidak dipisah-pisah oleh dinding atau pagar pemisah, melainkan terbuka seluruhnya. Tapi tiap bagian tahu tempatnya masing-masing.

Keempat bagian itu adalah bagian administrasi yang mencakup pula sebuah “kandang” kecil tempat seorang kasir Cina mengeluarkan dan menerima uang; bagian kedua adalah bagian Melayu (secara resmi sebutan “Indonesia” tidak diizinkan) yang mengurus penerbitan buku-buku Melayu dan majalah “Panji Pustaka”; bagian ketiga adalah bagian Jawa, yang mengurus penerbitan buku-buku Jawa dan majalah “Kejawen”; dan yang keempat adalah bagian Sunda yang mengurus penerbitan buku-buku Sunda dan majalah “Parahiangan”. Di bagian keempat inilah saya ditempatkan.

Setelah diperkenalkan kepada ketiga orientalis di kamar kerja mereka masing-masing yang terpisah dari ruangan besar yang ditempati oleh keempat bagian itu, saya akhirnya bergerak dari meja ke meja diperkenalkan kepada teman-teman sejawat saya yang ramah-ramah menyelamatdatangkan saya sebagai “amtenar baru”.

Ada juga yang saya sudah kenal lama. Yaitu Armijn Pane dan kakaknya, Sanusi Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Ketiganya lagi aktif dalam mengerjakan suatu pekerjaan “pionir”, yaitu mengelola majalah sastra budaya Indonesia yang paling pertama muncul dalam sejarah bangsa kita, Indonesia.

Seorang lagi dari golongan pionir-pionir itu, yang juga sudah saya kenal namanya, yaitu H.B. Jassin. Tapi baru sekarang saya ketemu dalam tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tapi solid bentuknya, seperti kemudian ternyata solid pula nama dan kedudukannya sebagai seorang kritikus sastra Indonesia modern paling pertama mengangkat bidang kritik-mengkritik sebagai bidang keahliannya. Dia seorang pengelola Pujangga Baru juga. Sekretaris redaksinya. Kacamatanya tebal.

Cuma satu tokoh lain yang juga pionir Pujangga Baru tidak saya lihat bekerja di Balai Pustaka. Yaitu Amir Hamzah, teman sekelas saya ketika kami belajar di AMS (SMA) jurusan Sastra-Budaya Timur di Solo (1929-1932). Saya diperkenalkan juga kepada pengarang-pengarang yang oleh sementara pengarang muda macam Idrus digolongkan ke dalam Angkatan 20 (pra-Pujangga Baru). Pengarang-pengarang itu di antaranya ialah Nur Sutan Iskandar dan Aman Datuk Majoindo. Dua-duanya penulis roman.

Saya ditempatkan di bagian Sunda. Kepalanya adalah Meneer Satjadibrata sendiri yang berpangkat “hooofdredacteur” (redaktur kepala). Dia pengarang Sunda yang tradisional. Tulisan-tulisannya masih berbentuk tembang macapat seperti bentuk puisi asmaradana, dangdanggula, kinanti, dan lain-lain yang membacanya harus dinyanyikan menurut lagu yang khas untuk bentuk yang bersangkutan.

Kalau meneer Satja lagi mengarang sesuatu, dia sudah biasa sambil menyanyi. Kata-kata yang keluar dari ujung penanya adalah kata-kata yang mengalun di atas lagu keluar dari mulutnya. Kadang-kadang mengagetkan seluruh bangsal. Sekurang-kurangnya mengganggu konsentrasi para pengarang lain seperti saya yang duduk hanya terpisah oleh menja Kang Salmoen, seorang pengarang Sunda yang juga terkenal. Juga dia masih menulis dalam bentuk tembang, walaupun suka masih menulis gaya prosa biasa, terutama artikel-artikel. Tapi dia tidak menyanyi kalau lagi mengarang. Mungkin cuma dalam hati. Pangkatnya adjunct hoofdredacteur, yaitu pangkat yang dalam tiga bulan lagi akan saya duduki.

Saya sangat mendukung Kang Salmoen ketika kemudian dia menulis artikel-artikel yang mengkampanyekan gagasannya untuk mendemokrasikan bahasa Sunda yang bertingkat tiga itu (kasar, lemes kahiji, dan lemes kadua) menjadi hanya satu tingkat saja, seperti halnya bahasa Indonesia, Belanda, Inggris, dan lain-lain yang tidak bertingkat-tingkat. Cuma saya ragu, apakah itu mungkin, kalau jiwa si pemakai bahasa itu tidak (mau) membuang mentalitas feodalnya?

Di sebelah kiri meja saya terletak meja Kang Ero Bratakusumah yang pangkatnya redacteur. Skala gajinya sedikit rendahan dari skala adjunct hoofdredacteur. Sebagai pengarang dia tidak begitu terkenal.

Mungkin karena dia bukan pengarang “kreatif”. Dia penulis artikel-artikel biasa. Saya tak kan lupa jasanya, ketika di zaman Jepang dia bekerja di bagian sensor dari pemerintah fasis militer itu. Banyak artikel-artikel, pidato-pidato, lagu-lagu dan sebagainya yang mengandung kata-kata atau kalimat-kalimat yang punya arti ganda (terutama yang dalam bahasa Sunda) dan dianggap menguntungkan bagi kepentingan perjuangan bangsa kita, dia loloskan. Jepang yang cuma sok tahu bahasa Sunda, dia kibulin di siang bolong.

Pekerjaan saya tidak sukar. Cuma membaca naskah-naskah Sunda yang dikirim orang dan menilainya, apa dapat diterbitkan sebagai buku atau dimuat dalam majalah Parahiyangan. Di samping itu, menulis sendiri. Saya pernah menyusun suatu bunga rampai yang terdiri dari saduran beberapa cerita pantun Sunda yang terkenal, di antaranya Raden Mundinglaya di Kusumah dan Lutung Kasarung. Tapi ketika Jepang masuk, entah ke mana larinya naskah yang tinggal menunggu dicetaknya saja itu?

Menyenangkan sekali suasana kerja dalam bangsal bekas kandang kuda itu. Berkat orang-orangnya yang rajin-rajin dan kreatif. Di antaranya Armijn Pane, sahabat karib saya dari zaman sekolah di AMS Solu dulu (1929-1932). Ketika itu bersama Amir Hamzah, kami bertiga aktif dalam perkumpulan Indonesia Muda.

Sudah di zaman sekolah itu, ketika bahasa Belanda masih merupakan bahasa kaum terpelajar Indonesia, Armijn dan Amir sudah menulis sajak-sajak dalam bahasa Indonesia dan secara sadar dan bersemangat memperjuangkan cita-cita Sumpah Pemuda yang baru saja diproklamirkan (1928).

Selepas AMS (1932) Amir melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum di Jakarta sambil getol menulis sajak-sajak bagus yang dimuat di majalah Pujangga Baru dan lain-lain. Adalah suatu ironi sejarah bahwa pemuda nasionalis yang begitu cerita mencintai hidup, yang begitu halus dan lembut hatinya dan begitu mantap rasa kebangsaannya itu, kemudian di zaman revolusi harus mati dibunuh oleh rakyat yang dia begitu cintai dan perjuangkan nasibnya.

Setamat AMS, Armijn dan saya berlabuh di Taman Siswa. Kemudian, bertiga sama kakaknya, Sanusi, kami bekerja sebagai redaktur harian Bintang Timur dan mingguan bergambar Peninjauan,--dua-duanya milik bekas guru kami di AMS, Solo, seorang Belanda-Indo yang sosialis-demokrat dan pro-kemerdekaan Indonesia. Namanya P.F. Dahler yang di zaman revolusi kemerdekaan diganti menjadi Amir Dahlan. Dia pun pernah bekerja sebagai ahli bahasa di Balai Pustaka. Armijn, Sanusi, dan saya kemudian bertemu lagi dan sama-sama bekerja di Balai Pustaka.

Dengan sendirinya, Armijn dan Sanusi bekerja di bagian Melayu, bersama Sutan Takdir Alisjahbana. Armijn baru menerbitkan novelnya yang terkenal, Belenggu. Penerbitnya bukan Balai Pustaka, melainkan Pujangga Baru (Sutan Takdir Alisjahbana). Sanusi sedang menggarap “Sejarah Indonesia” yang tiga jilid. Saya punya respek yang istimewa terhadap penyair ini yang juga penulis drama, penulis sejarah, teosof, tidak makan daging, mistikus, budayawan, dan politikus.

Semangat kebangsaannya sekeras batu karang. Dia guru di perguruan teosofi Gunung Sari, Lembang. Ketika dia diharuskan memilih antara pekerjaannya dan anggotanya Partindo dari Sukarno, dia tanpa ragu memilih partainya. Akibatnya dia menganggur.

Sebelum sama-sama bekerja di Balai Pustaka, saya jarang sekali bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana. Tapi polemiknya dengan tokoh-tokoh ahli pikir budayawan zaman itu yang dimuat di surat-surat kabar dan majalah Pujangga Baru, sangat menarik perhatian saya. Saya menyadari pentingnya polemik itu dalam sejarah pemikiran bangsa Indonesia yang mencari bentuk identitasnya yang tepat sebagai bangsa yang bersatu, modern, dan bebas-demokratis.

Saya kumpulkan polemik itu dan kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka. Takdir memang istimewa orangnya. Sejak dini dia mengeritik habis-habisan kebudayaan Timur yang dianggapnya terlalu statis, kurang dinamis; terlalu spiritualis, kurang materialistis; terlalu emosional, kurang intelektual; terlalu mengikat diri kepada adat, kurang individualistis dan egoistis; dan sebaiknya kita caplok saja nilai-nilai hidup bangsa Barat itu bulat-bulat, katanya.

Terhadap kritiknya itu Sanusi menjawab dengan anjuran supaya kita “mengawinkan” Faust dan Arjuna. Faust (manusia Barat) yang mandi keringat dan memeras otak untuk menguasai alam, dan Arjuna (manusia Timur) yang bertapa di Bukit Indrakila untuk membersihkan jiwa rohani dari segala kotoran nafsu-nafsunya yang negatif.

Sekarang, sesudah kurang lebih 60 tahun berlalu, gagasan brilian dari penyair-ahli pikir Sanusi Pane mengenai perkawinan simbolis antara Faust dan Arjuna itu masih merupakan perkawinan yang paling benar, paling realistis-manusiawi, paling progresif dan paling ideal bagi saya. Kebudayaan Indonesia modern harus merupakan realisasi dari perkawinan Faust dan Arjuna itu.

Sambil bekerja di Balai Pustaka, Takdir mengikuti kuliah-kuliah di Fakultas Hukum, dan selesai mendapat gelar Meester in de Rechten ketika tentara Jepang mulai menduduki Indonesia. Pegawai lain yang juga mahasiswa adalah penyair Bahrum Rangkuti yang juga penyiar warta berita radio NIROM. Dia seorang pengagum Iqbal, penyair dan filsuf Islam yang juga salah seorang pendiri negara Pakistan. Mengenai filsuf yang penyair besar itu, Bahrum telah menulis sebuah buku.

Seperti diketahui, Bahrum Rangkuti kemudian pernah menjadi Sekjen Kementerian Agama. Dekat kepada meninggalnya dia pernah menghubungi saya dengan banyak pertanyaan mengenai novel Atheis. Dia sedang menggarap sebuah disertasi untuk gelar doktornya, dalam ilmu sastra-budaya mengenai novel tersebut. Sayang tak kesampaian. Keburu meninggal.

Sebenarnya seperti kedua orang muda, Takdir dan Bahrum, yang saya kagumi semangatnya untuk menjadi sarjana itu, saya pun bisa saja melompat-lompat bolak-balik antara ruang keamtenaran dan ruang kemahasiswaan.

Tapi nawaitu saya sudah kepalang tertanam dalam hati sanubari untuk membikin masyarakat sebagai “universitas” saya, orang-orang sesama hidup sebagai “buku-buku” saya di samping buku-buku biasa, kebenaran hidup sebagai “mata kuliah”, dan pengalaman hidup sebagai “guru besar”. Gelarnya? … Yah, “Manusia Biasa Saja”, tak perlu disingkat.

Kota Singapura, benteng pertahanan Angkatan Laut Inggris di Asia Tenggara yang diandalkan tak akan mungkin dapat direbut oleh musuh mana pun, ternyata kebobolan. Dihujani bom oleh Angkatan Udara Jepang, diobrak-abrik oleh tentaranya.

Kewaspadaan dan persiapan perlawanan terhadap serangan musuh di Jakarta pun segera ditingkatkan. Lampu-lampu di seluruh kota dan sekitarnya, baik lampu jalan maupun yang di rumah-rumah, ditutupi dengan selobong hitam agar sinarnya tidak memancar ke atas atau ke samping.

Malam hari hitam kelam. Semua lampu mati, kecuali di tempat-tempat yang diperlukan. Itu pun sangat terbatas. Lubang-lubang perlindungan diperbanyak. Latihan-latihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama kecelakaan ditingkatkan. Seluruh pegawai Balai Pustaka dibagi dalam beberapa kelompok penjaga bahaya udara. Berseragam warna biru. Kelompok-kelompok bergiliran menjaga kantor pada malam hari.

Suasana yang luar biasa dan penuh bermacam-macam perasaan yang tak menentu itu sangat mencekik jiwa saya. Istri yang sedang hamil dan anak satu-satunya yang masih kecil telah saya ungsikan ke orang tua di Garut. Bayangkan suasana malam hari di bangsal besar yang 90 persen gelap itu, duduk di antara meja-meja dan kursi-kursi kosong. Hanya ditemani dua-tiga pegawai lain yang sama berpakaian seragam biru dan berpencaran duduknya. Seperti hantu-hantu hitam layaknya. Suasana murung, tidak cerita, tidak ramah.

Untuk mengusir pesimisme tentang hari depan bangsa dan khususnya diri sendiri dan keluarga, saya memanfaatkan cahaya lampu yang terbatas itu untuk baca-baca atau kadang-kadang juga menulis. Pernah saya menulis sebuah sajak yang menurut perasaan saya cukup baik sebagai curahan rasa dari hati yang sedang gundah gulana, dirundung bingung itu.

Seperti biasa sajak itu saya tulis dalam bahasa Belanda. Kasih lihat sama H.B. Jassin yang saya bisa percaya akan keahliannya menilai karya sastra. Tapi apa lacur! Habis sajakku itu kena kritiknya. “Klapwiekende klapperblaren”.

Apa itu? Kata Jassin sambil ketawa-ketawa tajam menirukan dengan kedua belah tangannya gerak laku seekor ayam jago yang mengepak-ngepakkan sayapnya sebelum berkokok. “Kuklekuu!” bunyi Jassin. Peristiwa kecil yang lucu itu tak akan saya lupakan, karena sejak itu saya tidak mau coba-coba lagi menulis sajak. Sekurang-kurangnya dalam bahasa Belanda.

Zaman Jepang

Sejarah membuka halaman baru.

Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut. Nasib bangsa Indonesia jatuh ke bawah telapak sepatu bot penjajah baru.

Selama masa penjajahan Jepang dan kemudian selama zaman revolusi kemerdekaan saya menempuh jalan hidup dan perjuangan yang lepas hubungan dengan Balai Pustaka. Sampailah saatnya tiba Konferensi Meja Bunda akan diadakan di negeri Belanda.

Menurut penglihatan saya, ketika itu KMB pasti akan mengakui kedaulatan negara republik Indonesia yang telah diproklamasikan oleh kedua pemimpin besar kita, Sukarno-Hatta, atas nama segenap bangsa Indonesia.

Ketika itu, saya bersama istri dan ketiga anak kami yang kecil-kecil (yang nomor tiga malah masih bayi dua bulanan), baru saja turun dari daerah gerilyawan kita di atas lereng Gunung Telaga Bodas.

Sampai di Jakarta kami ditampung oleh H.B. Jassin yang berhasil mengakomodasikan kami dalam sebuah rumah di Jalan Rasamala, Tanah Tinggi. Rumah itu sudah dihuni oleh satu keluarga dan seorang bujangan yang penulis olahraga terkenal, A.A. Katili.

Saya sekeluarga dapat satu kamar. Yah, apa boleh buat. Berdesakan dengan orang-orang yang baik hati, ramah, dan toleran, tidak menjadi masalah, kecuali kehutangan budi yang tak akan terlupakan.

Pada dewasa itu kota Jakarta sudah praktis dikuasai lagi oleh Belanda. Dan sebagai apa yang ketika itu disebut kaum Republikan saya tidak mau bekerja untuk mereka. Istilahnya “mempertahankan”. Artinya “makan angin”. Tidak punya pekerjaan. Harus jual-jual benda apa saja milik kami untuk makan. Dan istri saya sangat berat hatinya, kalau terpaksa harus menjual juga satu dua perhiasannya.

Merampungkan novel Atheis

Ketika itu Jassin, Darsyaf Rahman, Katili, dan J.A. Dungga bekerja untuk majalah Mimbar Umum yang kepunyaan orang-orang PNI. Mereka sangat baik. Kadang-kadang Jassin membantu, kalau keuangan kami sudah terlalu kepayahan.

Dalam suasana demikianlah saya mulai menggarap novel Atheis. Di halaman belakang, di bawah pohon jambu yang rindang. Kalau pagi segar dan sejuk. Kalau sore segar pula sesudah mandi.

Pada suatu hari datanglah Tuan Kasuma Sutan Pamuncak, menemui saya. Dia pernah menjadi seorang pejabat tinggi di Balai Pustaka. Dia pernah menjadi seorang pejabat tinggi di Balai Pustaka. Dia pun seorang “Republikan” yang juga sedang “mempertahankan”. Pada dewasa itu ada ketegangan (juga semacam persaingan) antara kaum Republikan dan orang-orang yang kami namakan “kaum federalis”.

Tuan Pamuncak mengemukakan pendapat dan ajakannya supaya kami mengisi lagi jabatan-jabatan di Balai Pustaka, yang pada saat itu sudah dikuasai kembali oleh Belanda, tapi sepi tanpa pejabat Indonesia. Seperti saya, Tuan Pamuncak pun yakin bahwa KMB pasti akan mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang pada saat itu pemerintahanya berkedudukan di Yogyakarta.

Tapi di samping itu juga, kedaulatan “negara-negara” yang didirikan oleh Belanda seperti negara Indonesia  Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatera Timur, akan diakui juga kedaulatannya, sehingga Indonesia akan menjadi negara federal.

Dengan mempertimbangkan kemungkinan itu, maka kata Tuan Pamuncak, kita harus mencegah jangan sampai Balai Pustaka yang begitu penting untuk perkembangan kebudayaan persatuan bangsa kita dikuasai oleh orang-orang federalis. Kita dahului mereka, katanya.

Maka kami pun mendahului mereka.

Idrus, yang sudah bikin nama sebagai sastrawan, dan cerpennya Celanda Pendek sangat menarik perhatian Jassin dan kalangan penulis Belanda, cukup besar ambisinya untuk menduduki kursi pimpinan redaksi. Ya, tiada masalah, saya akur sajalah.

Adalah wajar kalau seorang atasan jatuh cinta kepada bawahannya, vice-versa, dan kemudian mereka kawin. Demikianlah Ratna kawin sama Idrus, dan Magda, kawin sama Hassan Amin. Kedua gadis Minang itu dan Hassan Amin adalah anggota redaksi di bawah Idrus, seperti juga saya dan Utuy Tatang Sontani, yang terkenal dengan buku romannya Tambera dan drama-dramanya satu babak.

Hassan Amin bekerja sambil mengikuti kuliah-kuliah ekonomi dan filsafat di UI. Saya ikuti juga kuliah filsafat itu, tapi hanya sebagai mahasiswa non-degree saja; sekedar untuk menambah pemantapan wawasan saya tentang “Keberkahan Hidup” yang saya selalu upayakan untuk menaikkan mutunya sebaik mungkin.

Kuliah-kuliah Profesor Dr R.F. Beerling sangat cerah dan lincah. Dan kemudian saya bantu Hassan Amin dalam menerjemahkan kumpulan kuliah-kuliahnya yang berbahasa Belanda itu ke dalam bahasa Indonesia. Balai Pustaka menerbitkannya dengan judul Filsafat Dewasa Ini. Saya kira, buku itu merupakan sumbangan yang penting untuk menambah pengetahuan kita tentang filsafat Barat.

Angkatan 45

Sudah sejak zaman Jepang dan revolusi sejumlah bintang-bintang muda telah bermunculan di langit lazuardi sastra-budaya. Ada yang berkilau terus menghiasi lembaran sejarah susastra, ada juga yang seperti komet mengkilat sebentar, kemudian hilang ditelan alam kelam antah berantah.

Angkatan muda ini menamakan dirinya Angkatan 45 untuk membedakan dirinya dari yang mereka sebut Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 20.

Yang tercatat terus dalam lembaran sejarah sastra-budaya, adalah antara lain Usmar Ismail, Rosihan Anwar, Nursyamsu, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin. Sitor Situmorang, A.S. Dharta, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, S. Rukiyah, Utuy, Buyung Saleh, Balfas, Trisno Sumardjo, Amal Hamzah dan tentu saja Idrus sendiri da H.B Jassin yang getol mengumpulkan dan menulis kata pengantar untuk buku-buku mereka yang umumnya diterbitkan Balai Pustaka.

Seperti diketahui, angkatan itu kemudian terpecah dalam dua kelompok yang mempertahankan ideologi dan gagasan sastra budaya masing-masing. Yang satu mempertahankan ideologi dan gagasan kebebasan individu dan humanisme universal. Yang satunya lagi menonjolkan apa yang mereka sebut “kebudayaan rakyat” yang ideologinya jelas marxis.

Seperti sejarah telah mencatatnya, kedua kelompok itu akhirnya clash secara tuntas—dikenal sebagai bentrokan antara kelompok Manikebu dan kelompok Lekra.

Pada masa sebelum perpecahan itu diperuncing oleh PKI yang melihat hidup ini semata-mata sebagai gelanggang perjuangan kelas hitam-putih, para pengarang dari kedua kelompok itu sering datang ke Balai Pustaka dan ngomong-ngomong dengan kami dari redaksi. Sebagai pendengar dan pengamat yang ingin tahu dan belajar, saya selalu senang mendengarkan pikiran-pikiran mereka yang berbeda pendirian itu.

Di bagian redaksi ketika itu duduk juga penyair-mistikus Taslim Ali yang tak peduli panas atau hujan lebih suka jalan kaki berkilo-kilometer daripada naik becak yang dianggapnya menurunkan martabat manusia menjadi kuda. Sedangkan Saleh Sastrawinata, seorang cepenis yang bersih-cerah mukanya dan selalu rapi pakaiannya. Ia aktif sebagai sekretaris OPI (Organisasi Pengarang Indonesia).

Selain itu, Roesman Sutiasumarga, cerpenis yang juga menulis dalam bahasa Sunda. Seperti Saleh Sastrawinata, dia pun pernah menjadi murid Taman Siswa ketika saya salah seorang gurunya.

Kalau tidak salah ingat, juga anggota redaksi adalah Alex Leo yang sekarang pejabat tinggi urusan Radio dan TVRI. Juga Haksan Wirasutisna yang merangkap wartawan freelance dan Tatang Sastrawiria, penyusun Kamus Politik.

Chairil Anwar

Yang paling sering datang menemui kami adalah Chairil Anwar. Saya tertarik oleh kepribadiannya yang istimewa itu, beda dari yang lain. Dia dikenal sebagai seorang bohemian, seniman petualang, yang seperti dia akui sendiri dalam salah satu sajaknya “binatang jalang, dari kumpulan terbuang”.

Kalau datang, dia selalu ngomong tentang penyair-penyair atau novelis-novelis Eropa atau Amerika yang mutakhir, terutama tentang Marsman, Du Perron, Ter Braak, Malraux, Sartre, Camus, Maugham, Hemingway, dan lain-lain. “Perhatianku lebih terpusat kepada sastra dunia masa kini,” katanya, “lebih sesuai dengan semangat zaman kita sekarang.”

Pada suatu malam, di rumah Jalan Rasamala, kami, yaitu Jassin, Katili, Utuy, Amal Hamzah (adik Amir) dan saya sedang kumpul-kumpul seperti biasa ngobrol. Tiba-tiba menjenguk dari pintu depan sebuah wajah putih-pucat: Chairil. Katanya, “Saya baru diperiksa dokter. Dia bilang, kalau saya tidak ubah cara hidupku, saya mati dalam lima tahun lagi.” Dia khawatir nampaknya. Saya mengerti. Dia yang hidupnya begitu penuh kegairahan! Akan mati lima tahun lagi?!

Tidak lama kemudian dia datang ke Balai Pustaka. Dia memperlihatkan secarik kertas kepada saya yang penuh dengan coret-coretan tangan dia. “Baca…” katanya. Ternyata sebuah sajak yang baru dikonsepnya. Saya terpaku pada kalimat “Di Karet! Di Karet! Tempatku yang akan datang.”

Langsung saya teringat akan malam dia menongol dengan muka putih-pucat  sepert hantu itu. Dan hanya dua-tiga minggu kemudian, saya kira Amal Hamzah datang pada suatu sore ke rumah saya dengan berita bahwa Chairil, katanya, telah meninggal sore itu juga di rumah sakit CBZ.

Masih jauh dari lima tahun, pikirku. Dokter mengira-ngira, Tuhan memutuskan. Innalillahi wa inailaihi rajiun.

Esoknya saya mengantar jenazahnya ke Karet, “tempatku yang akan datang” itu, di mana pamannya, mantan Perdana Mentri Republik Indonesia yang pertama, Sutan Sjahrir, mengantarkan dia dengan sebuah pidato perpisahan dan selamat jalan yang singkat tapi mengena tiap hati yang kehilangan oleh penyair muda itu.

Dan kalau atap, tiang-tiang dan jendela-jendela bekas kandang kuta itu bisa berbicara, maka mereka pun pasti akan menyatakan rasa kehilangannya dan sekaligus rasa kebanggaannya bahwa seorang penyair terkemuka pernah menemukan tempat yang sejuk-nyaman dalam pelukan mereka untuk saling asah pikiran dan saling perhalus rasa-seni dan khayal kreatif dengan kawan-kawan seperjuangannya di sana.

Tidak lama Idrus meninggalkan pekerjaannya di Balai Pustaka. Agaknya dia punya rencana pekerjaan yang dianggapnya lebih bagus daripada duduk di kursi pimpinan redaksi Balai Pustaka.

Sebentar saya menjabat pimpinan redaksi. Ketika itu Pramoedya Ananta Toer yang kemudian termasuk salah seorang sastrawan Indonesia yang paling terkemuka dan paling produktif memperkuat sidang redaksi. Tapi tidak lama dia keluar.

Dan tidak lama kemudian saya pun dipindahkan ke Jawatan Pendidikan Masyarakat. Tugas saya di sana lebih banyak berurusan dengan pemberantasan buta huruf daripada dengan sastra budaya. Karena begitu saya segera pindah ke Jawatan Kebudayaan, jadi Kepala Inspeksi Kebudayaan Daerah Istimewa Jakarta Raya. Sejak itu, saya tidak pernah bekerja kembali di Balai Pustaka.

Suka-dukanya bekerja di Balai Pustaka?

Alhamdulilah. Suka melulu. Malah ada satu kegembiraan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Yaitu menerima honor untuk buku pertama saya Atheis yang di zaman itu (1949) sudah cukup bagi istri saya untuk langsung membikin sebuah rumah di Jalan Tembaga, Galur, Jakarta.

Tapi sesudah saya bukan pegawai Balai Pustaka lagi, ada satu duka yang pernah saya alami. Di pertengahan tahun 60-an, setelah saya bekerja di Australia, ada orang yang ingin beli cetakan yang paling baru dari buku itu.

Saya seolah dibikin sadar bahwa buku itu sudah lama tidak dicetak lagi, padahal saya tahu dari orang dalam bahwa buku itu sudah lama tidak ada stoknya lagi di gudang Balai Pustaka.

Tentu saja saya kecewa sekali akan policy pencetakan kembali buku-buku yang digemari masyarakat itu. Kebetula penerbit Dian Rakyat milik Takdir Alisjahbana ingin sekali menerbitkannya. Saya langsung menulis surat resmi kepada pimpinan Balai Pustaka ketika itu.

Setengah mengancam akan menarik hak penerbitannya dari Balai Pustaka. Penyair-mistikus Taslim Ali yang menjawab. Saya terhibur, karena, katanya, buku itu merupakan buku prestige bagi penerbit Balai Pustaka dan akan segera diulang cetak. Buku prestige! Bukan main!

Di luar pengalaman itu, dan beberapa kekecewaan kecil seperti salah cetak dan biodata, relasi saya dengan Balai Pustaka boleh dikatakan “prima”. Bahkan saya tidak bisa melepaskan rasa bangga bahwa saya pernah ikut duduk sehamparan dengan tokoh-tokoh sastra-budayawan terkemuka di bawah atap bekas kandang kuda itu dalam upaya membangun kebudayaan bangsa Indonesia yang modern-demokratis…

Dirgahayulah Balai Pustaka! Semper excelsion! Maju terus!

(Ditulis oleh Achdiat K. Mihardja, dimuat di buku Bunga Rampai Kenangan pada Balai Pustaka, Jakarta: Balai Pustaka, 1992)

Mencari Kedudukan Drama Modern di Indonesia

Yang saya maksud dengan drama modern di Indonesia berbeda dengan yang dimaksud orang-orang apabila mereka berbicara tentang drama modern di Barat. Jadi, yang saya maksud bukannya seni drama yang dihasilkan sesudah masa neo-klasik, tetapi yang saya maksud ialah semua seni drama di Indonesia yang memakai naskah dialog, untuk membedakannya dari seni drama tradisional yang mempunyai ikatan-ikatan tradisional pula dan tidak memakai naskah dialog karena dialognya dilakukan dengan improvisasi.

Sejak zaman pendudukan Jepang, perhatian orang Indonesia terhadap drama modern makin bertambah. Dan akhirnya, sekarang ini banyak lagi orang yang ingin memainkan sandiwara, meskipun jumlah yang ingin menonton tidak pesat tambahannya. Di setiap kota besar tentu banyak rombongan sandiwaranya. Di kota-kota kecil semacam Tegal, Kudus, Bagan Siapi-api, Kandangan, Jember, Tasikmalaya dan beberapa kota kecil lainnya pun ada rombongan sandiwaranya. Sifat rombongan-rombongan ini amatir atau semi-profesional. Sifat profesional yang sesungguhnya belum berkembang.

WS Rendra, teater modern Indonesia
Sumber gambar: Komunitaskretek

Seorang dramawan di Indonesia selalu mengalami kesulitan dalam mengembangkan sebuah rombongan sandiwara yang kompak dan stabil, karena anggota-anggota rombongannya yang amatir itu tak bisa memberikan dedikasi seorang profesional. Demikian pula dalam pemilihan pemain, ia selalu mengadakan kompromi dengan kenyataan bahwa ia hanya bisa memilih di antara para amatir. Pemain profesional drama modern yang sesungguhnya belum ada, karena rombongan sandiwara modern yang profesional pun belum ada pula. Semuanya ini menggiring kepada nasib buruk keadaan drama modern di Indonesia dewasa ini. Dalam hal mutu, seorang dramawan terdesak untuk kompromistis. Barangkali tidak usah kompromistis dengan selera penonton, tetapi selalu ia kompromistis dengan keadaan, ialah keadaan alat-alat bekerjanya, termasuk para pemainnya.

Lebih dari semuanya itu, ada suatu kenyataan pahit lagi. Para dramawan yang bersungguh-sungguh itu sendiri kurang pengalamannya. Maklumlah, sebab lapangannya itu memang baru adanya. Drama yang dialognya ditulis dengan naskah itu tidak asli muncul dari kebudayaan Indonesia. Ia muncul sebagai pengaruh kebudayaa Barat, dan tumbuh sebagai tradisi baru yang masih teguh akarnya dalam kebudayaan Indonesia.

Banyak dramawan-dramawan bersungguh-sungguh yang dewasa ini penuh tekanan jiwa. Semangat mereka bergelora dan hati mereka sudah mantap untuk mengabdi pada seni drama modern, tetapi hasil pekerjaan mereka selalu malang. Mutunya setengah-setengah, kesegaran ilham kurang, jalan ke masa depan suram, dan terhadap keadaan selalu terdesak untuk kompromi, kompromi, kompromi. Dewasa ini, keadaan seni drama modern di Indonesia: melempem.

Semua dramawan tengah memprihatinkan hal ini. Maka satu hal yang harus dikemukakan: sebelum melangkah ke depan lagi, kita harus menyadari keadaan yang sesungguhnya. Sebelum melakukan satu tindakan apa pun lagi harus sudah jelas lebih dulu, betapa kedudukan drama modern di Indonesia itu sesungguhnya. Baru sesudah jelas akan hal yang dasar ini kita bisa menentukan sikap yang lebih sehat dan lebih bertanggung jawab.

Jadi pertama-tama harus kita sadari bahwa kedudukan drama modern di Indonesia masih goyah. Ia adalah hasil pengaruh kebudayaan asing. Ia bukan kesenian rakyat. Rakyat tidak merasa dengan sesungguhnya makna dari seni drama modern ini dalam hidupnya. Tidak. Sebagian besar dari rakyat kita tidak merasa adanya hubungan drama modern itu dengan hidupnya. Ini tidak ada hubungannya dengan isi cerita sandiwara itu. Sebab biarpun isi ceritanya menyangkut masalah hidup mereka, bagi mereka ia masih tetap sebuah kesenian yang asing. Adapun sebenarnya yang asing ialah bentuk dari seni drama modern itu.

Sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kebudayaan lisan. Maka dalam kebudayaan ini bentuk seni drama yang hidup subur ialah seni drama yang dialognya diimprovisasikan. Dialog yang terlalu dalam tidak diperlukan, apalagi yang bersifat diskusi. Dialog hanya dijadikan sampiran untuk cerita. Inilah yang penting. Dialog harus bersifat ringan atau menghibur. Yang penting: cerita harus berjalan dengan mengasyikkan.

Sesuai dengan media lisan mereka, maka hidup mereka pun menggerombol. Adat istiadat dalam hidup menggerombol ini sangat kuat. Orang menghadapi hidup dengan patokan-patokan bersama yang teguh. Segala persoalan hidup dihadapi dengan rumus-rumus yang sudah tersusun berabad-abad lamanya. Tak perlu lagi orang berpikir otentik. Resep-resep untuk kesulitan-kesulitannya sudah ada. Ada yang harus ia kerjakan ialah mendengar dengan baik-baik semua patokan-patokan hidup itu dan menghapalkannya. Ukuran mutu orang tidak pada otentiknya, tapi pada kefasihannya dalam menghapal patokan-patokan hidup. Maka demikianlah tertanam pola kehidupan menghapal.

Kebimbangan dan sikap skeptis dianggap buruk. Kepatuhanlah yang utama. Patuh dan menghapal. Karena itu, dialog dalam seni drama rakyat sangat tradisional pula isinya. Penuh dengan klise-klise. Ada sebuah bentuk drama tradisional yang disebut Langendriyan. Ia mempunyai dialog yang tertulis, tapi dialog ini pun tidak penting sekali artinya. Ia hanya berfungsi sebagai retorik untuk jalan cerita saja. Selanjutnya penuh pula dengan klise-klise.

Peradaban Barat yang datang ke Indonesia membawa kebudayaan buku-buku, kebudayaan membaca. Seorang ahli sosiologi dari Kanada, Prof MacLuhan, menyatakan bahwa media itu membentuk kebiasaan dan adat-istiadat orang. Ini benar kalau diterapkan pada keadaan kita. Buku-buku memberikan suasana pertukar-pikiran yang intim dan langsung. Selanjutnya menimbulkan pula kesadaran pribadi. Dan akhirnya ini mendorong orang kepada kebutuhan untuk otentik. Maka pemberontakan terhadap tradisi pun dimulai.

Seni drama modern di Indonesia timbul dari golongan elite yang tidak puas dengan komposisi seni drama rakyat dan seni drama tradisional. Naskah sandiwara mulai sangat dibutuhkan, karena dialog yang dalam dan otentik dianggap sebagai mutu yang penting.

Penyair Mohamad Yamin mulai menulis sandiwara, demikian pula novelis Armijn Pane, dan penyair Sanusi Pane. Kemudian disusul pula oleh penulis-penulis lain.

Meskipun seni drama modern itu hasil pengaruh kebudayaan Barat, dan meskipun sampai kini akarnya belum teguh tertanam di bumi kebudayaan Indonesia, ia cukup jelas mempunyai hak hidup. Ini pasti. Kebutuhan orang untuk menyatakan diri dengan otentik menyebabkan ia tak puas lagi dengan bentuk yang konvensional. Dan juga pengalaman-pengalaman hidup modern membutuhkan pengungkapan dengan bentuk yang lain, sebab tak bisa diungkapkan dengan bentuk yang tradisional. Masalah kehidupan seorang insinyur pertambangan, misalnya, sukar untuk diungkapkan dengan bentuk wayang. Setiap perkembangan kebudayaan menuntut perkembangan bentuk kesenian.

Sampai dengan saat ini, rata-rata dramawan-dramawan Indonesia masih kelihatan kurang berpengalaman dengan bentuk dan ide drama modern. Ini mudah dimengerti. Dibanding dengan perkembangan seni drama modern di Barat, seni drama modern kita masih lemah keadaannya. Ini pun mudah dimengerti pula.

Penyutradaraan, dekorasi, naskah, dan kostum otentik adalah unsur-unsur baru dalam seni drama kita. Demikian pula teknik berperan yang realistis. Semuanya masih kita kerjakan dengan kaku dan kurang pengetahuan. Kesadaran akan fungsi dan kedudukan penyutradaraan, dekorasi, naskah, dan unsur-unsur baru lainnya belum jelas garisnya.

Studi tentang perkembangan bentuk dan ide teater modern di Barat sangat perlu untuk menetapkan situasi kita, dan juga untuk mebuat kita lebih sadar akan apa yang sedang kita kerjakan. Karena itu kedudukan pendidikan seni teater sangat perlu. Sayang sekali, bahwa akademi-akademi teater yang sudah ada tidak tinggi mutunya. Akademi Seni Drama dan Film, dan Akademi Teater Nasional Indonesia melahirkan orang-orang yang pengetahuannya tentang teater modern masih kacau. Paling tinggi mereka hanya melahirkan tukang-tukang teater. Orang-orang yang tinggi pengetahuannya mengenai teater tak ada mereka hasilkan. Diktat-diktat acting, lighting, dan setting seperti yang saya lihat dari murid ASDRAFI menunjukkan bahwa mereka hanya dipersiapkan untuk jadi tukang-tukang dalam teater. Orientasi kesenian dalam jurusan mereka tak diperkembangkan. Tukang-tukang dekor yang mereka hasilkan tak pernah tahu duduk perkaranya perkembangan seni dekorasi dalam sejarah seni drama modern. Teknik acting yang mereka ajarkan sudah ketinggalan zaman. Latihan-latihan acting yang hanya mampu menghadapi naskah komidi stambul.

ATNI pun menghasilkan dramawan yang menyedihkan hati pengetahuannya mengenai seni teater modern. Beberapa orang lulusan ATNI ikut dalam panitia perlombaan penulisan lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Indonesia, dan mereka ikut menuliskan syarat-syarat perlombaan yang lucu bunyinya. Syarat-syarat tersebut, nampak ditulis oleh orang-orang yang ketinggalan pengetahuannya mengenai seni drama modern. Salah satu syarat berbunyi: “Sifat tidak mengikat (komidi, tragedi, dan lain sebagainya) asal dimengerti oleh umum”. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak tahu tentang kedudukan dan peran seni drama modern dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia. Dan juga nampak bahwa pengetahuan mereka tentang perkembangan drama modern, khususnya mengenai teater avant-garde tak ada. Sebuah syarat lain lagi berbunyi: “Dengan mempergunakan satu atau paling banyak dua set (dekor)”. Jadi rupanya, mereka masih berpikir bahwa pergantinan adegan setting harus diikuti seluru dekor. Dan juga bahwa pengetahuan mereka mengenai pergantian dekor sudah sangat kuno. Di zaman sekarang, dengan alat tangan dan kaki saja, drama pun harus bisa melayani selusin kali pergantian dekor dalam sekejap mata.

Akibat kurang bermutunya pengetahuan teater modern Indonesia, menyebabkan pula kurangnya kritikus-kritikus drama. Bahkan dikatakan, kita belum punya kritikus drama satu pun. Ini menyedihkan. Karenanya perkembangan seni drama modern di Indonesia kurang cambuk, dorongan, dan kontrol.

Demikianlah suasana gawat seni drama modern kita. Pahit. Tetapi kita lakukan. Baru sekarang kita bisa lebih tahu apa yang akan kita kerjakan.

(Ditulis oleh W.S. Rendra di Majalah Basis, Oktober 1967 – September 1968. Artikel ini kemudian dibukukan dalam Catatan-Catatan Rendra Tahun 1960-an, Jakarta: Burungmerak Press, 2008)

Biografi Sitor Situmorang

Sitor Situmorang, biografi, sastra


Biografi Sitor Situmorang ini dikutip dari JJ Rizal (ed.), Menimbang Sitor Situmorang, Komunitas Bambu: 2009, halaman xi-xiv.

Sitor Situmorang lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho, satu desa di kaki Gunung Pusuk Buhit yang dianggap sebagai tempat berasalnya suku Batak di Pulau Sumatra.

Ia adalah keturunan keluarga pemangku adat Batak yang merupakan atau diharapkan bertindak oleh paguyuban sebagai teladan dalam pemeliharaan tradisi, tapi diikhlaskan mengikuti pendidikan modern sekolah kolonial Belanda.

Sejak sekolah dasar, Sitor telah meninggalkan tanah kelahirannya memasuki berbagai lingkungan budaya.

Lima tahun pertama sekolah dasar Sitor lalui di Balige, kemudian pindah ke Sibolga di pantai barat Sumatera, di mana dua tahun terakhir sekolah dasar sistem tujuh tahun diselesaikannya.

Ia kemudian masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Oderwijs) di Tarutung tahun 1938. Pada pertengahan 1941, Sitor berangkat ke Batavia untuk bersekolah di CMS (Christelijke Middelbare Scholen), sekolah menengah atas di Salemba.

Namun, sekolah dan cita-cita Sitor untuk menjadi ahli hukum kandas karena kedatangan kolonialis Jepang. Setelah bata tentara Jepang angkat kaki seiring dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sitor mulai terlibat dalam badan perjuangan politik di Sumatra Utara sebagai redaktur berkala Suara Nasional.

Kemudian, Sitor memasuki Harian Waspada di mana bakat jurnalisme sastranya mulai tampak. Tetapi esai, kritik, dan sajaknya baru mulai diperkenalkan ketika Sitor sebagai wartawan Harian Waspada ditugaskan dari Medan untuk meliput suasana revolusi di Yogyakarta, ibu kota republik tahun 1947-1948.

Saat itu, ia juga menjadi wartawan kantor berita nasional Antara. Ketika pecah Agresi Militer Belanda II tahun 1948, Sitor ditangkap Nefis (Netherland Forces Intelligence Service) dan dipenjarakan di penjara Worogunan, Yogyakarta, sampai penyerahan kedaulatan RI di akhir tahun 1949.

Pada tahun 1950 atas undangan Sticusa (Stichting Culture Samen Werking) atau badan kerja sama kebudayaan Belanda, Sitor pergi ke Eropa, terutama Belanda selama setahun kemudian berdiam di Paris dan kembali ke Indonesia pada 1053.

Setelah kepulangan inilah namanya semakin menanjak sebagai sastrawan.

Saat itu, Sitor menjadi tokoh yang memikat dan lincah dalam pelbagai lapangan kegiatan budaya.

Sajak, drama, cerita pendek, cerita film, esai, dan kritiknya dianggap memberikan sumbangan penting bagi pencerahan, pembaruan dalam alam seni kebudayaan Indonesia. Terutama karya sastranya bukan saja isi, tema, kata-kata, dan irama yang baru, tapi juga membawakan kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran.

Dari masa inilah buku-buku sajaknya telah terbit, seperti Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), drama Jalan Mutiara (1954) dan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) yang memenangkan hadiah pertama untuk sastra nasional tahun 1955/56 dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Ia juga menunjukkan diri sebagai penerjemah yang piawai atas sejumlah buku sastra seperti karya Jhon Wyndham, The Day of Triffids menjadi Triffid Mengancam Dunia (1953), drama karya John Galworthy, William Saroyan, Maenocol, Dorothy Sayers, JA Rimbaud, Rabindranath Tagore, Hoornik, Shen Chi Shi. Dimasukinya pula penerjemahan pemikiran kebudayaan dan sejarah, seperti kumpulan esai manusia dan dunia, Edward du Perron dengan judul Menentukan Sikap dan buku telaah mengenai Multatuli karya Rob Nieuwenhuis, Hikayat Lebak.

Sementara dalam dunia film dari tangan Sitor lahirlah cerita film Darah dan Doa (1950) yang dianggap sebagai tonggak pertama film Indonesia.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai kritikus film yang tajam dan memberikan pengajaran kritik di Akademi Teater Nasional (ATNI). Selain bahwa ia terlibat sebagai juru festival-festival film dan diundang dalam kerja sama-kerja sama pembuatan film antarnegara, seperti dengan Jepang pada 1956 untuk membuat film tentang masa pendudukan Jepang bersama Akira Kuroshawa.

Pada tahun ini pula Sitor mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi dan seni panggung di Los Angeles (University of Southern California) dan di New York (Actor’s Studio) Amerika Serikat. Selain itu, masih dalam tahun yang sama, Sitor juga mulai kembali memasuki dunia jurnalistik sebagai redaksi harian Berita Indonesia dan Warta Dunia.

Pada pertengahan tahun 1950, Sitor mulai aktif kembali dalam lapangan politik dengan memasuki lembaga-lembaga yang tumbuh untuk mendukung gagasan Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno. Sitor terlibat di dalam Dewan Nasional dan kemudian Dewan Perancang Nasional sebagai wakil golongan seniman.

Tahun 1956, ia menulis risalah politik Marhaenisme dan Kebudayaan Indonesia. Pada 1959, ia menjadi pendiri serta ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), anak organisasi Partai Nasionalis Indonesia (PNI), lalu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Sementara sebagai golongan seniman dan anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (1961-1962).

Dalam masa ini, Sitor banyak menulis dan berceramah tentang hubungan sastra dan politik yang kemudian dikumpulkan dalam Sastra Revolusioner (1965). Namun dari tangannya pada masa ini masih juga lahir buku kumpulan puisi Zaman Baru (1962) dan kumpulan cerpen Pangeran (1963) dan novelet Rapar Anak Jalang (1964).

Bersama jatuhnya Presiden Sukarno pada pertengahan tahun 1960, ia dijebloskan dalam penjara Presiden Suharto tanpa proses pengadilan. Setelah delapan tahun disekap, ia muncul lagi di panggung sastra dengan arus sastra baru yang mewakili perkembangan baru. Dari masa ini bukunya Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977) yang dimenangkan Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976/77, cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), dan cerita anak-anak Gajah, Harimau, dan Ikan (1981).

Ia pun kemudian memasuki dunia sejarah dan antropologi dengan Guru, Samalaing dan Modigliani “Utusan Raja Rom” (1993) dan Toba Na Sae (1993). Dalam masa itu pula Sitor menulis otobiografinya, Sitor Situmorang Seorang Sastrawan ’45 Penyair Danau Toba (1981). Selain itu, masih dalam masa ini, Sitor juga menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.

Pada 1994 terbit kumpulan cerpennya, Salju di Paris, lantas pada 2001 terbit lagi kumpulan cerpennya Kisah Surat dari Legian dan pada 2004 muncul kumpulan sajaknya Biksu Tak Berjubah.

Karya-karya Sitor telah diterjemahkan dan dibukukan dalam bahasa Belanda, Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990), Wander (1996), dan Prancis Paris la Nuit (2001) serta Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia.

Daya ilham Paris, Prancis yang begitu kuat dalam karya Sitor telah mengantarkannya pada 20 Maret 2003, saat perayaan Hari Masyarakat Penutur Bahasa Prancis Sedunia, dianugerahi Hadiah Francophonie kerena dianggap sebagai penyair terkemuka Indonesia yang telah memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan bahasa Prancis di Indonesia dan prinsip-prinsip Francophonie, yaitu penghormatan serta pengembangan keanekaragaman budaya, perdamaian, demokrasi, dan hak asasi.

Sebagai penyair, Sitor memang penyair yang bukan hanya menulis dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam satu masa pernah menulis sajak-sajaknya langsung dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Sajak yang ditulisnya langsung dalam bahasa Inggris telah diterbitkan, yaitu The Rites of the Bali Aga (2001).

Pada usianya yang ke-80 di tahun 2004, Sitor masih menunjukkan eksistensinya sebagai penyair dengan keluarnya kumpulan sajak Biksu Tak Berjubah (2004) dan sajak-sajaknya dalam terjemahan bahasa Belanda, Lembah Kekal/Euwige Valley (2004).

Pada 2006, terbit dua jilid kumpulan sajak lengkapnya Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2005. Sebagai sastrawan Angkatan ’45, mungkin ia satu-satunya yang sampai kini masih terus menulis sajak dan tetap memikat.

***

Baca juga cerpen Sitor Situmorang:

1. Salju di Paris
2. Ibu Pergi ke Surga
3. Pangeran

Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965

lekra, manikebu, PKI


Lekra Vs Manikebu  adalah sejarah panjang pergulatan politik dan pemikiran dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Meski sudah beberapa dekade, soal demikian layak menjadi perbinacangan di era sekarang. Untuk mempermudah akses bacaan, Sastra XYZ akan memberikan pdf buku karangan Alexander Supartono ini kepada khalayak sastra. Semoga bisa membantu memahami perdebatan politik kebudayaan yang terjadi waktu itu.

1. Latar belakang

Dalam sejarah kebudayaan Indonesia modern, gejolak yang terjadi antara tahun 1950-1965 adalah fenomena yang paling dikenal dan paling tidak jelas pada saat yang bersamaan. Gejolak yang terkenal dengan Peristiwa Manikebu ini kemudian diartikan bermacam-macam, sesuai dengan kepentingan masing-masing interpretator dan terutama sesuai dengan tingkat kesempatan (atau kemampuan) mengakses bahan sejarah sezaman. Ada yang mengartikan pergolakan tersebut sebagai perdebatan antara penganut realisme sosialis dengan pendukung humanisme universal, pertarungan antara Lekra dan kubu Manifes Kebudayaan. Lainnya menyatakan sebagai penindasan Lekra, yang merupakan lembaga kebudayaan dominan pada masa itu, terhadap paham-paham lain, terutama kelompok Manikebu yang secara formal menghadang. Ada juga yang menyatakan bahwa pergolakan ini tidak lagi dari sebuah pertarungan politik yang mengambil wilayah kebudayaan.

Beragamnya interpretasi tersebut minimal menunjuk pada dua hal. Pertama, menunjukkan kekayaan pemahaman atas gejolak itu; dan kedua menunjukkan ketidakjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Yang pertama sulit untuk dipertahankan mempertimbangkan tradisi penulisan sejarah Orde Baru, terutama pada masa-masa tahun 1960-an, di mana sejarah adalah sebuah interpretasi tunggal. Lalu kita menuju pada alasa kedua, bahwa apa yang terjadi pada masa itu tidaklah jelas. Karena penjelasan yang ada tentangnya hanya datang dari satu sisi, yaitu dari mereka yang bersama Orde Baru keluar sebagai pemenang. Konsekuensi selanjutnya adalah segala informasi, interpretasi, dan pendapat dari pihak yang kalah jadi tertutup. Sejarah ditulis oleh para pemenangnya.

Sejauh ini, pembahasan yang ada tentang topik di atas hanya menjadikan pergolakan tersebut sebagai latar belakang, karena yang dibahas adalah kelompok tertentu yang terlibat dalam perdebatan tersebut. Ini bisa dilihat dalam karya sarjana Malaysia, Yahya Ismail: Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kejatuhan Lekra di Indonesia di tahun 1972; atau penelitian sarjana Australia Keith Foulcher, Social Committment in Literature and Arts: The Indonesia "Institute of People Culture" 1950-1965, 1986; atau tulisan mereka yang terlibat dalam pergolakan itu seperti Goenawan Mohamad, Peristiwa "Manikebu": Kesusasteraan Indonesia dan Politik di tahun 1960-an, 1988 dan tulisan Sekretaris Umum Lektra Joebaar Ajoeb yang tidak dipublikasikan, Mocopat Kebudayaan Indonesia, 1990.

Sampai kemudian muncullah buku karya Taufik Ismail dan D.S. Moeljanto, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Republika dan penerbit Mizan, 1995. Pergolakan tersebut dalam buku ini dinyatakan tidak hanya sebagai "perdebatan kebudayaan", tapi sudah menjadi "prahara budaya". Taufik dan Moeljanto mengumpulkan makalah, kliping koran, dan majalah yang terbit tahun-tahun tersebut untuk membuktikannya. Namun dengan anak judul Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk..., mereka menunjukkan bagaimana Lekra/PKI dkk menerang kelompok-kelompok di luar mereka.

2. Pertanyaan dan Upaya untuk Menjawabnya

Dengan latar belakang di atas, pertanyaan penting yang tertinggal adalah: Benarkah telah terjadi perdebatan kebudayaan, dalam arti pertukaran gagasan, pada periode 1960-an? Membaca berbagai studi yang membahas, atau paling tidak menyentuh teman ini (Ismail 1972, Foulcher 1986, Ajoeb 1990, Mohamad 1993, dan Ismail 1995) saya mempunyai hipotesis bahwa perdebatan kebudayaan pada periode 1950-1965 secara esensial tidak pernah ada. Dalam masing-masing pembahasannya, studi-studi tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa yang terjadi adalah pertarungan politik yang terjadi di wilayah kebudayaan. Dalam skripsi ini saya akan mengeksplisitkannya.

3. Metodologi


  • Metodologi yang dipakai dalam membuktikan perdebatan tersebut adalah studi kepustakaan dan historis kritis. Studi kepustakaan dilakukan pertama-tama untuk mendapatkan keempat manifes kebudayaan di atas, kemudian untuk menelusuri bahan-bahan tertulis produksi kebudayaan pada periode 1950-1965 yang menyertai keempat manifes kebudayaan tertulis. Studi kepustakaan juga dilakukan untuk mengumpulkan studi-studi lain yang sedikit banyak membahas tema yang sama sebagai bahan perbandingan. Selanjutnya dilakukan pengkajian historis kritis terhadap bahan-bahan tersebut. Metode pengkajian ini dipilih agar paparan dalam skripsi ini tidak melulu deskriptif-kronologis, melainkan secara kritis membandingkan dan menganalisa keempat teks tersebut dan melihat perkembangannya dalam konteks historisnya. Saya akan membuktikan hipotesis saya dengan langsung membandingkan manifes-manifes kebudayaan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang selama ini dianggap terlibat dalam perdebatan itu, yaitu kelompok Surat Kepercayaan Gelanggang dan Manifes Kebudayaan di satu sisi dan di sisi lainnya adalah Lekra. Saya menganggap lewat manifes itulah kita bisa melihat pokok-pokok gagasan yang ingin dikembangkan masing-masing pihak, sehingga kalaupun ada perdebatan, dari sinilah bisa dilacak akar perdebatannya.
  • Bahan-bahan yang sudah terkumpul di atas dibedakan menjadi dua: sumber primer dan sumber sekunder. Dalam studi kepustakaan ini yang dikategorikan sebagai sumber primer adalah empat manifes kebudayaan yang lahir pada periode 1950-1965, yaitu: Surat Kepercayaan Gelanggang, Mukadimah Lekra 1950, Mukadimah Lekra 1959 dan Manifes Kebudayaan 1963. Pembuktian ini dilakukan dengan menganalisa dan membandingkan manifes-manifes kebudayaan itu.

Adapun sumber sekunder adalah berbagai studi yang membahas tema yang sama. Hal ini meliputi seluruh bahan yang berkaitan dengan Lekra, seperti dokumen kongres nasional, konferensi nasional, Pleno Pimpinan Pusat Lekra dan tulisan-tulisan mereka, yang didapat dalam bentuk hasil cetak mikrofilm dari perpustakaan Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Monash-Australia, atas jasa baik Keith Foulcher. Sedangkan bahan-bahan yang berkaitan dengan kelompok Surat Kepercayan Gelanggang dan Manifes Kebudayaan didapat dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

4. Pentingnya Skripsi Ini

Secara umum, sejarah Indonesia pada periode 1950-1965, penuh dengan kontroversi. Ada garis tunggal yang selama 32 tahun dipaksakan oleh Orde Baru, namun di tengah itu studi-studi sejarah yang dilakukan pada periode itu, terutama oleh para ahli Indonesia dari luar negeri, menjadi bantahan terhadap garis Orde Baru tersebut.

Di antara studi-studi tersebut, wilayah kebudayaanlah yang paling sedikit menarik minat. Terbatasnya bahan ini membuat diskusi kebudayaan yang terjadi di berbagai kesempatan, bila sampai menyentuh periode ini, maka akan segera terjadi debat kusir yang tidak jelas ujung pangkalnya. Perdebatan ini selalu dilandaskan pada asumsi-asumsi yang tidak pernah diperiksa secara ilmiah, sehingga terjadi berbagai simplifikasi masalah.

Yang paling sering terjadi misalnya perdebatan kebudayaan pada periode 1950-1965 selalu dipahami sebagai perseteruan antara Lekra dan Manikebu. Atau ketika membahas hubungan kebudayaan dan kekuasaan terjadi simplifikasi, misalnya, mencontohkan hubungan Lekra dan PKI, tanpa memeriksa lebih jauh hubungan keduanya, apakah dalam rangka kerja-kerja strategis bersama atau secara organisasional memang berhubungan.

***

Download e-book: Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965

The Poet and His Language

chairil anwar, poet, poetry


In general it can be said that the ordinary reader in this intuitive reading and understanding of a poem does not distinguish the various aspects which together make up the total message of the poem. In a scholarly analysis, however, we have to take due account of these various aspects. We need a thorough knowledge of the language used by the poet, its phonemic and grammatical structure, and its vocabulary; we have to be aware of the writing conventions of the language in question; and finally we have to take into account the specific conventions and characteristics of poetry written in this language.

Attempts to describe and analyse Bahasa Indonesia as used in poetry so far have been few in number and, moreover, not very successful. Although some studies, e.g. those by Slametmuljana (1951; 1954; 1956), Junus (1965; 1968; 1970), and Nababan (1966), may he mentioned in this respect most of them lack both the theoretical foundations and the thoroughness and scientific consistency necessary in dealing with the various aspects involved in the language of poetry (see e.g. Teeuw, 1953 and 1955, on Slametmuljana's 1951 and 1954, respectively).

The aim of the present study is to make a linguistic analysis of Chairil Anwar's poetry and to reveal the poet's specific treatment of his language. We have chosen Chairil Anwar for this study because he is generally acknowledged as the forerunner and most important representative of modern Indonesian poetry (Braasem, 1954:43; Jassin, 1968; Teeuw, 1967). By focusing the analysis on the linguistic aspects of his poetic language, this study aims to bring into prominence the characteristic qualities of both the poet and his poetry. It is hoped that this linguistic approach will provide a basis for further interpretation and evaluation of Chairil Anwar as a poet in particular, as well as presenting relevant material and opening up some new lines of inquiry for a further study of poetic usage in Bahasa Indonesia in general.

Chairil Anwar's poetry was originally published in three volumes: Deru Tjampur Debu (Noise Mixed with Dust, 1949), jointly published by Pembangunan and Djambatan; Kerikil Tadjam dan Jang Terampas dan Jang Putus (Sharp Gravel and The Ravaged and The Broken, 1949), i.e. two collections combined into one volume, published by Pustaka Rakjat; and Tiga Menguak Takdir, published by Balai Pustaka in 1950. In the last-mentioned, ten poems by Chairil Anwar appear together with poems by Asrul Sani and Rivai Apin. However, only one of them had not been published previously in either of the two earlier collections. In Jassin's excellent study, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (Chairil Anwar, A Pioneer of the Generation of 1945), published by Gunung Agung in 1956 (third edition 1968), a number of poems and prose writings that had either never appeared in print before, or were scattered throughout numerous magazines, have been brought together and published.

Burton Raffel's The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, published by the State University of New Vork Press (1970), contains a complete edition of Chairil Anwar's poetry together with English translations which, however, are not always altogether exact (Teeuw, 1971b, and below). The poems selected for discussion in the present study (see Chapter I, Section 2) have been taken from one or other of the first four hooks mentioned above. Wherever any of these poems is available in more than one printed version, the particular source used here and the variant readings which are relevant for the analysis will be mentioned.

Further, Poerwadarminta's monolingual Indonesian dictionary Kamus Umum, first published in 1952, was used as the main reference work, both for lexicographical and morphological purposes, since it is 'a standard work, coming right at the beginning of the history of BI lexicography, and excelling in the large number of well chosen examples of the use of words' (Teeuw, 1961: 69); moreover, it is almost contemporaneous with Chairil Anwar's poetry in its data. Occasionally we also refer to the Indonesian-Dutch dictionary of Poerwadarminta and Teeuw (first published in 1950). In dealing with certain problems of Indonesian syntax we have consulted Poedjawijatna and Zoetmulder's Tatabahasa lndonesia Untuk Sekolah Landjutan Atas (Indonesian Grammar for High Schools), first published in 1955. The insufficiency of our reference material is obvious; however, at the present stage of Indonesian grammatical description and lexicography we are left with no better alternative.

In view of what has been said above about the scarcity of previous works in this field and also because Chairil Anwar's use of Bahasa Indonesia is so obviously different from the pre-war form of th at language that had become more or less standardized in Balai Pustaka Malay (see below) , we are of the opinion that the most appropriate method of approach to and analysis of this poetry as an example of linguistic use is that of induction and description. We furthermore feel that, since the book is being published for a predominantly non-Indonesian speaking public, this type of description (i.e. using the inductive method and the method of descriptive analysis ) will help to give the readers some idea of the problems involved in understanding (and/or translating) modern Indonesian poetry.

In order to make the reader acquainted with the framework in which our subject should be placed, a brief survey is given, by way of Introduction, of the situation as regards Indonesian language and literature during Chairil Anwar's lifetime, as well as an outline of the main biographical facts relevant to this study.

In order to make the reader acquainted at the outset with the kind of problems we face in dealing with Chairil Anwar's poetry we shall begin in Chapter I, intended as a kind of Prologue, with a detailed discussion of one of his shorter poems, which happens to be chronologically his first, and which even so is typical for his poetry in many ways. This poem will also give us an opportunity of making a few introductory remarks on some of the aspects of presentation of this poetry (such as titles, punctuation, etc.), as weIl as on the aesthetic qualities of Indonesian poetry and Chairil Anwar's attitude with regard to these.

Through this Prologue we mean to underline the inductive approach which we have chosen for this study. In the course of our study we have frequently observed that ambiguity, as occasioned by certain morphological and syntactic characteristics of Bahasa Indonesia, looms large among the problems we face in our analysis. In order to avoid unnecessary repetition we shall give a brief exposition of some of the syntactic and morphological characteristics which especially make for ambiguity in Chairil Anwar's poetry and which will therefore have to be referred to time and again in our discussion (Chapter I, Section 3).

The main body of the book is fonned by an analysis of thirteen poems, selected both for their literary value and relevance and because they all present, in one way or another, some of the typical problems we are facing when attempting to understand this poetry (Chapter 11). In our analysis we shall keep to the texts as they stand, including all the formal and semantic characteristics which are relevant for a linguistic analysis, but refraining as much as possible from making far-reaching interpretations (such as symbolic, allegoric, and other kinds) which are not strictly justified by the texts as such. It should be observed that the English translations following the discussions of the poems pretend to be no more than a more or less literal rendering summarizing the linguistic analyses. The reader should be warned not to expect anything approaching a poetically satisfying translation. It is hoped, however, that they will provide a basis for such translation as well as serving as a tool for further interpretation of Chairil Anwar as a poet.

In Chapter III we shall give a systematic summary of the results of our analyses. This Chapter ends with an Epilogue, which is intended as a pendant to the Prologue. It contains a detailed analysis of another one of Chairil Anwar's short poems, one which has so far defied all our attempts at satisfactory interpretation. This way the Epilogue underlines the limitations of a linguistic analysis. It shows how in the absence of sufficient situational information or an adequate frame of reference it is well-nigh impossible for us to arrive at a proper understanding of a poem, that is, to make the appropriate choice from the alternatives emerging from an analysis of the linguistic content of its message.

We have refrained from supplying an index as the key words we would like to list are for the most part so widely scattered throughout the entire book as to render an index virtually pointless anyway. To compensate for this omission we have furnished a detailed table of contents.

In conclusion a few words about the position of the author of the present book in respect of Bahasa Indonesia. She is a native of Djakarta, and has lived in that city all her life (apart from a recent four years' stay abroad). Hence the language she has used since childhood is Bahasa lndonesia as spoken in Djakarta. Her formal education also took place entirely in schools where Bahasa lndonesia was the medium of instruction. The language used in her immediate family circle, however, is mainly Javanese, as both parents are native speakers of Javanese. Therefore it has been necessary to refer time and again to standard lndonesian dictionaries and to check with other native speakers of Indonesian who happened to be near at hand in Leiden on the use and meanings of some of the words and expressions found in Chairil Anwar's poetry.

***

Download e-book: The Poet and His Language