Apakah Sebenarnya Isi Kebudayaan

00.10
kotentjaraningrat, antropologi

Tulisan ini dimuat di Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, "Apakah Sebenarnya Isi Kebudayaan", Gramedia: 1993, halaman 1-4.


Kini banyak orang suka berdiskusi tentang masalah kebudayaan dan pembangunan, masalah hubungan kebudayaan tradisional dan kebudayaan modern, masalah perubahan nilai-nilai budaya, masalah mentalitas pembangunan, masalah pembinaan kebudayaan nasional, masalah hubungan antara agama dan kebudayaan dan sebagainya.

Dalam diskusi-diskusi di berbagai studi-klab, dalam konversasi pada pertemuan-pertemuan dengan para cendekiawan, dalam kursus-kursus penataran para karyawan atau dosen, atau dalam pertemuan-pertemuan tanya-jawab dengan para wartawan, saya sering dihadapkan dengan berbagai pertanyaan tentang masalah yang berkisar sekitar pokok-pokok tadi.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah, misalnya: “Apakah sebenarnya yang tercakup dalam konsep kebudayaan itu?” Banyak orang mengartikan konsep itu dalam arti yang terbatas, ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan. Dengan singkat: kebudayaan adalah kesenian. Karena itulah, dalam arti yang sempit, konsep demikian bisa dibilang terlalu sempit.

Sebaliknya, banyak orang terutama pada ahli ilmu sosial, mengartikan konsep kebudayaan itu dalam arti yang amat luas, yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah proses belajar. Konsep itu adalah amat luas karena meliputi hampir seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya.

Hal-hal yang tidak termasuk kebudayaan hanyalah beberapa reflek yang berdasarkan naluri, sedangkan suatu perbuatan yang sebenarnya juga merupakan perbuatan naluri seperti makan, misalnya, oleh manusia dilakukan dengan peralatan, dengan tata cara sopan santun dan protokol, sehingga hanya bisa dilakukannya dengan baik sesudah suatu proses belajar tata-cara makan.

Karena demikian luasnya, maka guna keperluan analisa konsep kebudayaan itu perlu dipecah lagi ke dalam unsur-unsurnya. Unsur-unsur terbesar yang terjadi karena pecahan tahap pertama disebut “unsur-unsur kebudayaan yang universal”, dan merupakan unsur-unsur yang pasti bisa ditemukan di semua kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil terpencil maupun dalam masyarakat perkotaan yang besar dan kompleks. Unsur-unsur universal itu, yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini, adalah:

1. Sistem religi dan upacara keagamaan;
2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan;
3. Sistem pengetahuan;
4. Bahasa;
5. Kesenian;
6. Sistem mata pencaharian hidup;
7. Sistem teknologi dan peralatan.

Dilihat dari tujuh anasir universal di atas, tiap-tiap anasir dapat dipecah ke dalam subunsur-subunsurnya. Demikian ketujuh unsur kebudayaan universal tadi memang mencakup seluruh kebudayaan makhluk manusia di mana pun juga di dunia, dan menunjukkan ruang lingkup dari kebudayaan serta isi dari konsepnya.
Baca juga: Humanisme dan Sesudahnya
Susunan tata urut dari unsur-unsur kebudayaan universal seperti tercantum di atas dibuat dengan sengaja untuk sekalian menggambarkan unsur-unsur mana yang paling sukar berubah atau kena pengaruh kebudayaan lain, dan mana yang paling mudah berubah atau diganti dengan unsur-unsur serupa dari kebudayaan-kebudayaan lain.

Dalam tata urut itu akan segera terlihat bahwa unsur-unsur yang berada di bagian atas dari deretan merupakan unsur-unsur yang lebih sukar berubah daripada unsur-unsur yang tersebut kemudian. Sistem religi dan sebagian besar dari subunsur-unsurnya biasanya memang mengalami perubahan yang lebih lambat bila dibandingkan dengan misalnya suatu teknologi atau suatu peralatan bercocok tanam tertentu.

Dengan demikian, perlu diperhatikan bahwa hal ini dalam garis besarnya saja. Sebab, ada saatnya sub-sub unsur dari suatu unsur lebih sulit diubah ketimbang sub-sub unsur dari unsur yang tercantum di atasnya. Kita bisa membayangkan bahwa sub-sub-unsur hukum waris misalnya, merupakan hal yang lebih sukar berubah bila dibandingkan dengan sub-sub-unsur arsitektur sesuatu tempat pemujaan.

Hal yang pertama merupakan bagian dari sub-unsur prasarana upacara yang sebaliknya merupakan bagian dari unsur sistem religi. Namun dalam garis besarnya tata urut dari unsur-unsur universal tercantum di atas, toh menggambarkan kontinum dari unsur-unsur yang paling sukar berubah ke unsur-unsur yang lebih mudah berubah.

Sudah tentu dalam praktek kita seirng tidak mungkin mempergunakan konsep kebudayaan dengan ruang lingkup seluas yang terurai di atas, dan yang dipergunakan oleh kebanyakan ahli ilmu sosial. Kalau demikian, maka misalnya Direktorat Kebudayaan dari Departemen P dan K Republik Indonesia akan merupakan satu-satunya badan yang harus melaksanakan sektor dalam hidup manusia Indonesia, dan dengan demikian semua departemen dapat dihapuskan saja.

Hal ini tentu tidak mungkin. Maka timbul pertanyaan lain: Kalau banyak sektor lain dalam hidup masyarakat Indonesia itu sudah menjadi tanggung jawab dari berbagai departemen dan lembaga di pusat pemerintahan negara Indonesia, mak sektor-sektor apakah yang harus tercakup dalam ruang-lingkup Direktorat Kebudayaan?

Dalam kenyataan ruang-lingkup Direktorat Kebudayaan memang hanya mencakup kesenian. Untuk aktivitas pembinaan unsur-unsur lain, seperti ilmu pengetahuan dan bahasa, di negeri kita ini ada badan-badan khusus seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Lembaga Bahasa Nasional.

Walau demikian, Direktorat Kebudayaan toh harus dapat menghubungkan kesenian dengan unsur-unsur  lain dalam jaringan yang lebih luas, sehingga walaupun fokusnya itu kesenian, soal-soal seperti masalah-masalah pemuda-remaja, masalah komunikasi, masalah Pendidikan kesenian dan sebagainya dapat tercakup.

Aspek ekonomi dan komersial dari kesenian yang dikembangkan oleh turisme, dan aspek politiks dari kesenian, yang harus diterapkan dalam proses pembinaan kepribadian dan integrase nasional, seharusnya merupakan masalah-masalah yang memerlukan perhatian khusus dari Direktorat Kebudayaan.

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar