Biografi Sitor Situmorang

17.25
Sitor Situmorang, biografi, sastra


Biografi Sitor Situmorang ini dikutip dari JJ Rizal (ed.), Menimbang Sitor Situmorang, Komunitas Bambu: 2009, halaman xi-xiv.

Sitor Situmorang lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho, satu desa di kaki Gunung Pusuk Buhit yang dianggap sebagai tempat berasalnya suku Batak di Pulau Sumatra.

Ia adalah keturunan keluarga pemangku adat Batak yang merupakan atau diharapkan bertindak oleh paguyuban sebagai teladan dalam pemeliharaan tradisi, tapi diikhlaskan mengikuti pendidikan modern sekolah kolonial Belanda.

Sejak sekolah dasar, Sitor telah meninggalkan tanah kelahirannya memasuki berbagai lingkungan budaya.

Lima tahun pertama sekolah dasar Sitor lalui di Balige, kemudian pindah ke Sibolga di pantai barat Sumatera, di mana dua tahun terakhir sekolah dasar sistem tujuh tahun diselesaikannya.

Ia kemudian masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Oderwijs) di Tarutung tahun 1938. Pada pertengahan 1941, Sitor berangkat ke Batavia untuk bersekolah di CMS (Christelijke Middelbare Scholen), sekolah menengah atas di Salemba.

Namun, sekolah dan cita-cita Sitor untuk menjadi ahli hukum kandas karena kedatangan kolonialis Jepang. Setelah bata tentara Jepang angkat kaki seiring dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sitor mulai terlibat dalam badan perjuangan politik di Sumatra Utara sebagai redaktur berkala Suara Nasional.

Kemudian, Sitor memasuki Harian Waspada di mana bakat jurnalisme sastranya mulai tampak. Tetapi esai, kritik, dan sajaknya baru mulai diperkenalkan ketika Sitor sebagai wartawan Harian Waspada ditugaskan dari Medan untuk meliput suasana revolusi di Yogyakarta, ibu kota republik tahun 1947-1948.

Saat itu, ia juga menjadi wartawan kantor berita nasional Antara. Ketika pecah Agresi Militer Belanda II tahun 1948, Sitor ditangkap Nefis (Netherland Forces Intelligence Service) dan dipenjarakan di penjara Worogunan, Yogyakarta, sampai penyerahan kedaulatan RI di akhir tahun 1949.

Pada tahun 1950 atas undangan Sticusa (Stichting Culture Samen Werking) atau badan kerja sama kebudayaan Belanda, Sitor pergi ke Eropa, terutama Belanda selama setahun kemudian berdiam di Paris dan kembali ke Indonesia pada 1053.

Setelah kepulangan inilah namanya semakin menanjak sebagai sastrawan.

Saat itu, Sitor menjadi tokoh yang memikat dan lincah dalam pelbagai lapangan kegiatan budaya.

Sajak, drama, cerita pendek, cerita film, esai, dan kritiknya dianggap memberikan sumbangan penting bagi pencerahan, pembaruan dalam alam seni kebudayaan Indonesia. Terutama karya sastranya bukan saja isi, tema, kata-kata, dan irama yang baru, tapi juga membawakan kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran.

Dari masa inilah buku-buku sajaknya telah terbit, seperti Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), drama Jalan Mutiara (1954) dan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) yang memenangkan hadiah pertama untuk sastra nasional tahun 1955/56 dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Ia juga menunjukkan diri sebagai penerjemah yang piawai atas sejumlah buku sastra seperti karya Jhon Wyndham, The Day of Triffids menjadi Triffid Mengancam Dunia (1953), drama karya John Galworthy, William Saroyan, Maenocol, Dorothy Sayers, JA Rimbaud, Rabindranath Tagore, Hoornik, Shen Chi Shi. Dimasukinya pula penerjemahan pemikiran kebudayaan dan sejarah, seperti kumpulan esai manusia dan dunia, Edward du Perron dengan judul Menentukan Sikap dan buku telaah mengenai Multatuli karya Rob Nieuwenhuis, Hikayat Lebak.

Sementara dalam dunia film dari tangan Sitor lahirlah cerita film Darah dan Doa (1950) yang dianggap sebagai tonggak pertama film Indonesia.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai kritikus film yang tajam dan memberikan pengajaran kritik di Akademi Teater Nasional (ATNI). Selain bahwa ia terlibat sebagai juru festival-festival film dan diundang dalam kerja sama-kerja sama pembuatan film antarnegara, seperti dengan Jepang pada 1956 untuk membuat film tentang masa pendudukan Jepang bersama Akira Kuroshawa.

Pada tahun ini pula Sitor mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi dan seni panggung di Los Angeles (University of Southern California) dan di New York (Actor’s Studio) Amerika Serikat. Selain itu, masih dalam tahun yang sama, Sitor juga mulai kembali memasuki dunia jurnalistik sebagai redaksi harian Berita Indonesia dan Warta Dunia.

Pada pertengahan tahun 1950, Sitor mulai aktif kembali dalam lapangan politik dengan memasuki lembaga-lembaga yang tumbuh untuk mendukung gagasan Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno. Sitor terlibat di dalam Dewan Nasional dan kemudian Dewan Perancang Nasional sebagai wakil golongan seniman.

Tahun 1956, ia menulis risalah politik Marhaenisme dan Kebudayaan Indonesia. Pada 1959, ia menjadi pendiri serta ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), anak organisasi Partai Nasionalis Indonesia (PNI), lalu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Sementara sebagai golongan seniman dan anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (1961-1962).

Dalam masa ini, Sitor banyak menulis dan berceramah tentang hubungan sastra dan politik yang kemudian dikumpulkan dalam Sastra Revolusioner (1965). Namun dari tangannya pada masa ini masih juga lahir buku kumpulan puisi Zaman Baru (1962) dan kumpulan cerpen Pangeran (1963) dan novelet Rapar Anak Jalang (1964).

Bersama jatuhnya Presiden Sukarno pada pertengahan tahun 1960, ia dijebloskan dalam penjara Presiden Suharto tanpa proses pengadilan. Setelah delapan tahun disekap, ia muncul lagi di panggung sastra dengan arus sastra baru yang mewakili perkembangan baru. Dari masa ini bukunya Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977) yang dimenangkan Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976/77, cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), dan cerita anak-anak Gajah, Harimau, dan Ikan (1981).

Ia pun kemudian memasuki dunia sejarah dan antropologi dengan Guru, Samalaing dan Modigliani “Utusan Raja Rom” (1993) dan Toba Na Sae (1993). Dalam masa itu pula Sitor menulis otobiografinya, Sitor Situmorang Seorang Sastrawan ’45 Penyair Danau Toba (1981). Selain itu, masih dalam masa ini, Sitor juga menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.

Pada 1994 terbit kumpulan cerpennya, Salju di Paris, lantas pada 2001 terbit lagi kumpulan cerpennya Kisah Surat dari Legian dan pada 2004 muncul kumpulan sajaknya Biksu Tak Berjubah.

Karya-karya Sitor telah diterjemahkan dan dibukukan dalam bahasa Belanda, Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990), Wander (1996), dan Prancis Paris la Nuit (2001) serta Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia.

Daya ilham Paris, Prancis yang begitu kuat dalam karya Sitor telah mengantarkannya pada 20 Maret 2003, saat perayaan Hari Masyarakat Penutur Bahasa Prancis Sedunia, dianugerahi Hadiah Francophonie kerena dianggap sebagai penyair terkemuka Indonesia yang telah memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan bahasa Prancis di Indonesia dan prinsip-prinsip Francophonie, yaitu penghormatan serta pengembangan keanekaragaman budaya, perdamaian, demokrasi, dan hak asasi.

Sebagai penyair, Sitor memang penyair yang bukan hanya menulis dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam satu masa pernah menulis sajak-sajaknya langsung dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Sajak yang ditulisnya langsung dalam bahasa Inggris telah diterbitkan, yaitu The Rites of the Bali Aga (2001).

Pada usianya yang ke-80 di tahun 2004, Sitor masih menunjukkan eksistensinya sebagai penyair dengan keluarnya kumpulan sajak Biksu Tak Berjubah (2004) dan sajak-sajaknya dalam terjemahan bahasa Belanda, Lembah Kekal/Euwige Valley (2004).

Pada 2006, terbit dua jilid kumpulan sajak lengkapnya Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2005. Sebagai sastrawan Angkatan ’45, mungkin ia satu-satunya yang sampai kini masih terus menulis sajak dan tetap memikat.

***

Baca juga cerpen Sitor Situmorang:

1. Salju di Paris
2. Ibu Pergi ke Surga
3. Pangeran

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar