Pangeran

02.16
cerpen, sitor situmorang

Cerpen Pangeran ini dimuat di Sitor Situmorang, Salju di Paris, 'Pangeran', Grasindo: 1994, halaman 91-92. 


Menjelang pukul 6 sore, ketika senja, suatu waktu yang baik untuk bertamu di tempat itu. Sebuah rumah dengan pekarangan luas yang letaknya tinggi dari jalan besar, jalan paling luas yang mengitari kota Yogya menghadap timur. Di seberang jalan terbentang sawah menghijau dan samar tepi langit. Dapat diduga puncak gunung berapi dalam keluasan.

Pangeran, tuan rumah, telah menanti di pekarangan bersama istrinya duduk di atas kursi rotan. Ia kusebut Pangeran atas kehendak sendiri.

Pangeran berdiri dan menjemput saya dengan tangan diulurkan. Setentang gerbang semak berbunga, istrinya menyongsong pula.

Suasana senja memperkuat kekhususan kesan yang kuperoleh dari keseluruhannya. Cara orang menyambut saya, bentuk rumah dan pekarangan. Pekarangan dengan rumput yang terpelihara ditumbuhi tanam-tanaman yang biasa, seakan-akan tidak sengaja: pohon kelapa, jeruk, manga berantara jarak yang membiarkan kelapangan seperti dalam kebun bunga, tapi tanpa bunga-bunga.

“Kami ada kebun sayur di sudut sana,” kata Pangeran, “dikerjakan oleh orang numpang.”

Rumah serta pekarangannya yang luas adalah warisan.

Di sudut dekat gerbang pekarangan ada menara sembahyang, tempat bersamadi, yang menghadap ke barat laut. Mungkin arah ke Mekah, mungkin arah ke puncak Gunung Merapi.

Tadinya tak terpikir bahwa Pangeran pakai kain, segala sesuatunya sudah berpadanan.

Kami berbicara tentang kebangsawanan.

“Hanya dapat dikenang sekilas,” kataku, “lebih dari sekilas, menunggu. Zaman ini zaman lain.”

Pangeran mempertahankan diri terhadap keduanya. Terhadap kebangsawanannya dan terhadap zaman sekarang melalui titik sempit dari kesadaran akan kenisbian.

“Saya mengerti tarikan mistik. Saya hanya suka mistikus yang juga manusia berbuat,” kataku.

Saya bersandar kepada suasana dan seperti raja istirahat mempermainkan keinginan hati.

Pangeran tersenyum.

Kataku, “Kalau bukan manusia berbuat, ia bukan mistikus.”

Kami makan berdua. Dilayani oleh anaknya yang laki-laki dan satu-satunya.

Pangeran di antara pangeran, kata sahibulhikayat dan waktu malam meningkat ada yang pukul gender di pendopo.

Kamar kami duduk dan makan berisi perabot dan barang-barang tembikar Tiongkok yang indah. Warna terutama hitam, emas, dan merah. Semua terisi sedang perabotnya jarang, lanjutan dari keapangan alam di luar.

Istrinya entah ke mana.

Tinggal lelaki antara lelaki.

***


Baca: Biografi Sitor Situmorang

Baca juga cerpen Sitor lainnya:

1. Salju di Paris
2. Ibu Pergi ke Surga

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar