Humanisme dan Sesudahnya

01.02
humanisme, antihumanisme, agama

Tulisan ini dimuat di F. Budi Hardiman, Humanisme dan Sesudahnya: Meninjau Ulang Gagasan Besar tentang Manusia, Gramedia: 2012, halaman 1-5.


Prolog

Humanisme adalah sebuah topik yang “licin”. Kata itu bukanlah sebuah istilah dengan pengertian tunggal yang mudah disepakati. Orang kebanyakan di Indonesia menganggap istilah ini sesuatu yang asing yang dicangkokkan ke dalam bahasa kita. Kalangan religious, khususnya yang meyakini eksklusivitas jalan keselamatan menurut doktrin mereka, menganggap humanisme sebagai musuh berbahaya yang harus ditangkal. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa tercekik oleh doktrin-doktrin fanatik agama humanisme merupakan lorong pembebasan yang memberi mereka napas untuk hidup.

Topik humanisme juga sangat dekat dengan kita jika kita menginsyafi bahwa para pendiri negara kita memandang penting paham ini untuk mewadahi pluralisme masyarakat kita dan mencantumkannya sebagai sila ke-2 Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab). Begitu dekat sekaligus begitu jauhnya kita dari paham ini, begitu kaburnya di kepala orang banyak, sehingga kita memuji atau mencercanya tanpa mengerti apa yang kita puji dan cerca serta mengapa kita puji dan cerca.

Untuk mereka yang mencerca humanisme, ilustrasi berikut mungkin berfaedah. Dulu dan di mana pun, sebelum modernitas, setiap suku bangsa atau setiap bangsa menurut tanah dan darah memandang diri sebagai manusia, sementara orang-orang di luar mereka dianggap liar, barbar, atau “bukan manusia”. Etnosentrisme macam itu bahkan mendapatkan justifikasi sakral dalam agama-agama dunia manakala orang-orang di luar umatnya disebut “kafir”—sebuah varian lunak tapi tak kurang teroristisnya dari “bukan manusia”.

Sudah sejak dini dalam sejarah peradaban, bangsa Yunani dan Romawi kuno—berbeda dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini—yakin akan adanya kemanusiaan universal. “Manusia” memang muncul dalam tradisi agama-agama dunia dan dari wahyu yang mereka terima, namun wahyu ilahi hanya dapat ditangkap oleh mereka yang beriman kepadanya, sehingga manusia versi wahyu itu berciri partikular.

“Manusia” yang dibela oleh para leluhur humanisme tersebut berciri kodrati, dimengerti lewat akal belaka tanpa melibatkan wahyu ilahi. Segala yang dapat ditangkap oleh akal manusia dapat diterima oleh semua manusia berakal, maka “manusia” yang dimengerti para leluhur humanisme ini sungguh-sungguh universal dan tidak tinggal partikular seperti “manusia” dalam agama-agama.

Di zaman Renaisans gagasan Yunani Romawi tentang kemanusiaan universal itu dibangkitkan kembali dan berkembang Bersama dengan modernitas kita, sehingga kita sekarang dimampukan untuk mengatasi etnosentrisme dengan suatu ide abstrak, yakni humanitas.

Prestasi-prestasi peradaban yang disumbangkan oleh humanism Barat kita nikmati Bersama dewasa ini. Humanisme tidak hanya mendasari ide dan praksis hak-hak asasi manusia, civil society, dan negara hukum demokratis, melainkan juga mendorong aksi-aksi solidaritas global yang melampaui negara, ras, agama, kelas sosial, dan seterusnya, sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai kegiatan institusi PBB. Gagasan tentang toleransi agama adalah prestasi lain yang disumbangkan oleh humanisme Pencerahan Eropa abad ke-18 kepada peradaban modern.

Peradaban modern itu sendiri, dengan berbagai institusinya yang bekerja secara rasional, seperti sains, teknologi, pendidikan, birokrasi, dan pasar kapitalis, dibangun di atas premis-premis humanisme. Tanpa peranan abstraksi kemanusiaan universal dan rasionalitas manusia, sistem hukum modern yang memungkinkan kerja sama antarbangsa dan membangkitkan rasa tanggung jawab global terhadap perdamaian dan keutuhan ekologis kiranya akan sulit dibayangkan. Keyakinan rasional akan adanya akal Bersama umat manusia ini melandasi berbagai perjuangan untuk menegakkan keadilan dan perdamaian sampai dewasa ini. Dalam arti ini, humanisme tidak tinggal menggantung di langit-langit abstrak; ide itu memberi faedah praktis dalam kehidupan kita.

Untuk mereka yang terlalu memuji humanisme dan memperlakukannya sebagai berhala intelektual yang dikira akan menyelamatkan hidup mereka, kritik-kritik terhadap humanisme yang dilontarkan banyak pemikir sejak paruh pertama abad ke-20 yang lalu akan membantu mencelikkan mata mereka. Buku kecil ini dipersembahkan baik kepada mereka yang mencurigai humanisme sebagai musuh berbahaya maupun kepada mereka yang memujanya sebagai berhala intelektual.

Dalam segala hal di dunia ini kiranya tidak ada sesuatu yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk sehingga akal kita masih diberi kesempatan untuk memilih dan mengambil yang baik. Hal ini juga terjadi dengan humanisme. Tidak berlebihan kiranya menyatakan bahwa tugas kita di sini adalah memahami kemanusiaan secara lebih baik dengan mengeluarkannya dari jepitan antihumanisme dan humanisme itu sendiri.

Untuk itu, dalam bab pertama pertama-tama saya akan menilik bagaimana humanisme dalam pengertian normatifnya mengangkat nilai-nilai kodrati manusia di tengah-tengah suatu zaman yang penuh obsesi pada agama. Di dalam bab kedua akan saya tunjukkan bagaimana penghargaan atas nilai-nilai kodrati manusia menjadi radikal dalam humanisme ateistis yang memandang agama sebagai penghalang perwujudan bakat-bakat kodrati manusia.

Setelah ulasan tentang aspek normatif humanisme, dalam bab ketiga saya akan masuk ke dalam aspek faktual, yaitu bagaimana gagasan tentang kemanusiaan universal dibengkokkan menjadi penindasan atas kemanusiaan. Dalam bab keempat, menimbang aspek faktual itu, saya akan mengusulkan peninjauan ulang humanisme melalui kritik-kritik atas humanisme yang dilontarkan oleh beberapa pemikir kontemporer. Pendirian yang diusulkan di sini dapat kita sebut “humanisme lentur” untuk membedakannya dari humanisme sekular ateistis yang—seperti agama dan ideologi—juga membawa sikap-sikap eksklusivitas di hadapan pluralisme dunia. Saya akan menyudahi buku kecil ini dengan sebuah epilog.

------------------------------------------------------------------------

Humanisme dan Sesudahnya
F. Budi Hardiman
KPG
88 halaman
Rp 30.000

Untuk melihat lebih banyak buku-buku keren lainnya, silakan follow akun Instagram @bukubagus

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar