Ibu Pergi ke Surga

22.03
cerita pendek, sitor situmorang

(Sitor Situmorang, Salju di Paris, 'Ibu Pergi ke Surga', Grasindo: 1994, halaman 70-77)


Ibu akhirnya meninggal setelah mengidap penyakit dada satu tahun saja. Badannya yang tua dan aus pada usia 65 tahun tak tahan lebih lama menolak rongrongan kuman-kuman yang merajalela di paru-parunya. Obat tak terbeli, makanan tak tercukupi di kampung jauh di pegunungan, apalagi perawatan yang semestinya. Setelah ia meninggal, aku mengucapkan, “Syukurlah!” dalam hati. Terlalu penderitaan si tua itu.

Kebetulan saja aku dapat menghadiri saat matinya. Beberapa bulan sebelumnya, aku dua kali dipanggil dengan telegram, “Ibu sakit keras datang!” Saya datang. Ibu segar kembali. “Lihat, kau akan sehat kembali. Kau hanya rindu melihat anakmu!” kata orang menghibur hatinya, yang sudah tak segan mati. Hal itu kuketahui dari pandangnya. Bersama Bapak yang jauh lebih tua, ia tak punya apa-apa lagi di dunia untuk menjadi alasan hidup terus. Kami (dua anaknya) semua sudah merantau. Rumah besar kosong. Sawah terbengkalai. Cukup sebagian saja yang dikerjakan. Mereka mengembara dalam rumah seperti dalam ruang kubur besar, demikian kata Ibu sendiri. Orang pun tak singgah lagi. Apa hendak dipercakapkan si tua nyinyir serta istrinya yang sudah dekat mati?

Kedua kalinya saya dapat telegram. Tapi saya tak datang. Entah berdasar perhitungan apa saya menaksir dalam hati saya bahwa Ibu akan tanan hidup kira-kira 6 bulan lagi. Lalu kukirimkan sebuah baju panas. Surat Ibu, yang didiktekan pada orang lain, sebab ia buta huruf, dan ditujukan pada anakku laki-laki yang sulung berkata, “Nenek lakimu cemburu, baik kirim baju laken padanya seperti dulu!” Pernyataan tersebut diperkuat dengan cap jempol Bapak. Jas itu kukirimkan.

Lalu datanglah telegram ketiga. Semacam firasat menyuruh aku pulang. Ketika tiba di kampung seorang diri, Bapak berkata dengan kesal, “Hanya kau sendiri?”

Adikku sejak beberapa tahun tak ketahuan lagi di mana tempatnya.

Malamnya ketika makan, Bapak bertanya, “Apa kau cekcok dengan istrimu?” Lalu ia memberungut, pergi keluar. “Ongkos mahal, Pak!” kataku, tapi ia menghilang dalam gelap setelah berkata, “Kalau ibumu mati, aku pun tidak lama lagi hidup, sedang cucuku belum pernah kulihat!”

Ibu tersenyum saja.

Esoknya, setelah memperhatikan Ibu, tak terpikir ia lekas akan mati. Lalu aku menyesal sedikit karena datang juga memenuhi panggilan. Hampir aku mau pulang saja lagi ke pekerjaan di Pulau Jawa, tetapi saya tinggal. Kebetulan sudah dekat tahun baru, aritnya dekat hari Natal pula. Saya tahu, Ibu hanya suka saya berada di hari Natal di dekatnya. Bapak tidak. Tak pernah ia kukira merasakan arti ia dipermandikan jadi orang Kristen, ketiak ia sudah berusia 40 tahun dulu. Ia masih mengucapkan mantera kalau ada kejadian istimewa dengan diri atau keluarganya. Kalau kerbaunya diterkam harimau di padang bebas di gunung, ia juga mengucapkan manteranya sambil membakar ranting di malam gelap. Harimau yang rakus itu akan mati! Begitulah keyakinannya.

Tapi Ibu lain. Selain tak percaya pada takhayul, ia pengunjung gereja yang setia dan merupakan pengikut persatuan jemaat di tengah-tengah penduduk yang kebanyakan masih zakil. Ibu memang terkenal peramu obat-obatan, tapi tanpa mantera, resep buatannya hanya diludahinya.

Bapak kalau di gereja diberi juga tempat istimewa dekat pendeta, di atas kursi besar menghadap jemaat, sebab ia orang yang dirajakan, pun sebelum zending dan kompeni datang. Itu haknya dan saban ia duduk di gereja, ia duduk terkantuk-kantuk di sana sampai habis gereja.

Pada hari kedua saya datang, pendeta berkunjung ke rumah. Karena Ibu tidak dapat ke gereja di malam hari Natal, jemaat akan merayakan hari Natal di rumah kami! Ibu setuju, dan mengangguk seperti menerima hal yang sewajarnya.

Aku merasa keberatan karena sesuatu, tapi tak berkata. Sebelum itu, sudah beberapa kali orang berhari Minggu di rumah kami rupanya. Hal itu terasa bagiku seakan-akan upacara kematian. Aku teringat akan khotbah-khotbah yang dulu di masa kanak. Pandang yang melongo dari jemaat dan Bapak yang terkantuk-kantuk. Nyanyian parau dan sumbang dan bau daki orang tak mandi semestinya. Obrolan sesudah gereja di depan gereja, demikianlah kenanganku. Hal itu dulu tentu tak kurasakan demikian. Sebab buat kanak-kanak, pekarangan gereja penuh hal-hal yang menarik. Pohon kemiri yang rindang, kebun penuh pohon buah-buahan: jambu, nangka, manga, di pekarangan pendeta banyak tebu. Dan di malam hari Natal, aku selalu dapat lilin yang tersisa. Hal itu keistimewaan yang direlakan oleh anak-anak lain.

Ketika hendak pulang, pendeta mengajak aku iku ke rumahnya. Karena tak ada yang dapat dilakukan di dusun lembah yang begitu sepi, aku ikut. Lagi aku ingin juga melihat gereja yang dulu yang sudah tak kulihat sejak lepas dari sekolah dasar kira-kira dua puluh tahun yang lalu.

Jalan menuju gereja melalui tegalan dan jalan kampung. Pendeta bertanya, “Mengapa Tuan tak ke gereja ketika kemari beberapa bulan yang lalu? Tuan lebih seminggu di sini ketika itu, bukan?”

Pertanyaan itu kuelakkan dengan bertanya ini dan itu tentang keadaan penduduk. Ia bertanya tentang keadaan di Pulau Jawa, di Jakarta, kemungkinan perang di Formosa. Apa kabinet masih akan tahan lama? Semua pertanyaan itu saya jawab sekadarnya. Akhirnya, kami sampai di pekarangan gereja. Pada kesan pertama, aku heran betapa kecilnya gereja dan rumah pendeta. Pekarangan tidak seluas dulu agaknya. Pohon kemiri ternyata tidak setinggi dulu, seperti menara gereja dengan ayam penunjuk arah mata angin yang digunting dari kaleng tipis di atasnya. Masih yang dulu! Itulah gereja kayu tua: betapa kumuh! Kami masuk ke dalam gereja yang juga masih dipergunakan sebagai sekolah, hanya sekarang lebih banyak bangku dan di sudut pekarangan telah didirikan bangsal darurat.

Gereja kecil dan bangsal darurat itu memuat 300 orang murid dengan tenaga empat guru. “Satu yang berijazah,” kata pendeta.

Kuperhatikan dinding gereja yang penuh ditempeli gambar anak-anak sekolah sendiri. Jauh di atas di sudut dinding melekat gambar: kerbau membela gembalanya terhadap harimau. Gambarku.

Istri pendeta memanggil. Ia sudah menyediakan kopi. “Sebentar!” balas pendeta dan suaranya membahana pada lereng bukit yang mengapit lembah. Setelah pendeta mengunci pintu gereja, anjingnya datang menjilat kaki saya: kesepian yang tetap.

Ketika menghirup kopinya, pendeta berkata dengan hormat, “Tuan hendaknya membaca Injil di malam hari Natal nanti! Ibu tentu gembira sekali kalau Tuan melakukan hal ini.”

Sambil memandang gambar kepala Kristus di salib yang sobek-sobek tergantung di dinding di depan saya, saya berkata, “Lebih baik jangan, Tuan Pendeta! Biarlah orang tua-tua yang melakukannya.”

“Orang tua-tua mengatur jemaat membakar lilin, membaca nyanyian, mengatur anak-anak sekolah. Kor harus dipimpin. Kami telah melatih lagu kesukaan Ibu: Di Tangan Tuhan!”

Aku tak suka, tapi aku diam. Pendeta rupanya menganggapnya tanda setuju.

“Kue-kue disediakan juga buat anak-anak. Sihotang telah bermurah hati memberi sumbangan besar. Tuan masih ingat dia?”

Aku pulang dengan perasaan hampa dalam dada. Terbayang orang berkumpul di rumah. Bagaimana dan di mana Ibu akan ditaruh? Ia tak dapat duduk lama-lama. Berbaring kiranya?

Ketika sampai di rumah, Ibu kujumpai sedang menyediakan minuman susu kental yang kubawa, sendirian jongkok di lantai ruangan tengah.

Tibalah malam Natal. Bapak sudah siang-siang mengenakan pakaian yang bersih. Ia duduk sendirian di sudut ruangan dalam yang besar sambil menumbuk sirihnya di lesung kecil dibuat dari perak.

Dua gadis yang tak kukenal sedang membenahi Ibu dan meletakkannya di atas bale-bali, lalu Ibu ditaruh dekat dinding agak jauh dari tempat duduk bapak. Pohon Natal yang diambil dari hutan telah tersedia di sudut. Lilinnya belum dibakar.

Setelah Ibu terbaring baik, kedua gadis itu pergi. Mereka juga hendak berbenah. Upacara akan dimulai kira-kira satu jam lagi. Aku pergi ke kamarku duduk di kursi termenung. Sekali-kali Ibu terbatuk, menyeling suara lampu petromaks.

Aku termenung. Barangkali setengah jam, tak tahu aku. Ketika sadar kembali, aku tak mendengar batu Ibu, juga tidak suara lesung sirih Bapak. Tentu ia sudah mengunyah dengan mulutnya yang tak bergigi lagi. Suara lampu petromaks makin keras. Aku keluar dari kamar, memandang Bapak sebentar, lalu Ibu yang telentang di atas bale-bale ditutupi dengan kain. “Ia tertidur,” pikirku, lalu aku mendekatinya. Kuperhatikan wajahnya dengan mata dan pipinya yang cekung-cekung. Lalu dadanya.

“Seperti dada ayam,” pikirku. Tiba-tiba kusadari dadanya tak bergerak. Kuraba keningnya, lalu kubuka kelopak matanya. Ibu telah mati! Perasaan syukur yang ganjil tak memberi kesempatan pada haru yang menyumbat kerongkonganku. Kupandang ke arah Bapak, tapi ia ini tak tahu apa-apa. Bagaimana mengatakan hal itu? Orang akan datang berpesta segera: kututupi wajah Ibu dengan kain dan sebentar lagi kedengaran orang datang. Pendeta dan orang tua-tua: jemaat pun masuk, mengambil tempatnya di lantai, duduk bersila dengan khidmat, mula-mulai di sudut-sudut, hingga terisi, bersila dengan segan-segan menyerak ke tengah ruangan.

“Ibu tidur?” tanya pendeta sambil menyerahkan buku Injil padaku.

“Ya,” sahutku.

“Baiklah! Kalau sudah sampai ke lagu kesayangannya, ia kita bagunkan nanti,” katanya.

Ia mulai mengatur jemaat. Orang tua-tua menjalankan tugasnya masing-masing. Akhirnya, ruangan dalam dalam penuh sesak, hanya sedikit tempat terluang, yaitu sekitar Bapak. Anak-anak sekolah duduk dekat bale-bale Ibu, membelakanginya, menghadapi pohon Natal di sudut.

Lilin yang berwarna-warni telah menyala dan suara “ah-ah-ah” kekaguman dan kegembiraan anak-anak kedengaran. Aku berdiri terpaku dengan Injil di tangan, dengan sikap janggal, seperti pendeta yang baru menghadapi khotbahnya yang pertama, dekat bale-bale.

Upacara dibuka dengan doa. Bapak masih menumbuk sirihnya. Lalu nyanyian. Lalu pembacaan Injil. Suarakukah itu? Jemaat bernyanyi. Aku hilang perasaan akan waktu, tapi kudengar mendengung.

“ … Setelah lahir Yesus di Baitlahim di tanah Judea …”

Pendeta datang membongkok-bongkok ke jurusan saya mengatakan supaya membangunkan Ibu. “Lagu kesayangannya akan dinyanyikan!”

Aku mengangguk dan ia pergi mengatur kornya. Sebelum mulai, ia melayangkan pandang bertanya padaku, yang kubalas dengan anggukan. Kor pun mulai, “Di tangan Tuhan!” … Kata-katanya tak dapat kutangkap. Suatu lagu yang tak pernah kukenal, lagi anak-anak dekat pintu da dekat bale-bale gelisah dan bercakap-cakap antara sesamanya. Kuperhatikan Bapak yang berhenti menumbuk sirihnya sambil memandang pohon Natal yang menyala-nyala dengan nanap.

Pendeta berdoa, “Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Penyayang, kepada-Mu kami serahkan ibu kami ini. Di tangan-Mu hidup dan di tangan-Mu mati, terimalah ia di dalam surga!”

Setelah lagu “Malam Kudus” dan doa penutup, upacara hampir selesai. Kue-kue dibagikan, minuman diedarkan. Pendeta dan orang tua-tua pergi duduk dekat Bapak. Ketika melintas di tengah ruangan melalui orang banyak, pendeta berkata dengan gembira ke jurusan Ibu, “Tidurlah, Bu, tak usah ikut makan kue-kue dulu, tidurlah!” Saya masuk ke kamar dan meletakkan kitab Injil di atas meja lalu keluar lagi, menjenguk, memperhatikan orang.

“Mari, duduk dekat, Bapak!” kata seorang tua-tua, “Mari bercakap-cakap. Apa saja kabar dari Jakarta?”

Saya minta maaf lalu keluar rumah. “Biarlah mereka sendiri mengetahuinya,” pikirku. Setelah beberapa waktu saya menjenguk kembali ke dalam rumah. Tak ada rupanya yang teringat akan mengganggu ibu dalam tidurnya. Demikianlah sampai orang berpulangan semua.

Sesudah semua orang pergi, pada Bapak kukatakan Ibu tak ada lagi. Ia lalu terhenti sebentar menumbuk sirihnya, berkata, “Panggil pamanmu!”

Sebelum pergi, lilin kupadamkan.

Beberapa hari kemudian, setelah Ibu dikubur dengan upacara adat dan upacara keagamaan, Bapak memanggil saya.

Ia berdiri di pekarangan luas dan memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya ke sudut pekarangan. Tak tahu aku maksudnya. Setelah aku dekat ia berkata, “Kau ada uang?”

Aku terkejut karena tak tahu maksud apa yang terkandung dalam pertanyaannya, tapi akhirnya kubilang, “Berapa Pak perlu?”

“Seribu, dua ribu rupiah sudah cukup,” katanya.

“Bua tapa?” tanyaku sambil mengikuti dia, dan pada ketika itu kami sampai di sudut pekarangan. Ia memegang bahuku dan sambil memandang ke danau di bawah ia berkata, “Di sini aku ingin dikubur. Kau harus membuat kuburan semen yang indah buat aku. Kalau aku sudah mati, Ibumu kau pindahkan kemari.”

Aku hanya bertanya, “Mengapa mesti di sini?”

Bapak melepaskan tangan kirinya dari bahuku. Ia berpaling memandang ke puncak gunung dan berkata, “Dari tempat ini aku dapat memandang lepas ke daratan tinggi dan ke danau.”

Aku diam.

Danau di bawah ditimpa sinar tengah hari, berkilau-kilau. Bapak berjalan meninggalkan kau. Kulihat pendeta datang.

Pendeta itu menuju tempatku dan setelah sampai berkata, “Kudengar Tuan besok pergi. Mudah-mudahan selamat saja di perjalanan!”

Kemudian, “Tuan jangan sedih! Tuan melihat betapa besar cinta penduduk dan kerabat Ibu. Tak ada orang tua yang begitu dicintai dan dihormati di daerah ini! Ia sekarang di samping Tuhan!”

“Ya,” kataku.

“Ya, saya tahu Tuan juga percaya, walaupun orang terpelajar tidak lagi suka datang ke gereja. Saya selalu yakin Tuan berpegang pada Kristus,” kata pendeta seperti pada dirinya sendiri.

“Bukankah begitu, Tuan? Mana bisa menusia tidak ber-Tuhan! Mana mungkin tak ada surga!” katanya dengan pandang seakan-akan kambing menghadap batu.

“Ya, benar, Tuan Pendeta,” kataku, “sudah barang tentu ada surga.” Lalu pendeta meninggalkan aku.

Aku pergi menuju pohon Natal yang sudah kering terbengkalai di pekarangan.

Dengan api sebuah korek api, sebentar saja ia kubakar menjadi unggun api seperti di masa kanak. Abunya terserak di halaman, dan tersebar dihembus angin ke arah danau biru di bawah.

***

Baca: Biografi Sitor Situmorang
Baca juga cerpen Sitor lainnya:
1. Salju di Paris
2. Pangeran

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar