Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965

23.18
lekra, manikebu, PKI


Lekra Vs Manikebu  adalah sejarah panjang pergulatan politik dan pemikiran dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Meski sudah beberapa dekade, soal demikian layak menjadi perbinacangan di era sekarang. Untuk mempermudah akses bacaan, Sastra XYZ akan memberikan pdf buku karangan Alexander Supartono ini kepada khalayak sastra. Semoga bisa membantu memahami perdebatan politik kebudayaan yang terjadi waktu itu.

1. Latar belakang

Dalam sejarah kebudayaan Indonesia modern, gejolak yang terjadi antara tahun 1950-1965 adalah fenomena yang paling dikenal dan paling tidak jelas pada saat yang bersamaan. Gejolak yang terkenal dengan Peristiwa Manikebu ini kemudian diartikan bermacam-macam, sesuai dengan kepentingan masing-masing interpretator dan terutama sesuai dengan tingkat kesempatan (atau kemampuan) mengakses bahan sejarah sezaman. Ada yang mengartikan pergolakan tersebut sebagai perdebatan antara penganut realisme sosialis dengan pendukung humanisme universal, pertarungan antara Lekra dan kubu Manifes Kebudayaan. Lainnya menyatakan sebagai penindasan Lekra, yang merupakan lembaga kebudayaan dominan pada masa itu, terhadap paham-paham lain, terutama kelompok Manikebu yang secara formal menghadang. Ada juga yang menyatakan bahwa pergolakan ini tidak lagi dari sebuah pertarungan politik yang mengambil wilayah kebudayaan.

Beragamnya interpretasi tersebut minimal menunjuk pada dua hal. Pertama, menunjukkan kekayaan pemahaman atas gejolak itu; dan kedua menunjukkan ketidakjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Yang pertama sulit untuk dipertahankan mempertimbangkan tradisi penulisan sejarah Orde Baru, terutama pada masa-masa tahun 1960-an, di mana sejarah adalah sebuah interpretasi tunggal. Lalu kita menuju pada alasa kedua, bahwa apa yang terjadi pada masa itu tidaklah jelas. Karena penjelasan yang ada tentangnya hanya datang dari satu sisi, yaitu dari mereka yang bersama Orde Baru keluar sebagai pemenang. Konsekuensi selanjutnya adalah segala informasi, interpretasi, dan pendapat dari pihak yang kalah jadi tertutup. Sejarah ditulis oleh para pemenangnya.

Sejauh ini, pembahasan yang ada tentang topik di atas hanya menjadikan pergolakan tersebut sebagai latar belakang, karena yang dibahas adalah kelompok tertentu yang terlibat dalam perdebatan tersebut. Ini bisa dilihat dalam karya sarjana Malaysia, Yahya Ismail: Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kejatuhan Lekra di Indonesia di tahun 1972; atau penelitian sarjana Australia Keith Foulcher, Social Committment in Literature and Arts: The Indonesia "Institute of People Culture" 1950-1965, 1986; atau tulisan mereka yang terlibat dalam pergolakan itu seperti Goenawan Mohamad, Peristiwa "Manikebu": Kesusasteraan Indonesia dan Politik di tahun 1960-an, 1988 dan tulisan Sekretaris Umum Lektra Joebaar Ajoeb yang tidak dipublikasikan, Mocopat Kebudayaan Indonesia, 1990.

Sampai kemudian muncullah buku karya Taufik Ismail dan D.S. Moeljanto, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Republika dan penerbit Mizan, 1995. Pergolakan tersebut dalam buku ini dinyatakan tidak hanya sebagai "perdebatan kebudayaan", tapi sudah menjadi "prahara budaya". Taufik dan Moeljanto mengumpulkan makalah, kliping koran, dan majalah yang terbit tahun-tahun tersebut untuk membuktikannya. Namun dengan anak judul Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk..., mereka menunjukkan bagaimana Lekra/PKI dkk menerang kelompok-kelompok di luar mereka.

2. Pertanyaan dan Upaya untuk Menjawabnya

Dengan latar belakang di atas, pertanyaan penting yang tertinggal adalah: Benarkah telah terjadi perdebatan kebudayaan, dalam arti pertukaran gagasan, pada periode 1960-an? Membaca berbagai studi yang membahas, atau paling tidak menyentuh teman ini (Ismail 1972, Foulcher 1986, Ajoeb 1990, Mohamad 1993, dan Ismail 1995) saya mempunyai hipotesis bahwa perdebatan kebudayaan pada periode 1950-1965 secara esensial tidak pernah ada. Dalam masing-masing pembahasannya, studi-studi tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa yang terjadi adalah pertarungan politik yang terjadi di wilayah kebudayaan. Dalam skripsi ini saya akan mengeksplisitkannya.

3. Metodologi


  • Metodologi yang dipakai dalam membuktikan perdebatan tersebut adalah studi kepustakaan dan historis kritis. Studi kepustakaan dilakukan pertama-tama untuk mendapatkan keempat manifes kebudayaan di atas, kemudian untuk menelusuri bahan-bahan tertulis produksi kebudayaan pada periode 1950-1965 yang menyertai keempat manifes kebudayaan tertulis. Studi kepustakaan juga dilakukan untuk mengumpulkan studi-studi lain yang sedikit banyak membahas tema yang sama sebagai bahan perbandingan. Selanjutnya dilakukan pengkajian historis kritis terhadap bahan-bahan tersebut. Metode pengkajian ini dipilih agar paparan dalam skripsi ini tidak melulu deskriptif-kronologis, melainkan secara kritis membandingkan dan menganalisa keempat teks tersebut dan melihat perkembangannya dalam konteks historisnya. Saya akan membuktikan hipotesis saya dengan langsung membandingkan manifes-manifes kebudayaan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang selama ini dianggap terlibat dalam perdebatan itu, yaitu kelompok Surat Kepercayaan Gelanggang dan Manifes Kebudayaan di satu sisi dan di sisi lainnya adalah Lekra. Saya menganggap lewat manifes itulah kita bisa melihat pokok-pokok gagasan yang ingin dikembangkan masing-masing pihak, sehingga kalaupun ada perdebatan, dari sinilah bisa dilacak akar perdebatannya.
  • Bahan-bahan yang sudah terkumpul di atas dibedakan menjadi dua: sumber primer dan sumber sekunder. Dalam studi kepustakaan ini yang dikategorikan sebagai sumber primer adalah empat manifes kebudayaan yang lahir pada periode 1950-1965, yaitu: Surat Kepercayaan Gelanggang, Mukadimah Lekra 1950, Mukadimah Lekra 1959 dan Manifes Kebudayaan 1963. Pembuktian ini dilakukan dengan menganalisa dan membandingkan manifes-manifes kebudayaan itu.

Adapun sumber sekunder adalah berbagai studi yang membahas tema yang sama. Hal ini meliputi seluruh bahan yang berkaitan dengan Lekra, seperti dokumen kongres nasional, konferensi nasional, Pleno Pimpinan Pusat Lekra dan tulisan-tulisan mereka, yang didapat dalam bentuk hasil cetak mikrofilm dari perpustakaan Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Monash-Australia, atas jasa baik Keith Foulcher. Sedangkan bahan-bahan yang berkaitan dengan kelompok Surat Kepercayan Gelanggang dan Manifes Kebudayaan didapat dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

4. Pentingnya Skripsi Ini

Secara umum, sejarah Indonesia pada periode 1950-1965, penuh dengan kontroversi. Ada garis tunggal yang selama 32 tahun dipaksakan oleh Orde Baru, namun di tengah itu studi-studi sejarah yang dilakukan pada periode itu, terutama oleh para ahli Indonesia dari luar negeri, menjadi bantahan terhadap garis Orde Baru tersebut.

Di antara studi-studi tersebut, wilayah kebudayaanlah yang paling sedikit menarik minat. Terbatasnya bahan ini membuat diskusi kebudayaan yang terjadi di berbagai kesempatan, bila sampai menyentuh periode ini, maka akan segera terjadi debat kusir yang tidak jelas ujung pangkalnya. Perdebatan ini selalu dilandaskan pada asumsi-asumsi yang tidak pernah diperiksa secara ilmiah, sehingga terjadi berbagai simplifikasi masalah.

Yang paling sering terjadi misalnya perdebatan kebudayaan pada periode 1950-1965 selalu dipahami sebagai perseteruan antara Lekra dan Manikebu. Atau ketika membahas hubungan kebudayaan dan kekuasaan terjadi simplifikasi, misalnya, mencontohkan hubungan Lekra dan PKI, tanpa memeriksa lebih jauh hubungan keduanya, apakah dalam rangka kerja-kerja strategis bersama atau secara organisasional memang berhubungan.

***

Download e-book: Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar