Kota Asing dan Puisi-Puisi Lainnya

08.02


Kota Asing

- PYN


Di kota kita dingin telah pasang
Gelap meleleh pada detik kedua belas
Serba kelam bagai lumut-lumut karang
Orang-orang merangkak sambil berteriak
dan menuangkan arak untuk kita.

Waktu pun menjangkar mala. Rembulan
lena dalam igauan panjang. Seekor kucing hitam
mengais tanah legam. Mencakar nasibnya sendiri.
Di kota kita tak lagi mengenal kehidupan
hanya gaung sirine yang berkejaran.

Kudengar langit runtuh, bumi mengaduh,
kauberguruh sebagai hujan di rongga distrik
di sela tiang-tiang pabrik, suar yang teduh,
dan kereta waktu yang menjauh.
Di kota kita yang sepi, tetapi
tak pernah hening ini.

Kita coba mengukur jarak pada peta perjalanan
penyair insomnia. Lewat ritmis rintik
yang tertahan. Serta menyepuh cakrawala dengan
serbuk-serbuk warna menjelma mimpi
sepasang pertapa. Bukan dengan kata-kata
dan mata kota rabun membacanya.

2014



Revolusi Malam Hari

- John Lennon


MARI rencanakan revolusi untuk malam hari.
Sebab di sprei dan bantal tak lagi kuhirup
aroma kekasih yang telanjang. Sebab esok
hari tak ada lagi poni yang mesti kusisir.

Lalu studio musik itu akan kita tinggalkan
sementara, dan berbaur bersama mereka
di atas aspal panas. Berarak-arakan. Lalu
menyanyikan Give Peace a Chance.

Nuklir adalah suara senar-senas putus.
Perang seperti serantai false chord
dalam partitur parlemen politik kita.
Liriknya hanya soal tawar-menawar
bagi tradisi para pembesar barbar.

MARI rencanakan revolusi untuk malam hari.
Akan aku sertakan secarik kertas dan 4 butir
timah panas di dadaku. Bukan untukmu, Yoko,
tapi cinta pada dunia dan dunia yang mencintaiku.

Tetapi cinta hanyalah kenangan yang penuh
beban. Seperti itu akhirnya, Yoko, kurebahkan
diriku di atas kasur penghabisan.
Dan kurancang revolusi dengan kematian.



Adegan dalam Sebuah Film

- Noah & Allie


Kenapa tak kita coba tafsirkan musim panas yang lalu? Ketika kesia-kesiaan jadi perlu dan hambur waktu hanya guyon yang lucu. Walau musim berkali-kali ganti dan waktu luruh seperti kepingan logam.

Di pantai itu kutawarkan ombak, senja lesap dan pesiar berangkat. Sebab kau bukan lagi turis di Seabrook yang berasap.

Lalu malam tiba, secawan purnama, di atas aspal California kita berdansa. Dalam sebuah gedung setengah jadi kucium aroma birahi & rasa takut yang disembunyikan.

Dan kuhirup pula wangi kalender yang hampir akhir. Musim panas akan bergegas. Sebab esok hari, hujan akan tiba, dan kutahu tak ada yang mesti disapa.

Hanya puing-puing dan bau mesiu di peperangan mendatang. Juga sebuah pesan di buku catatan. Biarkan aku lupa pada cinta dan ketaksengajaan yang percuma.

2017



Francesca Bruni


Wanita bukanlah wanita yang
dinyanyikan putera mahkota Salomo:

Seperti patung dengan buah dada, bibir
dan bola mata yang menyirep laki-laki
masuk alam fantasi, sedang liur mereka
menetes dan merambat seperti tanaman
jalar yang menjerat badan hingga tak
mampu bubung menuju langit tinggi.

Dan orang-orang mencibir, ada yang tertawa,
dalam auditorium itu seseorang berkata:

“Ini adalah tempat suci dan wanita hanya
setetes lendir yang kelak menghapuskan
kesucian kaum lelaki!”

Itulah mengapa mereka tersipu ketika
kaubuka tudungmu dan menjilat-jilat rambut apimu, Bruni.

Bukan, bukanlah wanita. Tetapi
keangkuhan dan keangkuhan yang
menahan pun membatalkan keagungan
laki-laki. Sedang zakar mereka adalah
akar-akar beringin yang terpacak di perut bumi.

2014-2015



Nyanyikanlah Sebuah Sajak


Dari sedikit yang kurindu: kidungmu, hidungmu
yang mancung serupa jalan dengan air menggenang.
Kita berjalan. Sayup-sayup rintik di tingkap perdu.
Di sepanjang sungai tak kita jumpai batu-batu
atau bidak-bidak di setra ilalang
kecuali derap-derap ciuman kita—padat dan sunyi.

Di matamu: kabut mengulum kabut.
Angin berpilin antara sepi dan dini. Tak kita
rasakan derai dedaun, seperti waktu, berdenting
di sela doa yang urung kaulagu. Bukit adalah pasir
tandus tanpa nada dan Ilah. Sedang helai-helai
rambutmu berserakan di atasnya.

Kapan lagi kau nyanyikan sebuah sajak
Di sunyi desa-desa. Di sepi doa-doa.

2013



Ibrahim


Sebuah mimpi, mungkin juga, adalah pentas
teater yang kau saksikan di bangku pertama.
Mulanya: sebuah lembah mati, angin yang kering,
lalu kersik-kersik pasir mendaras sebuah lagu:

Di sini anak tersayang ditinggal.
Di sini anak tersayang akan meninggal.

Mekkah, dan semua nampak penuh drama.
Hatimu yang setengah pongah
kini menyusut sebagai pelepah kurma
dan matamu meleleh sebagai iman yang kalah.

Ketika masuk anakmu ke panggung
menggambil posisi, lalu Sutradara itu
memanggilmu, “Ambillah pisaumu
dan kita sudahi firman-Ku.”

Sebuah mimpi, pada akhirnya, adalah pentas
teater yang kauperankan sebagai tokoh utama.



Selamat Malam, Penyair

kepada Prima Y.N. untuk sajak-sajak malamnya


Malam adalah sebuah pelarian dari hidup yang ditambatkan.
Dan kita pun bercakap tentang sajak: sesuatu yang datang
tetapi lekas lepas. Seperti ciuman musim pada recik-recik
air teladas. Sebab tak ada yang kekal bahkan kata-kata
bukanlah firman. Tetapi kita tak peduli, bukan? Kita tetap
beriman pada kesemuan. Terhadap ruang, kita adalah orang
yang diasingkan. Adapun kota hanyalah diorama yang tak
menghidupkan apa-apa sebenarnya. Kecuali dalam sajak
malam itu: kita susuri beberapa rute rahasia ketika orang-
orang melupa nasib dan bahagia.

2014

***

Hyde Syarif lahir di Kota Tangerang, 2 Februari 1992. Alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini adalah pendiri komunitas seni DirosArt.

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar