Mencari Kedudukan Drama Modern di Indonesia

15.13
Drama modern - Yang saya maksud dengan drama modern di Indonesia berbeda dengan yang dimaksud orang-orang apabila mereka berbicara tentang drama modern di Barat. Jadi, yang saya maksud bukannya seni drama yang dihasilkan sesudah masa neo-klasik, tetapi yang saya maksud ialah semua seni drama di Indonesia yang memakai naskah dialog, untuk membedakannya dari seni drama tradisional yang mempunyai ikatan-ikatan tradisional pula dan tidak memakai naskah dialog karena dialognya dilakukan dengan improvisasi.

Sejak zaman pendudukan Jepang, perhatian orang Indonesia terhadap drama modern makin bertambah. Dan akhirnya, sekarang ini banyak lagi orang yang ingin memainkan sandiwara, meskipun jumlah yang ingin menonton tidak pesat tambahannya. Di setiap kota besar tentu banyak rombongan sandiwaranya. Di kota-kota kecil semacam Tegal, Kudus, Bagan Siapi-api, Kandangan, Jember, Tasikmalaya dan beberapa kota kecil lainnya pun ada rombongan sandiwaranya. Sifat rombongan-rombongan ini amatir atau semi-profesional. Sifat profesional yang sesungguhnya belum berkembang.

WS Rendra, teater modern Indonesia
Sumber gambar: Komunitaskretek

Seorang dramawan di Indonesia selalu mengalami kesulitan dalam mengembangkan sebuah rombongan sandiwara yang kompak dan stabil, karena anggota-anggota rombongannya yang amatir itu tak bisa memberikan dedikasi seorang profesional. Demikian pula dalam pemilihan pemain, ia selalu mengadakan kompromi dengan kenyataan bahwa ia hanya bisa memilih di antara para amatir. Pemain profesional drama modern yang sesungguhnya belum ada, karena rombongan sandiwara modern yang profesional pun belum ada pula. Semuanya ini menggiring kepada nasib buruk keadaan drama modern di Indonesia dewasa ini. Dalam hal mutu, seorang dramawan terdesak untuk kompromistis. Barangkali tidak usah kompromistis dengan selera penonton, tetapi selalu ia kompromistis dengan keadaan, ialah keadaan alat-alat bekerjanya, termasuk para pemainnya.

Lebih dari semuanya itu, ada suatu kenyataan pahit lagi. Para dramawan yang bersungguh-sungguh itu sendiri kurang pengalamannya. Maklumlah, sebab lapangannya itu memang baru adanya. Drama yang dialognya ditulis dengan naskah itu tidak asli muncul dari kebudayaan Indonesia. Ia muncul sebagai pengaruh kebudayaa Barat, dan tumbuh sebagai tradisi baru yang masih teguh akarnya dalam kebudayaan Indonesia.

Banyak dramawan-dramawan bersungguh-sungguh yang dewasa ini penuh tekanan jiwa. Semangat mereka bergelora dan hati mereka sudah mantap untuk mengabdi pada seni drama modern, tetapi hasil pekerjaan mereka selalu malang. Mutunya setengah-setengah, kesegaran ilham kurang, jalan ke masa depan suram, dan terhadap keadaan selalu terdesak untuk kompromi, kompromi, kompromi. Dewasa ini, keadaan seni drama modern di Indonesia: melempem.

Semua dramawan tengah memprihatinkan hal ini. Maka satu hal yang harus dikemukakan: sebelum melangkah ke depan lagi, kita harus menyadari keadaan yang sesungguhnya. Sebelum melakukan satu tindakan apa pun lagi harus sudah jelas lebih dulu, betapa kedudukan drama modern di Indonesia itu sesungguhnya. Baru sesudah jelas akan hal yang dasar ini kita bisa menentukan sikap yang lebih sehat dan lebih bertanggung jawab.

Jadi pertama-tama harus kita sadari bahwa kedudukan drama modern di Indonesia masih goyah. Ia adalah hasil pengaruh kebudayaan asing. Ia bukan kesenian rakyat. Rakyat tidak merasa dengan sesungguhnya makna dari seni drama modern ini dalam hidupnya. Tidak. Sebagian besar dari rakyat kita tidak merasa adanya hubungan drama modern itu dengan hidupnya. Ini tidak ada hubungannya dengan isi cerita sandiwara itu. Sebab biarpun isi ceritanya menyangkut masalah hidup mereka, bagi mereka ia masih tetap sebuah kesenian yang asing. Adapun sebenarnya yang asing ialah bentuk dari seni drama modern itu.

Sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kebudayaan lisan. Maka dalam kebudayaan ini bentuk seni drama yang hidup subur ialah seni drama yang dialognya diimprovisasikan. Dialog yang terlalu dalam tidak diperlukan, apalagi yang bersifat diskusi. Dialog hanya dijadikan sampiran untuk cerita. Inilah yang penting. Dialog harus bersifat ringan atau menghibur. Yang penting: cerita harus berjalan dengan mengasyikkan.

Sesuai dengan media lisan mereka, maka hidup mereka pun menggerombol. Adat istiadat dalam hidup menggerombol ini sangat kuat. Orang menghadapi hidup dengan patokan-patokan bersama yang teguh. Segala persoalan hidup dihadapi dengan rumus-rumus yang sudah tersusun berabad-abad lamanya. Tak perlu lagi orang berpikir otentik. Resep-resep untuk kesulitan-kesulitannya sudah ada. Ada yang harus ia kerjakan ialah mendengar dengan baik-baik semua patokan-patokan hidup itu dan menghapalkannya. Ukuran mutu orang tidak pada otentiknya, tapi pada kefasihannya dalam menghapal patokan-patokan hidup. Maka demikianlah tertanam pola kehidupan menghapal.

Kebimbangan dan sikap skeptis dianggap buruk. Kepatuhanlah yang utama. Patuh dan menghapal. Karena itu, dialog dalam seni drama rakyat sangat tradisional pula isinya. Penuh dengan klise-klise. Ada sebuah bentuk drama tradisional yang disebut Langendriyan. Ia mempunyai dialog yang tertulis, tapi dialog ini pun tidak penting sekali artinya. Ia hanya berfungsi sebagai retorik untuk jalan cerita saja. Selanjutnya penuh pula dengan klise-klise.

Peradaban Barat yang datang ke Indonesia membawa kebudayaan buku-buku, kebudayaan membaca. Seorang ahli sosiologi dari Kanada, Prof MacLuhan, menyatakan bahwa media itu membentuk kebiasaan dan adat-istiadat orang. Ini benar kalau diterapkan pada keadaan kita. Buku-buku memberikan suasana pertukar-pikiran yang intim dan langsung. Selanjutnya menimbulkan pula kesadaran pribadi. Dan akhirnya ini mendorong orang kepada kebutuhan untuk otentik. Maka pemberontakan terhadap tradisi pun dimulai.

Seni drama modern di Indonesia timbul dari golongan elite yang tidak puas dengan komposisi seni drama rakyat dan seni drama tradisional. Naskah sandiwara mulai sangat dibutuhkan, karena dialog yang dalam dan otentik dianggap sebagai mutu yang penting.

Penyair Mohamad Yamin mulai menulis sandiwara, demikian pula novelis Armijn Pane, dan penyair Sanusi Pane. Kemudian disusul pula oleh penulis-penulis lain.

Meskipun seni drama modern itu hasil pengaruh kebudayaan Barat, dan meskipun sampai kini akarnya belum teguh tertanam di bumi kebudayaan Indonesia, ia cukup jelas mempunyai hak hidup. Ini pasti. Kebutuhan orang untuk menyatakan diri dengan otentik menyebabkan ia tak puas lagi dengan bentuk yang konvensional. Dan juga pengalaman-pengalaman hidup modern membutuhkan pengungkapan dengan bentuk yang lain, sebab tak bisa diungkapkan dengan bentuk yang tradisional. Masalah kehidupan seorang insinyur pertambangan, misalnya, sukar untuk diungkapkan dengan bentuk wayang. Setiap perkembangan kebudayaan menuntut perkembangan bentuk kesenian.

Sampai dengan saat ini, rata-rata dramawan-dramawan Indonesia masih kelihatan kurang berpengalaman dengan bentuk dan ide drama modern. Ini mudah dimengerti. Dibanding dengan perkembangan seni drama modern di Barat, seni drama modern kita masih lemah keadaannya. Ini pun mudah dimengerti pula.

Penyutradaraan, dekorasi, naskah, dan kostum otentik adalah unsur-unsur baru dalam seni drama kita. Demikian pula teknik berperan yang realistis. Semuanya masih kita kerjakan dengan kaku dan kurang pengetahuan. Kesadaran akan fungsi dan kedudukan penyutradaraan, dekorasi, naskah, dan unsur-unsur baru lainnya belum jelas garisnya.

Studi tentang perkembangan bentuk dan ide teater modern di Barat sangat perlu untuk menetapkan situasi kita, dan juga untuk mebuat kita lebih sadar akan apa yang sedang kita kerjakan. Karena itu kedudukan pendidikan seni teater sangat perlu. Sayang sekali, bahwa akademi-akademi teater yang sudah ada tidak tinggi mutunya. Akademi Seni Drama dan Film, dan Akademi Teater Nasional Indonesia melahirkan orang-orang yang pengetahuannya tentang teater modern masih kacau. Paling tinggi mereka hanya melahirkan tukang-tukang teater. Orang-orang yang tinggi pengetahuannya mengenai teater tak ada mereka hasilkan. Diktat-diktat acting, lighting, dan setting seperti yang saya lihat dari murid ASDRAFI menunjukkan bahwa mereka hanya dipersiapkan untuk jadi tukang-tukang dalam teater. Orientasi kesenian dalam jurusan mereka tak diperkembangkan. Tukang-tukang dekor yang mereka hasilkan tak pernah tahu duduk perkaranya perkembangan seni dekorasi dalam sejarah seni drama modern. Teknik acting yang mereka ajarkan sudah ketinggalan zaman. Latihan-latihan acting yang hanya mampu menghadapi naskah komidi stambul.

ATNI pun menghasilkan dramawan yang menyedihkan hati pengetahuannya mengenai seni teater modern. Beberapa orang lulusan ATNI ikut dalam panitia perlombaan penulisan lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Indonesia, dan mereka ikut menuliskan syarat-syarat perlombaan yang lucu bunyinya. Syarat-syarat tersebut, nampak ditulis oleh orang-orang yang ketinggalan pengetahuannya mengenai seni drama modern. Salah satu syarat berbunyi: “Sifat tidak mengikat (komidi, tragedi, dan lain sebagainya) asal dimengerti oleh umum”. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak tahu tentang kedudukan dan peran seni drama modern dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia. Dan juga nampak bahwa pengetahuan mereka tentang perkembangan drama modern, khususnya mengenai teater avant-garde tak ada. Sebuah syarat lain lagi berbunyi: “Dengan mempergunakan satu atau paling banyak dua set (dekor)”. Jadi rupanya, mereka masih berpikir bahwa pergantinan adegan setting harus diikuti seluru dekor. Dan juga bahwa pengetahuan mereka mengenai pergantian dekor sudah sangat kuno. Di zaman sekarang, dengan alat tangan dan kaki saja, drama pun harus bisa melayani selusin kali pergantian dekor dalam sekejap mata.

Akibat kurang bermutunya pengetahuan teater modern Indonesia, menyebabkan pula kurangnya kritikus-kritikus drama. Bahkan dikatakan, kita belum punya kritikus drama satu pun. Ini menyedihkan. Karenanya perkembangan seni drama modern di Indonesia kurang cambuk, dorongan, dan kontrol.

Demikianlah suasana gawat seni drama modern kita. Pahit. Tetapi kita lakukan. Baru sekarang kita bisa lebih tahu apa yang akan kita kerjakan.

(Ditulis oleh W.S. Rendra di Majalah Basis, Oktober 1967 – September 1968. Artikel ini kemudian dibukukan dalam Catatan-Catatan Rendra Tahun 1960-an, Jakarta: Burungmerak Press, 2008)

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar