Sekeping Kenangan – Pengalaman Hidup yang Berharga di Balai Pustaka

04.02
Pada waktu itu taufan di atas Asia telah menghitami angkasa dengan ancaman “Perang Pasifik” yang setiap saat bisa meledak. Dari pembuangannya di Pulau Banda, Bung Hatta baru saja mengumandangkan peringatannya bahwa fasisme Jepang pasti bakal menyerang kepulauan Nusantara kita dan menjajah kita.

sastra indonesia, achdiat k mihardja, novel atheis

Dia memperingatkan kita bahwa imperialisme fasisme lebih jahat dan lebih kejam daripada imperialisme kapitalisme liberal. Karena itu, dia menganjurkan supaya kita waspada dan menentang penjajah baru yang sudah mengancam di ambang pintu itu.

Ketika itu saya baru berumah tangga dan punya anak satu, tinggal di kota Bandung. Bekerja? Tidak. Menganggur? Tidak juga. Punya penghasilan? Ya, lumayan.

Pertemuan dengan Raden Satjadibrata

Suatu Sabtu sore yang cerah. Saya sedang baca-baca buku di serambi muka rumah sewa di Gang Yuda. Datanglah seorang laki-laki setengah baya, berpakaian setelan jas tutup putih lengkap dengan “bendo” (tutup kepala dari batik model Sunda) menclok di atas kepalanya.

Kalau sekarang di zaman Orba ini adalah safari, maka di zaman itu pakaian putih pakai bendo itulah ciri amtenar (pegawai negeri), walaupun sebenarnya tidak ada peraturan yang mengharuskan. Amtenar yang muda-muda dan modern lebih suka pakai jas bukaan dan dasi, tanpa apa-apa di atas kepalanya. Tidak tanggung-tanggung, ala Barat-lah.

Karena saya sudah pernah satu-dua kali bertemu dengan tamu yang perlente dan berbendo itu di Jakarta (masih disebut Batavia atau Betawi ketika itu), maka segeralah saya mengenalnya. Bersalaman cara Sunda. Ramah menyenangkan. Dia itu pengarang Sunda terkenal, Raden Satjadibrata.

Dia datang dari Jakarta. Maksudnya datang ke rumah saya?

“Kieu, Raden,” katanya dalam bahasa Sunda. Dia menegur saya dengan dengan kata “raden”, suatu kata teguran di kalangan kaum “feudal” Sunda pada zaman itu; biasa digunakan oleh orang yang lebih tua untuk menenggang terhadap orang yang mudaan. Ternyata amtenar itu datang sebagai utusan pimpinan Balai Pustaka di Betawi untuk menawarkan pekerjaan.

Jadi “amtenar”?! Pegawai pemerintah jajahan Belanda?! Wah, saya bimbang. Ragu. Mengerutkan dahi sejenak.

Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang amtenar. Semangat nasionalisme yang idealistis dan kadang-kadang naïf-romantis mendominasi pada umumnya sikap para pemuda pelajar zaman itu.

Maklum, Sumpah Pemuda masih segar, dan pembuangan para pemimpin besar Sukarno, Hatta, Sjahrir, Iwa Kusumah Sumantri, dan lain-lain yang ketika itu masih muda-muda pula (usia 20-an dan 30-an) tidak mempan memadamkan semangat kebangsaan dan idealisme pada pemuda yang tetap menyala.

Menjadi wartawan freelance

Begitu tamat AMS (SMA) jurusan sastra-budaya Timur, saya langsung bekerja sebagai guru Taman Siswa di Kemayoran, Betawi. Kemudian jadi redaktur surat kabar harian dan majalah. Kemudian lagi buka warung, jualan beras, kayu bakar, minyak tanah, ikan asin, gula, garam, terasi, dan keperluan rakyat kecil sehari-hari lainnya. Tempatnya di Gang Kebon Manggu, Bandung.

Dalam warung itulah anak pertama kami lahir. Akhirnya kami membeli pabrik kue dan roti dari seorang Cina yang bangkrut kalah judi. Tapi selama itu saya pun bekerja sebagai wartawann freelance dan menulis di pelbagai surat kabar dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia, Sunda, maupun Belanda.

Barangkali saya dikenal Balai Pustaka itu lewat tulisan-tulisan saya. Itulah maka saya ditawari pekerjaan.

Dengan latar belakang pengalaman hidup yang bebas idealistis seperti itulah saya menghadapi utusan dari Balai Pustaka itu. Semangat nasionalisme yang non-kooperatif terhadap pemerintah jajahan masih menyala.

Tapi bersamaan dengan itu peringatan Bung Hatta akan ancaman imperialisme fasis Jepang yang lebih berbahaya itu nyaring pula suaranya. Saya seolah disuruh memilih pihak yang paling “kurang jahatnya” dan melepaskan sikap “non-kooperatif” itu.

Tapi dalam pada itu, saya ingin tahu juga, bagaimana detail perjanjiannya. Misalnya, apa pangkatnya? Berapa gajinya? Dan sebagainya.

Menerima tawaran kerja di Balai Pustaka

Pangkatnya!? Sebagai permulaan saya akan bekerja sebagai voluntair (magang) dengan gaji sebulan 40 gulden. Sesudah tiga bulan, baru diangkat sebagai pegawai tetap dengan pangkat adjunct hoofredacteur (semacam wakil redaktur kepala) dengan gaji permulaan 70 gulden.

Begitulah saya dengar keterangan tamu yang saya hormati itu. Tapi dengan hormat pula saya keluarkan buku catatan keluar-masuknya keuangan pabrik kue dan roti itu.

Hampir tak percaya agaknya meneer (tuan) Satja ketika melihat jumlah keuntungan bersih dari pabrik itu. Rata-rata per bulan ada sekitar 150 gulden. Zaman itu lebih dari lumayan untuk hidup suatu keluarga muda yang baru punya anak satu hidup di kota Bandung.

Tapi akhirnya saya terima juga tawaran itu. Terutama atas desakan ibu saya yang sangat menginginkan anaknya menjadi seorang amtenar.

Ibu, juga bapak, adalah keturunan “menak” yang malah bukan amtenar biasa, melainkan amtenar BB (Binnenlands Bestuur), yaitu golongan pejabat pangreh praja, yang dianggap golongan paling elite dan paling terhormat di kalangan masyarakat bangsa pribumi feudal-kolonial itu.

Puncaknya adalah “Regent” alias “Bupati” yang di kalangan masyarakat feodal Sunda dapat julukan “Panggung” atau “Pangawulaan” yang tiada lain artinya ialah orang yang harus disembah-sembah, diagung-agung, dipayungi kalau jalan kaki.

Pindah ke Jakarta

Di Betawi kami sewa rumah di Pejambon, kemudian di Petojo. Tiap hari saya kerja menggenjot sepeda ke kantor Balai Pustaka di belakang gedung Departemen Keuangan, dan Societeit Condordia, di sebelah Lapang Singa, sekarang dikenal sebagai Lapang Benteng.

Ya, naik sepeda! Semuanya naik sepeda. Aman. Sehat. Lalu lintas belum semrawut seperti Jakarta tahun 90-an ini. Atau naik trem. Santai. Atau jalan kaki kalau dekat-dekat rumahnya.

Ruangan kerja kami merupakan suatu bangsal yang luas dan tinggi atapnya dengan di sekelilingnya jendela-jendela besar yang berjeruji besi yang tebalnya setebal jempol kaki. Selalu terbuka lebar-lebar, sehingga hawa sangat leluasa masuk, membikin tempat itu enak sejuk untuk kerja otak dan ngelamun. Yang konon, tempat itu bekas kandang kuda pasukan kavaleri tentara kolonial Belanda sejak zaman Gubernur Daendels dulu.

Kadang-kadang mata humor saya melihat diri saya dan amtenar-amtenar yang bekerja di situ, seolah-olah kuda-kuda juga. Tapi kuda-kuda itu membunyikan ringkikannya berupa syair-syair, tembang-tembang, cerita-cerita, artikel-artikel, dan buku-buku.

Pokoknya, kuda-kuda yang pintar-pintar, deh, karena mereka adalah penulis-penulis yang masih langka di “zaman buta huruf  90%” itu. Semuanya orang Indonesia dari pelbagai kesukuan. Ada yang pakai kain panjang dengan blangkon model Yogya yang pakai jendolan telor asin di belakangnya. Ada yang pakai bendo seperti meneer Satja. Ada juga yang pakai kopiah Padang dari kain satin abu-abu yang mengkilat seperti yang biasa dipakai orang-orang Minang.

Pada hari pertama saya memasuki dunia keamtenaran itu saya diperkenalkan oleh meneer Satja kepada Dr. K.A.H Hidding, seorang orientalis Belanda yang menjadi kepala Balai Pustaka. Kemudian, kepada dua lagi orientalis Belanda, yaitu Dr. A.A. Fokker dan Dr. Uhlenbeck yang membantu kepala.

Bayangin! Mereka doktor-doktor! Bukan main! Jelas, pemerintah jajahan Belanda sadar bahwa sebuah lembaga pemerintah mengelola urusan penerbitan sastra, bahasa, dan budaya untuk masyarakat pribumi bukan soal yang sepele seperti menyediakan nasi goreng untuk sarapan.

Ini soal menyediakan makanan otak dan jiwa; soal pendidikan budaya dan moral masyarakat yang harus “baik, indah, dan benar” menurut ukuran dan kepentingan masyarakat yang pada zaman itu masih bercorak feolda-kolonial.

Bangsal besar bekas kandang kuda itu dibagi dalam empat bagian yang tidak dipisah-pisah oleh dinding atau pagar pemisah, melainkan terbuka seluruhnya. Tapi tiap bagian tahu tempatnya masing-masing.

Keempat bagian itu adalah bagian administrasi yang mencakup pula sebuah “kandang” kecil tempat seorang kasir Cina mengeluarkan dan menerima uang; bagian kedua adalah bagian Melayu (secara resmi sebutan “Indonesia” tidak diizinkan) yang mengurus penerbitan buku-buku Melayu dan majalah “Panji Pustaka”; bagian ketiga adalah bagian Jawa, yang mengurus penerbitan buku-buku Jawa dan majalah “Kejawen”; dan yang keempat adalah bagian Sunda yang mengurus penerbitan buku-buku Sunda dan majalah “Parahiangan”. Di bagian keempat inilah saya ditempatkan.

Setelah diperkenalkan kepada ketiga orientalis di kamar kerja mereka masing-masing yang terpisah dari ruangan besar yang ditempati oleh keempat bagian itu, saya akhirnya bergerak dari meja ke meja diperkenalkan kepada teman-teman sejawat saya yang ramah-ramah menyelamatdatangkan saya sebagai “amtenar baru”.

Ada juga yang saya sudah kenal lama. Yaitu Armijn Pane dan kakaknya, Sanusi Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Ketiganya lagi aktif dalam mengerjakan suatu pekerjaan “pionir”, yaitu mengelola majalah sastra budaya Indonesia yang paling pertama muncul dalam sejarah bangsa kita, Indonesia.

Seorang lagi dari golongan pionir-pionir itu, yang juga sudah saya kenal namanya, yaitu H.B. Jassin. Tapi baru sekarang saya ketemu dalam tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tapi solid bentuknya, seperti kemudian ternyata solid pula nama dan kedudukannya sebagai seorang kritikus sastra Indonesia modern paling pertama mengangkat bidang kritik-mengkritik sebagai bidang keahliannya. Dia seorang pengelola Pujangga Baru juga. Sekretaris redaksinya. Kacamatanya tebal.

Cuma satu tokoh lain yang juga pionir Pujangga Baru tidak saya lihat bekerja di Balai Pustaka. Yaitu Amir Hamzah, teman sekelas saya ketika kami belajar di AMS (SMA) jurusan Sastra-Budaya Timur di Solo (1929-1932). Saya diperkenalkan juga kepada pengarang-pengarang yang oleh sementara pengarang muda macam Idrus digolongkan ke dalam Angkatan 20 (pra-Pujangga Baru). Pengarang-pengarang itu di antaranya ialah Nur Sutan Iskandar dan Aman Datuk Majoindo. Dua-duanya penulis roman.

Saya ditempatkan di bagian Sunda. Kepalanya adalah Meneer Satjadibrata sendiri yang berpangkat “hooofdredacteur” (redaktur kepala). Dia pengarang Sunda yang tradisional. Tulisan-tulisannya masih berbentuk tembang macapat seperti bentuk puisi asmaradana, dangdanggula, kinanti, dan lain-lain yang membacanya harus dinyanyikan menurut lagu yang khas untuk bentuk yang bersangkutan.

Kalau meneer Satja lagi mengarang sesuatu, dia sudah biasa sambil menyanyi. Kata-kata yang keluar dari ujung penanya adalah kata-kata yang mengalun di atas lagu keluar dari mulutnya. Kadang-kadang mengagetkan seluruh bangsal. Sekurang-kurangnya mengganggu konsentrasi para pengarang lain seperti saya yang duduk hanya terpisah oleh menja Kang Salmoen, seorang pengarang Sunda yang juga terkenal. Juga dia masih menulis dalam bentuk tembang, walaupun suka masih menulis gaya prosa biasa, terutama artikel-artikel. Tapi dia tidak menyanyi kalau lagi mengarang. Mungkin cuma dalam hati. Pangkatnya adjunct hoofdredacteur, yaitu pangkat yang dalam tiga bulan lagi akan saya duduki.

Saya sangat mendukung Kang Salmoen ketika kemudian dia menulis artikel-artikel yang mengkampanyekan gagasannya untuk mendemokrasikan bahasa Sunda yang bertingkat tiga itu (kasar, lemes kahiji, dan lemes kadua) menjadi hanya satu tingkat saja, seperti halnya bahasa Indonesia, Belanda, Inggris, dan lain-lain yang tidak bertingkat-tingkat. Cuma saya ragu, apakah itu mungkin, kalau jiwa si pemakai bahasa itu tidak (mau) membuang mentalitas feodalnya?

Di sebelah kiri meja saya terletak meja Kang Ero Bratakusumah yang pangkatnya redacteur. Skala gajinya sedikit rendahan dari skala adjunct hoofdredacteur. Sebagai pengarang dia tidak begitu terkenal.

Mungkin karena dia bukan pengarang “kreatif”. Dia penulis artikel-artikel biasa. Saya tak kan lupa jasanya, ketika di zaman Jepang dia bekerja di bagian sensor dari pemerintah fasis militer itu. Banyak artikel-artikel, pidato-pidato, lagu-lagu dan sebagainya yang mengandung kata-kata atau kalimat-kalimat yang punya arti ganda (terutama yang dalam bahasa Sunda) dan dianggap menguntungkan bagi kepentingan perjuangan bangsa kita, dia loloskan. Jepang yang cuma sok tahu bahasa Sunda, dia kibulin di siang bolong.

Pekerjaan saya tidak sukar. Cuma membaca naskah-naskah Sunda yang dikirim orang dan menilainya, apa dapat diterbitkan sebagai buku atau dimuat dalam majalah Parahiyangan. Di samping itu, menulis sendiri. Saya pernah menyusun suatu bunga rampai yang terdiri dari saduran beberapa cerita pantun Sunda yang terkenal, di antaranya Raden Mundinglaya di Kusumah dan Lutung Kasarung. Tapi ketika Jepang masuk, entah ke mana larinya naskah yang tinggal menunggu dicetaknya saja itu?

Menyenangkan sekali suasana kerja dalam bangsal bekas kandang kuda itu. Berkat orang-orangnya yang rajin-rajin dan kreatif. Di antaranya Armijn Pane, sahabat karib saya dari zaman sekolah di AMS Solu dulu (1929-1932). Ketika itu bersama Amir Hamzah, kami bertiga aktif dalam perkumpulan Indonesia Muda.

Sudah di zaman sekolah itu, ketika bahasa Belanda masih merupakan bahasa kaum terpelajar Indonesia, Armijn dan Amir sudah menulis sajak-sajak dalam bahasa Indonesia dan secara sadar dan bersemangat memperjuangkan cita-cita Sumpah Pemuda yang baru saja diproklamirkan (1928).

Selepas AMS (1932) Amir melanjutkan studinya ke Fakultas Hukum di Jakarta sambil getol menulis sajak-sajak bagus yang dimuat di majalah Pujangga Baru dan lain-lain. Adalah suatu ironi sejarah bahwa pemuda nasionalis yang begitu cerita mencintai hidup, yang begitu halus dan lembut hatinya dan begitu mantap rasa kebangsaannya itu, kemudian di zaman revolusi harus mati dibunuh oleh rakyat yang dia begitu cintai dan perjuangkan nasibnya.

Setamat AMS, Armijn dan saya berlabuh di Taman Siswa. Kemudian, bertiga sama kakaknya, Sanusi, kami bekerja sebagai redaktur harian Bintang Timur dan mingguan bergambar Peninjauan,--dua-duanya milik bekas guru kami di AMS, Solo, seorang Belanda-Indo yang sosialis-demokrat dan pro-kemerdekaan Indonesia. Namanya P.F. Dahler yang di zaman revolusi kemerdekaan diganti menjadi Amir Dahlan. Dia pun pernah bekerja sebagai ahli bahasa di Balai Pustaka. Armijn, Sanusi, dan saya kemudian bertemu lagi dan sama-sama bekerja di Balai Pustaka.

Dengan sendirinya, Armijn dan Sanusi bekerja di bagian Melayu, bersama Sutan Takdir Alisjahbana. Armijn baru menerbitkan novelnya yang terkenal, Belenggu. Penerbitnya bukan Balai Pustaka, melainkan Pujangga Baru (Sutan Takdir Alisjahbana). Sanusi sedang menggarap “Sejarah Indonesia” yang tiga jilid. Saya punya respek yang istimewa terhadap penyair ini yang juga penulis drama, penulis sejarah, teosof, tidak makan daging, mistikus, budayawan, dan politikus.

Semangat kebangsaannya sekeras batu karang. Dia guru di perguruan teosofi Gunung Sari, Lembang. Ketika dia diharuskan memilih antara pekerjaannya dan anggotanya Partindo dari Sukarno, dia tanpa ragu memilih partainya. Akibatnya dia menganggur.

Sebelum sama-sama bekerja di Balai Pustaka, saya jarang sekali bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana. Tapi polemiknya dengan tokoh-tokoh ahli pikir budayawan zaman itu yang dimuat di surat-surat kabar dan majalah Pujangga Baru, sangat menarik perhatian saya. Saya menyadari pentingnya polemik itu dalam sejarah pemikiran bangsa Indonesia yang mencari bentuk identitasnya yang tepat sebagai bangsa yang bersatu, modern, dan bebas-demokratis.

Saya kumpulkan polemik itu dan kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka. Takdir memang istimewa orangnya. Sejak dini dia mengeritik habis-habisan kebudayaan Timur yang dianggapnya terlalu statis, kurang dinamis; terlalu spiritualis, kurang materialistis; terlalu emosional, kurang intelektual; terlalu mengikat diri kepada adat, kurang individualistis dan egoistis; dan sebaiknya kita caplok saja nilai-nilai hidup bangsa Barat itu bulat-bulat, katanya.

Terhadap kritiknya itu Sanusi menjawab dengan anjuran supaya kita “mengawinkan” Faust dan Arjuna. Faust (manusia Barat) yang mandi keringat dan memeras otak untuk menguasai alam, dan Arjuna (manusia Timur) yang bertapa di Bukit Indrakila untuk membersihkan jiwa rohani dari segala kotoran nafsu-nafsunya yang negatif.

Sekarang, sesudah kurang lebih 60 tahun berlalu, gagasan brilian dari penyair-ahli pikir Sanusi Pane mengenai perkawinan simbolis antara Faust dan Arjuna itu masih merupakan perkawinan yang paling benar, paling realistis-manusiawi, paling progresif dan paling ideal bagi saya. Kebudayaan Indonesia modern harus merupakan realisasi dari perkawinan Faust dan Arjuna itu.

Sambil bekerja di Balai Pustaka, Takdir mengikuti kuliah-kuliah di Fakultas Hukum, dan selesai mendapat gelar Meester in de Rechten ketika tentara Jepang mulai menduduki Indonesia. Pegawai lain yang juga mahasiswa adalah penyair Bahrum Rangkuti yang juga penyiar warta berita radio NIROM. Dia seorang pengagum Iqbal, penyair dan filsuf Islam yang juga salah seorang pendiri negara Pakistan. Mengenai filsuf yang penyair besar itu, Bahrum telah menulis sebuah buku.

Seperti diketahui, Bahrum Rangkuti kemudian pernah menjadi Sekjen Kementerian Agama. Dekat kepada meninggalnya dia pernah menghubungi saya dengan banyak pertanyaan mengenai novel Atheis. Dia sedang menggarap sebuah disertasi untuk gelar doktornya, dalam ilmu sastra-budaya mengenai novel tersebut. Sayang tak kesampaian. Keburu meninggal.

Sebenarnya seperti kedua orang muda, Takdir dan Bahrum, yang saya kagumi semangatnya untuk menjadi sarjana itu, saya pun bisa saja melompat-lompat bolak-balik antara ruang keamtenaran dan ruang kemahasiswaan.

Tapi nawaitu saya sudah kepalang tertanam dalam hati sanubari untuk membikin masyarakat sebagai “universitas” saya, orang-orang sesama hidup sebagai “buku-buku” saya di samping buku-buku biasa, kebenaran hidup sebagai “mata kuliah”, dan pengalaman hidup sebagai “guru besar”. Gelarnya? … Yah, “Manusia Biasa Saja”, tak perlu disingkat.

Kota Singapura, benteng pertahanan Angkatan Laut Inggris di Asia Tenggara yang diandalkan tak akan mungkin dapat direbut oleh musuh mana pun, ternyata kebobolan. Dihujani bom oleh Angkatan Udara Jepang, diobrak-abrik oleh tentaranya.

Kewaspadaan dan persiapan perlawanan terhadap serangan musuh di Jakarta pun segera ditingkatkan. Lampu-lampu di seluruh kota dan sekitarnya, baik lampu jalan maupun yang di rumah-rumah, ditutupi dengan selobong hitam agar sinarnya tidak memancar ke atas atau ke samping.

Malam hari hitam kelam. Semua lampu mati, kecuali di tempat-tempat yang diperlukan. Itu pun sangat terbatas. Lubang-lubang perlindungan diperbanyak. Latihan-latihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama kecelakaan ditingkatkan. Seluruh pegawai Balai Pustaka dibagi dalam beberapa kelompok penjaga bahaya udara. Berseragam warna biru. Kelompok-kelompok bergiliran menjaga kantor pada malam hari.

Suasana yang luar biasa dan penuh bermacam-macam perasaan yang tak menentu itu sangat mencekik jiwa saya. Istri yang sedang hamil dan anak satu-satunya yang masih kecil telah saya ungsikan ke orang tua di Garut. Bayangkan suasana malam hari di bangsal besar yang 90 persen gelap itu, duduk di antara meja-meja dan kursi-kursi kosong. Hanya ditemani dua-tiga pegawai lain yang sama berpakaian seragam biru dan berpencaran duduknya. Seperti hantu-hantu hitam layaknya. Suasana murung, tidak cerita, tidak ramah.

Untuk mengusir pesimisme tentang hari depan bangsa dan khususnya diri sendiri dan keluarga, saya memanfaatkan cahaya lampu yang terbatas itu untuk baca-baca atau kadang-kadang juga menulis. Pernah saya menulis sebuah sajak yang menurut perasaan saya cukup baik sebagai curahan rasa dari hati yang sedang gundah gulana, dirundung bingung itu.

Seperti biasa sajak itu saya tulis dalam bahasa Belanda. Kasih lihat sama H.B. Jassin yang saya bisa percaya akan keahliannya menilai karya sastra. Tapi apa lacur! Habis sajakku itu kena kritiknya. “Klapwiekende klapperblaren”.

Apa itu? Kata Jassin sambil ketawa-ketawa tajam menirukan dengan kedua belah tangannya gerak laku seekor ayam jago yang mengepak-ngepakkan sayapnya sebelum berkokok. “Kuklekuu!” bunyi Jassin. Peristiwa kecil yang lucu itu tak akan saya lupakan, karena sejak itu saya tidak mau coba-coba lagi menulis sajak. Sekurang-kurangnya dalam bahasa Belanda.

Zaman Jepang

Sejarah membuka halaman baru.

Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut. Nasib bangsa Indonesia jatuh ke bawah telapak sepatu bot penjajah baru.

Selama masa penjajahan Jepang dan kemudian selama zaman revolusi kemerdekaan saya menempuh jalan hidup dan perjuangan yang lepas hubungan dengan Balai Pustaka. Sampailah saatnya tiba Konferensi Meja Bunda akan diadakan di negeri Belanda.

Menurut penglihatan saya, ketika itu KMB pasti akan mengakui kedaulatan negara republik Indonesia yang telah diproklamasikan oleh kedua pemimpin besar kita, Sukarno-Hatta, atas nama segenap bangsa Indonesia.

Ketika itu, saya bersama istri dan ketiga anak kami yang kecil-kecil (yang nomor tiga malah masih bayi dua bulanan), baru saja turun dari daerah gerilyawan kita di atas lereng Gunung Telaga Bodas.

Sampai di Jakarta kami ditampung oleh H.B. Jassin yang berhasil mengakomodasikan kami dalam sebuah rumah di Jalan Rasamala, Tanah Tinggi. Rumah itu sudah dihuni oleh satu keluarga dan seorang bujangan yang penulis olahraga terkenal, A.A. Katili.

Saya sekeluarga dapat satu kamar. Yah, apa boleh buat. Berdesakan dengan orang-orang yang baik hati, ramah, dan toleran, tidak menjadi masalah, kecuali kehutangan budi yang tak akan terlupakan.

Pada dewasa itu kota Jakarta sudah praktis dikuasai lagi oleh Belanda. Dan sebagai apa yang ketika itu disebut kaum Republikan saya tidak mau bekerja untuk mereka. Istilahnya “mempertahankan”. Artinya “makan angin”. Tidak punya pekerjaan. Harus jual-jual benda apa saja milik kami untuk makan. Dan istri saya sangat berat hatinya, kalau terpaksa harus menjual juga satu dua perhiasannya.

Merampungkan novel Atheis

Ketika itu Jassin, Darsyaf Rahman, Katili, dan J.A. Dungga bekerja untuk majalah Mimbar Umum yang kepunyaan orang-orang PNI. Mereka sangat baik. Kadang-kadang Jassin membantu, kalau keuangan kami sudah terlalu kepayahan.

Dalam suasana demikianlah saya mulai menggarap novel Atheis. Di halaman belakang, di bawah pohon jambu yang rindang. Kalau pagi segar dan sejuk. Kalau sore segar pula sesudah mandi.

Pada suatu hari datanglah Tuan Kasuma Sutan Pamuncak, menemui saya. Dia pernah menjadi seorang pejabat tinggi di Balai Pustaka. Dia pernah menjadi seorang pejabat tinggi di Balai Pustaka. Dia pun seorang “Republikan” yang juga sedang “mempertahankan”. Pada dewasa itu ada ketegangan (juga semacam persaingan) antara kaum Republikan dan orang-orang yang kami namakan “kaum federalis”.

Tuan Pamuncak mengemukakan pendapat dan ajakannya supaya kami mengisi lagi jabatan-jabatan di Balai Pustaka, yang pada saat itu sudah dikuasai kembali oleh Belanda, tapi sepi tanpa pejabat Indonesia. Seperti saya, Tuan Pamuncak pun yakin bahwa KMB pasti akan mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang pada saat itu pemerintahanya berkedudukan di Yogyakarta.

Tapi di samping itu juga, kedaulatan “negara-negara” yang didirikan oleh Belanda seperti negara Indonesia  Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatera Timur, akan diakui juga kedaulatannya, sehingga Indonesia akan menjadi negara federal.

Dengan mempertimbangkan kemungkinan itu, maka kata Tuan Pamuncak, kita harus mencegah jangan sampai Balai Pustaka yang begitu penting untuk perkembangan kebudayaan persatuan bangsa kita dikuasai oleh orang-orang federalis. Kita dahului mereka, katanya.

Maka kami pun mendahului mereka.

Idrus, yang sudah bikin nama sebagai sastrawan, dan cerpennya Celanda Pendek sangat menarik perhatian Jassin dan kalangan penulis Belanda, cukup besar ambisinya untuk menduduki kursi pimpinan redaksi. Ya, tiada masalah, saya akur sajalah.

Adalah wajar kalau seorang atasan jatuh cinta kepada bawahannya, vice-versa, dan kemudian mereka kawin. Demikianlah Ratna kawin sama Idrus, dan Magda, kawin sama Hassan Amin. Kedua gadis Minang itu dan Hassan Amin adalah anggota redaksi di bawah Idrus, seperti juga saya dan Utuy Tatang Sontani, yang terkenal dengan buku romannya Tambera dan drama-dramanya satu babak.

Hassan Amin bekerja sambil mengikuti kuliah-kuliah ekonomi dan filsafat di UI. Saya ikuti juga kuliah filsafat itu, tapi hanya sebagai mahasiswa non-degree saja; sekedar untuk menambah pemantapan wawasan saya tentang “Keberkahan Hidup” yang saya selalu upayakan untuk menaikkan mutunya sebaik mungkin.

Kuliah-kuliah Profesor Dr R.F. Beerling sangat cerah dan lincah. Dan kemudian saya bantu Hassan Amin dalam menerjemahkan kumpulan kuliah-kuliahnya yang berbahasa Belanda itu ke dalam bahasa Indonesia. Balai Pustaka menerbitkannya dengan judul Filsafat Dewasa Ini. Saya kira, buku itu merupakan sumbangan yang penting untuk menambah pengetahuan kita tentang filsafat Barat.

Angkatan 45

Sudah sejak zaman Jepang dan revolusi sejumlah bintang-bintang muda telah bermunculan di langit lazuardi sastra-budaya. Ada yang berkilau terus menghiasi lembaran sejarah susastra, ada juga yang seperti komet mengkilat sebentar, kemudian hilang ditelan alam kelam antah berantah.

Angkatan muda ini menamakan dirinya Angkatan 45 untuk membedakan dirinya dari yang mereka sebut Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 20.

Yang tercatat terus dalam lembaran sejarah sastra-budaya, adalah antara lain Usmar Ismail, Rosihan Anwar, Nursyamsu, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin. Sitor Situmorang, A.S. Dharta, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, S. Rukiyah, Utuy, Buyung Saleh, Balfas, Trisno Sumardjo, Amal Hamzah dan tentu saja Idrus sendiri da H.B Jassin yang getol mengumpulkan dan menulis kata pengantar untuk buku-buku mereka yang umumnya diterbitkan Balai Pustaka.

Seperti diketahui, angkatan itu kemudian terpecah dalam dua kelompok yang mempertahankan ideologi dan gagasan sastra budaya masing-masing. Yang satu mempertahankan ideologi dan gagasan kebebasan individu dan humanisme universal. Yang satunya lagi menonjolkan apa yang mereka sebut “kebudayaan rakyat” yang ideologinya jelas marxis.

Seperti sejarah telah mencatatnya, kedua kelompok itu akhirnya clash secara tuntas—dikenal sebagai bentrokan antara kelompok Manikebu dan kelompok Lekra.

Pada masa sebelum perpecahan itu diperuncing oleh PKI yang melihat hidup ini semata-mata sebagai gelanggang perjuangan kelas hitam-putih, para pengarang dari kedua kelompok itu sering datang ke Balai Pustaka dan ngomong-ngomong dengan kami dari redaksi. Sebagai pendengar dan pengamat yang ingin tahu dan belajar, saya selalu senang mendengarkan pikiran-pikiran mereka yang berbeda pendirian itu.

Di bagian redaksi ketika itu duduk juga penyair-mistikus Taslim Ali yang tak peduli panas atau hujan lebih suka jalan kaki berkilo-kilometer daripada naik becak yang dianggapnya menurunkan martabat manusia menjadi kuda. Sedangkan Saleh Sastrawinata, seorang cepenis yang bersih-cerah mukanya dan selalu rapi pakaiannya. Ia aktif sebagai sekretaris OPI (Organisasi Pengarang Indonesia).

Selain itu, Roesman Sutiasumarga, cerpenis yang juga menulis dalam bahasa Sunda. Seperti Saleh Sastrawinata, dia pun pernah menjadi murid Taman Siswa ketika saya salah seorang gurunya.

Kalau tidak salah ingat, juga anggota redaksi adalah Alex Leo yang sekarang pejabat tinggi urusan Radio dan TVRI. Juga Haksan Wirasutisna yang merangkap wartawan freelance dan Tatang Sastrawiria, penyusun Kamus Politik.

Chairil Anwar

Yang paling sering datang menemui kami adalah Chairil Anwar. Saya tertarik oleh kepribadiannya yang istimewa itu, beda dari yang lain. Dia dikenal sebagai seorang bohemian, seniman petualang, yang seperti dia akui sendiri dalam salah satu sajaknya “binatang jalang, dari kumpulan terbuang”.

Kalau datang, dia selalu ngomong tentang penyair-penyair atau novelis-novelis Eropa atau Amerika yang mutakhir, terutama tentang Marsman, Du Perron, Ter Braak, Malraux, Sartre, Camus, Maugham, Hemingway, dan lain-lain. “Perhatianku lebih terpusat kepada sastra dunia masa kini,” katanya, “lebih sesuai dengan semangat zaman kita sekarang.”

Pada suatu malam, di rumah Jalan Rasamala, kami, yaitu Jassin, Katili, Utuy, Amal Hamzah (adik Amir) dan saya sedang kumpul-kumpul seperti biasa ngobrol. Tiba-tiba menjenguk dari pintu depan sebuah wajah putih-pucat: Chairil. Katanya, “Saya baru diperiksa dokter. Dia bilang, kalau saya tidak ubah cara hidupku, saya mati dalam lima tahun lagi.” Dia khawatir nampaknya. Saya mengerti. Dia yang hidupnya begitu penuh kegairahan! Akan mati lima tahun lagi?!

Tidak lama kemudian dia datang ke Balai Pustaka. Dia memperlihatkan secarik kertas kepada saya yang penuh dengan coret-coretan tangan dia. “Baca…” katanya. Ternyata sebuah sajak yang baru dikonsepnya. Saya terpaku pada kalimat “Di Karet! Di Karet! Tempatku yang akan datang.”

Langsung saya teringat akan malam dia menongol dengan muka putih-pucat  sepert hantu itu. Dan hanya dua-tiga minggu kemudian, saya kira Amal Hamzah datang pada suatu sore ke rumah saya dengan berita bahwa Chairil, katanya, telah meninggal sore itu juga di rumah sakit CBZ.

Masih jauh dari lima tahun, pikirku. Dokter mengira-ngira, Tuhan memutuskan. Innalillahi wa inailaihi rajiun.

Esoknya saya mengantar jenazahnya ke Karet, “tempatku yang akan datang” itu, di mana pamannya, mantan Perdana Mentri Republik Indonesia yang pertama, Sutan Sjahrir, mengantarkan dia dengan sebuah pidato perpisahan dan selamat jalan yang singkat tapi mengena tiap hati yang kehilangan oleh penyair muda itu.

Dan kalau atap, tiang-tiang dan jendela-jendela bekas kandang kuta itu bisa berbicara, maka mereka pun pasti akan menyatakan rasa kehilangannya dan sekaligus rasa kebanggaannya bahwa seorang penyair terkemuka pernah menemukan tempat yang sejuk-nyaman dalam pelukan mereka untuk saling asah pikiran dan saling perhalus rasa-seni dan khayal kreatif dengan kawan-kawan seperjuangannya di sana.

Tidak lama Idrus meninggalkan pekerjaannya di Balai Pustaka. Agaknya dia punya rencana pekerjaan yang dianggapnya lebih bagus daripada duduk di kursi pimpinan redaksi Balai Pustaka.

Sebentar saya menjabat pimpinan redaksi. Ketika itu Pramoedya Ananta Toer yang kemudian termasuk salah seorang sastrawan Indonesia yang paling terkemuka dan paling produktif memperkuat sidang redaksi. Tapi tidak lama dia keluar.

Dan tidak lama kemudian saya pun dipindahkan ke Jawatan Pendidikan Masyarakat. Tugas saya di sana lebih banyak berurusan dengan pemberantasan buta huruf daripada dengan sastra budaya. Karena begitu saya segera pindah ke Jawatan Kebudayaan, jadi Kepala Inspeksi Kebudayaan Daerah Istimewa Jakarta Raya. Sejak itu, saya tidak pernah bekerja kembali di Balai Pustaka.

Suka-dukanya bekerja di Balai Pustaka?

Alhamdulilah. Suka melulu. Malah ada satu kegembiraan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Yaitu menerima honor untuk buku pertama saya Atheis yang di zaman itu (1949) sudah cukup bagi istri saya untuk langsung membikin sebuah rumah di Jalan Tembaga, Galur, Jakarta.

Tapi sesudah saya bukan pegawai Balai Pustaka lagi, ada satu duka yang pernah saya alami. Di pertengahan tahun 60-an, setelah saya bekerja di Australia, ada orang yang ingin beli cetakan yang paling baru dari buku itu.

Saya seolah dibikin sadar bahwa buku itu sudah lama tidak dicetak lagi, padahal saya tahu dari orang dalam bahwa buku itu sudah lama tidak ada stoknya lagi di gudang Balai Pustaka.

Tentu saja saya kecewa sekali akan policy pencetakan kembali buku-buku yang digemari masyarakat itu. Kebetula penerbit Dian Rakyat milik Takdir Alisjahbana ingin sekali menerbitkannya. Saya langsung menulis surat resmi kepada pimpinan Balai Pustaka ketika itu.

Setengah mengancam akan menarik hak penerbitannya dari Balai Pustaka. Penyair-mistikus Taslim Ali yang menjawab. Saya terhibur, karena, katanya, buku itu merupakan buku prestige bagi penerbit Balai Pustaka dan akan segera diulang cetak. Buku prestige! Bukan main!

Di luar pengalaman itu, dan beberapa kekecewaan kecil seperti salah cetak dan biodata, relasi saya dengan Balai Pustaka boleh dikatakan “prima”. Bahkan saya tidak bisa melepaskan rasa bangga bahwa saya pernah ikut duduk sehamparan dengan tokoh-tokoh sastra-budayawan terkemuka di bawah atap bekas kandang kuda itu dalam upaya membangun kebudayaan bangsa Indonesia yang modern-demokratis…

Dirgahayulah Balai Pustaka! Semper excelsion! Maju terus!

(Ditulis oleh Achdiat K. Mihardja, dimuat di buku Bunga Rampai Kenangan pada Balai Pustaka, Jakarta: Balai Pustaka, 1992)

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar