Tiga Muka Satu Pokok

02.11
(Tiga Muka Satu Pokok ini adalah sebuah esai yang ditulis Chairil Anwar. Dikutip dari buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, penerbit Narasi, 2018.)

Pada suatu pertemuan di rumah S.S., seorang kawan perempuan menerangkan bahwa dia juga hidup serta merasa sangat dalam dan luasnya, hanya dia kurang bisa menyatakan.

seniman, chairil anwar

Aku yang duduk di sampingnya bertanya sampai manakah maksudnya dengan keterangan ini.

“Kalau saya tidak salah tangkap, saudara mau mengatakan bahwa kesenian bisa dibataskan dalam kecekatan menyatakan pikiran dan perasaan saja. Ini tidak benar! Kesenian adalah “kesadaran mencipta” dari pikiran serta perasaan dan saudara mau menyamakan diri saudara dengan itu, sungguh pun persamaan psikologis dan jasad antara saudara dengan penyair samar sekali.”

“Yang tidak ada pada saya ialah kecekatan teknik saudara dan saya tidak ingin mengeluarkan isi dada saya.”

“Biarpun boleh jadi saudara berpikir dan berasa seberani dan segila Nietzsche; bahwa saudara juga merasakan sedalam itu tragedi penghidupan kita—bukan, bukan saya mau mendengarkan kejadian-kejadian serta peristiwa-peristiwa yang menarik serta mengiris hati dari penghidupan saudara, ini boleh saudara simpan—bahwa derita dan duka sudah saudara angkat pula menjadi kenikmatan seperti Beethoven?”

“Mengapa tidak? Lainnya antara saya dengan penyair, karena saya tidak melepaskan, membukakan perasaan saya. Ini boleh kita namakan suatu diskresi dari pihak saya.”

“Mari kita teruskan pembicaraan. Soal diskresi jangan kita singgung dulu! Jadi, menurut saudara, hasil kesenian hanya berdasarkan atas teknik saja. Baik! Tetapi bagaimanakan saudara menerangkan dua orang pelukis yang sama tinggi kepandaian tekniknya tapi membenci satu sama lain? Jika tidak turut berarti kebencian jiwa yang tidak bisa disingkirkan? Dan kebencian jiwa ini ‘kan berurat dalam berlainan berpikir dan merasa, berlainan menjalankan dari apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh keduanya?”

“Tapi….?”

“Kalau diteruskan pendapat saudara, jadi: bertambah tinggi teknik, bertambah tinggi kesenian. Mari saya bantah ini dengan contoh. Basuki Abdullah adalah seorang yang mempunyai kecekatan teknik lebih dari Affandi yang penuh passi (nafsu) dan emosi, ini pun jika kita masih menganggap teknik melukis akademis yang hampir terbantah sekarang oleh tiap hasil kesenian yang berderajat. Affandi mengharukan, sedang kita melihat Abdullah dengan acuh tak acuh. Affandi hidup lebih dalam dan lebih benar. Affandi matang akan pengalaman hidup, karena dengna dahsyat ia menceritakan hidupnya, jadi “Affandi oleh Affandi sendiri”. Dan soanya antara dua seniman, saudara: perbedaan intensitas, perbedaan maksud dan tujuan dalam mengalami, menjalani sehingga mereka tidak bersentuhan sejenak pun satu sama lain.”

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar