Syarat Menjadi Penyunting Naskah

22.55
Penyunting naskah – Apabila muncul pertanyaan, adakah setiap orang bisa menjadi penyunting naskah? Jawabannya adalaha tidak semua orang bisa menjadi penyunting naskah. Kenapa? Untuk menjadi seorang penyunting naskah yang andal, seseorang harus memiliki bekal dan memenuhi beberapa persyaratan.

Persyaratan itu antara lain harus menguasai tata bahasa Indonesia, menguasa ejaan, memiliki ketekunan, ketelitian, bisa menulis, menguasai salah satu bidang ilmu pengetahuan, mempunyai pengetahuan yang luas, dan kepekaan terhadap bahasa.

Agar kamu lebih mengerti persyaratan menjadi penyunting, yuk disimak satu per satu.

naskah, penyunting naskah, editor
Sumber gambar: Pixabay/kropekk_pl


1. Mendalami dan menguasai ejaan

Seorang yang hendak menjadi penyunting naskah, setidaknya harus mendalami dan menguasa ejaan dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia yan dimaksud adalah bahasa Indonesia dalam bentuk yang baku. Misalnya, seorang penyunting harus tahu penggunaan huruf besar dan kecil, penggalan kata, serta penggunaan tanda baca.

Syarat ini merupakan hal yang mutlak dikuasai seorang penyunting. Pasalnya, bagaimana mungkin ia tidak memahami suatu hal yang mendasar seperti ejaan ini.

Toh, kalau banyak ejaan yang tidak dibetulkan dengan baik, maka hasilnya pun naskah terlihat acak-acakan.

Orang yang membaca naskah yang tidak beraturan dalam penggunaan ejaan akhirnya malas membaca karena terganggung dengan masalah demikian.

2. Menguasai tata bahasa

Tuntutan seorang penyunting menguasai tata bahasa juga merupakan hal yang fundamental di samping penguasaan terhadap ejaan. Artinya, bukan berarti seorang penyunting harus menjadi pakar bahasa terlebih dahulu—kalaupun ia juga seorang pakar bahasa tentu lebih baik lagi—atau  paham terhadap setiap arti kata yang ada di kamus.

Setidaknya ia bisa tahu mana kalimat yang benar dan mana kalimat yang salah atau bagaimana menempatkan kata yang benar sesuai dengan konteks.

Selain itu, ia juga harus tahu mana kalimat yang salah kaprah, mana susunan kalimat ragam cakepan atau bukan, dan lain-lain. Hal ini tentu berfungsi agar pembaca tidak salah memahami teks di kemudian hari.

3. Sering membuka kamus

Seorang penyunting harus akrab dengan kamus. Ya, bukan berati juga ia harus menguasa setiap kata dan maknanya dalam kamus.

Rasanya bahkan seorang pakar bahasa pun tidak ada yang hapal setiap kata dalam kamus. Namun, seyogianya seorang penyunting sering membuka kamus, baik dalam satu ataupun dua bahasa.

Bacaan lain yang tak kalah pentingnya adalah kamus istilah, leksikon, dan ensiklopedia.

Boleh dikatakan, seorang yang malas membuka kamus atau tidak pernah membuka kamus sama sekali tidaklah cocok dengan pekerjaan seorang penyunting.

Alasannya, seorang penyunting naskah memang tidak pernah lepas dari kamus selama ia bertugas sebagai penyunting, termasuk juga kamus leksikon dan ensiklopedia.

4. Kepekaan terhadap bahasa

Pekerjaan seorang penyunting selalu berdekatan dengan ejaan, tata bahasa, dan kamus. Maka dari itu, seorang penyunting harus mempunyai kepekaan terhadap bahasa.

Kepekaan ini membuat dia menjadi lebih selektif dalam memilih dan memilah kalimat. Misalnya, ia tahu mana kalimat yang terbaca kasar dan harus menggantinya dengan kalimat yang lembut atau netral.

Begitu pun dalam memilih kata, ia harus pandai memasukkan kata-kata yang pantas dan tidak pantas dalam kalimat, atau membuat susunan kalimat lebih enak dibaca karena penggunaan kata-katanya pas.

Agar bisa seperti itu, seorang penyunting harus selalu rajin membaca, mengikuti perkembangan bahasa di media massa, mengikuti seminar tentang bahasa, dan berdiskusi dengan teman seprofesi atau pakar bahasa, dan lain-lain.

Dengan demikian, seorang penyunting memang sangat peduli dengan bahasa Indonesia dan selalu mengikuti perkembangan bahasa Indonesia dari hari ke hari.

5. Berpengetahuan yang luas

Seorang penyunting adalah orang yang haus akan bacaan. Itulah sebabnya, ia mesti rajin membaca buku, koran, majalah, dan bahkan mengunjungi hiruk-pikuk media online.

Ia harus menyerap segala informasi yang berkembang baik di media cetak maupun audiovisual. Dengan begitu, ia tidak akan ketinggalan informasi.

Lalu bagaimana jadinya seorang penyunting malas membaca buku, koran, majalah, atau sumber informasi lain? Bisa dikatakan ia tidak cocok menjadi seorang penyunting. Ia lebih baik mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dengan passion-nya.

Lima hal di atas setidaknya menjadi bekal penting bagi kamu yang hendak menjadi seorang penyunting naskah. Jika artikel ini bermanfaat, jangan lupa dibagikan ke sobat kamu yang lain ya!

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar