Chairil Anwar

17.37
Chairil Anwar, puisi, penyair

Chairil Anwar - Pada tanggal 28 April lima tahun yang lalu, penyair Chairil Anwar Meninggal. Masa lima tahun adalah masa yang lama juga bagi kehidupan manusia, tetapi terlalu singkat bagi kehidupan puisi.

Toh banyak sekali yang telah terjadi dalam masa lima tahun terhadap puisi yang ditinggalkan oleh penyair ini. Sajak-sajaknya yang dulu hanya dikenal oleh segolongan kecil, sekarang dikenal oleh golongan yang lebih luas.

Ia yang mula-mula dianggap orang dewa, sekarang mulai disangsikan dan pengagumnya seolah-olah turun satu demi satu. Tetapi kebanyakan pengagum ini yang kemudian menjadi epigonnya tidak tahu di mana letaknya prestasi penyair ini yang terbesar. Lagi pula, pengagum-pengagum ini begitu naif, sehingga mereka menganggap penyair ini seolah-olah satu kemutlakan, satu simbol.

Chairil Anwar bukan simbol. Ia adalah penyair yang mulai menulis dalam zaman Jepang, meninggal sebelum penyerahan kedaulatan, meninggalkan beberapa genggam sajak.

Tempatnya sebagai penyair masih harus dipastikan. Kita baru dapat memastikan bahwa ia adalah “pengubah” yang besar dalam soal bahasa. Dengan dirinya sempurnalah perebutan bahasa dari tangan guru-guru, dan mulai saat itu bahasa Indonesia kembali ke tangan penyair.

Mulai saat itu puisi bukan lagi hasil percobaan tata bahasa yang telah ditetapkan hukum-hukumnya, tetapi pengucapan perasaan dan pikiran.

Harga penyair harus dinilai menurut buah tangannya yang terbesar dan bukan menurut buah tangan yang paling kandas. Padanya diminta untuk memuatkan perasaan-perasaan dalam kalimatnya. Sampai ke mana ia dapat mempergunakan bahasa untuk menyimpan perasaan ini yang nanti harus keluar kembali jika dibaca orang.

Chairil Anwar belum lagi diterakan. Pada pengeritik kesusasteraan Indonesia belum lagi membuat pembahasan yang lengkap tentang pekerjaannya. Orang masih dapat menulis pelbagai disertasi perihal penyair ini.

Apa yang sampai saat ini terjadi, ialah pelbagai orang mengeluarkan sekadar pendapatnya tentang Chairil. Dalam bentuk catatan, dalam bentuk ulasan, dalam bentuk sambutan, dan sebagainya.

“Gelanggang” menyetop pembicaraan perihal hubungan Chairil Anwar dan MacLeish karena soal ini dalam pelbagai karangan yang disiarkan dalam koran-koran lain telah condong kepada pertentangan dari “pendapat saya tentang soal ini” dan “pendapat itu orang tentang soal ini” menjadi “pendapat saya” dan “pendapat itu orang”.

Bukan karena kita tidak hormat kepada pendapat pelbagai sasterawan, tetapi karena kita tidak hendak memberi alasan untuk percakapan yang tidak subur.

Tiada orang yang akan dapat memberikan kata kepastian, bukan saja karena orang harus bekerja dengan hipotesis-hipotesis, tetapi juga karena hal yang patut diperhatikan ialah jika orang berkata “plagian” dan “plagiat” adalah dua. Soal ini tentu penting, tapi kepentingannya terletak dalam hubungannya dengan yang lain. Sedangkan masalah telah dipasang sedemikian rupa, sehingga “yang lain” itu terpaksa dikesampingkan.

Percakapan sonder itu tidak subur, hanya membuang waktu dan menghabiskan ruang. Tapi, kecuali karena jasa-jasanya bagi seni puisi Indonesia, antara lain karena itu, kami kenang kembali penyair Chairil Anwar di sini.

Ia seolah-olah dapat dibandingkan dengan sebidang tanah luas yang kosong yang belum dikerjakan.

Kita tidak tempatkan fotonya kali ini, tetapi tulisan yang paling akhir sekali ia tulis. (Catatan ini ia tulis dalam buku peringatan pelukis S. Tino sewaktu ia telah terbaring di tempat tidur, beberapa hari sebelum ia meninggal.

Di atas tulisan itu, Tino—sebagaimana dapat kita lihat di atas—telah menyematkan daun cemaran yang diambilnya dari karangan bunga waktu Chairil dikebumikan).

Apa yang ia tuliskan bukan barang baru, tapi memperlihatkan beberapa segi dari hal yang mengisi kehidupannya. Jika orang mau mengerti tulisan ini, orang harus hubungkan dengan tulisan-tulisannya yang lain—orang patut sadar ini, karena Chairil Anwar tidak pernah memanggul senjata.


Siasat, 2 Mei 1954


(Asrul Sani, Surat-Surat Kepercayaan, ‘Charil Anwar’, Pustaka Jaya: 1997, halaman 130-132)


Baca juga: Tiga Muka Satu Pokok  
Baca juga: Surat Singkat tentang Esai 

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar