Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

03.14
Kontroversi Puisi Pamplet Rendra


Puisi pamplet -  Terbitnya kumpulan Potret Pembangunan dalam Puisi tidak hanya menimbulkan debat mengenai persoalan estetika saja, melainkan juga melibatkan masalah hukum, yaitu ketika puisi-puisi pamplet dibacakan sendiri oleh penyairnya di depan khalayak.

Memang apabila dibaca dengan suara yang lantang, maka puisi pamplet Rendra terdengar retoris dan oratoris. Ungkapan-ungkapan dalam puisinya cenderung lugas, padat, dan tegas. Perubahan bentuk puisinya tentu amat mengejutkan publik yang umumnya tahu bahwa puisi-puisi Rendra ialah puisi yang spontan, dengan penggunaan bahasa yang sederhana, serta dengan imaji-imaji yang segar dan mempesona.

Namun saat itu, puisi-puisi pampletnya yang mengangkat tema-tema kritik sosial yang dianggap sebagian publik menjemukan. Dari sebagian puisi-puisinya, hanya beberapa yang mendekati syarat kesusasteraan seperti “Sajak Kenalan Lama” dan “Sajak Sebatang Lisong”. Selain itu, puisi-puisi pampletnya yang mengangkat masalah krisis industri dan krisis pendidikan juga mendapat kritikan.

Bahwa masalah pendidikan yang terdapat dalam puisinya merupakan satu masalah yang ia temui dan tidak mencakup kependidikan seluruhnya. Begitu pun dalam masalah industri, tidak begitu jelas duduk perkara yang ia bicarakan, sementara di kehidupan pribadinya ia menyukai produk impor, dan bertolak belakang dari pokok-pokok gagasan yang dikandung puisinya (Edi Haryono, 1994).

Segi paradoks tersebut dikaitkan dengan biografi Rendra sebagai seorang seniman sekaligus seorang awam. Namun perkara atas puisi pamplet Rendra yang paling banyak mendapat sorotan ialah peristiwa pembacaan puisinya di TIM pada 28 April 1978.

Saat itu, ketika ia sedang mendeklamasikan puisinya tiba-tiba ada orang yang melempar amoniak ke area penonton. Dua pemuda langsung muntah-muntah dan pingsan. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, Rendra ditahan di kantor polisi.

Menurut pihak berwenang, puisi-puisi Rendra dianggap menghasut masyarakat dengan data-data sosial yang menggambarkan kekeliruan mengenai hasil pembangunan.

Namun menurut Ajip Rosidi, selaku ketua DKJ, bahwa puisi-puisi Rendra berpijak dari kenyataan yang terdapat di Indonesia. Ajip mendukung upaya yang dilakukan Rendra. Hal itu pun disetujui oleh Gregorius Sugiharto, ketua Fraksi Karya di DPR, ia berpendapat: “Penahanan itu satu kehormatan baginya, sebab tentunya ia sudah memperhitungkan bahwa cara-cara protesnya itu suatu saat pasti berurusan dengan yang berwajib.” (Edi Haryono, 1994).

Sebuah esai yang ditulis Hidayat Lpd memperbandingkan kehadiran Rendra dan Pablo Neruda sebagai penyair di tengah situasi faktual masyarakat. Menurut Hidayat, apabila “Pablo Neruda berhasil menciptakan suasana politik dari peristiwa kesenian.” Sebaliknya Rendra—dengan puisi puisi pampletnya—“ingin menciptakan peristiwa kesenian dengan syair politiknya." (Edi Haryono, 1994).

Rendra dan Neruda berbeda dalam soal peletakan peristiwa kesenian dan suasana politik di dalam puisinya. Neruda lebih memprioritaskan kekuatan estetika, baru kemudian dari situ memunculkan suasana politis yang digagasnya. Sebaliknya Rendra mensubordinasi kekuatan estetika, karena hal pokok yang ditekan di dalam puisinya ialah pengutaraan gagasannya yang mudah ditangkap pembaca.

Sekalipun ia tidak total menghilangkan sesuatu yang imajinatif dari puisinya, tetapi kadarnya terlalu timpang ketimbang gagasan yang termuat dalam puisinya. Maka dari itu ada yang berpendapat sinis terhadap Rendra, puisi-puisi pampletnya dianggap sebagian kalangan telah melampaui batas-batas kesenian. Larik-larik puisinya tak lebih daripada larik-larik pernyataan politik. Namun ada pula yang membelanya, bahwa puisi-puisi Rendra adalah “refleksi keilmuan Timur”.

Karena bahasa puisi pamplet yang lugas dan tak rumit itulah, jadi penyebab mengapa puisi-puisi Potret Pembangunan dalam Puisi diterima baik oleh masyarakat. Dengan demikian pula, Rendra seakan menyeragamkan puisi pampletnya dengan selera masyarakat, sebab mereka menyukai puisi protes sosial ketimbang puisi yang kontemplatif atau religius.

Lagi pula, antara isi puisi dan kenyataan yang dirasakan masyarakat tak jauh berbeda, bahkan representasi dari situasi-situasi yang marak terjadi pada periode 1970-an. Kepopuleran Rendra, bukan lagi karena kualitas puisi-puisinya, melainkan karena nama besarnya, dan itu yang menyebabkan masyarakat selalu memadati acara pembacaan puisinya di mana pun.

Setelah menonton pembacaan puisi Rendra di TIM pada 1985, K.H. Abdurrahman Wahid berpendapat bahwa Rendra itu bagaikan “jeans belel” atau “ventilasi”. Sebagai jeans belel, apa pun yang terlahir dari Rendra akan selalu diminati oleh masyarakat. Juga sebagai ventilasi, karya-karya Rendra dapat menyediakan udara bagi ruang yang pengap, sumpeg, atau mandeg dan membutuhkan udara yang segar agar bisa keluar dari keadaan yang stagnan itu. (Redaksi/PYN)

Baca juga: Pendekatan Sosiologi Sastra

Baca juga:  Pengertian Mimetik

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »

0 komentar