Perbedaan Fakta dan Fiksi

23.24
Fakta dan fiksi - Dalam dunia karang-mengarang ada dua lapangan yang berbeda: pertama, yang disebut dalam bahasa Inggris fact, dan kedua, fiction. Dalama bahasa kita fact menjadi fakta, yaitu kenyataan yang terjadi atau dianggap benar.

Berdasarkan kenyataan itu wartawan menyusun berita, yang disampaikan kepada suarat kabarnya. Jadi, berita itu tidak boleh bohong. Jika sesuatu surat kabar acap memuat kabar bohong, lambat-laun surat kabar itu tidak akan laku dan kehilangan pasaran. Wartawan yang mengirimkan berita-berita dusta tidak akan dipercaya orang lagi dan akan sulit baginya untuk mencari pekerjaan dalam lapangan persuratkabaran.

Pekerjaan wartawan bukan saja mencari berita yang penting atau yang aneh-aneh, akan tetapi juga ia harus mengirimkan beritanya secepat mungkin kepada surat kabarnya. Ia tidak boleh ketinggalan waktu, dan kalau ada sesuatu yang amat penting, surat kabar itu mau mengeluarkan maklumat, demi kepentingan berita melulu. Misalnya, tatkala Jepang menyerah dalam peperangan dunia kedua, tatkala Presiden Kennedy ada yang membunuh, dan pada waktu Amerika sebagai negara pertama yang mendaratkan manusia di bulan.

Dalam tiga kejadian tersebut hampir tidak ada perbedaan antara surat kabar bukan sensasi dan surat kabar yang biasa mengejar-ngejar berita yang menggemparkan. Mungkin dalam cara menyusun beritanya yang berlainan, akan tetapi perihal isi bagi keduanya sama pentingnya, disebabkan dalam tanggapan keduanya kejadian-kejadian itu boleh mengubah perjalanan sejarah dunia.

Perbedaan Fakta dan Fiksi
Sumber gambar: Pixabay/voltamax

Maka dalam tajuk rencana masing-masing akan dikemukakan pemandangan, bagaimana kemungkinan-kemungkinan susunan dunia baru sesudah dikalahkannya Jepang oleh negara-negara sekutu. Dalam soal kedua, bagaimana Amerika melanjutkan sejarahnya tanpa presiden yang berani mempertahankan pendirian dan dalam soal ketiga, bagaimaan pentingnya jalan-jalan baru akan terbuka bagi lalu-lintas di angkasa yang pengaruhnya—juga dalam politik—jauh di luar dugaan.

Jauhlah berbeda fiction, yang kita salin menjadi fiksi, dengan berita-berita dalam surat kabar, oleh karena yang menjadi sendinya bukan kenyataan, melainkan khayal. Yang disebut fiksi biasanya roman dan cerpen adalah fiksi yang pendek. Dalam pembicaraan ini baiklah kita artikan fiksi itu kesusastraan saja, jadi tidak terbatas kepada roman belaka, oleh karena bentuk-bentuk kesusastraan lainnya seperti dongeng, yang dalam bahasa asing meliputi fairy tales, fabels, dongeng-dongeng mitologi sampai kepada yang modern, yaitu roman, dan cerpen, boleh dikatakan berdasarkan khayal semuanya. Sebagai contoh baik kami kemukakan cerpen “Pangeran Bahagia” karnagan Oscar Wilde (1856-1900).

Banyak orang menjelajah dunia untuk menyelidiki patung-patung dalam gereja atau kuil, umpamanya patung-patung Kristus dan Maria dalam gereja-gereja, patung-patung Firaun dalam piramida-piramida di Mesir, patung-patung Siwa di India, Ceylon dan Indonesia, patung-patungnya Buddha di India, Indo Cina, Tiongkok sampai ke Jepang.

Tinjauannya dan penyelidikannya tidak akan lagi merupakan berita yang dapat dimuat dalam surat-surat kabar, oleh karena patung-patung itu sudah diketahui umum. Selain daripada itu nicaya buah penyelidikannya panjang-panjang, yang boleh jadi merupakan buku. Maka karangan-karangan serupa itu disebut non-fiksi, artinya karangan yang masih berdasarkan kenyataan, akan tetapi bukan yang baru terjadi seperti berita pada waktu dibunuhnya Presiden Kennedy.

Sebagai contoh baiklah kita kutip sebagian dari buku kisah perjalanan Marcopolo (1254-1324), seorang Barat yang pertama-tama mengunjungi Tiongkok di bawah pemerintahan Maharaja Kublai Khan, turunan Jengis Khan. Dalam bukunya Kitab tentang Keajaiban-Keajaiban Dunia dimuat penglihatannya tentang istana Kublai Khan sebagai berikut:

Pabila Maharaja mengadakan perayaan di dalam istana, bersemayamlah baginda di atas takhta kerajaan dengan menghadap ke sebelah selatan. Di sebelah kiri bersimpuh permaisuri; di sebelah kanan—di tempat yang agak rendah—terdapat para putera, cucu dan lain-lain yang seturunan dengan baginda. Kursi putera mahkota letaknya agak tinggi dari tempat putera-putera baginda yang lain. Kalau para putera itu mengambil tempat duduk, kepala mereka tunduk setinggi kaki baginda. Raja-raja lain, demikian juga kaum bangsawan duduknya lebih rendah dari keluarga maharaja. Dan perempuan-perempuan semuanya di sebelah kiri. Susunan tempat duduknya seperti raja-raja dan perwira-perwira, menurut derajat kepangkatan suami masing-masing. Dengan demikian, baginda dapat melihat ke seluruh bangsal, sekalipun di hadapannya ada sebuah meja yang besar. Di halaman berkerumun utusan-utusan dari berbagai negeri, yang membawa upeti dan barang persembahan yang indah-indah.
Di antara mereka ada juga beberapa orang taklukan, yang mempersembahkan permohonan, agar dapat memerintah lagi negerinya masing-masing. Adat demikian adalah biasa dalam perayaan-perayaan serupa itu atau pada waktu peralatan kawin di sekitar istana.
Beberapa orang pegawai tinggi diwajibkan menerima tamu bangsa asing, yang menghadiri perayaan. Tamu-tamu itu diberi tempat yang istimewa dan oleh ponggawa tersebut diterangkanlah, bagaimana tata cara di dalam istana. Selain itu, para ponggawa tersebut tidak boleh diam; mereka harus berkeliling di seluruh bangsal, kalau-kalau ada tamu yang kurang mendapat perhatian. Jika ada tamu yang kekurangan minuman, daging atau lainnya segeralah para sahaya mempersembahkannya.

Demikianlah buku itu menjelaskan tentang Tiongkok yang dalam abad ke-13 mendapat perhatian luar biasa di Eropa. Konon Marcopolo adalah yang pertama-tama yang memberitakan tentang keadaan di Asia, dan Asia sangatlah penting bagi perdagangan Eropa.

Dalam tulisan Marcopolo di atas tidak ada sedikit pun yang membayangkan khayal, melainkan kenyataan belaka. Suatu penglihatan yang tajam dan ingatan yang kuat—sifat-sifat yang diperlukan oleh sastrawan.

Kalau seorang pengarang sastra menulis ceritanya banyak diliputi khayal, mungkin ada yang bertanya, apakah cerita-cerita sastra itu bohong dan tidak mengandung kebenaran? Kalau kita perhatian cerita “Pangeran Bahagia” misalnya, bahwa tidak mungkinlah ada sebuah patung yang pandai berbicara, benarlah cerita itu bohong.

Akan tetapi, adakah di antara pembaca yang rasa kejujurannya merasa tersinggung dalam membaca Pangeran Bahagia? Kiranya, malah banyak yang merasaka bersyukur dapat menikmati karangan kanak-kanak yang begitu indah. Terharu kita, bagaimana patung itu dipatuk matanya oleh burung laying-layang, hanya karena patung itu iba hatinya melihat begitu banyak orang yang menderita karena kemiskinan. Dan matanya yang dari batu nilam itu dihadiahkan kepada orang-orang miskin untuk membeli makanan dan pakaian. Lukisan itu ditambah pula dengan gaya Oscar Wilde yang hidup, sehingga terbayanglah di mata pembaca, bagaimana burung layang-layang berkasih-kasihan dengan gelagah.

Dia gembira, waktu gelagah meliuk menjawab pertanyaannya, apakah burung itu boleh berkawan dengan gelagah. Dan kegembiraannya digambarkan bagaimana burung itu melayang-layang di atas gelaga, memercikkan air dengan ujung sayapnya, sehingga berlingkar-lingkar air sungai.

Semua khayal, khayal belaka, dan kekuatan khayal itulah yang menentukan hasil tidaknya seseorang pengarang dalam ciptaannya. Tanpa khayal tidaklah mungkin karang-karangan besar seperti Mahabarata dapat tercipta oleh Vyasa kurang lebih 25 abad yang lalu; tidak mungkin pula Iliad dan Odyssey bisa tercipta oleh Homerus (abad 9 SM) dalam mitologi Yunani; demikian Hamlet oleh Shakespeare (1564-1616); Faust oleh Goethe (1749-1832); Perang dan Damai oleh Leo Tolstoy (1828-1910) dan lain-lain.

Sebab, walaupun Perang dan Damai mengandung kebenaran sejarah dengan menceritakan Napoleon Bonaparte, Tsar Alexander dan pertempuran di Austerlitz, namun tokoh-tokoh yang terpenting dalam roman itu, ialah Pierre Bazuhov, Natasha, dan Pangeran Andrey Bolkonsky adalah tokoh-tokoh ciptaan pengarang. Dan dalam cerita yang diliputi khayal itu dijalinkanlah oleh pengarang keyakinan atau pendiriannya, yang dalam kesusastraan disebut kebenaran. Dengan lain perkataan, kebenaran dalam kesusastraan bukanlah kebenaran kejadian, melainkan kebenaran dalam pendirian atau keyakinan, yang mesti dikemukakan pengarang dengan hati yang jujur. Jadi, jauhlah berbeda dengan berita surat kabar, yang bersendikan kebenaran kejadian.

Kebenaran dalam kesusastraan itu menjadi sendi utama sejak zaman dahulu, sampai kepada zaman modern ini. Pun tidak ada bedanya di Timur ataupun di Barat. Kebenaran dalam Bhagavad Gita dalam mitologi India adalah kebenaran sepanjang kepercayaan agama Hindu, yang dilukiskan dalam jawaban-jawaban Krisna, ketika kaum Pandawa sudah berhadapan dengan balatentara Kurawa di medan Kurukshetra, bahwa tidak mungkinlah bagi Arjuna untuk menggempur musuh, yang terdiri dari guru dan masih keluarganya. Demikianlah sembah Arjuna:
  • “Maka lemahlah anggotaku, keringlah bibirku, badanku gemetar dan rambutku pun remang.
  • Gandiwam pun terlepas dan kulitku pun panah dada kuasa lagi berdiri dan pikiranku pun serupa sesat;
  • Tambahan pula kulihat alamat yang tiada baik, o Krisna, dan pada perasaanku tindakan memberi selamat,
Kalau membunuh saudaraku dalam perkelahian;
  • Tiada kemenangan, o Krisna, pemerintahan dan kesukaan kuingini, apakah faedahnya pemerintahan, o Gowinda,
Kesukaan dan hidup ini?
  • Bukankah mereka yang menyebabkan kita bercintakan pemerintahan, kesukaan dan kenikmatan itu, berhadapan di sini dan akan mengorbankan jiwa serta miliknya;
  • Guru, ayah, anak dan nenek pun juga, mamak, mentua, cucu, menantu, dan kerabat yang lain demikian pula.
  • Mereka ini, ya, Pembunuh Madhu, tiada mau aku membunuhnya , biarpun aku sendiri dibunuh…..”
Bersabda Krisna:
  • ….. kalau Tuhan hendak menjalankan kewajiban diri sendiri, janganlah terkejut, sebab tiada lebih mulia lagi kepada kesatria itu daripada berperang dalam jalan yang sah.
  • Kesatria yang beruntung, yang dapat berperang dalam peperangan yang demikian, ya Prithaputera, adalah sebagai bertemu dengan pintu Surga yang terbuka.
  • Jikalau Tuan dalam peperangan yang sah ini tiada memenuhi kewajiban Tuan, maka timbullah kejahatan pada diri Tuan, karena Tuan buangkan kewajiban hidup dan kemegahan Tuan.
  • Dan segala makhluk akan memperkatakan cela Tuan yang tiada terhapuskan itu, cela yang kepada orang seperti Tuan, lebih daripada mati.
  • Ahli rata peperangan akan menyangka bahwa takutlah menghindarkan Tuan dari berperang itu dan mereka yang memandang tinggi pada Tuan, kini akan menghina Tuan.
  • Banyak kata-kata yang tiada pasti diperkatakan akan dikeluarkan menang menginyam kenikmatan dunia; dari sebab inilah maka Tuan hamba bangkit, ya, Kuntipuetera! seraya mengambil keputusan akan berperang.
  • Bersiaplah Tuan akan berperang, sambil menganggap bahagia dan celaka, menang dan kalah, untung dan rugi sama belaka dan tiada kejahatan akan menimpa Tuan.” (1) Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru, dikumpulkan oleh H.B. Jassin (Gunung Agung, Jakarta, 1962, hal 146-151)
Demikianlah keengganan seorang pahlawan, yang dapat mencemarkan namanya dibanteras oleh keyakinan dan kebenaran, disebabkan dalam Mahabharata golongan Pandawa itu golongan yang berbudi, golongan yang membela dan memperjuangkan keadilan dan Arjuna adalah seorang Pandawa. Sedang orang-orang Kurawa adalah orang-orang yang curang, yang tidak memegang sifat-sifat kesatriaan. Jadi, sekalipun mereka masih berkeluarga dengan Pandawa wajiblah diperangi, dan Krisna adalah inkarnasi dewa Wisnu, yang disembah dalam agama Hindu. Perlu kita perhatikan titah Krisna yang lain, bagaimana bersahaja ucapan-ucapannya dan tidak menggunakan filsafat yang tinggi-tinggi.

Titah Krisna:
  • “Dari manakah datangnya gentar dalam kesusahan ini pada Tuan, ya, Arjuna!”
  • Janganlah ikutkan hatimu lemah itu yang membawa cela pada laki-laki, ya, Prihaputera dan tiada pantas bagi Tuan.”
Secara demikian pendirian masing-masing pengarang dituangkan dalam ciptaannya, akan tetapi ada kalanya tangkapan orang bermacam-macam, sehingga  timbullah perang pena, yang mempersoalkan kebenaran, yang dimaksud oleh pengarang.

Yang banyak dipersengketakan di antaranya Hamlet. Banyak orang mengatakan, pangeran Hamlet itu seorang yang ragu, seorang yang tidak tahu bertindak. Beberapa kali ia mempunyai kesempatan yang baik untuk membalas dendam  terhadap Claudius, pamannya, yang menggantikan ayahnya, menjadi raja dan kawin dengan ibu Hamlet.

Sudah terbukti Claudius itu berdosa; dialah yang pasti membunuh ayahnya. Akan tetapi, pada waktu Claudius bertafakur dan kesempatan yang baik terbuka untuk membunuhnya, Hamlet kembali memasukkan belati dalam sarungnya. Katanya, kalau pamannya dibunuh pada saat itu, niscaya ia akan masuk Surga, padahal neraka bagiannya. Karena sikap itu, bagi kebanyakan, Hamlet orang yang ragu. Akan tetapi ada juga yang menyatakan, justru karena berbuat demikian, maka Hamlet seorang yang positif tahu bertindak karena memang betullah pendapatnya.

Selain dari itu, ada pula yang menyatakan, Hamlet adalah seorang putera mahkota yang sadar atas darah kerajaan yang mengalir dalam tubuhnya. Dia bangga tentang keturunannya dan dia pun bangga menjadi putera mahkota Denmark. Karena itu, dia mesti dipertunjukkan sebagai pahlawan yang gagah berani.

Akan tetapi, kata orang lain pula, Hamlet adalah tokoh zaman Shakespeare, zaman yang penuh keraguan dan tepatlah bilamana digambarkan terumbang-ambing oleh keraguan. Bertubi-tubi pendapat orang, yang satu menyerang yang lain, akan tetapi walaupun demikian sastrawan muda perlu mengikuti perdebatan itu, sebab hanya dengan jalan itulah kita dapat menyelami mutiara-mutiara yang indah di dasar laut kesusasteraan yang mahaluas.

Rasanya, hanya ciptaan-ciptaan kesenian—di antaranya kesusasteraan—yang begitu banyak diperdebatkan. Shakespeare meninggal 400 tahun yang lalu, akan tetapi Hamlet masih mearik perhatian para ahli, sehingga ada yang mengatakan, dia melambangkan manusia universal dari zaman ke zaman menjadi lawan Faust, yang dianggap manusia Barat, karena hanya mementingkan keduniaan.

Mungkin karena sastrawan tidak dikejar-kejar waktu seperti wartawan, ciptaannya banyak yang bernilai. Perang dan Damai ditulis Tolstoy dalam 6 tahun. Begitu juga Madame Bovary oleh Gustave Flaubert (1821-1880). Orang-Orang yang Malang dikerjakan Victor Hugo (1802-1885) tidak kurang dari 14 tahun.

Dalam waktu yang tidak merasa dikejar-kejar itu sastrawan dapat meneropong persoalannya lebih dalam dan mungkin itulah perbedaan antara sastrawan dan wartawan yang membawakan tokoh-tokoh yang dapat menggambarkan watak-watak yang diinginkannya, yaitu dalam suatu cerita yang diciptakan dari benak kepalanya atau yang disebut dengan khayal.

Sedangkan wartawan memberikan penerangan kepada khalayak dengan melancarkan berita tentang kejadian-kejadian dari hari ke hari. Tapi tidak semua sastrawan menulis karangannya sampai bertahun-tahun, ada juga yang hanya beberapa malam, bahkan ada pula yang cuma memerlukan satu malam saja.

Lama atau tidaknya sesuatu karangan ditulis tidak menjadi soal. Yang tetap diperhatikan adalah bagaimana pengarangan memecahkan persoalannya, dan caranya menghidangkan cerita. Perihal soal ini baik kita bicarakan dalam uraian-uraian yang lain. Tetapi yang perlu diketahui, bukan tidak ada sama sekali hubungan antara pengarang dan wartawan, Walt Whitman, Rudyard Kipling, H.G. Wells, Ernest Hemingway, Albert Camus adalah pengarang-pengarang ulung, yang tadinya menjadi wartawan dan kemudian menjadi pengarang.

Di antara pengarang-pengarang Indonesia yang (pernah) menjadi wartawan ialah Abdul Muis, Sanusi Pane, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Ramadhan KH, Gerson Poyk, S.M. Ardan, Satyagraha Hoerip Soeprobo, Bur Rasuanto, Ajip Rosidi, dan Goenawan Mohamad. Mungkin ada baiknya sastrawan menjadi wartawan pula, karena dnegan demikian akan diketahuinya masyarakat lebih banyak.

Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Baca juga: Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra

Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar