Salju di Paris

18.17

cerpen, sitor situmorang

Cerpen ini dimuat di Sitor Situmorang, Salju di Paris, 'Salju di Paris', Grasindo: 1994, halaman 3-11.


Seakan tidur tadinya ia menyisihkan selimut. Pandangnya merasakan putih dalam gelap kamar. Keputihan tertutup salju di luar. Masih turunkah? Ia bangun dan kakinya mencari selop di lantai. Dingin seperti es. Di ruangan kedai di bawah terdengar suara janda si pemilik hotel, Madame Bonnet.

“Monique!” Itu pelayan-babu.

Ia berpaling. Memang salju masih jatuh. Seperti gambar film yang bergetar, menambah kekaburan pandang melalui kaca jendela lembab. Dingin sekali dan nyaman.

Ia berdiri menuju bak cuci muka di dinding. Dengan tak sadar ia membuka kran air panas. Air ditampung membakar tangannya dan jengkel terkejut ia menarikkannya, lalu kran air dingin dibukanya pula. Suara air memancar ke dalam bak, panas bercampur dingin, menggetarkan syaraf dan memanaskan darahnya. Dingin benar musim sekali ini. Ia pergi mengambil baju kamarnya dari sangkutan di balik pintu.

Bau bedak harum, seakan-akan udara terlupa, menguap lepas dari lipatan-lipatan. Ia sadar bahwa hal ini menimbulkan sayatan sedetik dalam hatinya.

Menyeret langkah ia kembali ke bak. Sudah kosong. Ia lupa memasang sumbat. Dan di dasar bak beberapa helai rambut panjang.

Ia pergi tidur lagi.

Ketika ia melihat pada jamnya, hari sudah pukul sebelas. Tapi Monique rupanya sudah lama mengetok pintu. Memang. Derum mesin pengisap abu terdengar di kamar 15, di sebelah.

Ia duduk lagi dan mengharapkan Monique datang masuk. Monique tahu semua dan Monique tak akan berkata apa-apa. Madame Bonnet tahu juga, tapi Madame Bonnet lain. Janda ini mengerti. Mengerti segala hal karena pengalaman. Monique mengerti tanpa pengalaman. Kesanggupan mengerti lahir bersama dirinya, bersama pandangnya yang lunak, senyumnya yang setia dan diperkuat oleh keteraturan pada kewajiban sehari-hari.

Pagi-pagi membantu anak-anak Madame Bonnet (tiga orang: dua laki-laki, seorang gadis) berpakaian untuk ke sekolah Katolik dekat di bagian kota itu juga. Membuka pintu buat penjaga bar Andre, supir pensiunan. Melap perabot. Kemudian membangunkan tamu-tamu hotel di atas. Derak-derik sepatunya di anak tangga, tiap pagi pada jam tertentu, termasuk suara pagi yang begitu terkenal dan terbiasa, seperti juga suara air mengalir dalam leding sehingga tak terdengar lagi, kalau tidak dihentikan.

Nah, Monique tidak datang sekali ini.

Heran. Hal ini menggembirakan hatinya. Dan ia bersiul. Derum mesin pengisap abu di sebelah berhenti sebentar dan mulai lagi. Makin kuat, makin nyata. Monique sudah tak terpikir lagi ketika ia turun ke bawah.

Bonjour monsieur Andre, bonjour Madame!” (1)

Apa ia memang sudah menabik, apa belum? Andre meletakkan kopi hitam, kopi t-o-u-b-r-o-u-k, kata Andre, di hadapannya. Ia sudah biasa memakai bahan bubuk kopi dan bukan ekstrak karena orang Indonesia itu.

Tamu-tamu masuk. Hampir semuanya supir-supir dari service station besar, yang bertempat di kolong luas di bawah gedung sebelah.

Mereka masuk dengan tenang bersama angin dingin satu per satu, melalui pintu separo terbuka, yang tiap berdetak tertutup didorong per, menggosok-gosok tangan yang kedinginan, sambil menggosok-gosokkan laras, keras-keras dihantamkan di ambang membuang lumpur bercampur salju kotor.

Bonjour!” (2)

Dan mereka pun naik ke atas bangku bundar di bar.

Andre menyiapkan kopi dan anggur. Ada yang hanya minum anggur saja selalu, sambil makan roti yang dibawa sendiri. Semua tegap-tegap ditambah pula oleh baji tebal, kumuh.

Ia tak dapat memandang mereka lepas dari Andre dan bar serta cara-cara Andre menuangkan dan mencampur minuman-minumannya dengan lagak orang kuasa tapi setia. Tiap pagi.

Tapi adakah hari selain hari pagi begini? Botol berbagai merek anggur berderet, latar belakang kepala yang hebat dan lebat dari Andre.

Zinzno, Dubonnet, dan sebagainya berwarna-warni.

Hanya sedikit mereka bicara. Ia pun telah termasuk kesunyian ibadat permulaan setiap pagi hari. Tenang seperti restoran desa.

Monsieur, (3) makan di sini nati siang? Saya bungkus roti buat tuan?”

Ia menggeleng saja, hampir seperti anak manja. Ia berdiri menuju pintu. Daun pintu berper berdetak jatuh tertutup kembali. Udara sedingin es menangkupnya di luar. Sejenak ia bimbang.

Ke kiri atau ke kanan, ke pusat kota? Salju masih jatuh. Terasa di daun kuping dan rambutnya menusuk.

Beberapa hari yang lalu ia menjumpainya. Lebih siang, tapi saljunya begini juga. Barangkali baru lima hari yang lalu. Ya, lima hari yang lalu. Sekarang Senin. Pada hari Kamis.

Pada hari itu, ia pergi ke kantor polisi, ke Prefecture, memperbarui izin berdiam di Prancis, sebagai orang asing. Hal itu wajib pada waktu tertentu. Sekarang ia hanya perlu sekali saja dalam setahun melaporkan diri. Lima belas tahun ia telah berdiam di Paris.

Sebagai seniman, lebih mudah mendapat izin demikian di negeri Prancis ini. Peintre, ‘pelukis’, demikian ia tercatat dan memang ia melukis, hanya lima tahun belakang ini tidak lagi.

Pun ia ingin menulis sajak. Pada perasaannya kota Paris dan segala keadaan mengajak jadi penyair. Artinya, menuliskan, menerakan perasaan dalam sajak yang sesungguhnya.

Tapi tak pernah jadi. Ya, pernah juga. Sekali, lima hari yang lalu pada malam hari ia bertemu dengan gadis itu, ketika mereka duduk di teras sebuah restoran di tepi Sungai Seine menghadap Notre-Dame, yang terpacak menjulang ke langit, putih ditimpa salju dan sinar lampu sorot dari bawah di lapangan.

                                    Doa yang diacungkan di langit

  itu diucapkannya dan dituliskan oleh si gadis dalam buku catatannya, buku kecil merah yang diambil dari tas.

Ia menyesal sesudah itu. Malu pada dirinya, tapi ia tak bilang apa-apa.

Benarkah mereka bertemu? Hidup empat malam, bersama-sama?

Ketika ia keluar dari Prefecture, setelah selesai urusan memperbarui izin, ia bimbang juga seperti tadi waktu masuk di gerbang keluar menghadap Marche aux Fleurs, ‘pekan kembang’, dalam salju dari seberang ia melihat sosok manusia, sosok perempuan mendekat dan berhenti bimbang di depannya. Sejenak pandang mereka bertemu.

Tak dapat ia menaksir bagaimananya. Tapi sorotan mata perempuan itu, seakan-akan memergok dia dalam kebimbangannya, dan dengan tak sadar ia berpaling membeli surat kabar Paris Prese dari si timpang yang selalu berjaga di situ. Dari tahun ke tahun, dari riuh kota jutaan, mengurungnya dalam ruang udara yang ditempati sosok badan orang itu. Itu pun sudah berupa kenangan seperti semua di luarnya. Sejenak ia memandang uang telen timah di tangannya, kenyataan pada detik itu.

Pada diakah ditujukan perkataan itu?

Monsieur, do you speak English?” (4)

Ia tercengang sejenak. Berapa lama ia sudah tak disapa orang?

Yes”.

Si gadis, sebab perempuan itu masih muda benar, menerangkan halnya. Ia tadinya hendak minta visa ke Swiss. Ia datang dari London. Di Paris timbul niat melanjutkan perjalanan. Tapi foto tak disediakannya dan orang dalam Gedung minta foto. Ini orang Asia. Orang Eropa tidak memerlukan visa. Tapi bangsa apa, peranakan?

Suives moi!” katanya dengan gerak tangan dan sikap menghibur. Tak sadar pun ia berbahasa Prancis. Tapi gadis itu mengerti dan sekarang jalan di sampingnya. Di pulau di tengah Sungai Seine itu, dengan Notre Dame-nya dan lain-lain Gedung penting, ia kenal seorang tukang gambar pas. Selesai “dalam tempo yang sepuluh menit”.

Mereka  menuju jalan di samping Notre Dame membelok ke kiri ke jalan kecil dan kemudian masuk gerbang, melalui pekarangan dalam yang sempit dan gelap. Inilah tempat tukang gambar itu, hal mana dijelaskan oleh papan bertuliskan “Here for your passport-photos”, (6) diperjelas dengan gambar tangan menunjuk.

Di dalam, si gadis membuka baju musim dinginnya. Di hadapannya berdiri gadis ramping dan jelita, berbaju mantel merah anggur.

Ia berdiri seperti guide (7) yang sudah biasa melayani para turis, di sudut kamar, memperhatikan si gadis mengambil sisir dan kaca dan segala keperluan bersolek.

Sebentar lagi si gadis sudah berdiri buat diambil gambarnya. Sekarang ia dapat memperhatikannya dari samping. Wajahnya, rambutnya, dada, tangan, kaki.

Tapi kesannya sekali ini tak dapat disimpulkannya. Memang si gadis ini cantik, tapi masih gadiskah dan kira-kira berapa umurnya? Kekanakan dan ketegasan perempuan yang berpengalaman bercampur baur dalam kesannya.

Dua kali alat potret memetik dan sekarang tinggal menunggu. Ia mengisarkan pandangnya setelah bertemu dengan pandang si gadis.

“Saya mau menelepon, bisa Tuan tolong? Saya tak pandai mempergunakan buku telepon Paris ini. Lain dari London.”

“Saya tak tahu, tapi Namanya Hotel Empire.”

Dalam deretan nama hotel ada sekitar enam Hotel Empire.

Ia minta si gadis menjelaskan jalannya. Ini pun tak diketahui si gadis.

“Dekat mana, maksud saya, dekat gedung terkenal yang mana?”

“Dekat stasiun Saint Lazire.”

Akhirnya dapat juga. Artinya ia coba.

“Nona, Stone, kamar 115.”

Ia terkejut. Tapi ia sembunyikan. Dan lebih terkejut lagi mendengar jaga hotel. Mr. Stone pergi, setelah membayar kamar.

Hal itu dijelaskannya kepada si gadis. Si gadis tak menunjukkan perasaan apa-apa. Setelah menerima dan membayar gambar mereka keluar tiada berkata-kata.

Ia mendapat perasaan seakan-akan mereka sudah lama tahu-menahu hal masing-masing, dan sudah lama bergaul dan dengan tak sadar, barangkali juga oleh dingin, mereka berjalan merapat badan.

Ketika di loket kantor polisi ia membaca nama gadis itu: Margaret Rodrigo.

“Nama saya Machmud.”

Si gadis memandangnya sebentar.

“Indonesian?”

“Saya orang Filipina.”

“Telah saya lihat pada paspormu.”

Setelah di luar, dalam salju jatuh, mereka jalan dengan tiada tujuan.

“Mau ke Swiss lagi?”

“Tidak.” Ia mengerti.

“Mari minum dulu.”

Demikianlah. Dan itu lima hari yang lalu. Malamnya, gadis itu dibawanya ke hotel. Di tangga naik ke atas mereka bertemu dengan Madame Bonnet. Tak diperkenalkannya pada induk semangnya. Madame Bonnet tersenyum, senyumnya yang seakan-akan merestu, selalu. Kalau ia tidak sedang dibikin jengkel oleh anak-anaknya.

Mignon”, (8) kata Madame tidak tertuju kepada siapa, sambil turun tangga.

Margareth memang indah. Keindahan penyerahan kucing yang mencari pediangan di musim begini dingin.

“Keluarga” Bonnet menerima keadaan baru itu. Sebagaimana ia sendiri diterima dengan tiada bertanyakan ini dan itu. Tapi sekali ini ia ingin ditanyai, kenapa dan bagaimana. Oleh Monique yang melayani Margareth sebagai “nyonya”.

Selalu ramah. Dan Margareth menerima layanan itu seperti orang sudah biasa dilayani pula.

Dalam beberapa hari itu, Margareth ikut ke mana-mana, dalam kembaranya dalam kota; bertemu dengan kawan-kawan, pinjam uang, ke kedutaan negerinya, pada hari ia bekerja di sana setengah hari, sebagai tukang stensil bahan-bahan penerangan yang dikirimkan ke kedutaan lain dan badan-badan resmi, dan agaknya tak pernah dibaca, dan dibuang sebagai yang menjadi tugasnya pula: merobek dan membuang “majalah” kedutaan bangsa lain sebaik diterima.

Tapi orang tidak bertanya.

Tapi ia ingin ditanyai, ia sendiri ingin menanya.

Ia ingin Aimee, si gadis Yahudi bertanya kenapa dan bagaimana ia bisa menghilang beberapa hari. Oh, Aimee yang baik hati tapi keras seperti baja, yang selalu berbaju lengan panjang untuk menutupi nomor yang dijarumkan Jerman di Buchenwald, dalam tawanan, ke bawah kulitnya yang manis. Ingin ia ditanyai hal cintanya, kesetiaannya, pengkhianatan, dan persahabatannya. Tapi tak ada yang bertanya. Sedang ia sudah lama berhenti bertanya pada dirinya.

Pun Margareth, ia ingin menanyai dia. Tapi Margareth diam dan rupanya tak merasa perlu bertanya. Dan bercerita ia tidak bisa. Ia hidup dalam cerita dan ia ingin lepas dari dalamnya. Ia ingin dilepaskan. Tapi Margareth diam. Mereka diam.

Pada malam itu, ia bulat hati bertanya atau bercerita padanya.

Karena hari terlalu dingin dan Margareth capek, ia sendirian keluar hari itu ke “pekerjaan”. Dan lagi ia ingin sendiri sekali itu.

Ketika turun, ia berjumpa dengan Monique.

“Nyonya sudah bangun?”

“Biarkan. Kira-kira jam sebelas nanti bangunkan, tapi tolong bawakan kopinya sekarang. Eh … dan bilang saya kembali jam enam sore.”

Tapi menjelang jam enam sore, ketika ia masuk restoran langganan dekat stasiun metro untuk minum, ia berjumpa dengan Wong. Ia sebab.

Ia tak suka berjumpa dengan orang ini. Apalagi sekarang. Dalam diri Wong yang sudah tua ini, terbayang dirinya, Wong orang Tionghoa Indonesia.

Tapi sudah dua puluh tahun di Paris. Istrinya perempuan Prancis yang dibawanya ke Indonesia, selesai belajar di Sorbonne, mungkin juga tidak selesai, meninggalkannya di Jakarta, setelah dua tahun di sana dulu. Dan Wong kini, seperti dalam roman, mencari-cari istrinya di antara enam juta jiwa penduduk Paris.

Dua puluh tahun sudah. Tak ada yang dapat menceritakan benar tidaknya, dan apa pernah dijumpa dan yang lebih mengherankan: apa pekerjaan Wong, dari mana nafkahnya?

Wong ini merupakan cermin masa depan baginya, walaupun ia tak dapat menerangkan karena apa. Sebab ia belum pernah kawin, belum pernah ber-“istri” seperti Wong. Tapi ada yang sama antara mereka. Hal ini tak dapat disangkal hatinya. Tak pernah dilanjutkannya pikiran yang timbul dari perasaan itu. Ia hanya mengatakan bahwa tak “enak” bertemu dengan Wong. Bukan karena kepalanya yang gundul licin, bukan karena kaca matanya dan jalur-jalur sekitar dengan kerling nakal. Semua ini kadang-kadang menimbulkan kasihan pada hatinya, apalagi kalau Wong minta dibayar kopinya. Hal yang sering terjadi justru di restoran ini.

Tapi itu Wong berdiri. Membelakangi pintu masuk, di muka jag akas restoran. O, ia membeli sweepstake (9) pacuan kuda lagi.

Ia hendak keluar saja, tapi Wong yang berpaling dan menatap antara asap sigaret dan suara redup, telah menangkapnya dengan pandangnya. Dengan jengkel, ia masuk.

Lalu ia tertahan lama-lama mendengar harapan Wong sekali waktu akan menang ratusan ribu franc (10) di pacuan kuda dan sebagainya.

Baru pukul sepuluh malam ia sampai di kamarnya. Ia tak menjumpai siapa pun di ruangan bawah. Andre rupanya sedang ke belakang. Ia cepat-cepat naik tangga. Hatinya berdebar. Ia telah tahu. Bukan firasat lagi.

Kamar yang dibenahi, udara yang lembab panas. Tandus tanpa bekas manusia, melainkan hanya bekas kebosanan hidup. Dibenahi, ditiduri, dibenahi, ditiduri. Tak pernah bercakap, tak pernah bertanya dan ditanyai. Monique melengos.

Ia turun. Andre sudah ada agaknya sengaja sibuk mengatur botol-botol dalam rak. Madame tak tampil ke depan. Seluruh berhenti dan berputar pada sepinya, menghadapi daun meja dari pualam.

Itu tadi malam. Ia melangkah dalam salju. Melewatkan bus.

Salju telah tebal di jalanan dan di atap Paris. Ia berjalan, lalu berhenti menoleh. Jejaknya mencekam dalam salju. Beberapa merpati terbang kebingungan kian kemari mencari makanan seperti biasa di musim dingin kalau bumi tertutup salju.

Salju jatuh, bertimbun sedikit demi sedikit meliputi lubang jejak, menutupi lumpurnya, hingga putih kembali. Putih seperti jalan sunyi di hadapannya.

***

1) Bahasa Prancis: “Selamat siang Tuan Andre, selamat siang Nyonya!”
2) Bahasa Prancis: “Selamat siang!”
3) Bahasa Prancis: Tuan
4) Bahasa Prancis/Inggris: “Tuan, apakah Anda bisa bicara bahasa Inggris?”
5) Bahasa Prancis: “Ikutilah saya!”
6) Bahasa Inggris: Di sini untuk foto paspor Anda!”
7) Bahasa Inggris: pemandu
8) Bahasa Prancis: cantik
9) Bahasa Inggris: pertaruhan dalam rangka pacuan kuda



Baca: Biografi Sitor Situmorang 
Baca juga cerpen Sitor lainnya:
1. Ibu Pergi ke Surga
2. Pangeran

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...