Puisi-Puisi Modern Prancis

15.30
baudelaire, verlaine, mallarme, rimbaud


Charles Baudelaire

Perimbangan

Alam adalah kuil di mana pilar-pilarnya yang hidup
Kadangkala menggumamkan omongan-omongan balau;
Manusia lalu di sana nyebrang hutan lambang
Yang menatapnya dengan pandangan akrab.

Bagai gema memanjang yang di kejauhan bergalau
Dalam satu kesatuan yang kelam dan dalam,
Luas bagai malam dan bagai benderang,
Bau-bauan, warna-warna dan bunyi-bunyian saling bersahutan.

Ada bauan segar seperti tubuh bocah,
Lembut bagai seruling, hijau seperti padang,
-- Dan yang lain, busuk, kaya dan megah.

Merasuk bagai hal-hal yang tiada terwatas –
Seperti ambar, kesturi, kemenyan dan cendana,
Yang menyanyikan gairah semangat dan indra.
Perjalanan

Maut, nakhoda tua! Sudah waktunya kita bertolak
Betapa jeleknya negeri ini, O Maut! Pasang layar!
Walau langit dan lautan hitam bagai tinta
Jantung kita mencat sinar-sinar merah berpijar

Curahkan racunmu atas kami agar kami tawakkal
Oleh sebab api ini terlalu membara dalam kepala
Kami akan menyelam ke dasar lautan, Surga atau Neraka
Ke daerah tak dikenal, di mana Yang Baru menghembus di hadapan.


Mabuklah!

Mesti selalu mabuk. Terang sudah: itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!

Dan jika sembarang waktu, di tangga istana, di rumput hijau kamalir, dalam kesepian guram kamarmu, kau tersadar dan merasakan mabukmu sudah berkurang atau menghilang, tanyakanlah pada angin, pada gelombang, pada bintang, pada burung, pada jam, pada segala yang lari, pada segala yang merintih, pada segala yang berputar, pada segala yang bernyanyi, pada segala yang bicara, tanyakan jam berapa hari, dan angin, gelombang, bintang, burung, jam bakal menjawab: “Inilah saatnya untuk mabuk! Untuk tidak menjadi budak siksaan Sang Waktu, mabuklah; bermabuk-mabuklah tanpa henti-hentinya! Dengan anggur, dengan puisi atau kebajikan, sesuka hatimu.”

***

Arthur Rimbaud

Lamunan untuk Musim Dingin

Kepada Dia


Musim dingin, kita naik wagon merah jambut
Dengan bantal-bantal biru
Kita bakal betah, sekuntum cium mabuk
Di tiap lekuk yang lembut

Kupejam mata agar tak Nampak lintas kaca
Menyeringai bayang-bayang malam
Tampang hantu seram, srigala hitam
Yang rendah dan tak ramah.

Lantas pipimu terasa tergores…
Sekecup cium bagi rama-rama gila
Menjelajahi lehermu

Kau bilang: “Carikan!” sambil menundukkan kepala
Kita perlu waktu untuk menemukan itu binatang gila
--Yang mengembara jauh sekali—



Si Miskin Melamun

Mungkin kelak bagiku satu Malam menanti
Dengan tenang aku bisa minum-minum
Di satu Kota tua
Lantas aku kan mati lebih puas
Sebab aku sabar.

Andai sakitku hilang
Andai di kantung ada uang
Arah mana kan kujelang
Negri anggur atau Utara?
-- Ah! Melamun, bikin malu!

Sebab kehilangan melulu!
Dan jika aku kembali
Jadi kelana yang dulu
Tidak bakal lagi terbuka
Pondok hijau itu bagiku.



Lagu Menara Tertinggi

Datanglah, ya datang
Saat bercinta

Aku sudah begitu sabar
Hingga semua kulupa.
Derita dan gentar
Ke langit musna.
Dan haus maksiat
Membuat darahku pucat.

Datanglah, ya datang,
Saat bercinta.

Bagai padang
Terbengkalai lupa,
Belukar dan kemenyan
Tumbuh dan berbunga
Dalam dengung liar
Lalar-lalar kotor

Datanglah, ya datang
Saat bercinta.

***

Paul Verlaine

Lagu Musim Gugur

Rintihan sangsai
Biola ramai
Di musim gugur,
Menyemai lesu
Hingga kalbuku
Bisu mengaduh.

Setiap detik
Rasa mencekik
Memucat muka
Aku terkenang
Masa yang hilang
Gabaklah mata;

Kulepas kapal
Di angin sial;
Aku terbawa
Ke sini, ke sana,
Tiada ubah:
Daunan tua.



Kantuk Hitam

Kantuk hitam dan berat
Menimpa hidupku:
Tidur, segala harap
Tidur, segala hasrat!

Tak lagi kusibak apapun
Aku kehilangan ingatan
Yang baik dan yang buruk
O kisah yang menyedihkan!

Aku bagai ayunan
Yang diambing tangan
Dalam gua kelam:
Diam, diam………

***

Stephane Mallarme

Angin Lautan

Sayang, daging menyedihkan, dan telah kubaca semua buku
Lari! Lari! Kurasa burung pada mabuk
Berada di antara buih-buih asing dan langit
Apapun tidak! Tidak taman-taman tua yang tercermin di mata
Kan menahan hati ini yang berendam dalam laut
Oh malam! Tidak pula padang terang lampuku
Atas kertas kosong yang digamit putihnya
Tidak juga wanita muda yang sedang nyusukan bayinya
Aku kan pergi. Kapal api guncangkan tiang-tiangmu
Angkat sauh menuju alam penuh gairah
Kejemuan, dirundung harapan-harapan kejam
Masih percaya pada lambaian megah selamat jalan
Barangkali tiang-tiang yang memanggil badai
Ungkaian topan makanan gelombang
Hancur, tiada tiang, tanpa tiang, tanpa pulau-pulau subur
Tetapi hatiku, o dengar itu nyanyian kelasi.

***

Catatan:

Puisi-puisi di atas dikutip dari Sajak-Sajak Modern Perancis dalam Dua Bahasa. Puisi Baudelaire "Perimbangan" berjudul asli Correspondances (hal 27), "Mabuklah" berjudul Enivrez-Vous (hal 37); puisi Arthur Rimbaud "Lamunan untuk Musim Dingin" berjudul Reve  Pour L'hiver (hal 45), "Si Miskin Melamun" berjudul Le Pauvre Songe (hal 47), "Lagu Menara Tertinggi" berjudul Chanson De La Plus Haute Tour (hal 49); puisi Paul Verlaine "Lagu Musim Gugur" berjudul Chanson D'automne (hal 55), "Kantuk Hitam" berjudul Un Grand Sommeil Noir (hal 59); puisi Stephane Mallarme "Angin Lautan" berjudul Brise Marine (hal 61).

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...