Sajak-Sajak Modern Perancis dalam Dua Bahasa

09.46
sajak modern prancis, wing kardjo

Wing Kardjo, Sajak-Sajak Modern Perancis dalam Dua Bahasa, Pustaka Jaya: 1975, 175 halaman

Pengantar

Mengumpulkan, memilih, serta menterjemahkan beberapa sajak asing—di sini bahasa Prancis, ternyata tidak semudah yang diduga semula. Urutannya akhirnya jadi terbalik. Menterjemahkan, memilih, dan mengumpulkan. Sebuah sajak yang tertulis dalam bahasa asing seringkali gagal diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa terjemahannya. Dan maksud memperkenalkan puisi yang baik pun gagallah sudah. Amat sering dikatakan orang bahwa puisi yang hilang dalam terjemahan (1) atau lebih gamblang lagi: puisi ialah yang tidak bisa diterjemahkan.

Tetapi mengapa kita masih juga mencoba menterjemahkannya? Karena tidak bisa lain, artinya tidak ada jalan lain untuk mencoba menghidupkan kembali ide maupun perasaan dan sekian “yang lain-lain” lagi yang secara bulat berpadu dalam apa yang disebut sajak. Sajak terjemahan (masihkah patut disebut sajak?) ialah bayang-bayang yang kabur dibandingkan dengan yang aslinya. Mungkin pula gagap, terbata-bata atau bahkan meletup-letup. Atau…

Tetapi toh, terjemahan yang paling jelek pun masih lebih baik, lebih langsung dari parafrase yang panjang dan terang. Nyata bahwa terjemahan ialah usaha menangkap jiwa yang terekam atau memancar dalam sajak asli. Puisi asli ialah penjelmaan kepribadian, identitas yang secara otentik dan unik menggelarkan dirinya. Sedangkan puisi terjemahan bukan saja dicampuri, dinodai, atau dilunturkan keasliannya oleh si penerjemah, tetapi juga oleh struktur dan sekian sifat lain bahasa yang dipergunakan untuk menerjemahkannya.

Cobalah bayangkan, seandainya dalam bahasa yang sama, kata-kata yang dipergunakan menulis suatu sajak itu diganti satu per satu oleh kata persamaannya, yakinlah yang kedua besar kemungkinan tidak dapat dikatakan sajak. Apalagi dipindahkan ke bahasa lain. Sia-sia rasanya kita harus berbicara tentang unsur musik, harmoni, nilai kata dan bunyi, nuansa rasa serta suasananya…

Inilah persoalan yang mengakibatkan kita biasanya menggunakan dalih yang tersirat dalam kata: “kemungkinan terjemahannya”. Dan hal ini bukanlah semata-mata dalih dalam prakteknya. Puisi yang indah besar kemungkinan jadi jelek, sedang yang jelek mungkin kurang jeleknya, mungkin menjadi baik. (2)

*

Puisi modern Prancis dapat dikatakan bermula dari Baudelaire. Kumpulan sajaknya “Les Fleurs du Mal” merupakan sumber puisi masa kini. Baudelaire telah melahirkan dua alur kepenyairannya: yang pertama para seniman—les artises—dan yang kedua ialah para terus mata—les voyants. Yang satu alurnya dari Baudelaire ke Mallarme lalu ke Valery; yang satunya lagi dari Baudelaire itu melanjut ke Rimbaud dan terus ke para penukik avontir, kaum surealis. (3)

Puisi Baudelaire mencetuskan kebaruan, di sini puisinya lebih banyak mengungkapkan jiwa daripada perasaan, sebab itu segera kita merasakan kedalaman padanya. Rasa tragis manusia dikembangkan ke tingkat yang setinggi-tingginya, walaupun mesti diakui bahwa tema yang dikerjakannya ialah kelanjutan sikap kaum romatik, pemberontakan, dan pelarian diri.

Satu hal lain yang menarik padanya ialah sikap pandangannya terhadap dunia realitas yang ia lihat. Ternyata alam ini bukan semata-mata alam, tetapi “suatu hutan perlambang”, yang harus disibak maknanya. Alam adalah semacam alegori mistik, sejenis perangsang bagi imajinasi. Dengan demikian, puisi memasuki bidang mistik dan metafisik. Dengan dia pula kita berkenalan dengan metode irasional dan kemabukan. Walaupun begitu, Baudelaire tetap menyatakan bahwa ilham adalah ganjaran usaha sehari-hari, dan bukan semata-mata turun begitu saja.

Untuk mencapai “keindahan yang luhur” kita pun tahun sudah apa yang dilakukannya. Tanpa ayal ia bergaul dengan kehidupan daging, hashis, dan candu. Dijadikannya tubuh serta jiwanya sendiri sebagai bahan eksperimen. Ia sekaligus algojo serta kurban penyelidikannya. Nyata di sini puisi berhenti fungsinya sebagai permainan, seandainya masih disebut permainan, bukanlah permainan yang tidak berdosa. Baudelaire telah menjadikannya sebagai suatu cara hidup, bahkan lebih lagi: suatu katarsis.

Rimbaud yang memberinya gelar “raja pada penyair” segera melihat dalam dirinya suatu kemungkinan yang bakal mencapai “kebaruan” seandainya ia tidak terlampau terikat pada milieu seniman serta berani menjual jiwanya pada setan. Sebab itulah, Rimbaud segera memberontak terhadap segala ikatan yang membelenggunya, mengembara, serta selanjutnya menjelajahi dunia mistik dan magis. Penyair menjadikan dirinya “terus mata” dengan jalan mengacaukan segala inderanya secara sadar dipikirkan, lama, tak terhingga. Biarlah ia menjadi si sakit besar, penjahat besar, terkutuk agung—Empu agung—sebab ia sampai ke “daerah tak dikenal”. Nyata baginya bahwa pikiran kita yang pucatlah yang telah menutupi kita dari keabadian.

Dengan demikian, ia ingin mengubah hidup, sebab ia yakin bahwa manusia itu “tidak lahir berdosa” dan memiliki sumber kemurnian yang liar dan tidak dirusak oleh prasangka-prasangka manusia. Penyair sebagai pencuri api, ia ingin membebaskan manusia dari segala kekurangannya. Tetapi kelak ternyata bahwa akal sehatnya jugalah yang membuat Rimbaud menolak dunia imajinasi. Ia berhenti jadi penyelidik “kimiawi kata” menjadi pengejar emas. Pada usia 19 tahun ia berhenti jadi penyair. Rimbaud penyair mati. Sedang selanjutnya ia hidup sebagai pedagang budak belian dan senjata, jauh di pedalaman Afrika. Adakah persamaan antara Rimbaud penyair dan Rimbaud pedagang? Hanya Namanya. Selanjutnya pengubahan hidup ini masih berupa teka-teki, seandainya bukan karena kegagalannya dalam “mengucapkan apa yang tidak terucapkan”.

Verlaine, temannya yang berumur lebih tua tetapi sangat dipengaruhi serta dikuasai Rimbaud, ternyata hanya pandai menyenandungkan rasa penyesalan dan kemurungannya, lembut, dan mengharukan serta membuai-buai. Musik intim dan penuh kegaiban. Ia hanya gambaran manusia yang lemah dan terombang-ambing. Suatu contoh yang menonjol dari cara hidup dekaden. Puisi simbolis mestilah dicari dari dia, yang tidak mementingkan ketetapan arti kata, tetapi kadar emosinya.

Sikap kesenimanan yang terlihat di Baudelaire dikembangkan secara mendalam oleh Mallarme dan Valery. Mallarme telah bergulat sepanjang hidupnya dengan puisi, untuk puisi demi puisi. Puisi adalah penolakan terhadap dunia, seperti bagi Rimbaud ia merupakan pemberontakan. Di sini puisi diangkat sederajat dengan agama. Puisi ialah keindahan yang luhur. Tetapi apakah ia juga telah berhasil? Secara fragmentaris. Terang bahwa puisi macam ini merupakan puisi hermatis—pertapa. Inilah yang melahirkan puisi gelap. Tampak bahwa imij-imij yang sudah terbentuk, kadang-kadang sengaja dihancurkan oleh imij yang berikutnya sehingga sajaknya lebur sementara tercipta. Kemurnian ini dengan sendirinya—dingin dan penuh teka-teki—berhasil membuat lupa ketidakmurnian dunia.

Di sampingnya, Valery juga telah memperlakukan kata-kata seolah-olah bahan kimia, sehingga campuran bahan ini dengan yang itu akan menghasilkan begini. Ia berangkat dengan bentuk untuk menemukan isi di jalan. Pada akhir perjalanan bentuk da nisi berubah jadi puisi. (4)

Dengan Appolinaire yang liris, kita bertemu kembali dengan kehidupan sehari-hari dengan aneka ragamnya. Dari sebuah jembatan tua ia bisa mengangkat sebuah kisah cinta yang mengharukan. Puisi tidak lagi punya tabu. Segala bisa dijadikan puisi. Aspek kehidupan kota ini—juga merupakan warisan Baudelaire dalam “Les Tableaux Parisiens”-nya, aspek modernism, muncul dan berkembang. Demikian juga Jacques Prevert kembali dengan lukisan-lukisan kotanya, manusia yang menghuninya serta lengkap dengan gambaran watak serta sikap mentalnya. Puisi ringan nampaknya, naif tetapi bobot dengan tinjauan yang kritis. Di sini puisi mendekati rumusan, Matthew Arnold misalnya yang memandangnya sebagai kritik kehidupan. Atau ujar Eluard bahwa tujuan puisi mestilah sesuatu kebenaran yang praktis.

Selanjutnya banyak penyair-penyair yang mengambil faedah dari pertemuan surealisme. Aspek puisi tradisional bercampur dengan kekayaan yang dapat digali dari sumber manusia itu sendiri, renungan ditambah penukikan ke bawah sadar. Penulisan otomatis, unsur-unsur mimpi bisa melahirkan imij-imij indah dan tak tersangka-sangka.

Paul Eluard, tokoh penyair dalam perang dunia II, misalnya pandai menjalin kemesraannya yang lembut dengan kelancaran yang menjadi cirinya. Demikian pula Supervielle dan Michaux bisa memadukan keluwesan dengan kedalaman. Pencarian manusia ke alam batin, ke dalam jiwanya tiada henti-hentinya mengagetkan kita. Dan juga masih merupakan sumber yang tak habis-habisnya digali.

“Mengubah hidup”, ujar Rimbaud, yang tidak puas dengan hidupnya serta situasi peradaban. “Agar tidak merasakan beban waktu”, ujar Baudelaire. “Jemu dengan hidup yang mengering”, kata Mallarme—akhirnya sampai pada “mengubah dunia”, ujar pelanjut-pelanjut kaum surealis, yang ingin menyelaraskan pandangan Rimbaud ke semboyan Marx.

Mungkinkah pengetahuan yang rasional dari yang tidak rasional ini yang bernama surealisme itu bisa melahirkan suau revolusi? (5) Kelihatannya terlalu penuh kontradiksi, tetapi yang jelas masalah kondisi manusia tambah diperlebar lagi horisonnya, diperdalam lagi kedalamannya. Puisi yang lahir adalah identifikasi hidup itu sendiri dengan puisi, keindahan lahir dari sumber-sumber yang tak tertahan-tahan.

Apakah dengan demikian kegiatan puisi mengandung persamaan dengan kegiatan politik sebab dua-duanya menyentuh kepentingan manusia? Georges Pompidou—yang waktu itu menduduki jabatan presiden Republik Prancis—misalnya menjelaskan bahwa kata ‘berbuat’ dalam bahasa Yunani terjemahannya: poien yang melahirkan poiesis, yaitu puisi dan prattein yang memberikan arti praxis, yaitu aksi atau perbuatan. Dan keduanya merupakan aktivitas yang kreatif. Penyair mempergunakan kata-kata, sedangkan politikus mempergunakan manusia, dan tentulah kedua-duanya memiliki tujuan yang ingin dicapai, tetapi baik penyair maupun politikus mestilah dibimbing oleh suatu konsep tujuan hidup, atau kebutuhan ideal. Tetapi keduanya mesti pula memiliki pengetahuan yang mendalam dan intuitif tentang manusia serta perasaannya, kebutuhannya, aspirasinya… (6)

Sajak-sajak yang kami terjemahkan ini, di antaranya yang dikerjakan para penyair dengan gaya “les belles infidels”—tentunya jauh dari gambaran kekayaan puisi Prancis yang sebenarnya. Kami maklum semua itu. Puisi modern Prancis yang terakhir belum mendapat tempat. Tetapi kami yakin bahwa yang terpenting ialah bahwa suara-suara yang mewakili puisi Prancis ini adalah suara penyairnya yang sejati, lengkap dengan dunia realitas sehari-hari, tetapi yang lebih penting lagi ialah dunia dalamnya. Sebab, bukanlah keuniversalan itu letaknya lebih dalam dan intim. Dan suara batin yang intimlah yang bisa menghubungkan dua jarak yang jauh menjadi tanpa jarak. Pendekatan inilah yang kami harapkan.
Baca juga: Puisi-puisi Baudelaire, Rimbaud, Verlaine, dan Mallarme
Buku ini hanya mungkin terbit karena bantuan serta dorongannya para teman yang tiada jemu-jemunya. Juga tanpa jerih payah para penterjemah lain yang sajak-sajaknya kami muatkan di sini. Kami haturkan terima kasih yang tak terhingga.

Di antara mereka yang langsung kami kenal bisa disebut: Mensieur Bernard Pottier, Ramadhan K.H., Eliane dan Henri Chamberit-Loir, teman-teman dari Pustaka Jaya: Ajip Rosidi, Rachmat M.A.S., Yus Rusamsi, dan terutama Rachmat M. Sas. Karana.

Bandung, September 1972.

                                                                                                                                          (Wing Kardjo)

***

Catatan kaki

1) Robert Frost
2) Tentang kriterium baik dan buruk ini orang bisa panjang berdebat. Bukankah, misalnya kaum surealis menyatakan bahwa sesungguhnya suatu hal absurd untuk membedakan antara indah dan jelek? Dan ide begini bukannya tidak berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran serta penciptaan seni modern.
3) Marcel Raymond: “De Baudelaire au Surrealisme”, Jose Corti, 1963.
4) Georges Pompidou: “Anthologie de la Poese fancaise”, Hachette, 1961.
5) Georges-Emmanuel Clancier: “De Rimbaud au Surrealisme”, Seghers, 1959.
6. G. Pompidou: “Poesie et Politique”, Figaro Litteraire, No. 1200, Mei 1969.

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...