Tergantung pada Kata

05.00
a teeuw, kritikus sastra


Tergantung pada Kata ini dikutip dari kata pengantar A. Teeuw di bukunya sendiri, Tergantung pada Kata, Pustaka Jaya: 1983.

Sajak yang saya pilih untuk buku ini adalah sajak yang memikat perhatian saya selama waktu yang cukup lama.

Tidaklah saya mengatakan bahwa sepuluh sajak inilah yang saya anggap yang terbaik dalam sastra Indonesia modern. Bukan pula maksud saya mengatakan bahwa penyair yang saya pilih sajaknya inilah yang saya anggap penyair yang terbaik di Indonesia. Tetapi sepuluh sajak inilah contoh sajak yang baik dalam arti tadi.

Sajak ini memaksa saya memeras otak dan mencurahkan hati saya, memaksa saya berpikir dan termenung, dan sajak ini pula yang memberi kenikmatan dan kepuasan kepada saya sebagai pembaca.

Melalui pengupasan sajak ini saya mengajak pembaca yang tertarik pada puisi untuk ikut serta dalam pengalaman saya sebagai pembaca.

Saya tidak memakai hanya satu metode tertentu saja untuk mendekati sajak. Sudah tentu cukup banyaklah teori dan kritik sastra yang saya baca, sehingga seorang pembaca yang budiman dan mempunyai keahlian di bidang tersebut pasti akan menemukan pendekatan dan pengaruh serta anggapan tertentu dalam sikap saya sebagai pembaca.

Jika berdasarkan buku ini saya nanti akan dikotakkan dalam aliran atau mazhab teori atau kritik sastra tertentu, terserah. Yang penting bukanlah teori saya, melainkan sajak yang saya kupas.

Jika pengupasan saya dianggap sesuai dengan sajaknya dan agak berharga bagi pembaca, syukurlah; jika pembaca lain tidak setuju dengan penafsiran saya sehingga dia terangsang untuk memberi penafsirannya sendiri, lebih syukur lagi!

Sebab hal ini akan berarti bahwa buku saya telah berhasil mendorong orang lain untuk mendalami sajak pilihan saya. Justru itulah maksud tujuan buku ini.

Buku ini adalah hasil usaha saya sebagai pembaca puisi Indonesia selama tahun cuti saya di Yogyakarta (September 1977-Agustus 1978).

Banyaklah sajak yang saya baca selama tahun ini. Ada yang menarik, ada pula yang tidak, ada yang (barangkali) saya pahami, ada pula (cukup banyak) yang luput dari usaha pemahaman saya.

Kegiatan dan kegagalan saya, kepuasan, dan kenikmatan yang saya alami ingin saya laporkan kepada masyarakat pembaca Indonesia, khususnya Yogyakarta, lebih khusus lagi Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Sastra dan Kebudayaannya, yang telah bersedia menerima saya bersama istri sebagai tamu dengan demikian ramah-tamah dan yang melimpahkan persahabatan kepada kami.

Semoga buku ini disambut sebagai pembalas budi yang sederhana!


A. Teeuw, Yogyakarta, Juli 1978

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...