Komposisi: Mengarang dan Kebiasaan Membaca

09.09
Mengarang dan kebiasaan membaca buku adalah hal penting yang wajib dijadikan kebiasaan penulis. Dan tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendidik anda menjadi sastrawan. Di samping latihan yang teratur, seorang sastrawan membutuhkan bakat untuk dapat menghasilkan karya yang baik.

Tetapi mengarang dalam pengertiannya yang umum tidak memerlukan bakat; ia hanya memerlukan penguasaan atas beberapan pengertian dasar dan latihan. Dan tulisan ini mencoba untuk menjelaskan beberapa pengertian dasar tersebut, di samping mengajak anda untuk berlatih mengarang.

Baik pengertian dasar maupun latihan akan disertai contoh-contoh yang sangat terbatas. Sebenarnya contoh lebih bermanfaat daripada penjelasan panjang-lebar yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Dan contoh-contoh itu dapat anda dapatkan di luar tulisan ini.


Buku, majalah, dan koran merupakan sumber utama untuk contoh karang-mengarang. Seseorang yang ingin memiliki keterampilan mengarang mau tidak mau harus rajin mencari contoh karangan yang baik. Dengan kata lain, ia harus rajin membaca.

Harus diakui bahwa membaca sering lebih bermanfaat bagi calon pengarang daripada penjelasan yang berkepanjangan tentang cara mengarang.

Membaca berarti menambah pengetahuan kita tentang berbagai hal sekaligus: kosakata, cara penyusunan kalimat, teknik penyusunan alinea, pemilihan topik, pembatasan dan penentuan gagasan, dan gaya. Contoh di bawah ini akan dapat menjelaskan maksud kalimat di atas.
  • PENGANTAR REDAKSI
            Adik-adik yang manis!
            Bila majalah nomor 58 ini berada di tanganmu, pastilah kalian mmenerima rapot. Bagaimana nilainya? Bagus? Naik kelas? Jadi juara kelas?
            Bagi adik-adik yang naik kelas, kakak ucapkan selamat. Semogalah kalian lebih giat belajar lagi, guna mencapai cita-cita kalian. Bagi adik-adik yang tinggal kelas, kalian pun harus lebih keras memeras keringat dalam belajar, agar pada akhir tahun mendatang kalian dapat naik kelas, jadi juara kelas bahkan menjadi murid teladan.
            Nah, pokoknya semua tanpa kecuali kakak undang untuk bergembira dan bersantai bersama Tomtom.
            O ya, hampir lupa. Perlu kakak beritahukan, meskipun sekolah sedang libur, tetapi Tomtom tetap terbit seperti biasa.
            Selamat menikmati liburan panjang dan salam maniiiis!
                                                                                                            Kak Daktur


Contoh yang dikutip dari majalah Tomtom (Th. IV, no. 58 1977: 12) ini ditulis oleh salah seorang redaksi dan ditujukan untuk pembaca yang umumnya pelajar sekolah dasar.

Redaktur itu harus memilih kata-kata yang diperkirakan ada dalam kosakata pembacanya; ia tidak boleh menggunakan kata-kata istilah yang mungkin hanya dimengerti oleh ahli-ahli ilmu sosial atau dokter saja.

Dalam karang-mengarang, pemilihan kata itu sangat penting artinya. Pemilihan kata itu menunjukkan siapa penulis dan siapa pembacanya, di samping hubungan antara keduanya.

Dalam kutipan di atas, kata-kata yang sudah dipilih itu disusun dalam kalimat-kalimat yang boleh dikatakan sederhana.

Ada dua belas kalimat dalam contoh di atas dan sembila di antaranya adalah kalimat pendek yang sederhana. Hal itu tidak hanya menunjukkan bahwa penulisnya bisa menyusun kalimat-kalimat sederhana, tetapi menunjukkan bahwa ia menyadari siapa pembacanya.

Pelajar-pelajar sekolah dasar dan menengah akan mendapatkan kesulitan memahami kalimat yang terlampau berbelit-belit. Dan kesederhanaan itu juga ditunjukkan dalam teknik penyusunan alineanya.

Empat di antara enam alinea yang terdapat dalam contoh di atas masing-masing terdiri dari satu kalimat saja. Ini juga menunjukkan bahwa penulisnya menyadari benar siapa pembaca tulisannya.

Setiap alinea biasanya berisi sebutir pikiran, dan agar tidak berbelit-belit, butir-butir pikiran itu ditampilkan dalam masing-masing satu kalimat saja.

Majalah Tomtom yang memuat pengantar redaksi itu terbit pada bulan Desember 1977, bulan kenaikan kelas dan ujian.

Penulis harus pula memperhitungkan hal tersebut. Ia harus memilih topik atau pokok pembicaraan, yang sesuai dengan bulan terbitnya majalah. Dan memang yang menjadi pokok pembicaraan pengantar redaksi adalah rapor dan kenaikan kelas – tidak lupa ucapan selamat, di samping pemberitahuan bahwa majalah itu tetap terbit pada masa liburan.

Dua hal yang disebut terakhir itu nampaknya merupakan gagasan utama pengantar tersebut. Majalah itu tetap terbit walaupun para pelajar sedang dalam masa libur. Oleh sebab itu, redaktur perlu memberitahukan bahwa majalahnya tidak ikut libur terbit, dan pelajar-pelajar diharapkannya untuk tetap membeli Tomtom di waktu liburan.

Tetapi, tidak pantas rasanya apabila ajakan untuk membeli majalah itu disampaikan secara langsung begitu saja; caranya adalah menyelipkan gagasan itu di sela-sela pembicaraan tentang kenaikan kelas dan ucapan selamat.

Gaya penulisan pengantar itu pun khas majalah pelajar. Sikap penulis seperti seorang kakak yang sedang bercakap-cakap dengan adiknya. Keakraban menjadi tujuan utama gaya penulisan semacam itu, yang antara lain nampak dalam penggunaan kata “adik yang manis” dan “salam maniiiis!”. Demikian juga kalimat-kalimat pendek pada alinea kedua.

Untuk melanjutkan pembicaraan tentang peranan pembaca dalam karang-mengarang, kita kutip sebagian “Pengantar Redaksi” lain.
  • PENGANTAR REDAKSI 
Pada mulanya adalah komunikasi. Di dalam konteks pembangunan, ungkapan ini mendapatkan tempat yang lebih penting lagi; karena dalam pembangunan yang melibatkan demikian banyak manusia – dan bukan beberapa orang saja – proses bersama itu hanya mungkin berlangsung bilamana terjadi komunikasi di antara para peserta pembangunan itu.

Maka pembangunan bukan hanya membutuhkan teknologi dan modal, melainkan – lebih dasar dari itu – ia membutuhkan pengertian, proses kesadaran, dan dukungan masyarakat.

Tidaklah mengherankan kalau dalam REPELITA II ditegaskan bahwa pembangunan itu jangan hanya dilihat sebagai tujuan akhir, sebab ia juga merupakan proses untuk memajukan kehidupan masyarakat. Dan sebagai proses, pembangunan menuntut adanya komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Malahan dapat dikatakan bahwa pembangunan akan berhasil kalau ia dimulai dengan suatu sistem komunikasi yang teratur, ditunjang oleh suatu sarana komunikasi yang efektif, dilaksanakan dengan cara-cara yang wajar dan sehat serta dilangsungkan secara pesat dan terus-menerus antara para peserta pembangunan.

Semua ini adalah masuk akal, jelas, sederhana, dan juga bagus, apalagi kalau kita hanya membatasi pada hal-hal yang menyangkut ide dan cita dan melepaskan diri sejanak dari pembicaraan mengenai sampai berapa jarak yang ada antara ide ini dengan kenyataan.

Bagaimanapun, kini diakui peranan komunikasi yang sentral dalam pembangunan Indonesia. Sudah dicanangkan maklumat kunci suksesnya REPELITA II: “komunikasi dua arah” antara pemerintah dan masyarakat. Di mana-mana pejabat berbicara mencari feedback, perlunya informasi & data yang lengkap dan akurat untuk pembangunan.

Begitulah, kini jelas dikehendaki supaya komunikasi menunjang pembangunan. Ini ideal sekali, sekaligus tidak mudah. Kita di Indonesia belum cukup punya tradisi yang melembaga untuk menampung fungsi komunikasi yang mungkin lebih banyak ditandai oleh komunikasi politik: agitasi, propaganda, kampanye, desas-desus, kritik pedas, pameran, dsb, yang umumnya sedikit sekali berisi informasi, pendidikan, atau analisa yang positif dan komprehensif.

Juga komunikasi bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan hanya akan efektif menunjang pembangunan kalau ia terjadi dan berlangsung dalam iklim dan semangat yang benar-benar komunikatif. Artinya, karena komunikasi menyangkut “kebersamaan” dalam hidup bermasyarakat, ia minta banyak hal serba terang dan terbuka, kejujuran, dan saling menghormati antara komunikator dan komunikasi pembangunan.


Kutipan di atas adalah dua alinea pertama dari enam alinea “Pengantar Redaksi” majalah Prisma (Th. III, No 3, 1997: 2), ditulis oleh Ismid Hadad, redaktur majalah itu.

Dibandingkan dengan contoh pertama tadi nampak jelas bahwa meskipun keduanya merupakan “Pengantar Redaksi”, setiap unsur yang terdapat dalam contoh kedua ini berbeda.
Kata-kata yang dipilih oleh penulis menunjukkan bahwa ia tidak menunjukkan pengantarnya itu bagi pelajar sekolah menengah – apalagi sekolah dasar.

Bahkan ada beberapa kata yang hanya bisa dipahami oleh orang yang sudah pernah belajar serba sedikit tentang ilmu sosial.

Orang yang kosakatanya tidak mencakup kata-kata pinjaman dari bahasa asing, terutama Inggris, akan sedikit mengalami kesulitan menangkap maksud pengantar itu. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan tersebut memang sengaja ditujukan kepada golongan masyarakat terpelajar, yang menaruh minat terhadap masalah sosial negeri ini.

Susunan kalimat dalam kutipan itu pun tidak sederhana benar. Bahkan ada beberapa kalimat panjang yang rumit susunannya, yang dimaksudkan untuk menyampaikan pengertian yang rumit pula. Ini pun dengan jelas menunjukkan siapa penulis dan siapa pembacanya. Juga kedua alinea yang dikutip itu merupakan alinea yang panjang-panjang, yang tidak berisi sebutir gagasan sederhana.

Alinea kedua, misalnya, berisi tidak kurang dari sembilan kalimat, sebagian besar merupakan kalimat yang tidak sederhana susunannya. Gagasan yang ingin disampaikan penulis bukan gagasan sederhana, dan oleh karenanya tidak mungkin disampaikan dalam kalimat-kalimat yang terlalu sederhana.

Gaya penulisan pengantar redaksi di atas juga sama sekali lain dengan contoh pertama. Pengantar contoh kedua itu dimulai dengan kalimat “Pada mulanya adalah komunikasi”, kalimat yang mengingatkan kita kepada sebuah baris dalam kitab Injil atau kitab-kitab lain yang menggambarkan tentang awal mula dunia dan manusia.

Mau tidak mau kalimat serupa itu membawa kita kepada pokok pembicaraan yang sungguh-sungguh. Dan gaya penulisan yang ditunjukkan penulis selanjutnya membuktikan bahwa ia tidak menganggap pembaca sebagai orang-orang yang lebih muda usianya atau yang lebih rendah pengetahuannya; ia menganggap pembaca memiliki pengetahuan yang sama dengannya. Ia mengajak pembaca menyelami berbagai gagasan tentang komunikasi dan kepentingannya dalam pembangunan Indonesia.

Kedua kutipan di atas bukanlah merupakan contoh karangan yang sempurna cara penulisannya. Ada beberapa kekurangan yang masih bisa diperbaiki. Maksud pengambilannya sebagai contoh adalah untuk sekedar mempertunjukkan bahwa bahkan dengan judul yang sama dua orang penulis bisa menghasilkan karangan yang sangat berlainan unsur-unsurnya.

Majalah Tomtom adalah majalan anak-anak, sedangkan majalah Prisma adalah majalah ilmiah populer yang mengkhususkan diri pada penampilan masalah sosial; minat pengasuh dan pembacanya sangat berlainan; dua hal itulah yang menentukan perbedaan dalam pengantar yang mereka tulis.
Di samping kedua macam majalah tersebut, masih banyak lagi macam majalah lain. Ada majalah-majalah wanita, keluarga, mode, musik, olahraga, sastra, dan lain-lain. Masing-masing memuat karangan pembacanya.

Di samping majalah ada pula buku, yang juga bermacam-macam isi dan gaya penulisannya, tergantung dari penulis dan pembacanya.

Karangan atau buku yang berisi laporan ilmiah tentulah mempunyai isi dan gaya tulisan yang berbeda dengan buku atau karangan yang ditunjukan bagi anak-anak sekolah dasar dan menengah, lain lagi dengan buku atau karangan yang dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengusahaan pertanian. Masing-masing mengandung isi yang khas, yang menentukan gaya penulisannya.

Dalam zaman modern ini jarang sekali seorang penulis menguasai semua bidang penulisan. Pembagian bidang yang semakin terperinci menuntut sebagian besar kita menjadi spesialis, orang-orang yang menguasai bidang tertentu saja.

Tentu saja kenyataan itu tidak usah menuntup kemungkinan adanya satu dua orang yang memiliki kemampuan menulis tentang berbagai bidang, dalam berbagai gaya pula.

Tidak jarang seorang ahli ilmu sosial yang sangat pandai menyusun laporan ilmiah juga pandai menulis karangan yang dengan mudah bisa dibaca dan cernakan anak-anak. Namun begitu biasanya seorang penulis yang baik khusus menguasai satu bidang dan memiliki gaya penulisan yang khas di bidang itu.

Kalaupun ia menulis di bidang lain biasanya gaya penulisannya terpengaruh oleh bidang pertama tadi. Seorang wartawan yang juga pengarang akan menulis karya sastra yang bergaya jurnalis, atau karangan jurnalistis yang berbau sastra.

Karangan ini tidak akan membimbing anda menjadi seorang spesialis dalam penulisan. Pengertian dan latihan yang ditampilkan sangat umum sifatnya, dan anda sendirilah nanti yang akan menentukan spesialisasi diri anda sendiri.

Satu hal yang penting dicatat adalah bahwa meskipun setiap bidang menuntut gaya penulisan tersendiri, ada hal-hal umum yang harus dikuasai oleh siapa pun yang ingin menyusun karangan. Hal-hal yang umum itulah yang memungkinkan ditulisnya buku ini.

Tentu saja penguasaan atas hal-hal tersebut sama sekali tergantung kepada kegiatan dan minat anda sendiri.

Karangan ini saja tidak cukup membekali anda dengan keterampilan seorang penulis yang baik. Anda harus berusaha untuk menambah bekal dengan cara membaca sebanyak-banyaknya.

Hanya dengan cara itulah anda bisa semakin memahami seluk beluk penulisan dan akhirnya menguasainya.

Sekarang ini hampir setiap koran memuat berbagai macam karangan secara teratur di samping majalah dan buku yang semakin banyak diterbitkan. Tentu saja tidak semua karangan itu ditulis dengan sebaik-baiknya, tetapi paling sedikit anda akan bisa mendapatkan denga membaca sebanyak-banyaknya.

Kosa kata, cara penyusunan kalimat dan alinea, penentuan gagasan – semua itu dapat anda dapatkan dari membaca sebanyak-banyaknya.

Dengan membaca anda juga bisa mengenal berbagai bentuk gaya menulis, dan nantinya anda bisa mengembangkan salah satu gaya yang anda sukai dan kuasai. Gaya penulisan inilah yang sebenarnya paling sulit diajarkan; ia akan berkembang dengan sendirinya setelah anda membaca luas.

Tulisan ini juga akan berusaha untuk menunjukkan perbedaan utama antara karangan yang buruk dan yang baik, sehingga anda mempunyai.

Pengetahuan Dasar Tata Bahasa

Yang kita bicarakan adalah karang-mengarang dalam bahasa Indonesia. Setiap bahasa mempunyai aturan-aturan tertentu yang meliputi beberapa hal antara lain dalam hal pembentukan kata, penyusunan kalimat, dan penggunaan kata. Aturan-aturan itu ada yang keras, artinya sama sekali tidak boleh dilanggar, da nada yang lunak, artinya ada beberapa pilihan.

Itu semua disebut tata bahasa. Siapa pun yang ingin menulis karangan dalam bahasa Indonesia harus menguasai tata bahasa Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Tanpa penguasaan itu ia hanya akan menghasilkan karangan yang tidak terbaca, atau meskipun terbaca akan mudah menimbulkan salah paham.

Penguasaan tata bahasa dalam hal ini tidak berarti hapal istilah-istilah tata bahasa yang sangat banyak jumlahnya itu, tetapi berarti mampu menerapkan aturan-aturannya  dengan baik.

Kita ambil sebuah contoh berita berikut ini:
Pembangunan masjid Jami Purworejo hingga kini baru selesai tahap pertama, untuk menyelesaikannya masih diperlukan biaya Rp 32 juta lagi.
            Pemugaran tahap pertama di bagian serambi dengan menelan biaya Rp 24,5 juta, di antaranya bantuan presiden.

Contoh ini diambil dari harian Sinar Harapan (13/12/1977). Meskipun susunan kalimat-kalimat dalam berita yang disampaikan penulisnya. Tata bahasa masih diterapkan dengan memadai. Tetapi seandainya berita tersebut disusun seperti di bawah ini, masihkah kita bisa menangkap isinya:
            Jami, masjid pembangunan Purwerejo pertama, hingga tahap kini baru selesai. Masih Rp 32 juta. Diperlukan biaya lagi untuk menyelesaikannya.
            Pertama, tahap pemugaran serambi depan menelan presiden. Bantuan di bagian biaya Rp 24,5 juta
.


Contoh kedua itu, yang kami susun sendiri, terdiri dari sejumlah kata yang sama sekali tak berbeda dengan kutipan pertama. Tetapi perubahan letak kata dan penempatan tanda baca yang berlainan telah mengakibatkan kedua kutipan tersebut sama sekali berbeda isinya. Bahkan boleh dikatakan contoh kedua itu tak ada isinya sebab sulit sekali dipahami.

Alinea pertama mungkin masih mengandung isi, yang sama sekali berbeda dengan isi alinea pertama contoh pertama. Tetapi alinea kedua contoh kedua sama sekali tidak bisa dipahami, kecuali hanya sebagai kelakar.

Berita tersebut akan lebih parah lagi keadaannya seandainya si penulis sama sekali tidak mengindahkan aturan bahasa sehingga, misalnya, kata “pembangunan” diganti “perbangunan”, kata “diperlukan” diganti “memerlukan”, kata “untuk” diganti “terhadap”, dan seterusnya.

Apalagi kalau penempatan tanda baca semena-mena saja. Perlu selalu diingat bahwa tanda baca merupakan bagian yang sangat penting dalam tata bahasa, dan sering menjadi hal yang paling sulit diterapkan.

Karangan yang enak dibaca dan jelas maksudnya selalu ditulis menurut tata bahasa. Ada orang yang berpendapat bahwa beberapa sastrawan telah berhasil menciptakan karya sastra yang bagus tanpa mengindahkan tata bahasa sama sekali. Itu bohong besar. Tidak ada sastrawan besar yang tidak mengindahkan tata bahasa.

Tidak ada sastrawan besar yang tidak menguasai tata bahasa dengan sangat baik. Kalaupun dalam beberapa (alinea) karangannya nampak seolah-olah ia tidak mempedulikan tata bahasa, hal itu sebenarnya justru merupakan usahanya untuk memanfaatkan aturan yang sebaik-baiknya – agar apa yang dimaksudkannya bisa tersampaikan setepat-tepatnya.

Di samping itu kita harus pula selalu ingat bahwa sebenarnya ada bermacam-macam “tata bahasa” dalam bahasa mana pun, masing-masing sesuai untuk macam tulisan tertentu.

Tetapi anda tidak akan dibimbing untuk menjadi sastrawan besar. Oleh karena itu masalah di atas sebaiknya ditinggalkan saja. Kita sebaiknya sepakat untuk tunduk kepada aturan-atura yang ada dalam bahasa kita.

Hal itu bukan merupakan tugas yang sangat berat, sebab, seperti akan terbukti nanti, aturan-aturan tersebut tidaklah sekeras yang kita bayangkan.

Penggunaan Kamus

 Di samping  pengetahuan dasar tata bahasa yang baik, seorang penulis harus memiliki kosa kata yang memadai.

Dengan kosa kata yang terbatas ia bisa saja menyusun karangan, tetapi karangan tersebut pasti terasa membosankan dan hambar apabila ada terlalu banyak kata yang dipergunakan berulang-ulang.

Kosa kata yang terbatas juga bisa menyebabkan maksud penulis  tidak terkomunikasikan dengan semestinya. Ada berbagai cara untuk memperkaya kosa kata, antara lain membaca karangan orang lain dan membaca kamus.

Kamus diterbitkan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Menaruh kamus sebagai hiasan lemari buku belumm berarti memanfaatkannya. Seorang penulis yang baik harus selalu menyediakan kamus di sampingnya.

Jumlah kata begitu banyak dalam bahasa kita tidak mungkin dihapal seluruhnya; tidak setiap kata yang kita temui dalam karangan kita ketahui artinya. Lagi pula ada kata yang memiliki berbagai arti, da nada suatu arti yang bisa diwakili oleh berbagai kata. Hal itu menjadi masalah kita semua, baik sebagai pembaca maupun –dan terutama sekali – sebagai penulis.

Ada bermacam-macam kamus yang beredar, antara lain kamus istilah, kamus sinonim, dan kamus umum. Daam hal-hal tertentu, kamus-kamus itu besar sekali peranannya dalam membantu kita menyusun karangan.

Kalau kita menulis karangan yang menyinggung masalah kegagalan panen, misalnya, kamus istilah pertanian bisa sangat berguna. Dengan membaca kamus itu kita tidak akan membuat kesalahan yang memalukan, seperti misalnya menganggap hama wereng mempunyai bentuk seperti tikus sawah.

Kamus sinonim sangat bermanfaat apabila kita berusaha agar karangan kita tidak membosankan karena menggunakan kata-kata yang itu-itu saja.

Kalimat “Penulis telah berhasil menulis beberapa tulisan” akan lebih tidak menjemukan apabila diubah menjadi “Pengarang itu telah berhasil menyelesaikan beberapa tulisan” atau “Penulis itu telah berhasil menciptakan beberapa karangan.

Kamus umum yang baik mampu menolong kita dalam berbagai hal. Di samping memberikan batasan arti setiap kata yang dicantumkan di dalamnya, ia juga memberikan contoh penggunaannya.

Dalam kamus umum diperlihatkan bahwa tidak sedikit kata yang memiliki berbagai arti, kata-katang sudah tidak jelas lagi hubungan antara satu dan yang lain – bahkan ada yang sama sekali tidak ada hubungannya.

Coba anda perhatikan dua buah kalimat berikut ini:
  1. Jarak antara jarak-jarak di pagar itu rapat sekali.
  2. Keganasan harimau jadi-jadian itu semakin menjadi-jadi. Puncaknya terjadi ketika orang-orang sedang merayakan hari jadi desa itu.
Biasanya kita beranggapan bahwa kamus tidak begitu berguna; sebagai orang Indonesia ktia toh sudah menguasai bahasa Indonesia dengan sempurna, begitu pikir kita.

Pikiran demikian sama sekali keliru. Penulis yang tidak mau atau malas membuka kamus biasanya bukanlah orang yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.

Sastrawan yang besar pun biasa membuka-buka kamus, apalagi orang yang baru belajar karang-mengarang.

Kadang-kadang keengganan membaca kamus disebabkan karena rasa malu saja; mencari arti atau kata dalam kamus sama sekali bukanlah hal yang memalukan.

Kegiatan itu justru menunjukkan ketelitian. Penulis adalah orang yang mempergunakan kata-kata sebagai alat, oleh karenanya ia harus sangat teliti dalam menggunakan alatnya itu.
***

(Ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, dimuat di majalah Pengajaran Bahasa dan Sastra, Tahun III No.1 1977)

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...