Surat Singkat tentang Esai

18.43
Esai, Asrul Sani, Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer

Esai – Orang katakan bahwa sebuah esai lahirlah. Dan dengan ini orang hendak mengatakan bahwa yang lahir itu bukan kisah dan bukan sajak.

Toh sebelumnya kita belum tahun juga lagi apa sebenarnya yang telah muncul itu, karena di samping perkataan esai itu ada lagi perkataan “telaah” (studie) yang dalam pelaksanaannya hampir menyerupai esai.

Tak usah dikatakan lagi bahwa esai itu pada hakikatnya adalah percobaan, tetapi telaah pun sebetulnya tidak lebih dari percobaan bahkan kalau kita teruskan, maka roman pun, sajak pun pada dasarnya adalah percobaan.

Esai adalah pintu bersembunyi bunyi dari kehendak yang hendak mengatakan “beginilah sebenarnya”. Jadi, esai adalah permintaan kerelaan. Ini barangkali membikin penggolongan ke dalam esai ini menjadi sesuatu yang bersifat main sandiwara, tetapi semenjak segala ayam-ayam di jalan raya hampir telah umum mendengar perkataan “esay”, maka tidak ada gunanya kita mempertengkarkan apakah seorang esais lebih rendah atau lebih tinggi dari penyair atau pengarang roman (perasaan ini mungkin timbul, karena orang pernah mengatakan bahwa pengeritik sebetulnya adalah seniman yang kandas), seperti juga tidak ada gunanya mempertengkarkan, apakah jantung berdebar karena pekerjaan urat saraf atau otot.

Dalam menuliskan rententan kalimat yang tertera di atas ini, saya berusaha mengemukakan hal-hal yang berdasarkan karangan-karangan yang umum dianggap redaktur-redaktur atau pengertik kesusaasteraan sebagai “esay”. Seringkali saya harus bantah bahwa yang dikemukakan itu adalah esai.

Esai belum lagi begitu lama dianggap sebagai bentuk seni dalam seni sastera. Orang tidak begitu pasti untuk dapat menggolongkannya kepada salah satu bentuk yang ada. Apakah penciptanya sarjana ataukah seniman?

Akhirnya orang mengatakan juga, bahwa esai harus mengandung nilai keindahan. Saya tidak menentang perkataan “keindahan”, tetapi tafsir dari perkataan ini begitu banyak dan begitu bergalau, sehingga saya berasa seolah-olah saya tidak bertambah maju oleh karenanya.

Tetapi biarpun kita biarkan perkataan “keindahan” ini menyinggung kita seperti angin pagi mengelus-elus wajah, masih juga kita akan bertanya, apa betulkah yang indah itu adalah sesuatu yang membuat kita senang.

Kaum eksistensialis mengatakan bahwa kehidupan ini ditandai oleh kemulaan. Ini ada juga benarnya. Apakah kita sekarang harus mengatakan bahwa hidup ini tidak indah dan dengan demikian kita mengambil pisau belati lalu dengan cermat memotong-motong usus kita sampai bisa dijadikan sate?

Dengan perkataan “keindahan” belum lagi kita dapat menentukan tempat untuk esai.
Kebimbangan untuk mula-mula mengakui esai sebagai hasil seni, ialah karena esai lebih lagi daripada sajak bergantung pada zaman hidup pembikinnya, sehingga harga abadinya agak dilalaikan orang.

Tetapi kalau kita temukan esai-esai besar seperti esai Montaigne misalnya, atau Surat-Surat Parsi Montesquieu yang juga dapat dianggap esai yang sampai sekarang masih “laku”, maka ketakutan akan dimakan waktu ini segera dapat dihindarkan.

Ada esai yang panjang umurnya dan sajak yang pendek umur. Akhirnya esai adalah puisi. Seperti juga penyair mendasarkan sajaknya kepada pengalaman roh dan jadadnya, demikian pula esais menghendaki pengalaman hidup.

Pengarang yang memendam dirinya dalam kamar studie tidak mungkin dapat “menemui” esai yang sebenarnya, di mana suara hati jelas kedengaran seperti di dalam sajak-sajak, di mana segala-galanya diperlagakan seperti Cervantes memperlagakan tokohnya dalam Don Quixote, seperti Flaubert dalam Madame Bovary—ah, akhirny karangan-karangan yang disebut di atas ini adalah esai-esai yang diperjalang—dan di mana tidak ditemui…, teori-teori mentah, di mana kita temui “sajak-sajak” dalam kumpulan yang dipisahkan.

Ia bersifat kesusasteraan bukan karena masalahnya tetapi karena sesuatu yang mula-mula hanya memang dimengerti oleh pengarang, tetapi yag kemudian tidak lagi dapat dipisahkan dari darah dagingnya.

Ia mungkin sekali mengemukakan sekaligus sepuluh soal—seperti pengarang roman mungkin mengeluarkan sepuluh tokoh—tetapi tiap-tiap soal, tiap-tiap kata, tiap-tiap citaat ada kewajibannya, seperti juga tiap-tiap garis dan warna punya kewajiban dalam lukisan.

Tidak ada keberatannya mengemukakan contoh-contoh dari buku-buku ini sebagai titik lompatan, seperti yang Pramoedya Ananta Toer sering lakukan. Sebagai salah sebuah contoh dapat kita baca Kebalauan Hari Ini II, kepunyaan Ananta Toer dalam Mimbar Indonesia. Ia mengambil Vercors, Das Buch le Grand dari Heine dan banyak yang lain-lain lagi.

Tetapi pengambilan-pengambilannya ini tidak punya fungsi sama sekali, bahkan juga tidak sebagai sesuatu yang dapat memperkuat “tension” karangannya. Akhirnya kita mendapat kesan bahwa Ananta Toer hanya “melagakkan” bahwa dia akhir-akhir ini memang ada membaca buku, biarpun inti buku itu sering-sering lepas dari tangkapannya.

Dengan demikian, dapatlah esai dianggap hasil seni.

Saudara akan mengatakan bahwa pertandaan ini akan meragukan dalam pembagian kesusasteraan. Saya tidak mau melingkari sanggahan ini: biarpun tidak dengan pertandaan yang saya kemukakan di atas, pembagian itu memang sulit juga dijalankan.

Prosa dan puisi adalah seolah-olah dua sungai yang berhubungan, tidak diketahui mana batas air sungai yang satu dengan yang lain.

Perbedaan antara sajak dan esai ialah lebihnya kadar ideologi dalam esai.


Siasat, 1 April 1951


(Asrul Sani, Surat-Surat Kepercayaan, ‘Surat Singkat tentang Esai’, Pustaka Jaya: 1997, halaman 130-132)

Baca juga tulisan Asrul Sani yang lain: Chairil Anwar

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...