Fungsi Puisi untuk Masyarakat

02.29
Fungsi Puisi untuk Masyarakat


Fungsi puisi - Di luar proses penciptaanya, puisi dapat memberikan impuls positif untuk masyarakat. Seperti diungkapkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kegiatan berpuisi yang mencakup mencipta maupun membaca puisi dapat menyokong “kebulatan jiwa” manusia yang telah terkikis oleh rasionalisme dan materialisme.

Takdir mengatakan bahwa rohani manusia membutuhkan penyeimbang untuk mengatasi merosotnya perasaan, intuisi, tanggung jawab, dan solidaritas yang kini semakin terkikis kemajuan teknologi. Bisa dikatakan kehadiran puisi bagi masyarakat dapat menghaluskan budi pekerti manusia. Pasalnya, puisi adalah cerminan keseimbangan karena membuat pembaca menjaga jarak dengan realitas.

Itu sebabnya, Takdir menyambut baik perpuisian Indonesia yang menurutnya telah sampai pada tingkat “indivudualisme” yang jauh. Pengertian individualisme tersebut pernah ia ungkap dalam sebuah esainya: “Agaknya, bedanya dengan individualis yang lain ialah bahwa individualisme saya adalah membebaskan diri untuk kemauan sendiri mengikatkan diri kembali kepada
masyarakat dan kebudayaan.”

Dengan demikian, corak-corak baru dalam perpuisian di Indonesia yang timbul pada suatu periode tertentu merupakan gejala-gejala yang sehat, tetapi mereka (baca: penyair) tidak hanya sekadar melepaskan diri dari bayang-bayang tradisi kesusasteraan para pendahulunya, melainkan ikut-serta secara aktif terlibat dalam kehidupan masyarakatnya.

Tujuan itu dapat tercapai dengan mengharapkan agar, “puisi kita pun mesti naik meninggi dan lebar meluas, sehingga menjadi tenaga positif dalam krisis kebudayaan semesta yang meliputi dunia sekarang.”

Pada pihak lain, Octavio Paz melihat puisi sebagai suara kalbu atau suara asali dari penyair. Puisi adalah lambang dari kejujuran; suara puisi adalah kebenaran yang paling mendasar. Dalam kalimatnya ia mengatakan: “... (puisi) mengingatkan kita tentang realitas-realitas tertentu yang terkuburkan, memulihkan kembali realitas-realitas itu ke kehidupan dan menampilkannya.”

Ia juga mengatakan bahwa puisi merupakan suara lain, the other voice, di antara agama dan revolusi. Bagi Paz, puisi baru dapat dikatakan modern apabila “sifat dan fitrahnya yang mendalam, juga karena suara dan pengaruhnya yang antimodern, suara yang mengekspresikan realitas-realitas yang tetap, terhadap, dan jauh lebih tua dibanding perubahan-perubahan sejarah.”

Meskipun situasi zaman terus berubah, dari abad ke abad, tetapi nilai puisi yang esensial itu tak akan terpengaruh oleh segala bentuk situasi, sebab, “ketika mereka (penyair) menjadi diri mereka sendiri, pada saat itu pula, mereka adalah orang-orang lain.”

Hakikat puisi yang terdalam tidak ditentukan oleh penemuan-penemuan dari pemikiran tertentu manusia, sebab hakikat itu telah lahir semenjak manusia ada dan telah berusia tua maupun muda dan juga lintas zaman dan generasi. (Redaksi/PYN)

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...