Pengertian Mimetik

02.46
Pengertian Mimetik dalam sastra


Pengertian mimetik - Menurut asal bahasanya, mimetik berasal dari bahasa Yunani, yakni mimesis yang sejak dahulu digunakan sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara karya seni dan kenyataan. Pada awalnya istilah mimesis mencuat ke permukaan karena perdebatan antara Plato dan Aristoteles.

Perdebatan tersebut terus berkembang dengan konsep-konsep yang diperbaharui hingga di kemudian hari ada seorang sarjana, yakni M.H. Abrams, yang membagi empat pendekatan dalam sastra lewat bukunya The Mirror and the Lamp, antara lain pendekatan objektif, pendekatan ekspresif, pendekatan pragmatik, dan pendekatan mimetik.

Seperti diartikan dari bahasa Yunani, mimetik juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang memiliki terjemahan yang berlainan: imitation dan representation. Jan van Luxemburg dkk berpendapat bahwa sastra tak dapat dimungkiri berasal dari kenyataan, begitu pun sebaliknya terdapat tuntutan dari sastra agar mencerminkan kenyataan.

Agar lebih jelas pangkal pokok pembicaraan mengenai mimetik, agaknya perlu kembali menyimak perdebatan Plato dan Aristoteles mengenai hubungan antara karya seni dan kenyataan dari zaman Yunani kuno.

Gagasan mimetik Plato dipengaruhi oleh pendirian filsafatnya yang bersifat hierarkis. Seperti pikirannya mengenai tataran tentang Ada yang masing-masing mencoba melahirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Bagi Plato, dunia empiris tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, peneladanan, pembayangan ataupun peniruan.

Dalam pandangan demikian, seni hanya dapat menyarankan kenyataan atau merupakan copy atas kenyataan (realitas) yang ada. Seperti dikemukakan oleh Matius Ali, bahwa mimetik merupakan tiruan dari yang ”asli” dari dunia Idea. Plato menyebut karya seni sebagai ”tiruan dari” (mimesis-memeseos). Atau dengan kata lain, karya seni sebenarnya adalah tiruan dari tiruan; tingkat kenyataan ”asli” berasal dari tingkat dunia Idea.

Kesempurnaan yang ideal atau mutlak tidak terdapat dalam suatu karya seni, meskipun Plato mengakui sendiri bahwa ”seni yang sungguh-sungguh” berupaya mengatasi kenyataan sehari-hari. Yang dimaksud seni yang sungguh-sungguh itu adalah seni yang benar atau truthful, dan si seniman harus bersikap rendah hati atau modest.

Oleh sebab itu, mengapa Plato menganggap kerja tukang lebih mendekati kenyataan ketimbang seniman. Ia juga menampik kehadiran puisi, sebab puisi (termasuk seni lainnya, kecuali seni musik) hanya mengumbar nafsu-nafsu rendah yang menyebabkan irasionalitas berkembang dalam suatu negara, bukannya justru memperkuat rasio atau nalar.

Di pihak lain, Aristoteles berlainan pendapat dengan Plato. Aristoteles mengatakan bahwa seni justru ”menyucikan jiwa manusia” melalui proses yang dinamakan katharsis. Penekanan terhadap nafsu-nafsu rendah disanggah Aristotels sebab karya seni justru membebaskan dari nafsu rendah tersebut atau dalam kalimat Teeuw: ”karya seni mempunyai dampak tetapi lewat pemuasan estetik keadaan jiwa dan budi manusia justru ditingkatkan, dia menjadi budiman.”

Aristoteles juga berpendapat bahwa seniman lebih tinggi hasil kreativitasnya daripada tukang karena karya seni menampilkan dunia yang tidak sekadar meniru, melainkan menampilkan kemungkinan-kemungkinan dunia melalui tafsir atau interpretasi. Karya seni tidak berhenti begitu saja setelah selesai diciptakan oleh seniman, tetapi terus dalam keadaan ”baru” (terutama untuk karya seni yang bermutu) pada setiap pembaca.

Jika Plato mengatakan seni adalah imitasi dari suatu keterangan yang bijaksana, sebagai perwujudan suatu idea, maka Aristoteles mengatakan bahwa seni tidak hanya tiruan dari suatu benda yang ada di alam, tetapi lebih sebagai ”tiruan dari sesuatu yang universal” (imitation of something that is universal).

Apabila ditelusuri ke sejarahnya, maka mimesis pertama-tama berurusan dengan hasrat untuk meniru segala sesuatu, yakni ketika bersentuhan dengan alam semesta. Hasil-hasil kebudayaan prasejarah membuktikan hal itu melalui gambar-gambar relief, batu-batu yang dipahat seperti arca, atau candi.

Muhammad Al Fayyadl mengatakan demikian: ”Hasrat mimetik ini tak pernah padam, karena sepanjang hidupnya manusia selalu mengimpikan dirinya seperti sesuatu yang ia tiru. Impian ini merupakan bentuk kerinduan akan arkhe yang transenden dan ideal.”

Pengertian mimesis secara etimologi dibagi menjadi oleh Fayyadl dengan menyitir pendapat Derrida: (1) kehadiran yang menunjuk pada kemampuan sesuatu untuk menghadirkan, memproduksi, melahirkan, dan menampakkan dirinya dalam suatu bentuk citraan, kesan, atau impresi; (2) hubungan antara dua hal yang setara dan tidak memiliki prioritas ontologis. (Redaksi/PYN)

Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...