Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra

02.59
Pengertian Pendekatan Sosiologi Sastra


Pendekatan sosiologi sastra - Sosiologi sastra merupakan sebuah pendekatan yang mengungkap keterhubungan antara karya sastera dan masyarakat (publik). Aktivitas sosiologi sastra berada pada luar ranah sastra (berkebalikan dengan psikologi sastra), tetapi bukan berarti lahirnya karya sastra tanpa pengaruh lingkungan sosial-budaya di mana si sastrawan tersebut tinggal dan hidup.

Dalam hal ini juga, pemikiran sosiologi sastera Andre Hardjana berangkat dari situasi sosial-budaya sebagai landasan bagi sasterawan untuk menciptakan karya kreatifnya. Karena begitulah yang terjadi pada roman-roman awal kesusasteraan modern Indonesia yang banyak mengangkat realitas adat-istiadat setempat. Andre berkata: “..bahwa roman-roman awal sastra Indonesia menunjukkan tata kemasyarakatan yang ada dan sekaligus juga melukiskan tafsiran dari tata kemasyarakatan tersebut.”

Tetapi pendekatan yang terlampau sosiologis terhadap karya sastera tidaklah dapat dijadikan acuan mutlak untuk menentukan makna dan nilainya, sebab hal itu bisa menyebabkan pandangan yang fragmental. Pengidentikkan unsur-unsur tertentu di dalam karya sastra dengan sesuatu di luar karya sastra sebagai suatu kebenaran merupakan satu contoh dari penyempitan interpretasi. Hasilnya berupa dogmatisme maupun fanatisme yang membela kepentingan-kepentingan yang bersifat politis ketimbang dari cara mendekati karya sastra itu sendiri.

Lebih jauh Andre mengatakan demikian: “Pembahasan sastra semata mata atas suatu karya sastra politik adalah dangkal dan menyesatkan karena tidak sampai pada titik-titik yang tersembunyi di balik peristiwa sastra itu.

Dalam pada itu, Andre juga tidak mengesampingkan posisi sastrawan sebagai pihak yang memproduksi karya sastra. Ia berpendapat:

“Akhirnya memang harus diakui bahwa seorang pengarang dapat belajar
pengetahuan sosial dan berlatih kepekaan sosial dari ilmu sosiologi, hingga
dapat membuat sastranya lebih berbobot dan mesra dalam pergulatan
dengan dunianya dan lebih terasa nyata bagi pembacanya. Tetapi terlalu
menonjolkan pengetahuan sosial, termasuk politik dan ideologi, tanpa
dibarengi oleh kelincahan menulis dan daya khayal yang kuat hanya akan
melahirkan tulang kerangka ideologi yang tidak berdarah daging.”

Sementara itu, Robert Escarpit membahas sosiologi sastra dengan menggunakan fakta sastra. Fakta sastra terbagi atas pencipta, karya, dan publik. Masing-masing fakta sastra memiliki “persoalan teknis” sendiri.

Di sepanjang uraiannya mengenai sejarah perkembangan sosiologi sastra, ia sampai pada maksud utama yang hendak dibahasnya, yaitu masalah politik perbukuan. Ia menyebutkan bahwa sosiologi sastra harus dapat memperhatikan kekhasan fakta sastra serta memberikan keuntungan kepada para pengarang dan pembaca dengan cara membantu ilmu sastra tradisional, baik sejarah maupun kritik, agar menjadi tugas-tugas khusus yang dicakupnya.

Dengan demikian, pernyataan Escarpit itu sejalan dengan simpulan Sapardi Djoko Damono, bahwa sastra dilihat sebagai buku, tidak hanya pikiran kita yang mempertanyakan bagaimana dan seperti apa sastra itu seharusnya.

Sedangkan dalam buku Pedoman Penelitan Sosiologi Sastra Sapardi melihat kecenderungan penelitian dalam sosiologi sastra dari aspek dokumenter yang berlandaskan pada keadaan zaman sebagai cerminan sosial. Sapardi juga mengangkat gagasan Swingewood mengenai slogan “sastra sebagai cerminan masyarakat”. Dalam pada itu, slogan itu seringkali melupakan pengarang, kesadaran, dan tujuannya. Ketiga hal itu melahirkan peralatan sastra tertentu yang tidak sekadar menggambarkan masyarakat.

Karena itu, untuk melakukan pendekatan sosiologi, peneliti dan kritikus sastra harus memerhatikan dua hal berikut:
  • Peralatan sastra murni yang dipergunakan pengarang untuk menampilkan masa sosial dalam dunia rekaannya, dan
  • Pengarang itu sendiri, lengkap dengan kesadaran dan tujuannya dalam menulis karyanya. (Redaksi/PYN)
Baca juga: Pengertian Mimetik

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...