Aliran Sastra Naturalisme

18.07
Aliran Sastra Naturalisme

Naturalisme adalah aliran sastra yang menekankan pada metode ilmiah dan observasi dalam menggambarkan realitas dalam karya fiksi. Namun, dua buah istilah yang berbeda pengertiannya jadi agak kabur: naturalisme dan realisme. Keduanya sering dipertentangkan orang dengan idealisme.

Naturalisme sebagai suatu aliran dalam sastra mengingatkan kita pada nama Emile Zola (1840-1902). Penggambaran adegan hubungan seksual dalam novel-novelnya begitu natural, polos atau blak-blakan.
Menurut Literariness, pada zamannya Emile Zola mengemas novelnya lebih ekstrem daripada aliran realisme. Dalam sastra modern, aliran Zola ini dikenal sebagai naturalisme yang menggunakan dorongan ilmiah untuk mendasarkan karakter tokoh dan peristiwa. Teori fiksi Zola ini pun segera menjadi tonggak kemajuan ilmiah pada abad ke-19. Zola sangat sadar akan gerakan naturalisme yang menuju pembatasan penyelidikan seseorang hanya ke ranah alam, yakni alam sains yang bertentangan dengan supranatural. Selain itu, ia melihat sastra naturalistik sebagai perpanjangan gerakan positivistik yang jauh lebih luas.
Kalau kita menoleh pada novel-novel dalam negeri, seperti karangan Motinggo Busye atau Abdullah Harahap macamnya.

Namun masalahnya bukanlah pada tema seksualitas itulah maka disebut orang naturalisme. Sebenarnya adalah terletak pada sikap pengarang, pada naivitas (sikap kekanakan yang polos, jujur, dan terus terang) yang mereka terapkan sewaktu mengarang.

Mengenai tema seksualitas itu sendiri, sebagian orang berpendapat bahwa Zola menyiasati dunia mesum -- sesuatu hal yang tabu. Tetapi bagi Emile Zola (pengarang naturalis pada umumnya) tema seksualitas pada hakikatnya sesuatu yang wajar saja dalam kehidupan manusia.

Kita jangan sok moralis, kata Zola. Yang pokok, kata dia, pengarang mesti menjaga jangan sampai dirinya tergelincir pada pornografi.
Naturalisme Zola membawakan suatu penggambaran eskplisit ihwal seksualitas dan tubuh. Dalam novel Nana, misalnya, merepresentasikan suatu verisimilitude erotis. Kekuatan seks di Nana membalikkan hierarki kelas: mengubah laki-laki penindas menjadi tertindas.
Pada saat pengarang dan penyair menanggalkan obyektivitas dirinya, jelasnya manakala mereka mulai bersikap subyektif maka pada saat itulah kiranya naturalisme menggelinding jatuh untuk kemudian digantikan oleh realisme.

Puisi anak-anak (baik yang ditulis oleh anak-anak maupun orang dewasa) pada hakikatnya adalah naturalisme.

Puisi remaja pada umumnya berwarna realisme. Begitu pula sajak-sajak protes yang ditulis Taufiq Ismail, Mansur Samin, dll di masa demonstrasi tahun 1966 tempo hari termasuk realisme -- mereka menganut aliran realisme dalam kurun waktu itu.

Dan kadar subyektivitas mungkin saja semakin besar sehingga menimbulkan suatu kecenderungan sikap memihak yang ekstrem (berat sebelah) dan ini terbukti dengan kehadiran sajak-sajak kaum Lekra/PKI tempo hari -- mereka menganut aliran realisme-sosialis.
Menurut Soviethistory, realisme sosialis adalah gerakan seni yang unik karena merupakan satu-satunya gerakan seni resmi Soviet yang pertama kali dideklarasikan pada Kongres Pertama Penulis Soviet pada Agustus 1934. Gerakan seni ini berakar dan kelanjutan dari tradisi realis Rusia yang dibawakan oleh Leo Tolstoy. 
Dalam alinea pertama di atas telah disinggung bahwa naturalisme/realisme sering dipertentangkan orang dengan idealisme, ini dalam dunia filsafat.

Simbolisme dan imagisme sebagai aliran sastra, semuanya berlandaskan idealisme tersebut.

Untuk jelasnya di bawah ini saya nukilkan secara berturut-turut contoh sajak-sajak yang digelimangi warna naturalisme, realisme, simbolisme, dan imagisme:

Doa Seorang Pencuri

Rabbi
tuhan kami
tuhan kaum yang disakiti
diganggu lapar selalu
aku pencuri
kailber teri
ketagihan kopi
dan takut benar sama mati
menunggu lena sang malam
kalau-kalau pintu lupa dikunci
Rabbi
limpahkan rizki malam ini
sebelas butir telur negeri
ada di kandang ini
mau kucuri
bismillah.

(Bintangdini/Muhammad Ali, hal 12)

Tekad

Aksimuda yang menggugat kota Jakarta
Bisa tumpas tapi tak bisa binasa
Sebab telah mendarah tekad perlawanan
Rakyat menetang lapar dan penindasan.

(Perlawanan/Manusur Samin, hal 22)

Burung Terbakar

Ada burung terbang dengan sayap terbakar
dan terbang dengan dendam dan sakit hati
Gulita pada mata serta nafsu pada cakar
Mengalir arus pedih yang cuma berakhir di mati

Wahai sayap terbakar dan gulita pada mata
Orang buangan tak bisa lunak oleh kata
Dengan sayap terbakar dan sakit hati tak terduga
si burung yang malang terbang di sini: di dada!

(4 Kumpulan Sajak/WS Rendra, hal 50)

Mata Pisau

mata pisau itu tak berkejap menatapmu:
kau yang baru sajak mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

(Mata Pisau/Sapardi Djoko Damono, hal 22)


[Putu Arya Tirtawirya, 1982]

Baca juga: Hakikat Cerita Pendek
Baca juga: Struktur Sebuah Cerpen
Baca juga: Pedoman Mengarang Cerpen

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...