Analisis Semiotik Puisi

23.01
Analisis Semiotik Puisi

Analisis semiotik puisi – Tujuan dari menganalisis puisi adalah untuk memahami makna dari puisi.  Menganalisis puisi merupakan salah satu cara untuk memberi makna pada teks puisi. Sebagai salah satu genre karya sastra, puisi memiliki struktur yang bermakna dan berlapis-lapis. Hal itu tak lain bahwa karya sastra adalah sistem tanda yang mempunyai makna dengan menggunakan bahasa sebagai medium.

Medium dalam sastra adalah bahasa yang merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yakni sistem tanda yang memiliki arti. Bisa dibilang, medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas atau netral, sebagaimana bunyi pada seni musik atau cat warna pada lukisan.

Pada dasarnya, warna cat sebelum dipakai dalam lukisan sifatnya netral, belum berarti apa pun. Sedangkan kata-kata pada suatu bahasa sebelum dipakai dalam karya sastra merupakan lambang yang sudah memiliki arti yang ditentukan dalam konvensi atau perjanjian dalam masyarakat bahasa.

Perlu diketahui bahwa lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan yang berupa satuan bunyi memiliki arti berdasarkan konvensi dalam masyarakat tersebut. Itulah sebabnya, bahasa adalah sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi masyarakat. Nah, sistem tanda ini disebut dengan semiotik. Begitu juga ilmu yang mempelajari sistem tanda juga disebut semiotika atau semiologi.

Sebelum lebih jauh membicarkan semiotik, berikut ini beberapa pengertian tentang semiotik yang perlu Anda ketahui.
Menurut Thoughtco, semiotik adalah studi mengenai tanda dan simbol, khususnya ketika kita mengkomunikasikan sesuatu yang diucapkan dan tidak diucapkan. Contoh umum dari semiotik adalah rambu-rambu lalu lintas atau emotikon yang digunakan dalam komunikasi elektronik, logo atau merek yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk menjual sesuatu kepada pembeli setia (brand loyalty). Dengan kata lain, semiotik disebut sebagai teori dan studi tentang tanda dan simbol, terutama simbol sebagai elemen bahasa atau sistem komunikasi.
Menurut Study, semiotika adalah studi tentang sistem tanda. Semiotika mengeksplorasi bagaimana kata-kata dan tanda-tanda membuat makna. Dalam semiotika, tanda adalah segala sesuatu yang berdiri untuk sesuatu selain dirinya sendiri. Semiotika berfokus terutama pada tanda-tanda linguistik. Para sarjana linguistik modern memahami kata-kata tidak memiliki makna bawaan. Artinya, ketika kita mengucapkan kata "kelinci", maka itu bukan karena suara atau simbol huruf itu ada hubungannya dengan herbivora berbulu dan berkuping panjang tersebut. Sebenarnya, kata, suara, dan huruf semuanya tidak berhubungan langsung dengan makhluk yang kita sebut kelinci, kecuali bahwa manusia memberi nilai atau nama "kelinci" kepada binatang tersebut.
Menurut Encyclopedia Britannica, semotika atau juga disebut semiologi merupakan studi tentang tanda-tanda dan perilaku yang menggunakan tanda. Oleh salah satu pendirinya, Ferdinand de Saussure, semiotika didefinisikan sebagai studi mengenai "kehidupan tanda-tanda dalam masyarakat". Meskipun istilah ini digunakan pada abad ke-17 oleh filsuf Inggris John Locke, ide semiotika sebagai modus interdisipliner yang dipakai untuk memerika fenomena tanda justru muncul di bidang yang berbeda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Saussure dan filsuf Amerika Charles Sanders Peirce.
Pertama-tama, hal yang paling penting di dalam ranah semiotik ialah lapangan sistem tanda atau pengertian tentang tanda itu sendiri. Maka itu, dalam pengertian tanda terdapat dua prinsip: petanda atau signifier atau bermakna yang menandai dan berbentuk tanda; dan petanda atau sifnified yang berarti ditandai atau merupakan arti tanda.

Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, terdapat tiga jenis tanda yang pokok, yakni ikon, indeks, dan simbol. Di bawah ini akan dijelaskan ketiga jenis tanda tersebut.
  • Ikon merupakan tanda hubungan antara penanda dan petandanya yang bersifat persamaan bentuk alamiah. Misalnya, potret orang yang menandai orang yang dipotret; gambar kuda itu menandai kuda yang nyata.
  • Indeks ialah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya, asap itu menandai api; suara itu menandai orang atau sesuatu yang mengerluarkan suara.
  • Simbol ialah tanda yang tidak menampakkan hubungan alamiah antara petanda dan penandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer (manasuka) atau semau-maunya; hubungannya berdasarkan konvensi atau perjanjian masyarakat.
Sebuah sistem tanda yang pokok dan menggunakan lambang adalah bahasa. Arti simbol ditentukan oleh masyarakat. Misalnya, kata “ibu” bisa bermakna “orang yang melahirkan kita” itu terjadinya atas konvensi masyarakat bahasa Indonesia. Namun, masyarakat bahasa Inggris menyebutnya “mother” dan Prancis menyebut “la mere”.

Bahasa adalah sistem tanda yang di dalam karya sastra menjadi medium dan termasuk sistem tanda pada tingkat pertama. Dalam ilmu tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda pada tingkat pertama itu disebut dengan meaning (arti).

Karya sastra, di samping itu, juga termasuk sistem tanda yang didasarkan atas konvensi masyarakat sastra. Pasalnya, karya sastra merupakan sistem tanda yang lebih tinggi kedudukannya dari bahasa. Maka dari itu, disebut sebagai sistem semiotik tingkat kedua.

Bahasa tertentu itu mempunyai konvensi tertentu pula, dalam sastra konvensi bahasa itu disesuaikan dengan konvensi sastra. Lalu dalam karya sastra, arti kata-kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra. Dengan demikian, muncullah arti baru, yakni arti sastra tersebut. Dengan kata lain, arti sastra itu adalah arti dari arti (meaning of meaning). Untuk membedakannya dari arti bahasa, arti sastra itu disebut makna atau sifnificance.

Harus ditambahkan di sini, yang dimaksud makna sajak itu bukan semata-mata arti bahasanya, melainkan arti bahasa dan suasana, perasaan, intensitas arti, arti tambahan atau konotasi, dan pengertian yang muncul dari tanda-tanda kebahasaan yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Misalnya, baris puisi, ulangan, tipografi, enjabement, sajak, dan lain sebagainya.

Walaupun sastra itu dalam sistem semiotik tingkatannya lebih tinggi ketimbang bahasa dan sastra tidak bisa lepas dari sistem bahasa. Dalam artian ini, sastra tidak bisa lepas sama sekali dari sistem konvensi bahasa.

Hal tersebut bisa terjadi oleh apa yang sudah dikemukakan, yakni bahasa itu merupakan sistem tanda yang memiliki arti berdasarkan konvensi tertentu. Sastrawan dalam membentuk sistem dan maknanya dalam karya sastra harus pula mempertimbangkan konvensi bahasanya. Soalnya, jika ia sama sekali meninggalkannya, maka karyanya tidak dapat dimengerti dan dipahami pembaca lantaran telah berada di luar perjanjian yang disepakati secara konvensional.

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas, mengkaji dan menganalisis puisi tidak bisa lepas dari analisis semiotik. Puisi secara semiotik merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna serta ditentukan oleh konvensi masyarakat setempat.

Memahami puisi tidak lain dari memahami makna puisi. Sebagaimana menganalisis puisi merupakan usaha menangkap makna pada teks puisi.

Makna puisi ialah arti yang muncul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yakni arti yang bukan semata-mata hanya arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Dengan demikian, sudah jelaslah bahwa untuk menganalisis puisi perlu suatu analisis struktural dan semiotik lantaran sajak merupakan struktur tanda-tanda yang memiliki makna.

Studi sastra memang bersifat semiotik yang berarti usaha untuk menganalisis sastra (khususnya puisi) sebagai suatu sitem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra memiliki makna.

Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur puisi atau hubungan dalam antarunsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Menurut Preminger dkk (1974:981), kritikus menyendirikan satuan-satuan berfungsi dan konvensi-konvensi sastra yang berlaku. Satuan-satuan berfungsi itu, misalnya, penokohan, satuan bunyi, alur, setting, kata, kalimat, gaya bahasa, tipografi, dan sebagainya.

Preminger menjelaskan lebih lanjut bahwa bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh pengguna bahasa biasa.

Yang dimaksud dengan konvensi tambahan ialah konvensi sastra di luar konvensi ketatabahasaan. Misalnya, tipografi, enjambement, persajakan, dan konvensi-konvensi lain yang ada di dalam sastra.

Karena itulah, memberi makna pada sajak sama saja dengan mencari tanda-tanda yang memungkinkan munculnya makna puisi. Makanya, Jonathan Culler berpendapat di dalam bukunya yang berjudul The Pursuit of Signs (1981) bahwa menganalisis puisi adalah memburu tanda-tanda (pursuit of signs). (Pradopo, 2005: 120-124)
Baca juga: Pemaknaan Puisi
Baca juga: Teori Puisi Modern
Baca juga: Fungsi Puisi untuk Masyarakat
Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...