Hakikat Sebuah Cerita Pendek

23.23
hakikat cerpen, cerita pendek, cerpenis

Hakikat cerpen - Adalah keliru kalau orang berpendapat bahwa hakikat sebuah cerpen ditopang oleh imajinasi. Apalagi kalau imajinasi lantas dipertentangkannya dengan fakta. Dan fakta kemudian diidentikkan dengan berita atau laporan, serta imajinasi identik atau sama dengan fantasi, khalayan ... sesuatu yang tidak berjejak di dunia kenyataan.

Dalam proses penulisan cerpen, tidak sedikit para pengarang yang bertolak dari fakta, pengalaman hidup kita sehari-hari. Di tangan pengarang antara fakta dan fiksi adalah baur.

Istilah fiksi atau sering juga disebut cerita rekaan, sebenarnya mengandung suatu pengertian bahwa kehadiran sebuah cerita terlahir dari rahim imajinasi pengarang semata. Merupakan buah fantasi atau khalayan pengarang.

Meskipun sebuah cerita adalah fiksi pada awal mulanya, pihak pengarang selaku penciptanya bakal tidak bisa berbuat apa-apa selain terenyuh mengangkat bahu apabila pembaca menduganya sebagai sesuatu fakta lantaran ceritanya teramat hidup.

Ini yang kita maksudkan pembauran fakta dan fiksi.

Dan hal ini pulalah yang menyebabkan mengapa banyak pengarang perlu mencantumkan dalam bukunya: Ini cuma fiksi, andai terdapat dalam buku ini nama maupun peristiwa yang sama atau mirip di masyarakat, hal tersebut merupakan kebetulan belaka.....

Pengarang yang menggarap fakta dalam arti memperoleh siluet plot cerita yang bakal ditulisnya dari fakta pengalaman diri maupun orang lain, sebagai seorang cerpenis yang baik tentu saja dia tidak akan menulis apa adanya -- seperti kalau dia menulis kisah nyata atau biografi -- dalam proses penulisan cerpennya sudah pasti terjadi suatu perombakan yang banyak terhadap fakta tersebut, bahkan sering kali akan terjadi pembelokan yang drastis sesuai dengan imajinasinya.
Dikutip dari situs Wetasphalt, ketika fungsi naratif diambil alih film, penulis cerita pendek lebih terfokus pada aspek-aspek lain dari seni fiksi ini. Rovert Coover mencoba menghapuskan kepatuhan pada narasi, Donald Barthelme bertindak seperti seorang analis kolaboratif budaya pop, John Barth memadukan kritik dan narasi, kaum minimalis menyukai "gaya bercerita" ketimbang substasi, dan hampir merupakan suatu hukum universal bahwa konflik apa pun yang terjadi -- kemungkinan besar -- tidak diselesaikan (berbeda halnya dengan pemberontakan dalam film yang hampir selalu menyelesaikan konflik dengan rapi dan final).
Menurut Britannica, cerita pendek adalah prosa fiksi singkat yang lebih pendek dari novel dan biasanya hanya membahas beberapa karakter saja. Cerita pendek umumnya berkaitan dengan efek tunggal yang disampaikan hanya dalam satu atau beberapa adegan penting. Bentuk semacam ini mendorong pengarang untuk mengatur panjang-pendek narasi, penghapusan plot yang rumit, dan menyesuaikan pengembangan karakter.
Cerpen-cerpen yang mengandung surprise-ending pada umumnya dirampungkan pengarang lewat fakta yang dimilikinya. Cerpen "Kalung" karya Guy de Maupassant misalnya atau gubahan O Henry "Hadiah Tahun Baru".

Hakikat sebuah cerpen sesungguhnya tidak ditopang oleh imajinasi, tetapi ditopang oleh cerita yang bagus yang digelimangi gaya bahasa dan gaya bercerita yang memikat. Tiga buah unsur utama yang mesti ada dalam sebuah cerpen.

Apabila salah satu dari tiga unsur itu tidak kita jumpai dalam sebuah cerpen, maka predikat sastra akan merosot menjadi kitsch.

Tidak adanya dua buah unsur, maka akan menggelindingkannya ke cerpen pop (populer). Dan cerpen picisan adalah cerpen yang tidak memiliki ketiga buah unsur tersebut sama sekali.

Barangsiapa yang ingin menikmati cerpen-cerpen modern bernilai sastra, tidak berlebihan kiranya apabila kita menganjurkan agar membaca buku himpunan cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan" karya Umar Kayam dan "Godlob" buku cerpen Danarto. Dan buku-buku cerpen buah tangan Gerson Poyk, Bur Rasuanto, A.A. Navis, Motinggo Busye, Wildan Yatim, A. Basturi Asnin, Ras Siregar, dan banyak lagi lainnya.

Tiga unsur yang kita maksudkan di atas terlihat jelas pada fragmen cerpen "Ethyl - Plant" karya Bur Rasuanto, cerpen yang memenangkan hadiah pertama majalah Sastra 1962:

"SUJI membaca order itu kembali sebelum meninggalkan gardu peristirahatan: "40 drums yellow TEL, 23 kilos orange-dye, 12 kilos readye". Empat puluh drum, pikirnya dan di matanya terbayang bentuk-bentuk drum-drum baja yang kokoh berisikan cairan berbau sedap harum yang dapat menumpas seketika ujid makhluk-makhluk atau benda-benda yang kenainya. Kemudian ia keluar dengan langkah yang ringan, berjalan menyusur sepanjang gudang penyimpanan drum-drum tetra-ethyl-lead yang berdinding jaringan kawat yang kokoh dan akhirnya tiba di plant sebenarnya di mana pencampuran TEL itu ke dalam minyak dilakukan.

Di depan pelataran plant pandangannya tertumbuk pada papan peringatan yang lebar bergambarkan tengkorank dengan dua potong tulang bersilangan di bawahnya serta bertuliskan cat merah besar-besar: "AWAS BAHAYA MAUT" dan "DILARANG MENDEKATI PLANT TANPA IZIN". Peringatan itu tak menarik perhatiannya dan ia segera melangkah masuk. Suasana malam di sekitar itu sepi. Drum-drum yang sudah siap untuk diisap bersusunan seperti antri di depan pintu kamar pengisapan dan drum-drum yang sudah kosong terserak bergelimpangan di sana-sini." (Bumi yang Berpeluh/Mega Book Strore, 1963, hal. 74) [Putu Arya Tirtawirya, 1982]

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...