Kritik Sastra Obyektif, Subyektif, dan Ganzheit

20.02
Kritik Sastra Obyektif, Subyektif, dan Ganzheit

Kritik sastra - Ada banyak aneka aliran dalam cipta sastra. Begitu juga dalam dunia kritik sastra terdapat pelbagai aliran. Dan garis besarnya dapat kita bagi menjadi tiga: aliran yang menerapkan metode obyektif, subyektif, dan ganzheit.

Mengenai mana yang paling jitu antara ketiganya sesungguhnya tidak dapat kita tuding karena masing-masing mempunyai kelebihan serta kekurangan sendiri-sendiri.

Suatu aliran dianut seseorang kritikus biasanya tergantung pada latar pribadi apakah dia itu seorang sarjana sastra atau pengarang/penyair/peminat sastra dalam arti seorang esais.

Kritikus dari kalangan sarjana sastra pada umumnya menganut aliran obyektif. Kritikus yang berdwifungsi sebagai pengarang/penyair akan menggaet aliran subyektif. Sedangkan mereka yang termasuk dari kalangan satunya lagi itu pukul rata akan mengerling aliran ganzheit.
Teori sastra hingga saat ini sangat banyak dan beragam. Untuk itu, cara berpikir yang mendasar mengenai hal ini adalah bahwa ragam teori-teori tersebut bertindak sebagai "lensa" yang berbeda satu sama lain ketika berbicara tentang seni, sastra, dan kebudayaan. Berbagai lensa ini memungkinkan kritik mempertimbangkan karya seni berdasarkan asumsi tertentu sesuai dengan landasan aliran teori yang digunakan. Lensa yang berbeda memungkinkan kritik berfokus pada "aspek-aspek tertentu". Misalnya, kritikus yang menerapkan teori Marxis, ia berfokus pada bagaimana karakter dalam sebuah cerita berinteraksi berdasarkan situasi ekonomi masyarakat setempat. 

Aliran Obyektif

Sang kritikus menghadapi sebuah novel atau cerpen atau sajak. Dalam kepalanya sudah bergelantungan ukuran-ukuran yang universal -- patokan "harga mati" -- untuk mengukur nilai obyek. Bagus. Jelek. Wajar. Timpang. Banci. Dsb.

Kritikus kerjanya mondar-mandir selaku perantara yang aktif antara ukuran universal tersebut dengan obyek.

Ada yang pongah menganalisis isi sajak. Dalam pikirannya obyek adalah barang mati. Atau sewaktu menghadapi novel atau cerpen lantas tidak ragu menjadi guru, berkoar mengoreksi pengarang sebaiknya begini-begitu. Sesuai dengan pendapat si anu-si anu dalam textbook yang pernah dibacanya.

Ada yang telaten menghitung jumlah kata senja dan luka dalam sajak-sajak Chairil atau Toto. Atau ketika menghadapi prosa lantas iseng mengutak-atik kalimat yang digubah pengarang untuk kemudian mengambil kesimpulan obyeklantaran kalimat terasa dibuat-buat, tidak wajar, dan mesti sederhana.

Atau meninjau segi tema cerita, maunya yang berat-berat dan ketika ketemu tema yang sederhana lantas kontan mengecap obyek berbau remaja, cengeng.

Itulah beberapa keburukan aliran obyektif.
Menurut M.H. Abrams sasaran kritik aliran obyektif berfokus pada kualitas intrinsik karya sastra. Teori ini memperlakukan karya sastra sebagai obyek seni yang dapat dipelajari dan dievaluasi tanpa menggunakan referensi dari penulis atau pembaca.

Aliran Subyektif

Apabila aliran obyektif mendewaakan ukuran universal, maka aliran subyektif mendewikan ukuran subyektifitas -- hasil ramuan sang kritikus sendiri.

Apa yang pernah dibacanya, apa yang dialaminya sendiri selaku pengarang/penyair. Di sini dia tidak lagi menjadi perantara, tetapi melibatkan diri secara langsung -- dengan ukuran penilaian itu sendiri. Tidak melibatkan diri pada obyek.

Obyek tetap mandiri sebagai obyek kemandirian seorang pelacur layaknya.

Karena sifatnya sangat subyektif maka mau tak mau soal selera akan menyusupi pihak subyek - kritikus. Dia sedikit-banyak akan mengemplang hal-hal yang tidak disukainya dan memuji apa-apa yang mirip atau apa yang tengah digandrunginya.

Dan kentara sekali masalah ini pada saat kritikus yang berdwifungsi jadi penyair mengulas sajak-sajak rekannya.

Ulasannya sering berlebihan, mengawang - tidak "to the point". Bahasanya cenderung ke filsafat sehingga sulit ditangkap pembaca awam.

Dia tidak lagi memasang titian penghubung antara sastrawan dan pembaca atau cipta sastra dengan konsumen penikmat. "Inilah dunia gua, lu tahu?"
Menurut David Bleich, kritik sastra subyektif mengandaikan bahwa tidak ada teks sastra di luar makna yang diciptakan oleh interpretasi pembaca.

Aliran Ganzheit

Pada tarian joget ada kemstian pihak penonton ikut menari, ngibing. Demikianlah, dalam aliran ganzheit pihak kritikus mesti mengibing obyek.

Membuka diri pada rangsangan obyek, melarutkan diri pada obyek. Menikmati. Kemudian menyusun kesimpulan sejauh pengalamannya tadi menyetubuhi obyek.

Bahwa nantinya bakal nongol berbagai kesimpulan yang berbeda-beda pada setiap orang, tidak jadi apa -- toh dunia seni itu tidak mutlak. Dunia yang relatif.

Metode ganzheit mengharamkan "harga mati" dalam ukuran penilaian. Ruang gerak kritikus tidak sebatas patok-patok apriori.
Menurut Arief Budiman, dikutip dari majalah sastra Horison yang terbit pada April 1968, kritik sastra ganzheit adalah proses partisipasi yang aktif di antara pihak pembaca dan karya sastra, sehingga terjadi kontak yang intens dan menghasilkan suatu dialog.
Dalam aliran ganzheit pihak kritikus sama lincah dengan pengarang/penyair, kritikus tidak akan pernah "ketinggalan zaman" -- suatu hal yang mungkin saja terjadi pada metode subyektif.

Sayangnya, metode ganzheit ini hanya cocok kita rasakan untuk diterapkan dalam menghadapi cipta sastra karya mereka yang sudah senior, tidak mereka yang masih semi-senior apalagi junior. Pasalnya, untuk main kucing-kucingan metode ganzheit adalah ideal sekali. [Putu Arya Tirtawirya, 1982]

Baca juga: Aliran Sastra Naturalisme
Baca juga: Hakikat Cerita Pendek
Baca juga: Struktur Sebuah Cerpen

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...