Pedoman Mengarang Cerpen

19.55
Mengarang cerpen - Banyak surat yang saya terima yang menanyakan bagaimana caranya mengarang sebuah cerpen. Dan kebanyakan dari mereka yang ingin menulis cerpen itu ternyata belum pernah sama sekali berlatih menulis apa-apa, kecuali menulis surat cinta tentunya.

Agaknya mereka mengira membuat sebuah cerpen itu sama halnya dengan membuat kue apam. Suatu perkiraan yang keliru, sebab sesungguhnya teori-teori mengarang itu bakal tidak banyak membantu tanpa disiplin dalam berlatih -- suatu latihan yang setengah mati, banting tulang.

Sama halnya di bidang gambar-menggambar, orang tentunya bakal tak mungkin menghasilkan sebuah gambar yang elok apabila tidak diawali dengan jerih payah berlatih melemaskan tangan mencoret-coretkan pensil.

cerpenis, pengarang cerpen, jadi pengarang

Kemudian mempelajari perspektif, komposisi, mencampur warna, dan sebagainya. Begitu pula dalam bidang karang-mengarang, seseorang terlebih dulu harus "melemaskan" kemampuan bahasanya. Di antaranya membuat aneka macam kalimat dengan menerapkan macam-macam gaya, meniru gaya-gaya pengarang ternama yang pernah dibaca.

Adalah mustahil kita bisa mengarang sebuah cerpen tanpa kita rajin membaca cerpen-cerpen asli maupun terjemahan.

Mengisi buku catatan harian merupakan latihan yang bagus dalam rangka melemaskan kemampuan bahasa. Alangkah banyak hal-hal yang bisa dituangkan malam-malam di buku tersebut -- apa saja yang telah ditangkap oleh kelima indera dari pagi sampai sore.

Untuk jadi seorang pengarang dibutuhkan kecermatan mata, telinga, dan lain-lain di samping daya ingatan kita.

Catatlah dalam hati segala percakapan atau dialog orang-orang sekeliling kita dan pelajari watak-watak mereka satu per satu; gaya ngomongnya tentulah sesuai dengan perwatakan masing-masing.

Setiap orang mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang istimewa sementara dia ngomong atau ketawa atau marah. Camkanlah semua itu untuk nantinya kita tuangkan dalam buku catatan harian.

Bahwa isi buku tersebut campur aduk, biarkan demikian halnya. Dan dalam pada itu perhatikan pula baik-baik cara meletakkan tanda baca -- ini termasuk latihan pula.

Buku catatan harian besar sekali artinya bagi seorang pengarang. Di dalamnya terhimpun fragmen-fragmen pelukisan panorama alam atau tempat-tempat yang esok lusa bisa kita manfaatkan menjadi setting dari cerita-cerita yang akan kita tulis.

Atau adegan-adegan segala macam yang nampak hidup lantaran semuanya itu kita tulis bertolak dari suatu penghayatan yang cukup intens dan ditulis dengan penuh kesabaran.

Di Indonesia pengarang yang rajin menulis fragmen-fragmen terlepas yang kemudian hari dipetiknya -- disuntingkan dalam cerpen atau novel, ialah Motinggo Busye.

Demikianlah, sementara terus mengisi buku catatan harian (seorang pengarang yang baik akan kontinu menulis catatan harian sepanjang hayatnya!) maka kerjakan ini pula: mencoba menulis dongeng misalnya, pokoknya tulislah karangan yang ringan-ringan untuk mengisi rubrik-rubrik tetap di koran atau majalah.

Anggaplah hal tersebut semacam kerja praktik menukilkan buah pikiran dan laporan. Untuk latihan mengungkap perasaan cobalah pula menggubah sajak-sajak pengisi ruangan anak-anak atau remaja.

Penulisan puisi atau sajak-sajak sesungguhnya dapat menjernihkan gaya bahasa dan kemampuan memilih kata-kata yang tepat terutama dalam menghadapi kata-kata sinonim yang masing-masing memiliki nuansa pengertian tersendiri.

Nah, setelah merasa diri mampu "menaklukkan bahasa" maka barulah juruskan pikiran untuk berusaha menciptakan sebuah cerpen. Dan di bawah ini dada beberapa petunjuk yang dapat dipakai pedoman:

Pertama

Akibat banyak membaca cerpen, Anda akan dapat menemukan sebuah cerita. Bayangkan kerangka cerita lebih dulu kemudian tulislah. Memang semua pengarang mengalami pengalaman dalam proses penulisan yang bertahap.

Ada dua tahap:
  1. Dimulai dengan perencanaan yang matang berupa suatu kerangka cerita
  2. Kemudian lambat-laun memasuki tahap di mana kita nantinya tidak membutuhkan perencanaan: menghadapi mesin tulis tanpa mengetahui pasti bagaimana bakal jadinya cerpen yang akan selesai nanti.
Sementara itu, pikirkan matang-matang dari aspek mana Anda akan mengembangkan atau menjalin ceritanya. Apakah Anda mengambil sudut tinjauan pada pelaku priakah, ataukah pelaku wanitanya atau Anda sebaliknya melompat ke luar pagar -- netral seperti seorang dalang.

Atau menempuh cara yang lain, yakni sudut tinjauan orang pertama, aku atau saya. Masalah inilah yang digarisbawahi oleh pengarang Prancis Jean-Paul Sartre lewat ucapannya yang terkenal:
Seorang sastrawan ialah orang yang dengan sadar memilih salah satu yang terbaik dari aneka kemungkinan cara pengungkapan ceritanya.

Kedua

Jangan buru-buru menyelesaikan karangan, sebab Anda melibatkan diri dalam penulisan fiksi, bukan kerja jurnalistik.

Mesti ada kesabaran dan kemesraan pihak pengarang dalam melukiskan setting, adegan, dan dialog. Anda mesti mampu menyakinkan pembaca (daya membangun situasi dan suasana cerita) bahwa Anda memang memahami masalah yang Anda kisahkan.

Atas dasar inilah mengapa para pengarang setiap saat waspada untuk melakukan observasi lewat bacaan atau wawancara atau seperti apa yang dilakukan oleh Emile Zola: menjadi buruh tambang dalam rangka penulisan novelnya Tambang tentang tragedi di pertambangan. 

Dalam dialog, terapkanlah istilah-istilah yang memang lazim di kalangan tertentu:
  • intelektual
  • buruh pelabuhan
  • pelajar
  • mahasiswa
  • pelacur dan sebagainya.
Dan pelukisan setting dan adegan yang cermat dapat memukau pembaca, mereka akan seolah-olah ikut berada dalam situasi atau suasana yang Anda gambarkan.

Ketiga

Usahakan membangun suasana cerita yang hidup dengan cara menjaga keseimbangan dari perkembangan watak para pelaku cerita. Meskipun tidak semua data masing-masing akan kita nukilkan dalam cerpen, tapi seyogianya Anda punya gambaran jelas lengkap dalam pikiran tentang apa-siapa mereka:
  • masa kecilnya
  • pendidikannya
  • lingkungan keluarganya
  • pengalaman-pengalamannya terutama yang berkaitan dengan keagamaan (obsesi) dirinya
  • cita-citanya
  • hobinya
  • kebiasaan-kebiasaannya yang khas, dan sebagainya.
Untuk keperluan inilah mengapa para pengarang memperdalam pengetahuannya di bidang psikologi, filsafat, religi, sosiologi, politik, dan lain-lain.

Keempat

Sadarilah bahwa Anda menerapkan gaya bercerita yang memikat. Hindarilah gaya bercerita yang tak langsung yang berkepanjangan.

Bukan berarti kita tidak boleh menerapkan gaya ini, tapi jagalah panjangnya, jangan terlalu bertele-tele karena dapat membosankan pembaca. Selang-seling dengan dialog.

Penerapan dialog merupakan gaya bercerita yang langsung. Dengan demikian, jalan cerita menjadi cepat. Tidak lamban. Cerminkan suasana hati para pelaku lewat dialog yang mereka ucapkan.

Salah omong, misalnya, adalah gambaran bawah sadar seseorang. Orang dewasa dalam pergaulan sehari-hari sering sengaja memakai topeng; dan salah omong merupakan wajahnya yang sejati, emosinya yang ia coba sembunyikan.

Kelima

Janganlah menggurui pembaca.

Janganlah menjelas-terangkan sampai detail. Pembaca adalah setaraf dengan kita, malah ada yang lebih. Biarkan mereka mengambil kesimpulan sendiri. Berceritalah tentang kenyataan hidup sehari-hari. Hindarilah fantasi yang dicari-cari. Telanjangilah manusia.

Jangan lambungkan manusia jadi dewa-dewi di kayangan. Cerpen modern menuntut pengarang untuk jadi psikolog, dalang yang tak tampak atau tuhan/nabi kecil.

Pasalnya, lewat cerpen pembaca memperoleh kekayaan batin atau rohani -- pengetahuan tentang watak-watak, nasib serta kearifan-kearifan manusiawi.

Terakhir

Terapkan aneka efek penulisan seperti perbandingan humor, sorot-balik (flash-back). Perbandingan-perbandingan dapat kita pelajari dari karya orang lain, misalnya dalam novel Atheis Achdiat K Mihardja. Humor kita temui dalam novel-novel Gerson Poyk, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dan lain-lain.

Efek-efek penulisan inilah yang merupakan salah satu unsur penting yang terdapat dalam cipta sastra, efek mana sangat jarang ditemukan dalam fiksi populer yang pada umumnya dikerjakan secara buru-buru dalam beberapa hari atau beberapa minggu. [Putu Arya Tirtawirya, 1982]



Baca juga: Pemaknaan Puisi

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...