Pengertian Lekra

00.01
Pengertian Lekra

Lekra - Lembaga Kebudayaan Rakyat merupakan organisasi yang mewadahi para seniman Tanah Air yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950 oleh Joebaar Ajoeb, Njoto, A.S. Dharta, Henk Ngatung, Sudharnoto, dan M.S. Ashar.

Lekra lahir pada zaman Orde Lama, yakni ketika Presiden Sukarno berada di tampuk kekuasaan. Semboyan Lekra yang terkenal adalah "politik sebagai panglima". Artinya adalah politik berada pada tingkatan teratas dan kebudayaan menjadi syarat politik sekaligus menjadi arena pertarungan politik.

Lekra juga dikenal sebagai organisasi kebudayaan yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia lantaran para pendiri dan anggotanya merupakan anggota aktif PKI.

Pada saat itu, tidak hanya Lekra yang menjadi organisasi kesenian sekaligus alat yang ampuh untuk memobilisasi massa. Banyak juga organisasi atau partai politik yang melahirkan wadah bagi para seniman. Misalnya, Partai Nasional Indonesia mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Partai Indonesia (Partindo) melahirkan Lembaga Seni Budaya, dan Nahdlatul Ulama (NU) mendirikan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Di antara berbagai lembaga kesenian saat itu, hanya Lekra-lah yang terbilang menjadi organisasi seniman terbesar dan paling banyak anggotanya di Indonesia. Hal itu bisa terjadi karena Lekra menarik perhatian para seniman dari berbagai ranah kebudayaan.

Beberapa alasan para seniman memilih masuk Lekra di antaranya:
  • Pendirian Lekra jelas, yakni berpihak pada rakyat jelata
  • Lekra menjadi tempat berkumpul para seniman papan atas Indonesia
  • Seniman Lekra banyak yang disekolahkan ke luar negeri
Pertumbuhan Lekra yang pesat memang berhubungan erat dengan keberadaan PKI di Indonesia. Pasalnya, di Indonesia pada era 1950-an terdapat pertarungan ideologi di antara tiga kelompok besar: nasionalis, agama, dan komunis (Nasakom). Komunis termasuk kubu yang paling dominan sehingga tiga kelompok besar itu mengerucut menjadi dua, yaitu prokomunis dan antikomunis.

Pertarungan dua kubu besar tersebut memang sangat pelik dan Lekra saat itu menjadi organisasi kebudayaan yang kuat. Bagi Lekra, seni tidak boleh diperuntukkan hanya untuk seni. Mereka berpendapat bahwa seni harus mengacu kepada kondisi riil masyarakat atau seni harus berpihak pada politik. Oleh karena itu, seniman yang hanya sibuk dengan berseni bebas, kerap bereksperimen, dan tidak ikut dalam organisasi berarti berseberangan dengan nyawa revolusi. Dengan kata lain, berseberangan dengan revolusi artinya menjadi musuh rakyat.

Seniman yang tidak berada dalam jalur Lekra banyak yang tidak menyetujui konsepsi kebudayaan Lekra. Mereka antara lain Wiratmo Soekito, H.B. Jassin, dan Trisno Sumardjo yang di kemudian hari membuat Manifes Kebudayaan pada tanggal 17 Agustus 1963. Dalam beberapa bulan setelah diterbitkan, Manifes Kebudayaan mendapat dukungan dari seniman-seniman di berbagai wilayah yang berjumlah lebih dari 1.000 orang.

Pertanyaan kubu Manifes Kebudayaan tersebut akhirnya membuat Lekra berang. Mereka pun melakukan serangan bernada intimidasi kepada para pendukung Manifes Kebudayaan. Dengan berbagai cara, Lekra dan PKI pada akhirnya berhasil membuat Presiden Sukarno melarang Manifes Kebudayaan karena dianggap melemahkan revolusi. Secara resmi, Bung Karno melarang Manifes Kebudayaan pada tanggal 8 Mei 1964.
Menurut Ajip Rosidi dalam buku berjudul Mengenang Hidup Orang Lain: Sebuah Obituari, pada paruh kedua tahun 1970-an ada wacana bahwa Lekra bukanlah bagian dari organ PKI. Yang melontarkan wacana ini adalah Joebaar Ajoeb yang menjadi sekretaris jenderal Lekra setelah A.S. Dharta dipecat. Namun, wacana ini kemudian ditentang oleh tokoh Lekra yang lain, Basuki Resobowo, yang menganggap Joebaar melakukan kooptasi dengan rezim Orde Baru. (Ajip Rosidi, 2010: 42) 
Baca juga: Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965 

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...