Struktur Sebuah Cerpen

16.45
cerita pendek, cerpen, cerpenis


Sturktur cerpen - S.H. Bruton M.A. dalam bukunya Modern Short Stories (Longman Group Limited, London, 1975) mengatakan bahwa dalam sebuah cerpen seharusnya ada: cerita lengkap dengan plotnya, setting, dan karakter suatu nilai kehidupan
Menurut Narrativefirst, tujuan dari fiksi narasi adalah menciptakan makna yang lebih besar yang tidak dapat kita alami dalam kehidupan kita sendiri.
Cerpen sebagai akronim atau singkatan dari cerita pendek memang titik bertolaknya adalah sebuah cerita.

Modal pertama pengarang adalah sebuah cerita. Pengarang mencari inspirasi artinya dia berusaha menemukan atau mengembangkan suatu ide ke arah terwujudnya sebuah cerita.

Ada sebagian pengarang mengembangkan idenya sebelum menghadapi mesin tulis dan sebagian lagi ada yang mengembangkannya sementara dia menghadapi mesin tulis.

Yang cukup bikin pening pengarang adalah mengambil keputusan dari mana dia mesti "memulai ceritanya". Dari sekian banyak kemungkinan dia harus memilih salah satu daripadanya -- yang terbaik.

Rampung tidaknya sebuah cerita dia tulis dan dalam pada itu pula puas tidaknya dia dengan gubahan tersebut nantinya, sungguh tergantung dari kejituannya memilih.

Dan plot atau jalannya cerita -- suatu rangkaian kejadian yang terjalin dengan padu, rangkaian mata rantai sebab-akibat dalam perjalanan nasib para tokoh cerita -- otomatis akan mengalir mengikuti jalan terbuka pada saat pengarang tepat menjatuhkan pilihan tadi -- titik start.

Dari pengalaman kita lantas tahu mengapa mereka yang baru mulai berlatih menulis cerpen sering mengalami kegagalan merampungkan sebuah cerpen -- itulah, kekeliruan dalam memilih titik bertolak tersebut tadi.

Mengapa seorang pengarang mesti meningkatkan pengetahuannya tentang psikologi, ini adalah erat hubungannya dengan masalah penggambaran karakter atau watak para pelaku cerita.

Cerita mesti hidup dan hidup tidaknya sebuah cerita, kuncinya terletak pada apakah para pelaku cerita berkarakter dilukiskan oleh pengarang.

Tengok manusia seputar hidup kita sehari-hari. Masing-masing punya karakter, berbeda satu dengan yang lain. Seorang gadis cantik atau seorang pemuda tampan dalam perjalanan waktu yang 24 jam tiap hari itu pikirannya tidak melulu memikirkan pacar.

Ada jam-jam dia termenung sedih atau pikirannya ruwet lantaran kehabisan duit untuk membeli sampo atau rokok. Pengarang yang baik akan menyelipkan juga masalah itu dalam ceritanya.

Seorang lelaki tentunya tidak segera lantas mengambil gitar dan memetik gitarnya dengan sendu manakala barusan saja melihat pacarnya digandeng orang lain.

Paling tidak demi hidupnya, pengarang hendaknya melukiskan betapa sang tokoh cerita terburu mengambil gitar untuk ditimprukkan pada kepala lelaki yang jadi saingannya itu.

Psikologi akan membantu pengarang menghindarkan aneka kekeliruan yang menyangkut segi perwatakan.

Di samping menekuni buku ilmu jiwa, seorang pengarang dituntut untuk memasang kelima inderanya setiap saat di mana pun dia berada. Melakukan observasi.  

Suasana cerita sebenarnya dibangun dengan pelukisan setting atau tempatnya peristiwa terjadi. Banyak pengarang yang mengkhususkan diri datang meninjau suatu tempat yang menurut rencananya akan dipakai setting cerita yang bakal ditulisnya.

Yati M. Wiharja misalnya sengaja berkelana ke daerah-daerah luar Jawa, ke Bali, Lombok, dan Sumbawa membawa bahan setting novelnya mendatang.

Suasana cerita "Cintaku di Kampus Biru" tentunya bakal lain apabila Ashadi Siregar tidak mempergunakan kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sebagai setting novelnya itu, dia memakai setting sebuah perguruan tinggi di antah berantah, misalnya.

Di luar sastra, pengarang yang kuat pelukisan setting-nya adalah Karl May -- kisah-kisah pertualangan tokoh Old Shutterhand bersama rekannya orang India Apache, Winnetou.

Dan apa yang dimaksudkan dengan suatu nilai kehidupan yang mesti membenangemasi (seperti yang kita jumpai dalam uang kertas) sebuah cipta sastra dalam hal ini sebuah cerpen adalah tidak lain daripada moral cerita. Terutama yang berhubungan dengan pornografi.

Setiap pengarang harus menjauhkan diri dari penulisan cerita yang porno. Di samping itu pengarang harus pandai mengincar tema-tema yang mengandung nilai kehidupan.

Begitu banyaknya tema dalam hidup ini tetapi tidak semua tema bagus atau punya nilai untuk diangkat ke dalam cerpen.

Dengan banyak membaca cerpen karya cerpenis masyhur di dunia akan menolong seseorang memperkaya intuisinya dalam pemilihan tema-tema yang punya nilai. [Putu Arya Tirtawirya, 1982]



Baca juga: Pemaknaan Puisi

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...