Aspek Teoretis dalam Penerjemahan

Aspek Teoretis dalam Penerjemahan

Aspek Teoretis dalam Penerjemahan

Teori penerjemahan – Dengan perantaraan sarana sistem lain diupayakan agar isi sebuah teks dirumuskan kembali dalam teks yang baru yang mengambil alih penyampaian informasi.

Biasanya dibedakan informasi yang dimaksudkan, yang terdapat dalam angan penutur/penulis pada saat pesannya disandikan/dirumuskan, dan informasi yang ditafsirkan, yang disampaikan kepada pendengar/pembaca pada saat pesan itu didengar atau dibaca.

Ahli bahasa menyamakan konsep informal dengan 'efek komunikatif' dan komunikasi baginya berarti pemindahan informasi dari pengirim kepada pembaca.

Informasi ialah apa yang diartikan dalam teks. Konsep informasi itu berperan di tiga bidang penelitian: semiotik, linguistik, dan logika.

Secara umum dapat dikatakan bahwa semiotik merupakan ilmu yang memayungi teori komunikasi tentang tanda dan pesan dalam linguistik.

Sehubungan dengan konsep informasi patut diketengahkan di sini tiga pengertian teknis yang masing-masing menandakan tataran semiotik yang khusus.

Pengertian itu dikenal dengan istilah:
  1. sintaksis (yang menelaah relasi di antara tanda-tanda),
  2. semantik (yang mempelajari relasi antara tanda dan dunia kenyataan, dengan kata lain tanda yang diberi makna), dan
  3. pragmatik (yang membahas relasi antara tanda dan pemakai tanda itu).
Jika pengertian itu diterapkan di bidang linguistik, maka dapat pula dikatakan bahwa sintaksis itu berkenaan dengan aspek formal tanda bahasa dan kombinasinya, bahwa semantik membicarakan aspek isi tanda bahasa, dan bahwa pragmatik bertalian dengan jangkauan pengaruh yang dihasilkan oleh pemakaian tanda bahasa.

Sintaksis Aspek formal tanda bahasa
(kosakata, tata bahasa)
Operasional
Penandaan
Informasi
Sintaksis
Semantik Aspek isi tanda bahasa (makna) Penafsiran
Pelambangan
Informasi
Semantis
Pragmatik Keefektifan tanda bahasa (efek komunikatif) Fungsional
Pemengaruhan
Informasi
Pragmatis

Fungsi komunikatif bahasa, ditinjau dari proses komunikasi yang didukung oleh unsur pemeran yang berikut:

Ada pengirim (penutur/pembaca) yang merumuskan pesan yang dimaksudkan didengar atau dibaca oleh pendengar/pembaca dan perantaraan mata sandi (=kode; sistem bahasa; leksikon dan tata bahasa) lewat saluran komunikasi.

Dengan demikian dapat dibedakan enam fungsi menurut penampilan unsur yang dikemukakan:
  • fungsi pengacuan: jika tekanan diberikan kepada ihwal pesan yang mengacu ke sebuah situasi dalam kenyataan
  • fungsi ekspresif: jika sikap dan peranan pengirim ditampilkan
  • fungsi apelatif: jika yang dipentingkan pemengaruhan sikap penerima
  • fungsi estetis: jika bahasa dipakai untuk pengungkapan nilai artistik pesan
  • fungsi metabahasa: jika pemakaian bahasa mengacu ke sandi itu sendiri
  • fungsi fatis: jika diupayakan agar salur komunikasi tetap terbuka demi hubungan antarmanusia
Fungsi tersebut di atas dalam bentuknya yang murni jarang terjadi. Biasanya kita berhadapan dengan campuran fungsi yang di dalamnya salah satu fungsi itu dominan.

Berdasarkan pembagian itu dapat dikenali teks (1) yang informatif, (2) yang artistik, dan (3) yang apelatif.

Ragam makna dalam proses komunikasi kepahaman

Makna konseptual, denotatif, dan kognitif mencakupi aspek-aspek makna yang berkenaan dengan pemikiran atau ciri khas dunia sekeliling.

Makna konseptual dapat dianggap faktor inti dalam komunikasi lewat bahasa.

Makna stilistis/kelanggaman berhubungan dengan pengirim pesan dan peri keadaan terjadinya informasi. Jenis makna ini ditentukan oleh faktor sosial budaya seperti keresmian, keakraban, ketakwaan, dan keilmuan.

Makna asosiatif, konotatif, afektif, dan kolokatif bertalian dengan sikap pemakai bahasa di sinilah kita berhadapan dengan pemakaian idiom atau adat resam bahasa.

Makna tematis dihasilkan oleh penekanan pada unsur kalimat tertentu. Sarananya ialah intonasi, urutan kata, dan bangun kalimat.

Kemungkinan penerjemahan

Kadar dapat tidaknya sebuah teks diterjemahkan bergantung pada tuntutan kita atas teks yang diharapkan dalam bahasa sasaran.

Dengan kata lain, apakah teks dapat diterjemahkan dengan memadai.

Terjemahan yang memadai pada gilirannya ditentukan oleh:
  1. kesamaan atau perbedaan struktur bahasa sumber dan bahasa penerima
  2. kadar kontak antara kedua bahasa itu
  3. taraf kesamaan yang diupayakan antara teks sumber dan teks sasaran, dan
  4. maksud yang mendasari produksi teks terjemahan.
Ada pendapat bahwa semua bahasa berfungsi dalam kerangka konseptual yang universal.

Perbedaan di permukaan dapat dipulangkan ke struktur batin yang seragam.

Ada juga pendapat yang bercoral relativisme dan yang mengingkari kesemestaan bahasa insani.

Anggapan itu cenderung menyamakan jumlah sistem konseptual dengan jumlah bahasa yang ada di dunia.

Argumen yang dikemukakan ialah perbedaan yang terdapat pada sistem warna dan kekerabatan dalam berbagai bahasa.

Selanjutnya, dapat ditunjukkan perbedaan dalam bangun sintaksis: pembagian kosakata dalam kelas kata, ada tidaknya kategori gramatis tertentu.

Berikut ini beberapa prinsip yang memungkinkan penerjemahan.
  1. Kadar kemungkinan penerjemahan selaras dengan tinggi rendahnya tingkat struktur kebahasaan diterjemahkan. Makin besar satuan kebahasaan makin besar kemungkinannya
  2. Makin kecil jumlah informasi dan makin sederhana susunan atau struktur teks, makin besar kemungkinan penerjemahan
  3. Jika antara bahasa sumber dan bahasa sasaran terdapat kontak, kadar kemungkinan penerjemahan bertambah besar
  4. Jika bahasa sumber dan bahasa sasaran berada pada tingkat perkembangan budaya yang sama, misalnya, kebudayaan modern yang teknologis, atau kebudayaan yang lebih tradisional, maka kemungkinan penerjemahan bertambah
  5. Kemungkinan penerjemahan lebih besar di antara dua bahasa yang berkerabat
  6. Bahasa yang mempunyai tradisi penerjemahan yang menghasilkan peluasan daya ungkap, lebih mudah menjadi bahasa sasaran dalam penerjemahan.

Proses penerjemahan dapat diperkirakan menurut beberapa model

1. Model interlingua:

Menurut model ini, ungkapan dalam bahasa sumber dialihkan ke ungkapan dalam bahasa sasaran melalui penguraian kata dan kalimat secara semantis.

Masing-masing dianalisis dengan perantaraan unsur primitiva semantis. Misalnya, kata dara diuraikan ke dalam komponen INSAN, PEREMPUAN, YANG BELUM NIKAH.

Kemudian, dicari padanannya dan digabungkan. Karena di dalam analisis ini hanya dimensi kognitif dari makna yang terjangkau, sedangkan jenis makna lain tidak tercengkam, manfaat model ini agak terbatas.

2. Model transformasi

Di dalam model ini semua jenis struktur kalimat dapat disederhanakan menjadi susunan "kalimat inti" yang berkaitan. Kalimat inti di dalam semua bahasa memperlihatkan kadar kesamaan yang lebih banyak daripada kalimat struktur permukaan.

Proses penerjemahan berlangsung dalam tiga tahap: analisis, pengubahan, dan pelengkapan stilistis.

Pada tahap analisis dilakukan lima tindakan:
  1. identifikasi setiap kata dalam kalimat sebagai unsur struktur semantik (kata objek, kata tindakan, kata abstrak, kata relasi)
  2. penegasan apa yang tersirat (objek, tindakan, relasi)
  3. pembentukan kalimat inti dalam teks bahasa sumber
  4. penegasan tentang relasi di antara kalimat inti kedua bahasa
  5. perumusan kembali menurut struktur bahasa sasaran.
Maka pengubahan terjadi pada taraf perbandingan dan perangkat kalimat inti. Kalimat inti dalam bahasa sasaran akhirnya disesuaikan dengan kaidah stilistik yang berlaku dalam bahasa itu.

3. Model penerjemahan sintaksis

Dalam model ini yang penting bukan semantik kalimat, melainkan sintaksisnya.

Titik tolaknya ialah anggapan bahwa terdapat kesamaan fungsional di antara struktur kalimat dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Di sini linguistik kontrastif dimanfaatkan. Model ini lebih sederhana karena pembentukan struktur batin kalimat tidak diperlukan.

4. Model penerjemahan terpadu

Model ini dapat dianggap gabungan model yang bertalian dengan model penerjemahan kalimat karena bertolak dari anggapan bahwa proses penerjemahan berlangsung pada dua taraf:
  1. penerjemahan kalimat demi kalimat dan
  2. perancangan struktur yang menghubungkan gambaran mental struktur teks dalam bahasa sumber dengan struktur teks yang harus diproduksi berdasarkan kepadanannya dari jurusan konseptual, stilistis, tematis, dan artistik.

5. Model berdasarkan teori informasi

Model ini berkaitan dengan gejala redundansi, yakni kelewahan yang berguna dalam teks.

Derajat redundansi, yang dalam pemakaian bahasa dapat setinggi lima puluh persen, berbentuk pengulangan betnuk, kata dengan angka frekuensi yang tinggi, konstruksi yang teratur yang dapat diramalkan, dan sebagainya.

Kelewahan itu perlu untuk pemahaman pesan. Itulah mengapa puisi lebih sukar diterjemahkan karena memuat terlalu sedikit redundansi.

Demikian pula halnya dengan teks ilmiah yang menggunakan langgam yang ketat, yang antara lain disebabkan oleh peristilahan yang diperlukan dalam bidang ilmiah.

6. Model-model lain

Selain model-model yang disebutkan di atas, masih ada (1) model tradisional dan (2) model yang berdasarkan intuisi yang sudah umum dikenal.

Kedua model terakhir ini menangani penerjemahan dengan memilih satuan bahasa di bawah taraf kalimat sebagai sasaran penerjemahan.

Banyak orang masih beranggapan bahwa barang siapa yang tahu dua bahasa, mampu menerjemahkan teks dengan baik. Anggapan ini harus ditolak.

Kelayakan orang seorang untuk menjadi penerjemah dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Ia mengenal bahasa sumber. Bukan saja mengenal makna kata-katanya, melainkan juga seluk-beluk penggunaan dan kekhususan bahasanya di bidang sintaksis, pragmatik, dan stilistik
  2. Ia menguasai bahasa sasaran sebagai bahasa keduanya
  3. Ia memahami subjek yang akan diterjemahkannya. Ia tidak perlu menguasai bidang yang bersangkutan, tetapi harus mengerti dengan betul apa yang diungkapkan dalam teks yang dihadapinya
  4. Ia harus yakin bahwa penerjemahan itu bukan suatu kiat atau seni belaka, melainkan juga suatu kegiatan yang berdasar pada teori yang menjelaskan proses penerjemahan. [Anton Moeliono]

Baca juga artikel lainnya:
Biografi Chairil Anwar
Makna Denotasi dan Konotasi
Peran Penyair di Negara Sedang Berkembang


Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar