Biografi Chairil Anwar

20.48
Biografi Chairil Anwar

Biografi - Bagi Chairil Anwar, semua orang adalah sahabat. Ia bergaul di kalangan luas. Penyair yang dekat dengan para pejuang republik ini punya banyak wanita dan pelopor Angkatan 45. Sifilis merenggut nyawanya.

Jakarta, 24 April 1949. Kepada Saleha, H.B. Jassin menulis:
Ibunda yang mulia,
Dengan ini saya mengabarkan bahwa Chairil masuk rumah sakit CBZ. Penyakitnya, penyakit dada. Dia masuk rumah sakit sudah dua hari dengan ini.
Dia minta tolong kepada saya supaya menulis surat kepada ibu. Katanya ia ingin pulang ke Medan, supaya bisa dapat rawatan yang baik di sana. Di Jakarta sini perawatannya di CBZ tidak begitu sempurna.
Kalau bisa tolonglah ibu usahakan ongkosnya. Kirimkan saja ke alamat saya: H.B. Jassin, Siwalan 3, Tanah Tinggi, Jakarta. Nanti saya sampaikan kepada Chairil. - Lain tiada.
Empat hari kemudian, orang yang disebut Chairil ternyata meninggal juga di Jakarta. Kota Medan tak sempat ia jenguk. Sedang Saleha pun tak sempat melongok jasad sang anak. Itu sebabnya, pada 11 Mei 1949, Jassin kembali melayangkan surat kepada sang ibunda di Medan. Bunyinya antara lain:
Tentang kematian Chairil Anwar memagn seperti yang dikatakan surat kabar, ialah penyakit usus. Tapi sebenarnya dia sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi darah kotor...Chairil meninggal dengan berani dan tidak lupa kepada Tuhan. Meskipun dia dalam masa akhirnya mengigau oleh karena tinggi panas badannya, pada saat-saat dia insyaf dirinya dia mengucap: Tuhanku, Tuhanku...
Meninggal pukul 14:30, keesokannya tokoh yang kita sebut Chairil Anwar dibawa ke tempat peristirahatan terakhir -- sesuai "permintaannya sendiri" -- di Pekuburan Karet, Jakarta. Mulanya, ia mau disemayamkan di Gedung Taman Siswa. Tetapi, atas saran Sutan Sjahrir, akhirnya dari rumah sakit CBZ (kini RS Cipto Mangunkusumo), jenazahnya langsung diantar ke makam.

Mangkatnya tokoh kita menghibukkan orang banyak, memang. Ia menjadi perbincangan di mana-mana. Selama empat hari berturut-turut harian Merdeka mewartakan. Media-media lain tempo itu tak kurang pula memberitakannya. Sementara tugas penguburan langsung diurus para anggota Perkumpulan Maya. Yang sibuk, antara lain, Usmar Ismail, Rosihan Anwar, Rivai Apin, dan -- tentu, orang yang giat menulis surat ke Medan itu tadi -- H.B. Jassin.

Pidato Chairil Anwar di Pusat Kebudayaan, 1949

Masa Remaja dan persahabatan dengan Jassin

Secara pribadi Hans Bague Jassin memang akrab dengan Chairil Anwar. Sejak di Medan dulu kala, antara medio dan akhir tahun 1930-an, Chairil telah ia kenal. Perjumpaan mereka biasa berlangsung dalam forum-forum Perkumpulan Pemuda Bumiputera -- suatu organisasi para siswa HBS, Taman Siswa, dan Sekolah Kepandaian Putri di Medan.

Chairil yang baru duduk di bangku kelas I MULO, tercatat pula sebagai anggota perkumpulan tersebut. "Yang menarik dari Chairil, kalau bermain bulu tangkis dan pingpong, ia selalu ribut. Apalagi dia sering tak mau kalah," ujar H.B. Jassin. Segala tenaga ia kerahkan dan kuras habis agar bisa selalu menang.

Hal tersebut juga dibenarkan Sjamsulridwan, dalam tulisan mengenang teman karibnya itu, yang menyimpulkan Chairil memiliki sifat bawaan pantang menyerah. "Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam," tulis Sjamsulridwan dalam majalah Mimbar Indonesia.

Di sekolahnya sendiri Chairil menjabat redaktur majalah Ons Mulo Blad. Sedangkan di gedung perkumpulan, berbentuk rumah panggung itu, ia bisa menikmati macam-macam fasilitas. Mulai dari lapangan bulu tangkis, meja pingpong, sampai perpustakaan. Dan di sanalah diam-diam H.B. Jassin, sekretaris perkumpulan tersebut, mulai tertarik menyimak ulah remaja penuh vitalitas ini.

Manusia bernama Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922, sebagai anak kedua pasangan Tulus dan Saleha. Ia sangat disayang oleh orang tuanya. Begitu pula kakaknya, Chairani Halim. Ani -- demikian panggilan Chairani -- sudah menjadi guru di Medan ketika adiknya masih di bangku sekolah.

Kakaknya ini tahu betul sifat-sifat adiknya. Bahkan, sebagaimana disimpulkan Arief Budiman, Chairil begitu menaruh harapan pada kakaknya. "Hingga menjelang kematiannya, Chairil sering menyebut-nyebut namanya dan berusaha menulis surat kepadanya (dan bukan kepada ibunya)," tulisan Arief dalam buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (1976).

Pada usia remaja, dunia seolah-olah memanjakannya. Ia tak pernah kekurangan uang. Pakaian, makanan, mainan, dan apa saja yang diminta waktu itu pasti dapat diperoleh. Di Medan waktu itu, ayahnya berkedudukan cukup terpandang. Tulus punya jabatan sebagai seorang pamong praja. Sebenarnya, ia pendatang dari Koto Nan Gadang, Payakumbuh, Sumatera Barat. Keluarga Tulus sering pula berpindah tempat. Misalnya, mereka pernah pindah agak lama di Siak Sri Indrapura, Tanjung Balai, dan Pangkalan Brandan. Sayangnya, situasi rumah tangganya tidak harmonis.

Bertahun-tahun orang tuanya hidup dalam pertengkaran. Mereka sama-sama galak, keras hati, dan tak mau mengalah. Dan di tengah-tengah suasana inilah Chairil Anwar dibesarkan, kendati mereka amat memanjakannya. Apa yang diinginkan harus selalu tersedia. Begitu pula bila sang anak berkelahi, Tulus acapkali membenarkan tindakan tersebut. "Kalau perlu bapaknya juga ikut berkelahi," tulis Sjamsulridwan. Tidak mengherankan bila kemudian terbentuk sifat khas Chairil, "Akulah yang benar!".

Akhirnya, perceraian antara Tulus dan Saleha tak terhindari. Tulus kawin dengan wanita yang dipanggil Etek, yang melahirkan anak kembar Tuwilha dan Tuwilhi. Sementara Saleha -- akrab dengan sebutan Mak Leha (panggilan yang juga dipakai kawan-kawan Chairil) -- berangkat ke Jakarta bersama anak manja itu.

Pindah ke Jakarta

Perkawinan sang ayah memang diprotes Chairil. Lalu, anak manja ini memutuskan ikut Mak Leha mengadu nasib di Batavia. Ia jadi demikian benci terhadap bapaknya. "Sejak itu jiwanya gelisah dan menginginkan suasana kehidupan lain," ujar Sjamsulridwan.

Perceraian orang tuanya amat mengejutkan Chairil. Seperti dituturkan Sjumandjaya dalam skenario filmnya, akibat peristiwa itu, tokoh kita ini mulai merenung dalam kesendirian. Pada adegan ke-19 skenario yang terbit berjudul Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (1987) dan belum sempat difilmkan itu, dilukiskan sepasang mata merah remaja Chairil yang nanar menatap jauh. "Jauh sekali, seolah mau berpacu dengan hari esok yang akan dilaluinya."

Seusai dipuja-puji gadis-gadis seusianya, sehabis membabat lawannya di lapangan bulu tangkis, si "aku" segara lari keluar lapangan dan menghampiri seorang putri tercantik yang ada di sana. Ia dielu-elu orang banyak. Sementara putri tadi, "Langsung dikecup pada pipinya, membuat orang-orang tua menjadi terkejut melihatnya. Putri ini bahkan lantas dilarikan pulang, meninggalkan semuanya yang cuma sanggup menggeleng-gelengkan kepala." Chairil bersuka cita, gembira atas kemenangannya.

Tapi, setibanya di rumah, si "aku" tak menemui jejak ibu maupun ayahnya. Ia mulai curiga. Dan kemudian segera bergegas keluar rumah. Sementara itu, "Di sebuah rumah yang lain, akad nikah baru saja berlangsung. Dan astaga ... sang remaja menyaksikan sang ayah berkumis melintang memeluk perempuan lain yang masih mudah ke dalam kamar ..." Begitulah dua adegan dalam skenario Sjumadjaya itu.

Mula-mula ia samakan cara hidup Jakarta seperti di Medan. Memang, tiap bulan Mak Leha dan Chairil terus dapat kiriman uang dari Tulus. Kalau ibunda mengirit-irit uang kiriman tersebut, Chairil maunya berfoya-foya. Sesaat ia sempat meneruskan MULO di Jakarta. Tapi sebab situasi perang kemerdekaan saat itu jadi kacau, sekolah Chairil jadi morat-marit.

Ia mulai bergaul di kalangan luas. Siapa saja seakan menjadi sobatnya. Chairil bisa muncul di lobi hotel dengan pakaian perlente. Di sana ia berdansa dengan noni Belanda. Berbincang bersama tuan dari seberang. Lengkap mengenakan setelan jas dan dasi kupu-kupu.

Namun, bersamaan dengan itu, Mak Leha terbenam di kamar pondokan yang tak memadai di daerah Kebon Sirih, Jakarta. Ibunda juga tak berdaya menghadapi ulah anaknya yang sudah beranjak jadi pemuda. Malahan, menurut Sjamsulridwan, "Orang tua itu habis dirongrong perhiasannya untuk membelikan keperluannya berfoya-foya, seperti setelan jas, ongkos mentraktir gadis-gadis, dan lain-lain."

Hal ini berlangsung sampai ayahnya tak lagi mengirim uang. Dan kata Mak Leha bertutur, "Ayahmu sudah enam bulan tidak mengirim uang untuk kita," wajah Chairil pun berubah. Matanya yang selalu merah itu menjadi semakin merah. Ia merangkul sang ibunda. Diraih tangannya, dikecup, dipeluk, dan lantas berkata: "Ibu masih membekal perhiasan-perhiasan. Jual sajalah."

Sambil menahan pilu dan sedih, Saleha berujar: "Sudah terjual semuanya, Nak... Untuk sewa rumah, untuk makan, untuk bayar sekolahmu, buku-bukumu, dan ... juga dansa-dansa dan kesenangan-kesenanganmu selama ini..." Chairil jadi termangu. Buku di tangannya dibanting. Ia geram membayangkan wajah sang ayah yang betul-betul tampak seperti iblis. Apa boleh buat.

kutipan puisi Chairil Anwar

Kutu Buku

Sejak duduk di HIS, Chairil sudah gemar membaca. Beberapa bahasa, antara lain, Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda, ia kuasai. Bahkan, sewaktu mereka di Pangkalan Brandan, gara-gara membaca Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisyahbana keras-keras, ayahnya sempat ditegur polisi Belanda. Chairil sendiri kemudian dibawa ke kantor militer.

Walaupun Chairil Anwar cuma duduk sampai kelas dua MULO, banyak sudah karangan dan buku-buku berat -- terlebih-lebih karangan kesusastraan -- dilahap habis. Dan yang dibaca sebenarnya bukan bacaan untuk ukuran murid setingkatnya.

Menurut H.B. Jassin, pengetahuan Chairil tentang penyair Jerman R.M. Rilke cukup mencengangkan kala itu. Padahal Rilke baru diajarkan kepada siswa-siswa di HBS -- itu pun hanya kulitnya saja. Kepada Jassin, Saleha pernah bercerita bagaimana setiap kali Chairil membaca, meskipun tak ada listrik, cuma lampu tempok. "Kata ibunya, Chairil malahan suka membaca sampai pagi hari," ujar Jassin.

Chairil juga sudah menggeluti pikiran-pikiran para filsuf aliran eksistensialisme, seperti Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre, yang muncul realtif baru pada zaman itu. Itulah alasan kenapa ia cukup disegani kawan-kawan yang punya pendidikan resmi lebih tinggi darinya.

Penampilan tokoh kita sehari-hari, kata H.B. Jassin, sering urakan dan eksentrik. Ia kurus, tinggi, dan rambutnya pirang. Gerak-geriknya sedikit agak lamban. Pakaiannya sembarangan dan jarang disetrika. Rambutnya pun jarang disisir. Di Jakarta, Jassin berjumpa lagi dengan Chairil. Dan terjalin kembali pergaulan di antara dua orang ini.

Pertemuan mereka di Jakarta mulanya berlangsung di penerbit Balai Pustaka, tempat Jassin bekerja. Sekitar Oktober 1942, Chairil datang membawa beberapa sajaknya, antara lain, Nisan, yang kemudian terkumpul dalam Kerikil Tajam. "Kalau dia datang, selalu seenaknya," ujar Jassin mengenang. Duduk di atas meja dan bicara lantang. Sastrawan-sastrawan tua macam Nur Sutan Iskandar, Aman Datuk Majoindo, dan Tulis Sutan Sati, yang duduk di depannya, seolah tak diacuhkannya.

Lama-lama para sastrawan Angkatan Balai Pustaka itu jadi kesal. Setelah ia pergi, mereka bertanya, "Siapa sih orang itu, Sin? Lain kali jangan boleh datang kemari. Kurang ajar anak itu." Malahan, Datuk Majoindo sempat berseru: "Mestinya anak tadi digantung saja..." Tetapi, lama-kelamaan kedatangan Chairil Anwar ke Balai Pustaka membuat mereka terbiasa. Jassin tak tega juga kalau harus menguris kawannya itu.

Nama Chairil memang cepat menanjak. Di samping larik-larik puisi yang mulanya dianggap aneh rupa, ia sering bergaul dengan orang-orang top dan para pejuang republik. Misalnya, Bung Karno, Bung Hatta, atau Bung Sjahrir. Kepada Bung Karno, ia sempat membuat "persetujuan", berjudul Persetujuan dengan Bung Karno:
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
dipanggang atas apimu digarami oleh lautanmu
Lewat Krawang-Bekasi, ia berseru pula agar melindungi ketiga tokoh RI ini:
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Oom Sjahrir

Tetapi, pada orang yang disebut terakhirlah Chairil kerap kali datang. Kebetulan perdana menteri RI pertama ini adalah salah seorang pamannya. Dan Chairil sendiri termasuk anggota gerakan bawah tanah melawan Jepang pimpinan Sjahrir. Kata Jassin, paman ini banyak punya pengaruh pada pertumbuhannya.

Chairil memang sangat mengagumi semangat Jepang. Ia suka semboyan-semboyan penuh daya hidup. Ia kagumi juga ciri bangsa Nippon yang suka berjibaku.

Tapi, pada sisi lainnya, dia tak suka politik Jepang yang diktator dan fasis.

"Saya kira di situ pengaruh Sjahrir yang melekat dalam jiwa Chairil. Ia anti diktator dan anti fasisme," kata Jassin. Dan kebetulan juga koleksi buku Sjahrir banyak dipenuhi karya susastra.

Perpustakaan inilah yang disukai Chairil. Di situ ia berkenalan dengan sastrawan dan penyair top, misalnya, Slauerhoff dan Marsman.

Hubungan antara paman dan kemenakan ini tampak harmonis, seperti dituturkan Denna Matuta Hermalelo, dalam harian Pelita. Suatu hari, ketika masih menjabat perdana menteri, Sjahrir sedang dalam kendaraannya bersama seorang wartawan asing. Di tengah jalan Bung Kecil yang pegang kemudia tiba-tiba menghentikan kendaraan, lalu mengajak seorang anak "ingusan", lagi kumal, masuk ke dalam.

Tentu saja si wartawan menjadi takjub melihat seorang perdana menteri menyuruh seorang "gembel" ikut bersamanya. Betapa kagetnya sang wartawan, ketika laki-laki muda ini kemudian terlibat diskusi berat berkepanjangan bersama Bung Sjahrir.

Mereka berbincang seputar Perjanjian Linggarjati, sikap Kerajaan Belanda, pendapat tokoh-tokoh bangsa Indonesia, serta peristiwa-peristiwa internasional. "Anak muda itu mengeluarkan pikiran-pikirannya secara rapi, lahir dari otak yang tajam dengan pandangan yang jauh ke depan," tulis Hermalelo. Semuanya berlangsung akrab. Sesekali terdengar "anak gembel yang ingusan" ini memanggil Sjahrir dengan sebutan Oom.

Padahal, seperti kita ketahui, selain politikus dan negarawan, Sjahrir adalah seorang intelektual yang punya pikiran dan gagasan yang tajam. Jarang ada orang yang bisa menandingi isi pikiran si Bung Kecil ini. Dan setelah anak kumal itu turun, sang wartawan bertanya penuh kekaguman. Siapa sih anak itu? Sjahrir bialng, dengan nada bangga, "Itulah Chairil Anwar, keponakanku."

Hubungan akrabnya dengan Sjahrir tidak saja terbatas pada buku-buku dan diskusi. Tetapi, jauh "lebih akrab" lagi. Oleh Chairil, semua barang miliki pamannya ini dianggap sebagai miliknya sendiri. Suatu hari karena butuh uang, dengan alasan mau beli obat, ia datang ke rumah Sjahrir.

Permintaannya ditolak. Kata Sjahrir, "Kau yang penyakitan, aku yang harus bayar. Macam mana kau ini." Tetapi, begitu Chairil pulang, Sjahrir sadar arlojinya sudah lenyap.....

puisi Chairil Anwar

Cerita Asrul Sani

Asrul Sani, rekan seangkatannya, Angkatan '45, punya cerita lain. Setelah lama tak bersua Chairil, di zaman proklamasi, suatu hari ia berpapasan dengan lelaki berpakaian perlente di stasiun Manggarai. Lelaki itu adalah Chairil Anwar yang bermaksud ke Yogyakarta.

Ketika ditegur Asrul, "Eh, sudah perlente kau," Chairil tertawa dan menjawab sekenanya: "Tas ini milik Oom Sjahrir... he he he." Itulah si "aku", yang juga menyebut dirinya "si binatang jalang".

Menurut Asrul, adatnya memang jelek. "Bagi dia, uang orang lain, ya, uang dia. Barang orang lain, ya, barang dia juga." Ia kerap terlihat pula di toko-toko buku sedang "beroperasi". Apalagi kalau buka untuk mengambil buku tanpa bayar. Chairil bahkan sempat masuk bui gara-gara ketahuan "menyikat" seprei temannya yang lagi dijemur.

Bagi Jassin, berkenalan dengan Chairil memagn membawa risiko berkepanjangan. "Kita lebih banyak menanggung rugi," ujar kritikus sastra ini tertawa.

Tak jarang buku yang dipinjam tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Buku Jassin tiga jilid tentang Pujangga Baru, raib di tangan tokoh kita. Bahkan, bila Jassin sedang keluar rumah pun, Chairil tega "mengambil" buku di perpustakaannya. Kendati kalau sedang datang baiknya, ia kasih tahu juga. Misalnya, ketika Chairil membawa pulang empat buku berbahasa Belanda miliki Jassin:
Jassin, tadi datang. Rumah kosong. Ada menunggu kira-kira sejam. Sementara itu tentu tak dapat melepaskan tangan dari lemari buku. Kubawa:
  • H.R. Holst, De nieuwe Getroste
  • H.R. Holst, Keur uit de Gedichten
  • Huizinga, In de schaduw van Morgen
  • Huizinga, Cultuur Historische Verkenningen
Maksud datang tentu dapat Jassin menerka. Minta terima kasih 1001 kali. Kalau sempat besok datang ke Balai Pustaka.....
Begitulah sebagian bunyi surat Chairil kepada Jassin, pada 15 Maret 1943.

Sementara perkenalan antara Asrul dan "si binatang jalang" bermula di keramaian pasar Senen, dekat penjualan buku-buku loak, pada 1943. Kejadiannya, menurut Asrul, tak begitu istimewa.

"Ada teman yang mengenalkan kami berdua," kata Asrul yang mengaku lupa siapa teman tersebut. Sebelumnya, nama Chairil telah lekat di telinga Asrul. Sajak-sajaknya sudah sering dibaca. Perkenalan itu langsung dibarengi perbincangan soal puisi dan susastra.

Kesan pertama Asrul, Chairil, "Orang yang sembrono, bicaranya melompat-lompat, dan terburu-buru dalam berpikir."

Bagi Chairil, Asrul dan Rivai Apin adalah teman sedunia dalam kesusasteraan. Mereka bertiga sama-sama perintis Angkatan '45. "Tetapi Asrul, orangnya sok aksi dan tidak mau dibawa ke tempat-tempat yang 'gelap'," kata Chairil.

Sedang kritiknya pada H.B. Jassin, "Hanya bisa bicara melulu, itu pun kadang-kadang saja tentang soal-soal kesusasteraan." Karena itu, katanya, ia lebih cocok dengan orang bernama Sam Amir. "Orangnya tidak terlalu menarik dalam mengutarakan pikiran-pikiran yang cemerlang. Tapi kami seia-sekata bisa menerobos 'jalan-jalan gelap' bersama-sama," kata Chairil.

Menurut Asrul, gelaja yang ditawarkan si "aku" adalah bagaimana kita bisa membebaskan diri dari kungkungan bahasa. Dari sinilah lahir susastra baru. Bahasa yang digunakan adalah bahasa si pengarang.

"Orang memang tidak begitu merasakan kini, soalnya sekarang kita terbiasa menggunakan bahasa," kata sutradara film Sjumandjaya. "Tapi, masa itu kekurangajaran tak bisa ditolerir."

Bukan saja dalam berkarya ia kurang ajar, namun -- seperti kita tahu -- tingkah lakunya pun sering kelewat batas. "Dan Chairil tak peduli orang sakit hati atau tidak," ujar Asrul lagi. Tokoh kita ini sangat spontan. Apa yang ada dalam benaknya, terloncat begitu saja.

Ada seorang wartawan Belanda, bernama Dolf Verspoor, bekerja di kantor berita AFP yang akrab dengan Chairil. Suatu kali, kala sedang berkumpul dengan kawan-kawannya, melihat Verspoor muncul, Chairil langsung menyambut, "Wah, ini agen Belanda kita datang."

Itu masih belum dianggap kejam. Waktu berkenalan dengan Gadis Rasjid, ia malah menyapa: "Eh, kamu orang Kotagadang, ya? Di Kotagadang banyak orang-orang cendekiawan." Begitu kata Chairil membuka percakapannya. Lalu, ia melancarkan sebuah bom. "Apa sebabnya orang Kotagadang pandai-pandai dan Belanda senang masyarakatnya? Karena merekalah yang menunjukkan tempat persembunyian Imam Bonjol..."

Kalau ia menganggap diri pintar, barangkali memang wajar. Kenyataannya memang demikian. Kendati begitu, sebagaimana semua temannya menilai, Chairil tidak sombong. Secara pribadi ia memiliki sosial yang tinggi. Bila baru terima honor puisi, ia senang mentraktir makan sobat-sobatnya.

Namun, jika tak punya uang, ia cari akal menumpang makan di rumah kawan. Tidak aneh, kalau ia bertandang ke rumah Mochtar Lubis, pas jam makan siang.

Alasannya, cuma mau menunjukkan puisi yang baru dibikin. "Sering dia mengeluarkan sepotong kertas dari sakunya, dan membacakan sebuah sajak yang lagi ia garap. Belum selesai, belum selesai, dia akan menggerutu. Dan memasukkan kertas kembali ke dalam sakunya," tulis Mochtar Lubis dalam majalah Horison. "Dan Chairil termasuk seorang anak manusia, yang punya perut tanpa dasar, alias merasa lapar terus menerus setiap waktu."

Pengalaman di rumah Mochtar Lubis rupanya tak sama penerimaannya di rumah keluarga dr. Rasjid. Berharap akan diajak makan bersama, ia bertandang ke rumah keluarga Gadis Rasjid. Harapannya pupus. Dan sejak itu ia tak mau datang lagi ke sana. Kepada kawan-kawannya, ia berkata: "Hah, kalian jangan datang ke rumah Gadis Rasjid. Percuma saja, kita tak akan ditawari makan." Walaupun tak suka terhadap keluarga itu, toh Chairil membuat juga puisi untuk Gadis Rasjid, berjudul "Buat Gadis Rasjid".

Pernikahan dan Perceraian Chairil Anwar

Pernikahan dan Perceraian

Di sela-sela perjuangan RI dari agresi Belanda, ia pergi ke Karawang. Di sana pada 6 September 1946 gadis bernama Hapsah Wiraredja disuntingnya. Saat itu, menurut anak Chairil satu-satunya, Evawani Alissa, "Semua ibu saya mau menikahi dokter." Tapi Chairil tak peduli. Ia gencar mendatangi gadis ini, sekalipun ayah si gadis mengusirnya. Perang memang tak menentu waktu itu, sehingga Hapsah mengungsi ke Karawang.

"Saya tidak tahu kok ayah sampai ada di Karawang waktu itu," ujar Eva. Dia mengaku banyak mendengar kisah tentang Chairil dari ibunya. Bahkan mulanya ia tak tahu bahwa Chairil Anwar adalah ayahnya. Ketika Chairil meninggal ia masih kecil, dan kala itu kedua orang tuanya sudah bercerai. Hapsah kemudian kawin lagi dan Eva dibesarkan ayah tirinya.

Sepanjang hayatnya, Chairil tidak pernah bekerja lama di satu tempat. Ia selalu ingin bebas. Lain dengan Hapsah, istrinya, yang bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di kantor ini mulanya mereka berkenalan. Hati pun terpaut. Menurut Jassin, "Kalau berbicara, gaya Chairil sangat meyakinkan, seolah tak terbantah. Itu yang menarik gadis-gadis."

Banyak gadis yang dikencani seniman jalang ini. Bagi yang meresap di hati, biasanya diungkapkan lewat puisi. Setidaknya, di samping istrinya, ada tiga gadis tempo itu yang bikin kalut hati Chairil. Misalnya, Sri Aryati, Nursamsu Nasution, dan Gadis Rasjid. Bahkan ia pernah membuat sajak Buat Ida yang ke Dua Puluh Satu, yang entah siapa gerangan.

Pada tahun 1976, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, saat diselenggarakan peringatan mengenang wafatnya tokoh kita, ketiga mantan pacar Chairil ini diberi forum membaca sajak-sajak Chairil yang sengaja dibuat untuk mereka.

Dalam kesempatan ini Gadis Rasjid, seraya bergurau menunjuk Sri Aryati, mengatakan bahwa wanita yang dicintai Chairil biasanya besar-besar. Soalnya tubuhnya sendiri kecil. Hapsah sendiri, oleh Chairil disebut "si gajah" -- karena posturnya lebih besar dari sang suami.

"Dia suka datang ke rumah wanita-wanita yang dikenal untuk ngobrol," kata Gadis. Perbincangannya selalu menarik. Tak pernah membosankan. Itu sebabnya, rata-rata banyak wanita yang terpukau. "Meskipun kedatangannya itu sebetulnya cuma alasan untuk akhirnya minta makan," ujar Gadis sambil tertawa.

Akhir hidup penyair Chairil Anwar

Akhir hidup sang penyair

Kala bercerai dengan Hapsah hidup Chairil makin tak teratur. Sementara Mak Leha kembali ke Medan dan tinggal bersama kakaknya, Chairani.

Chairil terserang beberapa penyakit. Suatu hari kepada Jassin, ia berkata, "Sin, dokter bilang aku kena gonorrhue. Dan sifilis juga. Tapi, jangan khawatir Sin, memang, orang-orang besar mati karena sifilis."

Ketika sakitnya beranjak kronis, ia menumpang di rumah temannya, S. Suharto. Mula-mula disangka malaria. Karena sakitnya makin parah, Suharto dan Rivai Apin membawanya ke rumah sakit CBZ. Dan di sanalah seniman yang kemudian "dimitoskan" itu mengembuskan napas terakhir.

Di Karet, Jakarta, ia dikubur, sesuai permintaannya lewat Yang Terampas dan Yang Putus:
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d)
sampai juga deru angin ...
Dalam waktu tujuh tahun masa kepenyairannya, tokoh kita menghasilkan 94 buah tulisan. Terdiri dari 70 sajak asli, 4 sajak saduran, 10 sajak terjemahan.

Inilah Chairil Anwar yang disebut oleh pamannya, Sutan Sjahrir, dalam pidato penghormatannya, sebagai "pejuang revolusioner Indonesia."

Bahwa, "Jika Chairil berjalan dengan sebebas-bebasnya, sehingga tidak dapat dimengerti oleh orang lain, pun oleh keluarganya," tutur Sjahrir.

Memang, tak semua orang punya keberanian seperti si "binatang jalang" ini. Baginya, "Hidup hanya menunda kekalahan. Sekali berarti sudah itu mati." Walau ia berkata, "Aku mau hidup seribu tahun lagi." Sayang, ia mati muda. [Ricardo Iwan Yatim, 1989]


Baca juga artikel lainnya:

Biografi Pramoedya Ananta Toer 
Biografi Sitor Situmorang 
Chairil Anwar 
Tiga Muka Satu Pokok 
Hasratnya Museum Sastra yang Lengkap

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...