Biografi Haji Hasan Mustapa

Biografi Haji Hasan Mustapa


Biografi - Haji Hasan Mustapa menjalani hidup selama 78 tahun, yaitu dari tahun 1852 sampai tahun 1930, atau selama 80 tahun menurut perhitungan tahun Hijrah (1268-1348 H). Dapat dikatakan bahwa Haji Hasan Mustapa telah menjalani hidup mulai pertengahan abad XIX dan berakhir pada sepertiga abad XX.

Menurut Stoddard (1966: 28-41), abad XIX merupakan abad kebangkitan Islam. Selanjutnya, Stoddard mengemukakan bahwa pada abad masa itu di Mekah dan di beberapa negara Islam lainnya sedang timbul semacam pergolakan yang menuntut kemerdekaan berpikir.

Seperti diketahui, berabad-abad lamanya di lingkungan dunia Islam terdapat pertentangan paham antara penganut aliran Napal, Sunah, dan Taqlid di satu pihak dan penganut aliran Akal, yakni kaum Muktazilah di pihak lain.

Mula-mula kemenangan berada di pihak pertama. Akan tetapi, pada abad XIX paham Muktazilah kembali muncul dengan lahirnya mujadid (reformer) yang berpaham bebas, yakni mereka senantiasa menguatkan pikiran dan paham-paham perbaikan yang dibawanya, dengan dalil dan keterangan para pemuka Muktazilah yang terdahulu, dan juga dengan hadis dan ayat-ayat kitab suci Alquran.

Mereka berusaha memperbaiki kepincangan-kepincangan, menghapuskan segala perbuatan takhayul dan kembali kepada Islam sejati, yang bersumber kepada Quran dan hadis.

Di samping itu, segala bid’ah yang masuk kemudian, tulisan dan segala macam tafsiran para ahli agama pada zaman pertengahan Islam dahulu, pemujaan dalam bentuk sesajen, mistik atau pengagungan kepada para wali atau singkatnya segala bentul penyelewengan itu dilarang.

Di antara para mujadid itu yang terkenal adalah Muhamad bin Abdulwahab dari Nejed, Muhamad Abduh dari Mesir; Said Djamaluddin Al Afghani dari Persia; Said Muhamad bin As-Sanusi dari Aljazair, dan lain-lain (Stoddard, 1966-61)

Pada masa itulah Haji Hasan Mustapa hidup dan menuntut ilmu di Mekah. Tidaklah mustahil pertentangan-pertentangan paham di antara golongan beragama ini telah mempengaruhi alam pikirannya yang pada masa itu masih berusia remaja dan sedang mencari-cari kebenaran dalam agama.

Tidaklah mustahil pula apabila peristiwa itu telah turut menempa pribadi dan pikirannya sehingga ia tumbuh menjadi seorang ahli pemikir agama yang ulung seperti terlihat dalam tulisan-tulisannya.

Kebangkitan Islam ini tidak hanya menumbuhkan kemerdekaan berpikir, tetapi juga di beberapa negara jajahan telah pula menumbuhkan semangat perjuangan melawan penjajah yang mereka anggap sebagai orang-orang kafir, misalnya, di Afghanistan, Turki, Sudan, Aljazair, dan juga di Indonesia.

Di Indonesia perlawanan terhadap penjajah dengan latar belakang agama ini, yang terkenal di antaranya ialah Perang Padri di Sumatera tahun 1821-1824, dan Perang Aceh di Sumatera Utara tahun 1873-1903.

Menurut Hazil (1952-95), pertentangan di Aceh ini bukan hanya antara rakyat melawan pemerintah colonial, melainkan juga antara golongan ulama dan kaum hulubalang. Mereka saling menyalahkan di dalam menghadapi kekalahan demi kekalahan dalam peperangan itu.

Mereka seakan-akan saling berebut pengaruh. Pada mulanya setelah Masjid Raya di Kutaraja ditembaki tantara colonial, rakyat Aceh bertekad mengobarkan perang sabil tanpa mau berkompromi lagi dengan pihak musuh.

Akan tetapi, beberapa lama kemudian banyak di antara kaum hulubalang beranggapan bahwa perang berlangsung terlalu lama dengan tidak berketentuan. Mereka bermaksud mengubah siasat sehingga akhirnya banyak di antara kaum hulubalang yang membelok atau berpura-pura membelok kepada pemerintah Belanda, di antaranya Teuku Umar.

Dalam peperangan di Aceh itu tidak sedikit buku-buku mengenai agama Islam jatuh ke tangan sedadu marsose. Berdasarkan penelitian Atmakusumah (1979: 9), lebih dari 300 judul buku yang jatuh ke tangan pemerintah Belanda, di antaranya tulisan-tulisan Ar-Raniri yang bernama lengkap Nasruddin bin Ali Hasanji bin Muhamad Hamid Al-Raniri, seorang sufi yang berasal dari Gujarat dan menjadi terkenal di Aceh pada abad ke-17 Masehi.

Seperti diketahui, Ar-Raniri adalah penentang paham sufi Hamzah Fansuri yang panteistis. Golongan panteistis ini berpendapat bahwa setiap tahap dari sistem emansipasi itu adalah Tuhan itu sendiri (John, 1974: 126).

Haji Hasan Mustapa ketika berusia 70 tahun

Sebelum Ar-Raniri tiba di Aceh tahun 1637, pada abad ke 16-17 di Sumatera, khususnya di Aceh, telah tersebar paham sufi panteistik yang dibawa oleh Hamzah Fansuri. Bahkan di antara pengikutnya adalah Sultan Aceh, Iskandar Muda (Anwar, 1962: 102).

Setelah Hamzah Fansuri meninggal, Ar-Raniri berhasil menyakinkan sultan yang baru melenyapkan ajaran sufi panteistik yang menurut pendapatnya menyesatkan itu. Buku-buku Hamzah Fansuri dibakar habis dan sejumlah pengikutnya dihukum mati.

Ar-Raniri di samping seorang ahli ketuhanan dan ahli sejarah, juga merupakan seorang penulis yang sangat produktif. Ia mengetahui buku-buku karangan Ibnul Arabi, Gazali, Abdul Razzak Al Kashani, Najmuddin Al Razi, Abu Syukir Al Salami.

Karangan Ar-Raniri yang ditemukan tercatat 23 judul. Kitab-kitabnya itu berisi kupasan tentang fiqih, ibadah, itikad, kepercayaan, hadis, kejadian asal-usul langit dan bumi, sifat manusia yang baik, yang buruk, melawan itikad wujudiah (pantheisme), rahasia hidup manusia terutama tentang ruh dan Tuhan, agama dan tarikat, hari kiamat, dunia sebelum diciptakan, ahadat, dan pendapat yang keliru tentang Tuhan, akoid dan ibadah, membasmi ulama zindik, cara salat, Iskandar Zulkarnaen, Al-Quranul Karim, pedang orang saleh memetong leher orang kafir, dan lain-lain (Atmakusumah, 1979:9).

Haji Hasan Mustapa yang pernah menjadi Hoofd penghulu di Aceh selama 3 tahun (1893-1895), menurut pendapat Atmakusumah, tidaklah mungkin kalau tidak pernah sekurang-kurangnya memegang salah satu buku Ar-Raniri.

Apalagi jika diingat betapa akrabnya hubungan antara Haji Hasan Mustapa dan Snouck Hurgronje yang dalam salah satu bukunya, De Atjeher, bahkan pernah menyinggung-nyinggung Ar-Raniri.

Mustahillah apabila kedua orang bersahabat itu tidak pernah membicarakan Ar-Raniri mengingat Haji Hasan Mustapa adalah seorang yang sangat besar perhatiannya terhadap ilmu agama.

Ketika Haji Hasan Mustapa menjadi Hoofd penghulu di Bandung (1895-1918), awal kebangkitan Islam yang disebut juga gerakan Salaf atau gerakan Reform itu rupanya berhembus pula ke daerah Jawa Barat.

Dalam bab tambahan buku “Dunia Baru Islam” diuraikan bahwa pada tahun 1905 di Menes, Banten, telah berdiri perkumpulan Mathla’ul Anwar, atas inisiatif K.H.M. Yassin. Perkumpulan itu telah memiliki beberapa sekolah yang membawa pikiran bar uke dalam masyarakat Islam.

Perkumpulan ini, terutama pada masa pimpinan K.H. Abdurakhim, telah bekerja sama dengan Syarikat Islam dalam menentang politik kolonial Belanda dan membela kemerdekaan rakyat, terutama dalam persoalan tanah.

Pada tahun 1926, bersama Syarikat Islam dan Komunis, perkumpulan ini berusaha mengusir penjajahan Belanda yang dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia terkenal dengan nama Peristiwa Menes atau Peristiwa Banten (Stoddard, 1966:296). Ketika peristiwa itu terjadi, Haji Hasan Mustapa sendiri sedang menjalani masa pensiun.

Tidaklah diketahui bagaimana sikap dan perhatian Haji Hasan Mustapa terhadap pergerakan di dalam dunia Islam di Jawa Barat yang berkaitan dengan pergerakan politik di tanah air itu.

Yang jelas, rupanya Haji Hasan Mustapa bukanlah pengikut gerakan Salaf atau Wahabi mengingat keterangan dari Awak-awak Galih Pakuan yang menyebutkan banyak orang berpendapat bahwa paham Haji Hasan Mustapa bertentangan dengan paham Ahlussunah Waljamaah.

Di samping itu, sewaktu Daeng Kanduruan Ardiwinata yang dikenal sebagai pengikut Ahlussunah Waljamaah diangkat menjadi voorzitter Panitia Peringatan Hari Wafat Haji Hasan Mustapa, banyak sekali teguran dan celaan dari pengikut-pengikut Ahlussunah Waljamaah atas keikutsertaan Ardiwinata dalam panitia itu karena menurut pendapat mereka Haji Hasan Mustapa bukanlah salah seorang pengikut Ahlussunah Waljamaah (Wangsaatmadja, tanpa tahun).

Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Namun, dalam bukunya yang berjudul “Aji Wiwitan Istilah” (buku jilid I), Haji Hasan Mustapa banyak menyinggung tentang Syarikat Islam yang pada tanggal 17-24 Juni 1916 mengadakan kongres di Bandung.

Dalam bukunya itu Haji Hasan Mustapa menyebutkan bahwa kongres itu diadakan di alun-alun Bandung dengan seizin pemerintah Belanda. Oleh karena itu, dapat diselenggarakan selama 7 hari 7 malam. Yang menghadiri kongres itu selain para anggota Syarikat Islam yang berdatangan dari seluruh kepulauan Nusantara, juga tidak sedikit orang-orang yang sekedar hanya menonton saja, di antaranya Haji Hasan Mustapa sendiri.

Menurut catatan Haji Hasan Mustapa yang berpidato dalam kongres itu di antaranya: Rd. Cokroaminoto, President Central Komite Syarikat Islam; Rd. Hasan Jayadiningrat (Banten); Rd. Wignyodarmayo (Surabaya); Daeng Kanduruan Ardiwinata (Redaktur Volkslectuur); Wignyadisastra (Direktur Kaum Muda, President Syarikat Islam Bandung); Abdul Muis (Comisaris Central Comiter Syarikat Islam, Hoofd Redaktur Kaum Muda merangkap menjadi Vice President Syarikat Islam Bandung); dan juga ulama-ulama besar, seperti Abdul Manap dari Aceh; Sayid Ali Habsyi dari Betawi, dan lain-lain.

Dalam kongres itu diajukan 17 usul kepada pemerintah Belanda. Usul itu menyangkut kepentingan masyarakat dari segi pendidikan, agama, kesejahteraan, dan pajak tanah. Yang diusulkan antara lain bahwa sekolah-sekolah desa dijadikan sekolah kelas dua dan dalam kurikulumnya dicantumkan pelajaran-pelajaran pertukangan, tani, dan berniaga; pemerintah mendirikan sekolah untuk calon guru agama Islam; pamong desa sebelum diangkat disumpah dahulu, diizinkan menyebarkan buku-buku agama Islam secara cuma-cuma; para pengawal gubernemen (negeri) diberi libur selama 3 hari pada hari walilat dan hari-hari besar agama; diberi zin merundingkan pajak-pajak tanah, rumah, dan tanah wakaf.

Dalam kongres itu, Haji Hasan Mustapa terutama menanggapinya dari segi kepentingan rakyat dan agama, bukan dari segi politik.

Ia memuji usaha perjuangan Syarikat Islam untuk memajukan Pendidikan dan kesejahteraan rakyat, yang diilhami oleh cita-cita Douwes Dekker, pengarang Multatuli dan sesuai pula dengan cita-cita Karel Frederik Holle. Akan tetapi, ia berpikir tentang itikad Syarikat Islam dalam usaha mencari dana untuk kepentingan kas masjid dan kepentingan bagi anak-anak yang tidak mampu.

Dalam tulisannya itu, Haji Hasan Mustapa pun menyesalkan perselisihan yang timbul di antara golongan ulama dalam tubuh Syarikat Islam sendiri.

Disayangkannya para ulama yang dalam pidatonya hanya berpegang pada Quran saja tanpa menyinggung hadis, ijma, dan kias seperti umumnya para ulama. Padahal menurut Haji Hasan Mustapa, ijma itu adalah hujah, yang sesuai dengan keinginan Syarikat Islam, tetapi tidak sesuai dengan paham Ahlussunah Waljamaah.

Namun, pada akhir tanggapannya, Haji Hasan Mustapa menulis bahwa ia tidaklah heran dengan keadaan itu dan ia memandangnya dari segi baiknya saja. Selanjutnya, ia berpendapat bahwa kelak pengaruh Syarikat Islam itu akan pudar dan suram juga jika tidak memperhitungkan rakyat kecil yang mempunyai kepercayaan yang teguh terhadap adat dan kebiasaan nenek-moyangnya.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapatlah diambil kesimpulan sementara bahwa rupanya Haji Hasan Mustapa tidaklah terpengaruh oleh Gerakan Reform ini. Ia tidak hanya mengambil manfaatnya yang menurut penilaian pribadinya baik.

Oleh karena sikapnya yang moderat itulah rupanya mengapa Haji Hasan Mustapa dapat menyelesaikan pertentangan-pertentangan agama yang timbul di negara kita pada masa itu.

Latar belakang keluarga

Ayah Haji Hasan Mustapa bernama Mas Sastramanggala, camat kontrakan teh Cikajang. Setelah menunaikan ibadah haji, ia bernama Mas Haji Usman. Ayahnya ini masih keturunan Bupati Parakanmuncang, Tumenggung Wiratanubaya. Adapun ibunya bernama Nyai Mas Salpah (Emeh), putra Mas Kartapraja, camat kontrakan teh Cikajang, dan masih keturunan Dalem Sunan Pagerjaya dari Suci, Garut.

Haji Hasan Mustapa berasal dari keluarga yang taat beragama dan ahli budaya. Tidak sedikit di antara keluarganya, terutama dari pihak ibu, yang menjadi ulama, bahkan di antaranya pernah menjadi tempat beliau berguru semasa kecil, yaitu Kiai Hasan Basri dari Kiarakoneng dan Kiai Cibuntut.

Keluarga dari pihak ibunya banyak pula yang menjadi bujangga, panayagan (ahli memukul gamelan), dan pecipta lagu. Dari lingkungan pihak ibunya pulalah terciptanya lagu Sinom Pangrawit yang terkenal itu.

Pada masa remajanya Haji Hasan Mustapa termasuk anak muda yang nakal. Dia senang sekali menari ronggeng ketuk tilu. Walaupun demikian, ke mana pun dia pergi kitab pelajarannya selalu dibawanya, tidak pernah tertinggal. Di tempat ronggeng, kitab itu disisipkannya pada sebotong pohon pisang.

Baca juga: Analisis Semiotik Puisi

Betapa marah orang tuanya ketika mengetahui perilaku putranya ini. Haji Hasan Mustapa diperintahkan untuk pergi menuntut ilmu ke Mekah dan bermukim di sana. Itulah kepergiannya ke Mekah dan bermukim di sana. Itulah kepergiannya ke Mekah yang kedua kali. Kepergiannya yang pertama, yaitu ketika Haji Hasan Mustapa baru berusia 7-8 tahun dibawa ayahnya pergi naik haji.

Sejak itu, karena ayahnya menginginkan putra tunggalnya menjadi seorang yang berilmu tinggi, kedua orang tuanya tidak henti-hentinya berdoa dan menjalankan tirakat. Ayahnya berpuasa setiap hari dan ibunya menjalankan tirakat dengan tidak berbaju selama 5 tahun. Mereka baru berhenti menjalankan tirakat setelah ternyata putranya itu memiliki ilmu/kepandaian yang dapat dibanggakan.

Di dalam tulisan-tulisannya, Haji Hasan Mustapa sering menceritakan betapa sabarnya ibunya ini. Demikian pula leluhur dari pihak ibunya terkenal sebagai orang-orang yang sabar.

Sifat-sifat ini rupanya menurun pula kepadanya. Haji Hasan Mustapa adalah seorang yang sabar dan bertakwa. Kesabarannya sangat mengagumkan. Haji Hasan Mustapa mempunyai pandangan hidup. Tiada perlu bingung karena hal yang umum, tidak usah terperanjat karena hal yang biasa (Wangsaatmadja, 1930:45)

Menurut cerita Ibu Icah Siti Hafsah (salah seorang cucunya), ketika putra kesayangan Haji Hasan Mustapa, Toha Firdaus, meninggal dunia dalam suatu kecelakaan, dengan sabar ia berkata, “Jangan ribut! Tadi pun dia telah memberi kabar kepada saya!”

Demikian pula pada saat ia sedang dalam perjalanan dari Mekah ke Arafah pulang pergi, sepanjang jalan Haji Hasan Mustapa tidak pernah melepaskan selimutnya karena kedinginan. Padahal di tempat itu biasanya orang-orang tiba terasalah seolah-olah ada embun yang menetes di kulitnya lalu diusapnya, ternyata darah sehingga orang-orang menjadi panik.

Akan tetapi, Haji Hasan Mustapa tetap tenang, tiada gelisah dan tidak merasa aneh. Menurut pendapatnya, dingin itu hanyalah menurut perasaan saja. Kata orang-orang tua pun apabila sudah terasa, biarkan saja. Kalau enak, harus bergembira dan apabila tidak enak harus bersabar (Aji Wiwitan, jilid XI:103). Ketika Haji Hasan Mustapa kembali dari Mekah, ibunya telah tiada.

Setelah Haji Hasan Mustapa berkeluarga dan berputra seorang (Muhammad Wardi) beliau kembali lagi ke Mekah bermukim untuk kedua kalinya dengan disertai isteri, Nyi Mas Liut, sedangkan putranya ditinggalkan bersama neneknya. Di Mekah lahirlah putranya yang kedua, Muhammad Subki (Engking). Sayang sekali Nyi Mas Liut tidak dapat turut menyaksikan ketenaran dan kebesaran suaminya karena ia meninggal dunia di tengah lautan dalam perjalanan pulang ke tanah air.

Haji Hasan Mustapa pernah berkali-kali menikah. Apabila kita memperhatikan fotonya ketika beliau masih muda dan mendengar pula penuturan Ibu Icah Siti Hafsah, Haji Hasan Mustapa ini memang seorang pria yang berwajah tampan, tinggi tubuhnya sedang-sedang saja, agak kecil, berkulit bersih, dan yang paling menarik adalah matanya yang bersinar tajam seperti mata orang Timur Tengah.

Oleh karena itu, wajarlah apabila banyak wanita tertarik kepadanya. Apalagi Haji Hasan Mustapa memiliki kecakapan dan kecerdasan serta kedudukan yang cukup tinggi sehingga tidak sedikit orang yang ingin mengambil sebagai menantunya.

Rasidi, salah satu cucu Haji Hasan Mustapa, menuruturkan bahwa pada masa itu memang tidak sedikit orang-orang tua yang sengaja ingin menyerahkan putrinya agar diperisteri oleh Haji Hasan Mustapa.

Setelah Nyi Mas Liut meninggal dunia, Haji Hasan Mustapa menikah lagi dengan Nyi Mas Haji Siti Aisyah dan berputra enam orang, yakni Nonoh Maemunah, Toha Firdaus, Agam Masum, Emong Sulaeman, Endoy Djumenah, dan Ekes Rasmanah.

Kemudian, ia menikah lagi dengan Nyi Rd. Ratna (Iyoh), dan berputra dua orang, yaitu Lembana dan Dadang Abdullah. Istri berikutnya adalah Ny. Rd. Djua, dan berputra dua orang pula, Rohbaeni dan Kosasih.

Peti milik keluarga Wangsaatmadja tempat menyimpan naskah-naskah Haji Hasan Mustapa

Selain itu, Haji Hasan Mustapa sempat pula mempersunting gadis Palembang bernama Nyayu Rodiah yang sudah berputra seorang putri bernama Nyayu Pateman. Diperisterinya pula Nyi Rd. Oyo Rokayah, seorang keturunan bangsawan Bandung. Ny. Oyo Rokayah-lah yang selanjutnya mendampingi Haji Hasan Mustapa sampai akhir hayatnya walaupun dari istrinya ini Haji Hasan Mustapa tidak memperoleh putra, sedangkan istri-istrinya yang lain setelah Haji Hasan Mustapa pensiun diceraikannya seorang demi seorang.

Di antara para putranya itu, Toha Firdaus-lah yang paling disayanginya. Hal ini mungkin karena Toha anak yang dianggapnya paling aneh dan paling pandai walaupun Haji Hasan Mustapa merasa tidak pernah menyekolahkannya karena anak ini ketika masih kecil amatlah keras kepala, tidak pernah mau menuruti perintah siapa pun.

Akan tetapi, setelah Toha besar, justru dengan Toha-lah rupanya Haji Hasan Mustapa dapat berbincang-bincang secara terbuka tentang agama, sikap, dan akhlak manusia. Sayang sekali anak kesayangan ini meninggal masih muda karena kecelakaan mobil balap yang ditumpanginya itu bertabrakan di lembah Leles, Garut.

Nama Toha Firdaus ini banyaklah anekdot yang dikenal luas oleh masyarakat umum. Diceritakan bahwa Toha Firdaus adalah ahli dalam music keroncong dan mempunyai perkumpulan sendiri dengan lambing burung garuda. Tentang lambing burung garuda yang dipakai putranya ini Haji Hasan Mustapa pernah berkata bahwa lambang itu di kemudian hari akan dipakai oleh bangsa Indonesia sebagai lambang negara.

Baca juga: Teori Puisi Modern

Pada saat jenazah Toha Firdaus akan dikebumikan, iringan jenazah itu bukan diikuti oleh iringan orang mengaji, tetapi diiringi dengan alunan orkes keroncong yang menjadi kegemaran almarhum.

Sebagai kenang-kenangan kepada putra kesayangannya itu, tanah sekitar Toha celaka dibelinya, dan ditanami dua buah pohon cemara. Dalam bukunya “Aji Wiwitan” buku ke-12, di dalamnya tercatat pidato Haji Hasan Mustapa dalam menyambut hari ke-7 wafat putranya yang diselenggarakan oleh Kaum Muda (Firdaus sendiri dalam buku itu disebutkan sebagai anggota Kaum Muda).

Latar belakang pendidikan

Sejak kecil Haji Hasan Mustapa telah diharuskan belajar mengaji Alquran oleh orang tuanya. Pagi dan siang harus mengaji, tidak boleh lengah sedikit pun, apalagi bermain-main seperti kebiasaan anak kecil.

Mula-mula Haji Hasan Mustapa belajar mengaji dan belajar sembahyang dari orang tuanya sendiri. Setelah berusia 7 tahun, barulah dilepas untuk berguru kepada Kiai Hasan Basri dari Kiarakoneng. Kiai Hasan Basri adalah seorang ahli membaca Alquran dengan berlagu. Walaupun sedang dalam keadaan mengantuk, bacaannya itu tidak pernah salah. Dari Kiai Hasan Basri inilah Haji Hasan Mustapa mula-mula belajar membaca Alquran dengan baik sebab menurut pendapat kiai itu pelajaran membaca Alquran merupakan dasar pelajaran agama.

Ketika Haji Hasan Mustapa berusia 8 tahun, pernah dimasukkan ke sekolah kabupaten, mungkin oleh Tuan Holle itu, karena tuan itu sangat kasih kepadanya. Ayahnya memohon dengan sangat agar putranya jangan dimasukkan ke sekolah itu karena akan diajak berziarah ke tanah suci. Semula Tuan Holle tidak mengizinkan keinginan ayahnya karena ia mengharapkan agar Haji Hasan Mustapa dapat bersekolah bersama-sama para putra priyayi lainnya. Akan tetapi, akhirnya Haji Hasan Mustapa diizinkan juga untuk mengikuti ayahnya berziarah ke Mekah.

Di Mekah Haji Hasan Mustapa sempat berguru kepada Syah Mukri. Akan tetapi, ilmu yang diperolehnya pada usia muda dan dalam waktu sekejap itu, hanyalah bacaan Fatihah dan Atahiyat saja beserta bahasa Arab sedikit-sedikit.

Cemeti Haji Hasan Mustapa hadiah dari Teuku Umar

Setelah kembali ke tanah air, pelajaran pengaji dilanjutkan lagi. Mungkin berkat pelajaran yang diterima dari Kiai Basri itulah, Haji Hasan Mustapa sangat hafal dengan isi Alquran sehingga dapat menyebutkan sesuatu ayat di luar kepala beserta halamannya. Setelah itu, Haji Hasan Mustapa berganti-ganti guru dan tempat mengaji.

Mula-mula mempelajari dasar-dasar sarap dan nahu kepada Rd. H. Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian, pindah lagi ke tempat yang agak jauh, yaitu ke Tanjungsari, Sumedang, untuk berguru kepada Kiai Abdul Hasan dari Sawahdadap. Dari kiai ini diperolehnya pelajaran sarap, nahu, fikih, dan tasripan sedikit. Dari Sumedang kembali lagi ke Garut untuk beruguru kepada Kiai Muhamad dan Muhamad Ijrai yang menerima pelajaran agama dari Kiai Abdul Kahar (Surabaya) dan Kiai Halil (Madura).

Dalam buku “Aji Wiwitan Istilah”, Haji Hasan Mustapa mengemukakan bahwa ia telah mendalami enam belas macam ilmu, di antaranya adalah:  usul, tasawuf, dan tauhid. Dalam bukunya itu dikemukakannya pula bahwa Muhamad, Syeh Abdulhamid, Syeh Ali Rahbani, Syeh Umar Sani, Syeh Mustomal Apipi, Sayid Bakri, dan Sayid Abdullah Janawi.

Dari latar belakang pendidikannya itu, dapatlah disimpulkan bahwa Haji Hasan Mustapa dibesarkan di lingkungan pesantren dan memperoleh pendewasaan pendidikannya di Mekah. Selama delapan tahun ia bermukim di Mekah dan baru pulang ke tanah air ketika berusia 30 tahun, yaitu pada tahun 1882.

Pekerjaan

Yang dimaksud dengan pekerjaan di sini adalah pekerjaan resmi Haji Hasan Mustapa di lingkungan pemerintahan pada masa itu. Menurut Wangsaatmadja (1930:24), pada tahun 1882 ia dipanggil pulang ke Garut oleh R.H. Muhamad Musa, Hoofd penghulu Garut pada masa itu. Dipanggilnya Haji Hasan Mustapa itu dengan maksud untuk diberi tugas meredakan ketegangan-ketegangan di antara para ulama di Garut karena pertentangan paham di antara mereka.

Tujuh tahun lamanya Haji Hasan Mustapa memberikan pelajaran agama secara bergiliran siang dan malam, terutama di Masjid Agung Garut. Tidak sedikit para ulama yang sengaja datang berguru kepadanya; dan berkat usaha Haji Hasan Mustapa dengan dibantu oleh R.H. Muhamad Musa dan Holle, perselisihan paham antara para ulama di Garut itu dapat diredakan.

Ketika itu, Haji Hasan Mustapa telah banyak berkenalan dengan para orientalis Belanda, di antaranya Holle, Brandes, Rinkes, dan Snouck Hurgronje. Oleh karena pengetahuannya yang luas tentang masalah agama Islam, Snouck Hurgronje pada tahun 1889 telah memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Ketika itu, Snouck adalah penasihat Belanda tentang masalah-masalah orang Indonesia dan orang Arab. Catatan perjalanan Snouck itu dimuat dalam BKI Nomor 101, tahun 1942, halaman 311-324 dengan judul “Aantekeningen over Islam en Vollore in Wes en Midden Java”.

Sebetulnya Snouck Hurgronje telah mengenal Haji Hasan Mustapa semenjak masih bermukim di Mekah, bahkan ia pernah ditolong oleh Haji Hasan Mustapa ketika Snouck akan dibunuh oleh orang-orang Arab. Semenjak itulah Haji Hasan Mustapa menjadi sahabat karibnya, bahkan ketika Snouck sudah pulang ke negerinya, mereka masih tetap berhubungan sampai Haji Hasan Mustapa meninggal dunia.

Selama tujuh tahun Haji Hasan Mustapa menjadi pembantu Snouck Hurgronje dan pada tahun 1893, atas usul Snouck, pemerintah Belanda mengangkat Haji Hasan Mustapa menjadi Hoofd penghulu di Aceh.

Menurut penuturan Awak-awak galih Pakuan, pada waktu itu setiap penghulu yang bertugas di Aceh sering dibunuh orang karena dianggap tidak dapat berlaku adil di dalam menyelesaikan sesuatu masalah atau persengketaan di antara mereka. Pada waktu itu, seorang Hoofd penghulu di samping menjadi seorang pemuka agama, juga turut memberikan keputusan di dalam masalah hukum dan mereka biasa disebut Kadi.

Di Aceh pada waktu itu apabila seseorang dilalahkan dalam sesuatu perkara, orang yang kalah itu akan bertanya, berdasarkan hukum apa, ayat berapa, mengapa ia dianggap bersalah? Apabila si Kadi tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan hatinya, Kadi itu pun dianggapnya berat sebelah, tidak adil sehingga ada kalanya Kadi itu dibunuh.

Baca juga: Salju: Kumpulan Sajak Subagio Sastrowardoyo

Menurut penilaian pemerintah Belanda, orang yang menjadi Hoofd penghulu Aceh itu haruslah seseorang yang cerdas, pandai dalam ilmu hukum di samping menguasai ilmu agama secara mendalam. Berdasarkan pendapat Snouck Hurgronje, orang yang tepat menduduki jabatan itu adalah Haji Hasan Mustapa. Ia bersedia memikul tugas itu dengan mengajukan dua syarat sebagai berikut.

  1. Ia harus dipercayai sepenuhnya, segala perkataan, perubatan, dan tulisan-tulisannya janganlah diganggu. Kesanggupan pemerintah Belanda memenuhi syarat pertama ini harus dinyatakan secara tertulis.
  2. Apabila ia telah berhasil dengan tugasnya di Aceh, dan apabila nanti ada lowongan jabatan Hoofd penghulu di Bandung, Haji Hasan Mustapa minta agar ia dapat ditempatkan di Bandung.

Syarat pertama segera dikabulkan dengan keluarnya surat kepercayaan dari Ratu Wihelmina sendiri.

Tahun 1893 secara resmi Haji Hasan Mustapa diangkat menjadi Hoofd penghulu di Aceh. Pada tahun itu pula tepatnya tanggal 25 Agustus 1893 Teuku Umar, salah seorang pemimpin kaum hulubalang di dalam Perang Aceh menghadap Gubernur Deykerhof di Kutaraja.

Mungkin pada saat itu telah terjalin hubungan baik antara Teukur Umar dengan Haji Hasan Mustapa. Menurut Yaya Maria, salah seorang cucu Haji Hasan Mustapa, Teuku Umar telah memberikan kopiah, pedang, dan cemetinya kepada Haji Hasan Mustapa sebagai tanda persahabatannya. Sayang kopiahnya telah hilang, sedangkan pedang dan cemeti masih dipelihara dengan baik oleh para cucunya.

Pedang ini berbentuk golok, panjangnya kira-kira setengah meter dengan tangkai berukiran kepala orang dan cemetinya terbuat dari gading gajah; bentuknya mirip tongkat komando hanya lebih kecil, dengan ukuran, panjangnya kurang lebih satu meter. Pegangan dan bagian tengahnya dilapisi perak berukiran bunga matahari. Pada bagian ujungnya yang meruncing terdapat sepotong kulit hitam yang dilipat. Melihat bentuk dan ukirannya yang indah, pantas sekali cemeti itu milik pribadi bangsawan Aceh, yang selain berfungsi sebagai pemacu kuda, juga berfungsi untuk memberi komando di medan perang.

Sekretaris pribadi Haji Hasan Mustapa

Sebagai Hoofd penghulu Aceh, Haji Hasan Mustapa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Masyarakat Aceh pun merasa puas atas semua keputusan yang diberikan Haji Hasan Mustapa dalam persengketaan yang timbul. Hal ini disebabkan Haji Hasan Mustapa menguasai dan hafal betul akan hukum-hukum Islam yang menjadi dasar keputusan semua perkara. Sebagai tanda terima kasih, rakyat Aceh telah memberikan sebidang tanah kepadanya. Di atas tanah itu oleh Haji Hasan Mustapa didirikannya sebuah masjid.

Jabatan Hoofd penghulu Aceh itu dipegang Haji Hasan Mustapa dakan waktu yang relative singkat, yaitu dua tahun. Pada tahun 1895 Haji Hasan Mustapa kembali ke tanah Priangan untuk memangku jabatan Hoofd penghulu Bandung, yakni selama 23 tahun dan pada tahun 1918 atas permintaan sendiri, Haji Hasan Mustapa diberhentikan dengan hormat dengan memperoleh hak pensiun. Pada waktu itu ia berusia kurang lebih 66 tahun.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa pekerjaan utama yang pernah dipegangnya adalah menjadi guru agama atau Hoofd penghulu. Namun, tidaklah diketahui dengan pasti apakah jabatannya sebagai guru agama itu resmi diangkat oleh pemerintah masa itu, seperti halnya jabatan kepenghuluannya ataukah tidak.

Menurut Kern (1946:VI), sebetulnya ketika masih bermukin di Mekah pun Haji Hasan Mustapa telah mengajar para ulama yang berdatangan dari seluruh Jawa. Ia mengajar bahasa Arab dan masalah keagamaan. Oleh karena itulah, Haji Hasan Mustapa dikenal dan dihormati oleh para ulama di seluruh Jawa dan ia menjadi tempat bertanya serta tempat meminta nasihat bagi para penghulu di seluruh Priangan. Bahkan, menurut Icah, salah seorang cucunya, sering pula tengku-tengku (ulama) dari Aceh mengunjungi Haji Hasan Mustapa di Bandung.

Sehubungan dengan jabatan kepenghuluannya, sebuah pertanyaan timbul, “Mengapa Haji Hasan Mustapa minta berhenti sebelum masa baktinya selesai?"

Kern (1946:VIII-IX) menyebutkan bahwa ketika Haji Hasan Mustapa memangku jabatan Hoofd penghulu di Bandung, kerja sama Haji Hasan Mustapa dengan golongan "kabupaten" maupun dengan golongan "kaum" tidaklah begitu akrab. Begitu pula ketika sebuah panitia yang bernama Comite Mendak Hadji Hasan Moestapa Panitia Peringatan Wafatnya Haji Hasan Mustapa didirikan di Bandung, tidak seorang pun dari golongan "kaum" yang menjadi anggota.

Walaupun Haji Hasan Mustapa disegani dan dikagumi keahliannya, baik dalam bidang agama maupun dalam bidang bahasa dan adat Sunda, tetapi kelihatannya golongan "kaum" dan golongan "kabupaten" itu mengambil jarak dan tidaklah terlalu dekat dengannya.

Diduga, penyebabnya adalah karena sikap dan paham agama Haji Hasan Mustapa tidak sesuai dengan sikap dan paham agama mereka. Haji Hasan Mustapa tidak sebagai Hoofd penghulu adalah pegawai pemerintah pada masa itu. Walaupun demikian, ia bukanlah pegawai yang mau mentaati segala perintah dan kemauan atasannya begitu saja tanpa memperhitungkan pendapat dan pendirian pribadinya.

Hal ini dapat kita lihat antara lain dari pernyataan-pernyataan yang diajukannya ketika ia akan diangkat menjadi Hoofd penghulu di Aceh dan dari penolakannya yang tegas terhadap ajakan Pemerintah Belanda yang menginginkan agar penganut agama Islam diperkenankan pula mempelajari agama Kristen.

Itulah dugaan sementara tentang sebab-sebab Haji Hasan Mustapa meletakkan jabatan kepenghuluannya sebelum masa baktinya habis.

Kegiatan di luar pekerjaannya:Haji Hasan Mustapa sebagai pengarang

Selain dikenal sebagai Hoofd penghulu yang cerdik dan luas pengetahuannya baik tentang agama maupun tentang kebudayaan Sunda, Haji Hasan Mustapa dikenal juga sebagai pengarang besar yang jumlah dan nilai karyanya besar pula.

Orang menduga bahwa Haji Hasan Mustapa mulai mengarang setelah kembali dari Aceh (Atmakusumah, 1979:9), sedangkan Wangsaatmadja (1931:17) menyebutkan bahwa ketika masih bermukim di Mekah, Haji Hasan Mustapa  telah menulis buku kecil dalam bahasa Arab berjudul Fathul Muin yang diterbitkannya di Mesir. Juga Kern (1946:VI) menyebutkan bahwa semasa Haji Hasan Mustapa bermukim di Mekah pernah menulis buku-buku tentang agama dan puisi Arab yang diterbitkannya di Kairo.

Namun yang jelas berdasarkan karya-karyanya yang berhasil dikumpulkan, Haji Hasan Mustapa produktif menulis setelah menjadi Hoofd penghulu Bandung, ketika itu ia produktif menulis dangding, yang menjadi bupati Bandung ketika itu adalah R.A.A. Martanagara, seorang bupati terkenal dan sangat besar perhatiannya terhadap kebudayaan, terutama kesusastraan.

R.A.A. Martanagara sendiri terkenal sebagai sastrawan Sunda angkatan sebelum perang. Di antara karya-karyanya yang terkenal adalah Wawacan Batara RAma dan Wawacan Angling Darma. Kedua karya tersebut berbentuk roman yang dituangkan dalam puisi dangding.

Menurut Prawirasuganda (1979:6-7), hubungan antara R.A.A. Martanagara dengan Haji Hasan Mustapa sangatlah akrab. Ke mana pun mereka pergi hampir selalu bersama-sama. Kemungkinan besar keakraban mereka itu didorong pula oleh kesastrawanan mereka karena keduanya dikenal sebagai sastrawan ahli ngadanding (penyair).

Dari karya-karya yang berhasil dikumpulkan dapat diketahui bahwa karya yang pertama ditulisnya berangka tahun 1899, yakni naskah yang berjudul "Aji Wiwiwtan Gelaran", buku jilid ke-3, dan yang terakhir adalah "Aji Wiwitan Aji Saka II", buku jilid ke-14 yang menurut Wangsaatmadja (1930:18) merupakan kumpulan perkataan Haji Hasan Mustapa pada masa akhir hayatnya. Dengan demikian, dapatlah diduga bahwa Haji Hasan Mustapa produktif berkarya antara tahun 1899-1929.

Dalam masa 30 tahun berkarya, dihitung dari tahun 1899-1929, Haji Hasan Mustapa telah menghasilkan berpuluh karya yang berisi buah pikiran, perasaan, dan tanggapannya tentang agama, tasawuf, filsafat, adat kebiasaan orang Sunda, serta segala peristiwa yang dialaminya. Yang tercatat dan berhasil dikumpulkan berjumlah 49 buah. Dari seluruh karya-karyanya yang banyak dikagumi dan dibicarakan adalah puisi dangdingnya yang berjumlah kurang lebih 10.000 bait (Wangsaatmadja, 1930:29).

Sebagai pengarang besar, gaya berpuisi Haji Hasan Mustapa banyak ditiru terutama oleh pengarang Sunda setelah perang dan karyanya tentang adat  dan kebudayaan Sunda, banyak menarik perhatian orientalis Belanda sehingga Kern menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda.

Haji Hasan Mustapa sebagai pengarang yang banyak menulis tentang masalah agama dan tasawuf tidak saja dikenal oleh masyarakat Sunda, tetapi dikenal juga oleh ulama dan ahli tarekat Jawa, Madura, bahkan sampai Irak, Mesir, dan Kuala Lumpur.

Sebagai pengarang Haji Hasan Mustapa telah diakui pula kebesaran dan jasanya oleh pemerintah sehingga pada tahun 1977 telah dianugerahi Piagam Hadiah Seni dan Piagam Penghargaan dari Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat pada tahun 1965.

Haji Hasan Mustapa sebagai ulama

Setelah menjalani masa pensiun, di samping mengarang, Haji Hasan Mustapa pada waktu-waktu tertentu memberikan pula "pelajaran" tentang agama dan tasawuf dalam pertemuan-pertemuan informal. Pertemuan semacam itu kadang-kadang diadakan di rumahnya, kadang-kadang di tempat lain, di rumah seseorang yang berkenan untuk mendengarkan pembicaraan-pembicaraannya. Biasanya di rumah orang-orang yang menjadi pengagumnya.

Pertemuan semacam itu oleh Haji Hasan Mustapa ngawarung bandung 'obrolan di warung bandung'. Oleh karena itu, ia dalam menyampaikan ajaran-ajarannya tidak pernah merasa dipengaruhi dan tidak mau menggurui.

Mereka yang mengikuti pertemua itu juga tidak mengakui sebagai murid Haji Hasan Mustapa, hanya pengagum saja karena menurut pendapatnya apabila seseorang berguru kepada orang lain, kepribadian orang itu tidak akan berkembang. Ia menginginkan agar orang dengan bebas mengemukakan dan mencernakan segala pendapat dan buah pikiran Haji Hasan Mustapa secara bebas menurut kemampuannya masing-masing. Mungkin itulah sebabnya mengapa orang berbeda-beda menafsirkan pendapat serta buah pikiran Haji Hasan Mustapa.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa sikap para pengagumnya dalam menafsirkan ajaran-ajarannya. Di antara pengagum Haji Hasan Mustapa yang terdengat adalah Ajengan Bangkonol dan Kiyai Kurdi dari Singaparna. Diceritakan bahwa Ajengan Bangkonol setelah mendengar ajaran-ajaran agama dan tasawuf dari Haji Hasan Mustapa, segerala membukakan pesantrennya dan

merobek bedug yang ada di masjidnya karena merasa berdosa telah mengajarkan paham agama yang menurut pendapatnya salah. Kemudian Ajengan Bangkonol ini menjadi pengikut Haji Hasan Mustapa yang setia. Lain lagi halnya dengan Kiyai Kurdi setelah mendengar ajaran-ajaran agama dan tasawuf dari Haji Hasan Mustapa, pesantrennya malah diperbesar dan santri-santrinya makin banyak. Kiyai Kurdi pun merupakan pengikut yang setia.

Tidak diketahui aliran tarekat apakah yang dianut dan diajarkan oleh Haji Hasan Mustapa. Beberapa orang menyebutkan bahwa ia menguasai semua aliran tarekat, tetapi tidak mengambil salah satunya. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa aliran Satarihlah yang dianutnya. Akan tetapi, yang jelas dalam karya-karynya, ia sering menyebut nama Al-Ghazali sebagai sufi yang dikaguminya. Pernyataan ini dapat dibaca dalam bukunya "Aji Wiwitan Istilah", buku jilid ke-1 dan "Aji Wiwitan Aji Saka", buku jilid ke-14.

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar