Biografi HB Jassin

Biografi HB Jassin

HB Jassin

Biografi - HB Jassin dikenal sebagai pengecam kesusastraan Indonesia yang jujur dan rasanya tidak hanya cukup dengan membaca hasil-hasil kritik dan esainya saja.

Jika hendak mengenalnya lebih jauh sebagai suatu studi, perlulah ia digali dan diselidiki dalam segala segi kehidupannya. Pasalnya, Jassin merupakan manusia yang hidup dari saat ke saat, tidak mau dikekang oleh tiap budi dan benda.

Pembawaan apakah yang menurut pada pribadinya hingga dia menjadi seorang yang dikenal akan disiplin diri dalam hidupnya?

Mungkin pula orang sudah seringkali menulis tentang pendapat-pendapatnya, hasil-hasil pekerjaannya di lapangan kesusastraan, namun belum pernah orang dapat mengetahui tentang kehidupan pribadinya.

Sebenarnya nama kecil HB Jassin adalah Hamzah, tetapi sewaktu ia masih bersekolah di MULO, oleh gurunya diubah panggilan jadi Hans.

Kakek Jassin adalah sekretaris raja di daerahnya dan pekerjaan tulis menulis kakeknya itu rupanya telah menurun pada diri Jassin, hingga menjadikan dirinya seorang yang rajin menyimpan surat-surat.

Ternyata Jassin kini dapat memiliki dokumentasi kesusastraan Indonesia yang terlengkap di Indonesia.

Masa kecil Jassin

Bentuk Badan Jassin gemuk, tinggi 1,58 meter, beratnya 68 kilogram, kulitnya kuning langsat, berkaca mata, rambutnya kelihatan jarang tersisir dan pakaiannya selalu sederhana.

Jassin dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 31 Juli 1917.

Di antara ketujuh saudaranya, hanya tiga orang yang masih hidup. Ketika di lahir, ayahnya sedang di Balikpapan. Hingga berumur 9 tahun Jassin belum disekolahkan.

Dalam suai semuda itu seringkali Jassin sudah suka bermenung-menung sendiri, suka memperhatikan sifat-sifat hewan yang kemudian dibandingkan dengan sifat-sifat manusia.

HB Jassin semasa kecil

Apa yang dilihatnya atau apa yang dipikirkan dalam permenungannya sering pula menimbulkan pendapat-pendapat yang kritis terhadap dirinya.

Pembawaan dalam mencari pemikiran serta pemisahan segala sesuatu yang disadari dan tak disadarinya dalam dirinya telah lama terjadi dalam usia semuda itu.

Kepindahan keluarganya dari Gorontalo ke Balikpapan pada tahun 1924 disebabkan karena ayahnya bekerja di BPM.

Pada tahun 1927, setelah Jassin berusia 9 tahun, HIS di Balikpapan dibuka. Dan pada waktu itu pula ia baru mengenal bangku sekolah.

Kenangan yang mengharukan

Selama beberapa tahun saja, banyak didapatnya kenang-kenangan hidup yang mengharukan.

Pada suatu hari kebetulan dia sedang di rumah tiba-tiba terdengar suara mengetuk pintu, tapi ketika pintu dibuka, ternyata tidak ada orang.

Tidak berapa lama antaranya, ayahnya datang dari tempat kerjanya dan aneh baginya ayahnya terus masuk ke dalam kamar dan menangis. Setelah ditanya oleh ibu Jassin mengapa ia demikian, barulah diperlihatkannya telegram yang baru diterimanya, yang berisik kabar bahwa orang tua ayahnya (kakek Jassin) telah meninggal dunia.

Apa pula hubungan ketukan pintu dan peristiwa tersebut, tetapi bagi Jassin yang menyaksikan sendiri akan besar artinya, yang kemudia ia tak jemu-jemu mencari penjelasannya yang mungkin pula dianggap orang lain hanya takhayul.

Pernah pula Jassin melihat adiknya sendiri menderita sakit keras, hingga mendekati mautnya. Pengobatan telah diusahakan dengan berbagai cara, tetapi tidak juga berhasil.

Akhirnya, oleh seorang dukun istimewa diminta agar agar anak itu diberi hidangan yang ditempatkan di sebuah perahu-perahuan yang dibikin dari batang pisang.

Anak kecil yang sakit keras itu diletakkan di samping sajian, lalu dibacakan doa-doa baginya agar segala gangguan yang bersarang di dalam tubuh anak itu dipindahkan oleh setan-setan ke dalam perahu-perahuan yang berisi sajian itu.

Kemudian perahu itu dihanyutkan ke sungai. Apa yang terjadi keesokan harinya? Anak itu sembuh dan dapat bermain-main kembali seperti anak yang sehat.

Pengalaman adiknya yang disaksikan Jassin itu, sampai sekarang tidak bisa dilupakannya. Apakah ilmu gaib itu hanya terdapat di lingkungan orang-orang yang mempercayainya, dan apakah hanya terbatas di daerahnya saja?

Dan kekuatan gaib apakah yang selalu ditebus dengan sajian itu? Demikianlah Jassin berpikir dan terus berpikir karena peristiwa itu.

Pengalaman-pengalaman yang mengharukan itu dilunakkan pula oleh kenangan-kenangan semasa kecil Jassin, ketika dia seringkali bermain-main dengan seorang gadis yang sebaya dengannya.

Sukacita yang telah mulai bersemi di dalam usia yang masih muda itu, telah mempermainkan kedukaannya yang mengalun di dalam cinta untuk pertama kalinya.
Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra
Apakah nama perasaan itu, masih asing bagi anak-anak yang baru berusia 12 tahun. Pada kenyataannya Jassin terdiam saja jika berjumpa dengna gadis pujaan hatinya itu.

Namun Jassin selalu mengingat-ingatnya jika berjauhan atau tidak berjumpa. Dan nama gadis Balikpapan yang pernah menambat hati anak muda itu, kini telah dijelmakan kepada anaknya yang nomor dua.

Pengalaman-pengalaman semasa kecilnya adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk olehnya, karena dapat dijadikan gejala-gejala berpikir dan rasa di kemudian hari.

Oleh karena itu pula dengan mudah sekali Jassin dapat merasakan perkembangan-perkembangan persoalan yang didukung dalam pergaulan hidupnya dan yang diperkuat oleh hasil-hasil bacaannya.

Di HIS telah tampak pula kepandaiannya membaca secara baik. Tapi karena ayahnya pindah kembali ke Gorontalo, kemudia Jassin dapat melanjutkan sekolahnya ke MULO di Tondanau.

Pindah ke Sumatera

Baru enam bulan ia di Minahasa, ayahnya dipindahkan ke Pangkalan Brandan. Bagi Jassin sudah menjadi idam-idaman untuk menambah pengetahuan di Sumatera.

Semasih di Gorontalo, Jassin pernah menyaksikan ibunya sedang menderita sakit urat saraf.

Penyakit ibunya yang menakutkan dengan gejala-gejala seperti orang yang hendak menggigit atau mengamuk terhadap siapa yang dilihatnya sangat mengkhawatirkan dan membuat sedih hati Jassin.

Dalam hatinya, Jassin mendoakan agar jangan lebih lama lagi penderitaan ibunya itu atau lebih baik lekas meninggal saja.

Ibunya yang menderita di dalam kengerian itu pada esok harinya di pagi buta meninggal dunia.

Tiadalah seornag juga yang mengetahui suara hati Jassin ketika itu. Tapi sinar apakah yang tiba-tiba datang dalam pikirannya secara radikal dengan berpendapat bahwa dari penyakit ibunya yang makin mengerikan dan menjadi siksaan itu tidaklah lebih baik ditamatkan saja riwayat yang tersiksa itu?

Bukankah harapan ini menjadi satu-satunya pendirian yang benar dalam keadaan waktu itu, meski Jassin hanya sekadar mendoakan saja, yang ketika itu belum lagi berusia 15 tahun?

Membatalkan pernikahan

Sejak di HBS Medan, Jassin mulai memasuki lapangan perkumpulan, Inheemse Jeugd Organisatie, dan perhatiannya telah mengarah kepada kesusaastraan.

Di masa itulah dia mulai mengikuti krangan-karangan tentang perkembangan kesusastraan, yang diselenggarakan oleh Matu Mono di dalam harian Pewarta Deli.

Dari karangan-karangan Matu Mona dia juga memperoleh dorongan untuk lebih jauh melihat pertumbuhan kesusastraan umumnya.

Arsiti dan HB Jassin


Di dalam LJO, yang ketika itu dipimpin oleh Bahrum Rangkuti, pernah pula hati Jassin tertambat kepada seorang gadis yang aktif di dalam organisasi tersebut.

Setelah tamat dari HBS (1939), Jassin lalu meninggalkan Medan untuk pulang ke kampungnya dan bekerja di kantor Ass Resident Gorontalo dan masalah finansial akan ditanggung oleh orang kaya itu.

Setelah kedua belah pihak setuju, berangkatlah Jassin ke Jakarta.

Namun sesampainya di Makassar, dikirimnya surat kepada bakal mertuanya tersebut, agar membatalkan saja apa yang telah direncanakannya itu.

Betapa malu dan marahnya gadis yang telah mengimpikan bakal menjadi isterinya itu, namun Jassin hanya mendiamkan saja dan demikianlah ia menetap di Jakarta.

Kemudian gadis yang pernah menantikannya dulu kini telah bersuamikan salah seorang keluarganya dan sekarang telah mempunyai 5 orang anak. Kabarnya ia tidak berbahagia dalam rumah tangganya.

Gadis dari Medan

Setelah Jassin sampai di Jakarta dilanjutkannyalah hubungan surat menyurat dengan gadis Medan yang pernah menambat hatinya dahulu.

Alhasil surat-menyurat yang intens tersebut semakin mengeratkan ikatan batin di antara mereka dan pada suatu ketika dengan tidak disangka-sangka gadis itu telah datang sendiri untuk menemui Jassin di Jakarta.

Akhirnya, sepakatlah untuk menentukan hari perkawinan mereka dan segera pulang ke kampungnya. Tapi apa daya, kedatangan Jepang pada 1942 telah memutuskan segala perhubungan darat, laut, dan hubungan persuratan.

Hanya dengan sikap berdiam diri juga Jassin menghadapi hal-hal mengapa pula kedatangan Jepangan menghalangi hingga memutuskan hubungan orang yang di Jakarta dan yang di Medan?

Ketiadaan perhubungan ini bagi Jassin tidaklah berarti putusnya ikatan batin, bahkan impiannya dijadikannyalah sebagai suatu pengalaman jiwa yang perlu ditempa oleh kerinduan dan kecemasan.
Baca juga wawancara Jassin dengan wartawan Malaysia: Hasratnya Museum Sastra yang Lengkap
Hingga sering kali Jassin bersunyi-sunyi diri di alun impian, dan yang nampak hanya gadis di Medan jugalah yang ada dalam ingatannya.

Pernah pula Jassin sedang mencari kesunyian diri dengan mengendarai sepedanya tiba-tiba dia telah sampai Tanjung Priok dan melalui jalan-jalan yang dilarang oleh Ken Pei Tai.

Sesampainya di daerah jalan-jalan yang terlarang dan dengan tidak tersadarkan diri di lampun angin membisik, tiba-tiba dia dipanggil oleh penjaga di muka gedung Ken Pei Tei dan disuruhnya dia masuk serta dibawanya kepada atasan pasukan tersebut.

Dipukuli tentara Jepang

Dengan tidak banyak bicara lagi, Jassin dipukuli, dijadikan sasaran bermain Jujitsu, dan keesokan harinya baru diperbolehkan pulang.

Bangga juga Jassin akan segala pukulan dan siksaan yang telah dialaminya.

Hal itu dianggapnya sebagai suatu ujian yang sangat bermanfaat untuk mengetahui sampai di mana ketabahan jiwanya.

Dengan merasa bangga dialaminya tempaan bagi jiwanya untuk lebih mempertebal kepercayaan pada diri sendiri dalam menentang anasir-anasir penjajahan.

Di samping itu, dia pun dapat lebih menyadarkan dirinya dalam kenyataan hidup atau bahwa dalam kebangunan ini tidak boleh bermimpi.

HB Jassin dokumentator sastra Indonesia modern

Perjalanan hidupnya yang direntangkan dan pertumbuhan jiwanya yang dipupuk, tampak pula dalam surat-suratnya kepada gadis yang pernah jadi impiannya.

Sejak itulah ia telah menuliskan sejarah hidupnya di dalam buku catatan hariannya, tak seorang pun dapat mengetahui.

Tapi menurut dugaan sudah 20 tahun lebih, yakni semenjak dia masih bersekolah di Medan telah dimulai dicatatnya semua perbuatan dan kejadian yang telah dialaminya.

Segala sesuatu direnungkannya, yang menyenangkan atau menyusahkan, mengenai pengeluaran dan masuknya uang sehari-hari, dari mana didapatnya dan untuk apa dipergunakannya, dituliskannya di dalam buku hariannya, hingga menjadi suatu buku roman kehidupan pribadinya.

Menulis dengan jujur

Memang sudah sering juga orang menuliskan riwayat hidupnya sendiri, baik dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialami atau yang pernah dipikirkan, tetapi masih belum tentu terdapat keberaniannya seperti Jassin untuk tidak membohongi dirinya atau tidak bertedeng aling-aling terhadap diri sendiri.

Pasalnya, Jassin menuliskan dengan sejujur-jujurnya segala yang terjadi pada dirinya dan apa yang telah dilakukannya sendiri.

Di samping itu, berkat dia bekerja di berbagai majalah sebagai redaktur yang berhak menolak dan menerima tiap naskah karangan yang masuk, keadaan itu dapat pula dijadikannya kesempatan terbaik untuk menambah pengetahuan dari segala segi-segi sejarah dan perkembangan kesusastraan Indonesia.

Dan dengan cara demikian pula dia dapat memiliki segala apa yang menjadi bahan untuk dokumentasinya.

PDS HB Jassin

Apa yang dimaksudkan dengan manusia dari saat ke saat tadi ialah bahwa pada saat Jassin dapat membenarkan sesuatu soal di waktu-waktu lampau, tidaklah dapat dipertahankan kebenarannya itu untuk di hari-hari sekarang.

Begitu pun mengetai buku-bukunya, pandangan-pandangan yang bersiat kritik dan esainya, atau apa yang ditulisnya pada saat-saat dulu itu, tidaklah bisa dijadikan jaminan untuk bisa berlakunya pada saat-saat sekarang.

Karena itu, pendapat-pendapatnya masih belum bisa diterima dari sudut ilmu pengetahuan, melainkan dari sudut kesosialan yang tidak bisa lepas dari kemasyarakatan. Dan memang sifat-sifat inilah yang masih tebat terdapat di kalangan bangsa kita umumnya.

Apalagi terdapat pada sifat-sifat Jassin yang tidak suka berjanji pada orang lain. Memang sukar untuk dipahami orang yagn baru kenal Jassin. Pasalnya, sifat-sifat yang unik itu dan tidak banyak bicara dan memang tidak pandai mengobrol.
Baca juga: Cerpen-Cerpen Satiris Putu Wijaya
Ketelitian dan kerajinan sifatnya di dalam bekerja, di dalam kata-kata yang diucapkan atau soal-soal yang disediki telah dapat memperkaya perasaannya di dalam menegakkan pribadinya.

Meskipun Jassin terkenal juga sebagai binatang jalang yang konsekuen, di dalam pergaulan hidupnya sehari-hari selalu ia berdasarkan perikemanusiaan juga.

Jassin pun juga telah sering kali bermain di dalam panggung sandiwara, yang banyak orang tidak menyangkanya karena sifatnya yang pendiam itu, sanggup bermain sandiwara itu adalah untuk melepaskan atau menyatakan apa yang menjadi dendam kesumat di dalam dirinya.

Pada tanggal 11 Maret 2000 Jassin berpulang ke rahmatullah. Ia adalah kritikus sastra yang berwibawa, dokumentator sastra yang tekun, dan orang yang berjasa besar pada kesusastraan modern Indonesia.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar