Cerpen-Cerpen Satiris Putu Wijaya

17.12
Cerpen-Cerpen Satiris Putu Wijaya

Cerpen Putu Wijaya - Tujuh belas cerpen terhimpun dalam buku Bom terbitan Teater Mandiri 1978. Buah tangan Putu Wijaya dalam tahun 1969-1978. Sebagian besar ditulis tahun 1978 dan beberapa di antaranya telah dipublikasikan lewat majalah Horison, Le Laki, Kartini, dan surat kabar Kompas.

Cerpen-cerpen yang bersifat satire ini telah dibawakan oleh pengarangnya sendiri dalam rangka prose-reading 28 Agustus 1978 du Teater Arena, Taman Ismail Marzuki.

Sebuah satire pada hakikatnya tidak terikat oleh logika. Dongeng dan realitas campur aduk. Pembaca diundang oleh pengarang untuk menafsirkan sendiri-sendiri arti yang terkandung pada setiap cerpen.

Ada makna tersirat yang pada umumnya berupa kritik terhadap pelbagai aspek kehidupan: sosial, politik, religi, hukum, dan sebagainya.

Barang siapa rajin menekuni lakon-lakon drama yang telah ditulis Putu Wijaya akan memahami bahwa kekuatan yang terdapat dalam cerpen-cerpen satiristis Putu tampak terutama pada dialog-dialog.

Pengarang mencoba menghindar cara berkisah yang naratif, dia membangun cerita lewat dialog. Dan fungsi plot hanyalah sebagai tempat menyantelnya dialog-dialog.

Kalau pengarang Idrus dalam novelet Aki (Balai Pustaka) masih terikat pada plot, maka Putu Wijaya malah berimprovisasi dalam menemukan plot sekedar menjadi bingkai dari dialog maupun buah pikiran yang dia tuangkan.

Beda dengan Idrus dalam karyanya tersebut di atas atau Mochtar Lubis dalam cerpen panjangnya Si Jamal (Penerbit Gapura) -- keduanya satire pula yang bersifat naratif, kisahan -- Putu Wijaya tidak lagi bercerita atau berkisah, tetapi menjalin esai-esai dalam suatu yang mirip anekdot-anekdot yang dikembangkan sesuai dengan struktur cerpen.

Bahwa cerpen-cerpen dalam Bom akan sulit dipahami oleh orang awam, ini mungkin saja mengingat kurang -- untuk tidak mengatakan "tak komunikatif". Disebabkan oleh bentuknya yang non-konvensional di samping isinya yang cukup berat bagi pembaca awam, teramat intelektualis.

Nilai cipta sastra memang pada kenyataannya tidak ditentukan melimpah ruahnya para penggemar. Dan Putu Wijaya bukannya tidak menyadari masalah ini. Sebagai seorang pengarang sastra dia berusaha tegak sebagai suatu pribadi yang merekam kegelisahan diri maupun masyarakat dengan cara sedemikian rupa jauh dari motif memberontak, suatu sikap biasanya dimiliki seorang penyair -- cenderung menyanyikan problematika.

Sebuah pemberontakan tidak akan pernah untuk sempat mengudang senyuman. Tapi Putu Wijaya mampu menggugah senyuman kita selaku pembaca, meskipun teramat pahit.

Kehadiran Bom sebagai sebuah buku kumpulan cerpen yang berupa satire cukup penting dalam khazanah kesusasteraan di tanah air mengingat langkanya satire ditulis oleh pengarang Indonesia selama ini.

Gaya bahasa dan gaya bercerita Putu Wijaya dalam buku yang bertipografi sangat menarik ini (cover depan dan belakang buku berwarna) mirip gayanya yang kita jumpai pada novel Stasiun-nya -- sederhana dan ketat.

Di bawah ini saya nukilkan alinea pertama dan kedua cerpen "Kalau Boleh Memilih Lagi" yang mengawali isi buku sebanyak 17 buah cerpen tersebut:

"Waktu Oki bangun, di sampingnya ada bom. Menyangka ini sisa-sisa dari mimpinya, ia acuh tak acuh saja. Ia tangkap saja dan memeluknya seperti guling. Tidurnya berkelanjutan lagi untuk beberapa jam. Tatkala ia bangun terlambat esoknya, bom itu hampir saja menindih kepalanya.

Sekarang Oki tercengang. Ia belum pernah meraba sebuah bom. Di dalam bioskop bom tidak pernah menjadi terlalu penting. Yang penting akibat-akibatnya. Sekarang ia terpaksa mengerti bahwa bom tidak sesederhana yang disampaikan oleh seorang juru kamera atau seorang sutradara film. Bom adalah sesuatu yang keras, dingin, penuh dengan seluk beluk dan menimbulkan keruwetan tentang: apa yang harus diperbuat dengan sebuah bom. [Putu Arya Tirtawirya, 1982]


Baca juga artikel lainnya:
Kritik Sastra Obyektif, Subyektif, dan Ganzheit 
Aliran Sastra Naturalisme 
Analisis Semiotik Puisi

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...