Makna Denotasi dan Konotasi

19.44
Makna Denotasi dan Konotasi

Denotasi dan konotasi – Seorang penulis atau seorang yang ingin menjadi penulis tentu harus pandai dalam menyusun kata-kata ke dalam kalimat yang padu sehingga hasil tulisannya tidak hanya “masuk akal” dalam tata bahasa Indonesia, melainkan juga memiliki makna tertentu ketika dikonsumsi pembaca.

Dalam hal ini, ragam tulisan sastra merupakan tipe teks yang paling sering menggunakan kata-kata yang secara tidak langsung atau yang di dalam bahasa Indonesia sering disebut mengandung makna konotatif. Arti sebaliknya adalah makna denotatif yang biasanya sudah jamak kita temui dalam ragam karangan non-sastra.

Seorang penulis, khususnya penulis karya kreatif semacam novel, cerpen, dan terutama puisi, setidaknya harus memiliki “kepekaan bahasa” agar tulisannya memiliki makna autentik berdasarkan pengalaman “rasa bahasa” setiap pembacanya.

Untuk itu, berikut di bawah ini, secara singkat Sastra XYZ menjelaskan penggunaan makna denotatif dan konotatif dalam bahasa Indonesia.

Jika suatu kata yang dipakai di dalam kalimat mempunyai asosiasi yang semata-mata dengan pengertian tertentu dan tidak mempunyai asosiasi ikutan (tambahan), dapat dikatakan kata itu bermakna denotatif. Perhatikan kata baju dalam kalimat berikut ini.
(1) Ia mengambil baju dari dalam lemari.
Kata baju pada kalimat seperti itu mempunyai asosiasi semata-mata dengan benda yang umumnya dibuat dari kain yang dikenakan di badan. Berbeda halnya dengan pemakaian kata busana seperti pada kalimat berikut ini.
(2) Mereka mengenakan busana dari daerah masing-masing.
Kata busana pada kalimat itu, yang dapat saja bermakna “baju”, juga memperikutkan pengertian tambahan, yakni “baju yang bagus baik bahannya maupun modenya”. Oleh karena itu, kata busana terasa janggal dipakai dalam kalimat seperti berikut.
(3) Gelandangan it uke mana-mana mengenakan busana compang-camping.
Pengertian tambahan yang diperikutkan pada kata busana disebut konotasi. Dengan demikian, kata yang bermakna tambahan disebut kata bermakna konotatif.

Menurut Literarydevices, denotasi umumnya didefinisikan sebagai arti literal atau arti kamus dari sebuah kata yang berbeda dengan makna konotatif atau terkait dengan asosiasi tertentu. Misalnya, kata "dove" dalam kamus diartikan sebagai "sejenis merpati, burung liar, atau binatang peliharaan yang memiliki tubuh yang gemuk dan kaki yang pendek". Akan tetapi, dalam literatur sastra, kita sering melihat makna konotatif "dove" bisa diartikan sebagai simbol "perdamaian". Dalam karya sastra, sering terjadi praktik umum penulisan konotatif yang menyimpang dari arti kata-kata harfiah kamus untuk menciptakan ide atau imaji yang lebih segar. Penyimpangan ini disebut sebagai bahasa kiasan atau "peranti sastra", seperti simile, metafora, personifikasi, paradoksi, dan lain-lain.

Ada sekelompok kata yang maknanya kurang lebih sama (bersinonim), misalnya ‘kelompok, golongan, kawanan, gerombolan, kerumunan, kumpulan, dan rombongan’, tetapi pemakaiannya masing-masing berbeda.

Kata ‘kelompok, gerombolan, dan kerumunan’, sekalipun sama-sama menyatakan kumpulan (orang), pemakaiannya sangatlah berbeda. Kita dapat membuat kalimat:
(4) Kelompok penjahat itu sudah diketahui identitasnya. 
(5) Kawanan penjahat itu sudah diketahui identitasnya. 
(6) Gerombolan penjahat itu sudah diketahui identitasnya.
Akan tetapi, kita tidak dapat membuat kalimat (7) dan (8) seperti berikuti ini.
(7) *Kawanan ibu-ibu PKK siang ini mengadakan demonstrasi memasak.
(8) *Gerombolan guru-guru yang mendapat predikat teladan sudah tiba.
Kata kawanan mengasosiasikan pikiran orang kepada kumpulan orang yang berperilaku jahat atau kumpulan binatang seperti yang terlihat dalam kalimat berikut ini.
(9) Si Udin sedang menggiring kawanan dombanya.
Sementara itu, kata gerombolan jika dipakai dengan mengacu ke kelompok orang, maka orang itu dianggap merugikan, sedangkan jika mengacu ke binatang, maka binatang itu biasa terlihat bergerombol.
(10) Gerombolan lebah itu kembali ke sarangnya.
Karena ada kelaziman pemakaian yang seperti itu, penyimpangannya akan mengimplikasikan konotasi tertentu. Jika kita ingin menyebut sekelompok orang yang kita anggap merugikan, dapat saja kita menggunakan kata gerombolan seperti pada kalimat berikut ini.
(11) Gerombolan karyawan yang menuntut kenaikan gaji itu akhirnya dapat dihalau petugas.
Tidak setiap bentuk gerombol dan kawan berkonotasi buruk. Berikut ini contohnya:
(12) Empat sekawan itu akrab betul.
(13) Ia suka berkawan dengan siapa saja. 
(14) Anak-anak TK bergerombol di dekat gurunya.


Baca juga artikel lainnya:
Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 1)
Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Bagian 2)
Syarat Menjadi Penyunting Naskah
Komposisi: Mengarang dan Kebiasaan Membaca

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...