Peran Penyair di Negara Sedang Berkembang

16.18
Peran Penyair di Negara Sedang Berkembang - WS Rendra

Peran penyair - Saya akan menggambarkan tentang bagaimana seharusnya peran seorang penyair di dalam negara yang sedang berkembang.

Nenek moyang kami datang di kepulauan Indonesia dari Vietnam Utara atau Tiongkok Selatan dalam dua gelombang.
  • Yang pertama, datang pada zaman Neolitikum dan disebut orang-orang Proto-Melayu
  • Yang kedua, datang pada zaman perunggu dan disebut orang-orang Deutero-Melayu.
Orang-orang Proto-Melayu dan Deutero-Melayu percaya kepada Yang Maha Kuasa, jadi beberapa orang kemudian punya agama tapi tidak punya nabi-nabi.

Bagi orang Proto-Melayu punya hukum adat yang sakral, dan juga punya pemangku adat di samping, raja atau penguasa. Sesudah itu mereka juga punya pawang yang menciptakan mantra-mantra.

Sedangkan orang Deutero-Melayu menghadap Tuhan melewati meditasi pribadi, tapi kadang-kadang juga minta pertolongan pawang yang ahli dalam hal primbon dan lebih sering bersandar pada inspirasi.

Para pawang ini adalah proto-type dari para penyair di kemudian hari. Terutama di dalam kebudayaan  Deutero-Melayu berkembang menjadi pujangga, yaitu sebutan untuk penyair.

Jadi, menurut tradisi, peran seorang penyair adalah menjadi imbangan spiritual bagi operasi dari lembaga-lembaga sekuler.

Kadang-kadang dalam menjalankan perannya, sang penyair menemui sikap yang tidak enak dari orang-orang lembaga sekuler. Sunan Gini Perapen ditekan oleh Sultan Agung dan Ronggowarsito menderita ditekan oleh Raja Prakubuwono dari Surakarta.

Namun jelas, bahwa keadaan peradaban yang ideal adalah adanya keseimbangan yang dinamis antara suara spiritual dan operasi sekuler. Sebagaimana juga dalam hidup manusia secara pribadi: roh dan badan itu sama pentingnya.

Dinamisme sosial

Peran penyair dewasa ini di dalam masyarakat Indonesia masih berada dalam alur tradisi itu. Indonesia dewasa ini harus membangun dirinya.

Dinamika pembangunan harus selalu dijaga agar kami bisa memecahkan masalah melimpahnya jumlah penduduk, meningkatkan standar kehidupan, memperbaiki sistem pendidikan, membebaskan diri dari dominasi kekuatan negara-negara asing di bidang ekonomi dan politik, dan sebagainya.

Dinamika pembangunan selalu mengandung dua aspek yang sama pentingnya, yaitu:

  • aspek struktural
  • dan aspek mental
Peran penyair adalah memupuk dinamisme mental masyarakat. Ketenangan isolasi merupakan suatu kemewahan.

Olah tapa seorang penyair di dalam masyarakat yang sedang membangun adalah mengolah ke-terang-an dan kewaspadaan kesadarannya sementara ia duduk di tengah keramaian pasar. Begitulah bahasa retoriknya. Begitulah metaforanya.

Keheningan adalah suasana firdaus atau barangkali sorga. Tetapi itu bukan tempat tinggal saya. Saya adalah penyair yang hidup di dunia yang miskin akan kemungkinan.

Bangsa kami masih menderita cacat kebudayaan: sebagai akibat dari penindasan kolonialisme Belanda yang bersekutu dengan raja-raja agraris bangsa kami sendiri.

Kebudayaan dagang kami telah rusak dan belum pulih lagi sampai sekarang. Dominasi kekuasaan ekonomi asing masih berat menekan bangsa kami, sehingga merembet menjadi pengaruh politik juga.

Oh! Seribu satu masalah masih harus dibereskan. Dan kami harus mampu. Kami ingin perubahan dan pembangunan.

Dan di dalam pergolakan maupun kemacetan dari proses pembangunan itu, kami sangat memerlukan ke-terang-an dan kewaspadaan kesadaran, sebagai unsur keseimbangan. Itulah tugas penyair untuk menjaganya.

Kritik sosial

Jelas, keseimbangan itu bukan suatu keadaan yang statis, beku. Keseimbangan itu selalu bersifat dinamis. Oleh karena itu, adalah kewajiban seorang penyair untuk mengkritik semua operasi di masyarakat, baik yang bersifat sekuler maupun spiritual, yang menyebabkan kemacetan di dalam kehidupan kesadaran. Sebab, kemacetan kesadaran adalah kemacetan daya cipta, adalah kemacetan daya hidup, dan melemahkan daya pembangunan.

Saya lahir di dalam masyarakat suku Jawa. Tetapi saya menulis sajak-sajak dalam bahasa nasional, bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu di dalam perkembangan. Dan nyatanya kami pun masih akan tetap memerlukan alat pemersatu itu untuk menjadi bangsa yang besar dan utuh.

Kami menyadari bagaimana tragisnya nasib kebudayaan bangsa-bangsa lain yang tidak punya bahasa nasional. Semakin lama semakin sulit bagi mereka untuk mengatasi kepicikan kedaerahan.

Pada tahun 1928, Indonesia  mengambil bahasa Melayu, bahasa minoritas orang-orang dagang, sebagai bahasa nasional dan menyebutnya bahasa Indonesia.

Tentu saja pada mulanya ada keluhan dari beberapa orang intelektual yang mengatakan bahasa Indonesia tidak bisa mengungkapkan perasaan artistik dan perenungan filosofis.

Tetapi karena kami sadar akan perlunya menggalang persatuan untuk melawan kolonialisme, dan karena kami punya daya kreatif yang besar di dalam mempergunakan bahasa, hal ini memungkinkan kami bahasa Indonesia dewasa ini mampu mengkomunikasikan inspirasi filosofis dan artistik kami.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang selalu berkembang. Penuh dinamika. Salah satu sektor yang masih memancarkan daya hidup bangsa.

Mengikatkan diri

Sebagai penyair, saya mengikatkan diri kepada bahasa Indonesia, karena saya juga mengikatkan diri kepada nasib bangsa yang sedang berkembang dan memerlukan alat persatuan yang luwes dan dinamis.

Saya yakin pada kemampuan kreatif saya untuk bisa melahirkan nuansa batin dan perasaan saya yang terdalam di dalam bahasa Indonesia.

Sukses tidaknya saya sebagai penyair tentu saja ditentukan oleh kemampuan kreatif saya secara pribadi. Tetapi bila memang ada kemampuan kreatif saya semacam itu, saya akan mengkatkannya kepada nasib bangsa saya yang masih miskin kemungkinan, dibanding dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju di dunia. Itulah pilihan saya di dalam hidup ini. [W.S. Rendra, 1986]

WS Rendra - Peran Penyair di Negara Sedang Berkembang


Baca juga artikel lainnya:
Kontroversi Puisi Pamplet Rendra
Mencari Kedudukan Drama Modern di Indonesia
Pemaknaan Puisi


Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...