Salju: Kumpulan Sajak Subagio Sastrowardoyo

06.30
Salju: Kumpulan Sajak Subagio Sastrowardoyo

Salju – Sajak-sajak Subagio termasuk sajak yang rumit dan sulit dilafalkan. Banyak sajak-sajak dalam kumpulan Salju tak dapat penulis pahami. Namun pusi-puisi Subagio ini selalu merangsang untuk dipahami, dan inilah yang membedakannya dari sajak-sajak rumit yang lain.

Kerumitan sajak Subagio mungkin karena pekatnya pengalaman dan dalamnya pemikiran penulis. Ide dan pemikiran penulis kelihatannya dilontarkan dalam kata-kata biasa dan juga dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari, tetapi ide-ide itu sering menjadi menarik karena mengagetkan, yang akan kami tunjukkan nanti pada tulisan ini.

Ada beberapa pegangan yang dapat kita pergunakan untuk memahami pikiran-pikiran penulis dalam sajak-sajaknya.
  • Yang pertama ialah apa yang telah pernah penulis kemukakan waktu membahas kumpulan sajak penyair yang lain Daerah Perbatasan. Dalam tulisan itu kami mengemukakan bahwa penyair sering mempertentangkan atau mengkontraskan “yang jasmani” dan “yang rohani”. Dalam “yang jasmani” termasuk segala yang jelek dan buruk dari sifat-sifat manusia dan dalam “yang rohani” termasuk segala yang indah dan baik dari kemanusiaan.
  • Yang kedua ialah kecurigaan pada teknik modern yang menjadikan manusia kehilangan kemanusiaannya boleh dikatakan menjiwai seluruh sajak-sajak Subagio. Subagio mengutarakan kembali semboyan kaum romantikus: “kembali dan bersatu dengan alam dan tanah”.

Dalam sajak (bagian sajak) ketiga ditampilkan keinginan manusia (yang sudah penuh dengan abstraksi) untuk memuaskan sensasi emosional, pengalaman langsung dan kepastian-kepastian:
Kalau aku kembali ke kamarmu-mencumbu
adalah karena aku rindu kepastian-kepastian
Pernahkah kau merasakan keinginan
untuk menggosokkan tubuh ke bumi
dan menciumnya lagi dan lagi?
Pada puisi di atas terasa keinginan kembali ke bumi yang lebih nyata lagi nanti kelihatan pada sajak “Dan Kematian Makin Akrab” yang mencoba menampilkan ide yang agak mengagetkan: keakraban manusia dengan maut.

Sajak-sajak pertama dari kumpulan ini penuh dengan ekspresi-ekspresi sesaat yang sulit ditafsirkan. Hanya dengan mengingat ide dasar mengenai pengkontrasan “yang rohani” dengan “yang jasmani”-lah dapat kiranya kita bayangkan apa yang dirasakan dan hendak dikemukakan melalui larik berikut ini:
Dengan kasar digalinya kubur
di salju buat tuhan-tuhannya yang mati
dan di lopak-lopak air membeku
mereka cari muka sendiri terbayang sehari
di antara subuh dan kilat senja
sebelum kebinasaan menjadi mutlak
dan salju turun lagi menghapus semua rupa
dalam kenanaran mimpi
Dalam puisi-puisi pertama yang mungkin dimaksudkan berjudul satu “Salju” dikemukakan sejarah kebudayaan manusia yang mula-mula suci dan jernih, kemudian dikotori darah manusia yang kerdil dan pada suatu saat zaman itu dilanda pula oleh salju untuk “menyucikannya”.

Demikianlah salju menjadi simbol roh penyuci zaman dari kekotoran “yang jasmani” menjadi bersifat rohani.

Pada puisi berikutnya diceritakan bahwa kebudayaan manusia yang masih bersifat manusiawi telah berubah menjadi kebudayaan yang berupa besi dan baja. Dan pada waktu itulah penyair makin merindukan pemuasan naluri dasar manusia:
Kukumu tajam, pacar
Tikamkan dalam-dalam ke kulitku
dan sakit terasa.
Akhirnya bukan tubuh dan nyawa,
Melainkan kesadaran harus dibebaskan dari binasa
Cubit: biar sakit
Dan hidup menggelora
Jelas sekali keinginan penyair untuk tetap memelihara kepekaan rasa, sebab itulah yang membuat hidup menggelora, bukan mati seperti mesin.

Pada puisinya yang lain makin jelas apa yang telah kami singgung  di atas, yakni mengakrabkan diri dengan segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di sekeliling kita termasuk ketakutan dan kesepian:
anak menangis
karena takut kepada sepi
dekati
dan isi tidurnya dengan cerita
supaya terlupa
kita harus belajar beramahan dengan
kesenyapan; ia tak terhindar
dengan makan
atau kelamin
ia banyak
mengikut dari pagi
Sajak-sajak yang berjudul “Pembicaraan” benar-benar merupakan omongan biasa, tetapi juga menyangkut persoalan esensial dari manusia terlalu banyak ngomong yang sering membawa perselisihan dan perkelahian, sehingga mereka tak sempat lagi merenungi, merasakan dan meresapi kehidupan itu sendiri.

Akhir pembicaraan ditandai punting rokoh yang tak berarti. Dalam sajak-sajak yang lalu juga sudah kita lihat kerinduan penyair untuk mengalami kehidupan nyata itu secara langsung.

Pada puisi berjudul seperti di atas bagian V kita temukan kerinduan akan masa silam yang dirasakannya sebagai bagian dari dirinya. Bukan hanya masa silam tetapi mimpi dan angan-angan juga adalah bagian yang esensial yang bila tak ada bisa membuat kita gila:
………………………….
Dan ada pula potret keluarga
bersama isteri dan mertua
dan Sita duduk di pangkuan.
Gambar lama ditempelkan hati-hati,
di halaman album kenangan.
Jangan koyak! Aku bisa gila
terbangun dari mimpi. Di kamar baca
dinding yang menghadang makin dingin
dan ngeri
Seperti evangelium Yahya ia juga menyingkapkan kata sebagai asal mula segala-galanya dalam puisi “Kata”.

Dalm puisi “Waktu” ia mencoba mengungkapkan makna waktu, yang menunjukkan bahwa kita tak punya apa-apa. Makna waktu sangat penting makin jelas dalam sajak “Petunjuk Sutradara”.

Puisi “Sebelum Tidur” hanya mengulangi lagi peranan cerita dan mimpi pada kehidupan manusia.

Sajak “Juru Silat” diungkapkan dengan kata-kata biasa dan kelihatannya hanya cerita sepele tak berarti tentang juru silat. Tetapi apabila kita renungkan sajak ini akan tersingkap esensi hidup manusia: hanya berarti bila dihubungkan dengan orang lain:
Juru Silat
Begitu mudah membunuh orang
Tanpa senjata, tinggal menekan
jari ke lehermu lalu mencekik.
Begitu mudah memusnahkan nyawa
dan dunia terbagi hanya buatku.
Kau tahu, aku kuasa melakukan
itu, tanpa hukuman atau penyesalan
Tapi tunggu, sebelum meninggalkan tempat,
lihat aku melompat ke atas panggung
membanggakan kepandaian bersilat.
Akan kubuktikan otot-ototku yang kuat.
Ingat, sebab tanpa saksi semua gerakku
kehilangan arti. Seorang diri
pasti akan mati keisengan
Semua gerak juru silat percuma, kehilangan arti tanpa penonton! Sajak itu juga tentu melambangkan seniman yang menjadi kering tak berarti tanpa penikmat sebagaimana telah pernah diungkapkan penyair dan seniman-seniman besar.

Puisi “Perpisahan” menganjurkan penyelesaian segala sesuatu sebelum kita berangkat atau berpisah. Tentu saja yang dimaksudkan di sini berangkat menuju alam baka.

Hal yang demikian akan membuat kita lebih merasa damai dan tenang menuju seberang kehidupan.

Saya kira maksud pengarang juga lebih dalam lagi: mengampuni segala teman-teman dan minta maaf kepada segala teman-teman sebelum ajal.

Ini sesuai dengan filsafat Kristen yang banyak juga meresapi sajak-sajak Subagio: “Jangan sampai matahari tenggelam sebelum marahmu reda atau tawar”.

Akhirnya, marilah kita perhatikan sajak yang menurut saya puncak dari sajak-sajak yang dimuat dalam kumpulan puisi Salju ini, yaitu “Dan Kematian makin Akrab” (Sebuah rekwim). Seperti dikemukakan pada judul sajak, merupakan semacam saran atau pandangan hidup supaya kita mengakrabi kematian itu.

Kita hendaknya melihatnya sebagai kejadian dan peristiwa biasa.

Kita dapat lebih memahami puisi ini apabila kita ingat keinginan penyair untuk mengakrabi semua peristiwa dan hal sekeliling kita termasuk ketakutan, mimpi, dan angan-angan kita.

Keinginan itu adalah satu segi dari keinginan untuk kembali dan bersatu dengan tanah dan alam sebagaimana dicita-citakan juga oleh kaum romantikus.

Sajak ini terus merangsang hati dan pikiran kita, kita dibuatnya kaget!

Biasanya kematian membuat hati kita rawan dan juga menimbulkan duka cita. Tetapi penyair berseru bahwa kematian itu juga kejadian biasa yang merupakan bagian dari hidup kita:
Di muka pintu masih
bergantungan tanda kabung
Seakan ia tak kembali –
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti—mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. Bahkan tak
ada kesan kesedihan
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga: --Matiku muda—
Bagi penyair kedewasaan ditentukan juga oleh cara seseorang menghadapi kematian. Orang dewasa akan menghadapi maut itu seperti menghadapi kejadian biasa, sebagaimana juga seorang anak yang makin dewasa tak menangis lagi melihat layang-layangnya yang putus:
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan
kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
—Lihat, Bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit.
Sajak ini sangat mempesonakan dan subtil yang pantas mendapat hadian pertama dari majalah Horison.

Seperti diutarakan terlebih dahulu sajak-sajak Subagio sangatlah rumit. Membicarakan ide-ide yang dituangkan dalam sajaknya saja, tak mungkin di sebuah artikel di koran.

Di samping segi ide, isi persajakannya pun masih memerlukan penelitian yang lebih jauh.

Kadang-kadang ia mempergunakan kata-kata dan ungkapan-ungkapan biasa yang sederhana tetapi apabila diteliti cukup rumit juga.

Kata-kata, frase, dan kalimat kadang-kadang melompat mengikuti kelincahan imajinasi dan pikiran sang penyair.

Ia banyak sekali memakai enjabement yang sering kelihatan gunanya sepintas kilas hanya sebagai permainan mata, visual: supaya baris tak begitu berbeda panjangnya, tetapi apabila diperhatikan sering punya fungsi yang lebih dalam.

Pendek kata, penyair Subagio Sastrowardoyo masih perlu dijelajah lebih mendalam. Sajak-sajaknya bersifat metafisik dan dengan tak ragu-ragu penulis menganggap penyair ini termasuk salah seorang penyair terkemuka di Tanah Air. [M.S. Hutagalung, 1974]


Baca juga artikel lainnya:
Cerpen-Cerpen Satiris Putu Wijaya 
Analisis Semiotik Puisi 
Pemaknaan Puisi 
Kontroversi Puisi Pamplet Rendra

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar

loading...