Umar Kayam Tinggalkan Cita-Cita Demokrasi

Umar Kayam Tinggalkan Cita-Cita Demokrasi

Seratus hari meninggalnya budayawan Umar Kayam diperingati di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (8/7) malam. Umar Kayam adalah salah satu budayawan Indonesia yang berpikiran cemerlang dan punya visi yang jauh ke depan.

Tidak tepat seratus hari, tapi pada 117 hari meninggalnya, keluarga almarhum dan Dewan Kesenian Jakarta memperingati kepergian budayawan itu. Dua penyair yang cukup dekat dengannya, yaitu WS Rendra dan Goenawan Mohamad tampil sebagai pembicara.

Selain itu, keluarga almarhum juga ikut mengisi acara dengan menyampaikan kisah-kisah Umar Kayam yang tidak banyak diketahui umum. Untuk menghormati budayawan yang pernah main sebagai Bung Karno dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI itu, beberapa karyanya berupa cerita untuk anak-anak dibacakan malam itu.

Nurani Pertiwi, cucu almarhum, dan Mitrardi Sangkoyo, keponakan almarhum, membacakan cerita untuk anak-anak yang digubah almarhum, yang terkumpul dalam cerita Toto dan Toni.

Penyair Taufiq Ismail, malam itu tampil dengan memacakan doa untuk Umar Kayam. Pembacaan doa itu mengawali kisah-kisah yang disampaikan oleh keluarga almarhum, Goenawan Mohamad, dan WS Rendra.

Usai Taufiq membacakan doa, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Agus R Sarjono menyampaikan sambutan. Ia mengatakan budayawan Mas Kayam, panggilan untuk Umar Kayam, tidak bisa dilihat dari satu kategori. "Sebab Mas Kayam terlibat dalam banyak dimensi di dalam kebudayaan ini".

Salah satu wakil keluarga tampil ke depan dan menyampaikan beberapa kisah menarik tentang Mas Kayam. Ia menuturkan, sebagai bapak, kakek, paman, sahabat, Mas Kayam adalah orang yang bersahaja, terbuka, kreatif, dan memiliki banyak kemampuan.

Sebagai seniman, putra dari Sastro Sukotjo--guru di Solo yang aktif berkesenian dan kepanduan--Mas Kayam menekuni banyak bidang. Hal yang mungkin kurang diketahui dari penulis cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan ini adalah bahwa ia sangat dekat dengan anak-anak. Karena itu, ia banyak menulis cerita untuk anak-anak. Salah satu ceritanya, yaitu cerita bergambar Toto dan Toni diterbitkan Pustaka Jaya pada 1975.

Sementara itu, Goenawan Mohamad yang tampil tanpa makalah menuturkan beberapa kisah menarik tentang Kayam. Salah satunya adalah Jabatan Dirjen Radio, Televisi, dan Film yang dijabat Mas Kayam. Goenawan mendengar bahwa ada seorang dirjen yang gemar menulis cerpen dan ke mana-mana suka dibonceng oleh cerpenis Ras Siregar dengan skuter. Cara seperti itu bukan saja memperlihatkan bahwa seorang dirjen sangat merakyat, tapi juga sangat intelek.

Berpikir merdeka

Ketika sebuah kekuasaan otoriter hendak membangun Indonesia, ia cenderung membungkam seniman yang membawa suara kemerdekaan. Umar Kayam bukan saja menorehkan arti kemerdekaan dalam karyanya saja. Tapi, dalam kehidupannya pun ia merupakan pribadi yang merdeka. Menurut Goenawan, salah satu ciri kemerdekaan adalah humor. "Kita tahu, seperti diceritakan keluarganya, humor merupakan bagian hidupnya yang penting," tuturnya.

Humor, tambah Goenawan, bisa membuat seseorang mengambil jarak, membuang waktu, dan tidak bertujuan apa-apa. Juga tidak menghitung. Ini bukan saja karena memang Mas Kayam termasuk orang yang meyakini bahwa hidup tidak hanya bisa dijelaskan dengan angka-angka.

Orde Baru bukan hanya dibangun oleh Soeharto. Di tengah suasana Orde Baru yang otoriter, Umar Kayam berjalan dengan suasana kemerdekaan yang sesungguhnya. Salah satu komitmen Umar Kayam di tengah perjalanan Orde Baru adalah mencita-citakan kehidupan demokrasi. Hal ini juga yang dilakukan seniman-seniman lain seperti Taufiq Ismail, Arief Budiman, Rendra, dan lain-lain. Itulah yang menyebabkan Kayam begitu cepat dicopot dari jabatan dirjen.

Sementara itu, WS Rendra menuturkan, ia harus mengakui telah menerima banyak pengaruh dari cara berpikir merdeka yang digagas Umar Kayam.

"Dia yang mengajarkan saya tentang keragaman hidup, menghargai kemanusiaan sekalipun kepada musuh," tutur Rendra.

Umar Kayamlah yang membuka mata Rendra dengan perbedaan. (Media Indonesia, 10 Juli 2002)

Baca juga: Biografi HB Jassin 
Baca juga: Biografi Haji Hasan Mustapa
Baca jugaBiografi Chairil Anwar

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar