AD Pirous: Berkesenian itu Mencari Kebenaran

loading...
AD Pirous - Kaligrafi dan lukisan pada mulanya merupakan dua hal yang berbeda. Kaligrafi adalah ilmu menulis, sedangkan lukisan adalah karya seni kreatif. Ketika keduanya dipertemukan dalam satu kanvas, keduanya menyatu ibarat air dan tepung. Saling mengisi dan melengkapi. Namanya pun berubah menjadi seni lukis kaligrafi.

Pendapat itu disampaikan oleh pelukis kaligrafi Abdul Jalil Pirous. Seniman kelahiran Meulaboh, Nanggro Aceh Darussalam, 11 Maret 1932 ini menggeluti kaligrafi sejak dekade 70-an. Ketika itu seni lukis kaligrafi belum memasyarakat di kalangan para perupa Indonesia.

Alumnus Seni Rupa Institus Teknologi Bandung (1964) ini kemudian menggeluti kaligrafi lebih serius. Pada 1972, ia memamerkan lukisan-lukisan kaligrafi. Ajang pameran yang total hanya memajang kaligrafi ini boleh dibilang Pirous yang mengawalinya.

Menurut alumnus Institute of Technology (Art Departement), Rockester, Amerika Serikat (1969-1971) ini, dunia seni lukis kaligrafi setelah lebih dari 30 tahun, tidak memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.

Bagaimanakah mantan dosen Seni Rupa ITB, yang saat ini salah satu karyanya turut dipamerkan dalam CP Open Biennale 2003 di Galeri Nasional Indonesia, ini menganalisis seni lukis kaligrafi, dan seperti apa perjalanan kesenimanannya, berikut petikan wawancaranya.

AD Pirous: Berkesenian itu Mencari Kebenaran

Anda dikenal sebagai pelukis kaligrafi. Bisa diceritakan?

Ketika saya masuk ITB, saat itu seniman Indonesia sedang ada dalam puncak-puncak penggalian bahasa baru seni rupa. Di Yogya, beberapa seniman seperti Affandi, Agus Djaya,melakukan pencarian bahasa melalui seni lukis figuratif. Di ITB, seniman mencari bahasa lain di luar figuratif. Di antaranya bentuk-bentuk geometris, kubistik, dan abstrak. Saya mulai melukis dengan cara saya sendiri. Lukisan saya itu terkadang abstrak, semiabstrak, figuratif.

Ketika saya ke Amerika, saya bertemu dengan sesuatu titik balik yang lain. Setelah memasuki ratusan galeri di Amerika, saya menemukan seni tradisional Islam dipamerkan di Metropolitan Museum, New York. Di situ saya melihat karya seni islami dari abad ke-13, mulai tekstil, naskah kuno, keramik, kaligrafi. Saat melihatnya, saya merasa akrab. Membawa ingatan saya kembali ke Aceh tempat saya dilindungi oleh benda-benda seperti itu. Sejak itu saya semakin meyakini bahwa berkesenian itu mencari kebenaran. Itu terjadi sekitar 1969.

Suatu kesadaran yang lain muncul, saya percaya bahwa nilai seni itu universal. Wayang misalnya, itu bagus, dan dihargai banyak orang. Saya tak peduli orang bicara soal nasionalisme atau lukisan abstrak dalam karya seni rupa. Saya melukis kaligrafi dengan kesadaran bahwa ini merupakan tanggung jawab saya dalam penggalian bahasa seni rupa.

Aplikasi dari kesadaran itu Anda tindak lanjuti dengan apa?

Pulang dari Amerika pada 1971. Pada 1972, saya melakukan pameran lukisan kaligrafi tunggal di Chaze Manhattan Art Program, Jakarta. Sekitar 25 lukisan kaligrafi saya pamerkan. Ini merupakan pameran pertama yang total memajang kaligrafi di Indonesia. Ini yang mengagetkan para pelukis kaligrafi di Indonesia. Saya akui bahwa seni lukis kaligrafi bukan yang pertama di Indonesia. Senior saya seperti Achmad Sadali sudah membuatnya. Tetapi, tak pernah dalam konteks seperti yang saya lakukan. Terkadang kaligrafi mereka pamerkan, terkadang tidak. Nah, saya justru ingin mengangkat kaligrafi.

Mengapa masyarakat umum kalau melihat kaligrafi tidak menganggap sebagai lukisan. Seakan dunia yang lain?

Memang kaligrafi adalah seni menulis, tulisan apa pun. Arab, China, Latin, dan seterusnya. Namun, ketika menulis itu tujuannya tidak hanya komunikatif, tetapi mulai memasuki tujuan ekspresif, maka jadilah ia seni kaigrafi. Kemudian, saya belajar menjadi pelukis abstrak.

Nah, kaligrafi sendiri muncul karena Islam menjauhi kesenian nonfiguratif dan non-alam. Bentuk-bentuk yang ada seperti pada rennaisance, itu ditolak dalam Islam karena dekat pada pemujaan-pemujaan. Ketika bentuk-bentuk yang nonfiguratif ini dikawinkan dengan kaligrafi, itu ibarat tepung bertemu dengan air. Tetapi, kalau kaligrafi bertemu dengan realisme itu sulit disatukan. Nah, seni lukis kaligrafi adalah seni lukisa yang diperkaya dengan makna dalam kaligrafi. Dan, itu di Indonesia timbulnya di Bandung.

Bisa diterangkan sampai di mana perkembangan seni lukis kaligrafi?

Sekitar tahun 1970, kaligrafi mulai berkembang di Tanah Air. Sekali lagi, seni lukis adalah dunia yang lain dan kaligrafi di seberang lainnya lagi. Ketika keduanya digabungkan, saling mengisi di antara keduanya. Kaligrafi itu say something. Apakah itu tentang agama, moral, etika, sajak.

Kaligrafi itu kaya dengan muatan intelektual. Kalau tidak dibarengi dengan kekayaan intelektual, maka ia hanya mengambil bentuknya saja. Nah, apa yang terjadi selama 33 tahun ini dalam dunia seni lukis kaligrafi, saya lihat tidak menggembirakan.

Saya melihat, para perupa lebih banyak menguliti kulitnya saja. Saya berkali-kali  mengajak para seniman untuk menerjuni seni lukis kaligrafi lebih jauh, tetapi juga sayang tidak ada ilmu yang bisa menuntun para perupa untuk bergerak lebih jauh. Untuk memperdalam kaligrafi seni, seseorang memang harus mengerti tentang makna.

Apakah di dunia akademis, misalnya di ITB, diajarkan ilmu tentang kaligrafi?

Tidak ada. Mengapa? Karena perguruan tinggi seni rupa yang ada di Indonesia itu bersifat nasional, bukan akademi seni rupa Islam.

Tetapi, bukankah hal itu perlu dipelajari, seperti halnya mempelajari seni rupa Barat?

Di ITB sebenarnya diajarkan sejarah seni rupa Islam. Sejak Pak Sumardja, kemudian diturunkan kepada Abay Subarna. Dan, saya sendiri pernah mengajarkan ilmu itu selama enam tahun menggantikan Abay Subarna. Tetapi, saya mengajarkan sejarah seni rupa Islam, bukan pelajaran seni rupa Islam.

Pasalnya, Islam yang kita kenal di Indonesia itu sebagai suatu ajaran agama. Islam sebagai suatu ungkapan ekspresi tak pernah dikenal di Indonesia. Malah dijauhi oleh para ulama kita, dan dianggap haram. Kaligrafi diajarkan di pesantren-pesantren sebagai suatu kelengkapan ilmu komunikasi, bukan sebagai kesenian Islam.

Para seniman kita tampak latah. Seni rupa kita berkiblat ke Barat, mulai konsep hingga visualisasi. Mengapa?

Kita sedang berproses. Seberapa besar kita mampu melepaskan ketergantungan kita terhadap seni rupa Barat. Tetapi, jangan salah, bahwa bangsa kita ini adaptif dari dulu sampai sekarang. Candi-candi atau pura misalnya, merupakan hasil adaptasi dari India. Itu terjadi karena secara geografis wilayah negara kita ini menjadi tempat lintasan-lintasan peradaban.

Kita sangat peka terhadap hal itu. Rabindranath Tagore pernah datang ke Borobudur, dan mengatakan, hebat bangsa Indonesia ini. Kalau di India, candi itu adalah agama. Di Indonesia, candi bisa menjadi kesenian. (Media Indonesia, 7/9/2003)


Baca juga: Seni Rupa dan Mistik Danarto
Baca juga: Mengembalikan TIM Jadi Rumah Seniman
Baca juga: Peran Penyair di Negara Sedang Berkembang
loading...

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar