Cerita Rupa dan Mistik Danarto

Cerita Rupa dan Mistik Danarto

Cerita Rupa dan Mistik Danarto

Dalam cerpen Kecubung Pengasihan (1968), Danarto (62) mengisahkan perempuan hamil tua, menyambung hidup dengan memakan bunga-bunga. Berkat menjalani laku "kesengsaraan", ia akhirnya bertemu dengan Tuhan, bahkan jatuh sambil menangis ke pangkuan-Nya.

Banyak pengamat lalu menyebut Danarto sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang bekerja berdasarkan sufisme dan mistik. Bahkan, seorang pengamat memasukkannya  ke dalam angkatan tahun 1970-an, yang dicirikan dengan sifat-sifat karya sufistik. Sastrawan lainnya yang dianggap memiliki kecenderungan sama ialah Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, dan Kuntowijoyo.

Rupanya landasan sufisme hanya titik awal berangkat pada hampir setiap karya Danarto. Ia tidak sepenuhnya berada pada dunia fantasi (seperti perempuan hamil makan bunga-bunga itu), tetapi juga berangkat dari kutub realitas sosial.

Perempuan hamil "terpaksa" makan bunga-bunga karena ia kalah bersaing memperebutkan sisa makanan dari para gelandangan lainnya yang lebih cekatan. Realitas sosial perkotaan yang kejam, bukan? Di antara dunia realitas dan dunia awang-awung cerita-cerita Danarto hidup dan disebut-sebut memberi warna baru dalam khazanah sastra Indonesia.

Itu sebabnya pengarang yang setia berkemeja putih ini pernah memperoleh Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Hadiah Buku Utama dari Pusat Bahasa dan SEA Writes Award dari Pemerintah Thailand tahun 1988, serta memperoleh kesempatan menetap setahun di Kyoto, Jepang, untuk menulis novel dari Japan Foundation.

Lelaki berambut perak ini juga salah seorang tokoh penting pada era Sanggarbambu, Yogyakarta. Ia memilih pindah dari Yogyakarta untuk kemudian menetap sejak tahun 1964 di Jakarta, dan kini tinggal di kawasan Ciputat, Tangerang, bersama istrinya, Siti Zainab Luxfiati.

Saat menanggapi sebuah pertanyaan, tiba-tiba tangan cerpenis ini membuat coret-coretan, mirip benang kusut atau cakar ayam, di atas lembar nota sebuah warung. Secepat kilat ia berpindah ke kertas berikut, dan yang tergambar "hanya" impresi-impresi rumput ilalang.

Ini mistik jenis apa lagi?

"Bisa begini bentuknya atau bisa juga begini...," ujar Danarto, suatu siang di bulan Juli. Hampir sebulan yang lalu, tepatnya 27 Juni, ia baru saja berulang tahun. Tak ada yang istimewa dengan ulang tahun ke-62 ini, kecuali ia mengatakan bakal novelnya hilang dari komputer kerjanya. Dan, terpaksa harus menulis ulang.

Hebatnya, cerita Danarto kemudian, coretan-coretan adalah catatan harian yang telah menjadi inspirasi dari cerita-ceritanya selama 45 tahun ia menulis. Jadi, sewaktu mencorot tadi, Danarto rupanya sedang menceritakan sebuah proses kreatif: proses terciptanya cerpen-cerpen yang kemudian dicap berbau sufi dan bernuansa mistik tadi.

Tentu kemudian ada transformasi bentuk-bentuk visual ke dalam bahasa teks yang tidak terpahami. Dan Danarto, secara kebetulan, tidak fasih benar menceritakannya. Ia lagi-lagi mencoret, tetapi kali ini lebih berupa catatan tentang hikmah sufisme.

Paling penting dari catatan itu antara lain berbunyi bahwa dalam hal penciptaan derajat manusia sama dengan hewan, tumbuhan, dan alam benda serta "falsafah": tidak memiliki dan tidak dimiliki. Khas pandangan penganut pantheis, memang. Ada penyamaan antara kekuatan-kekuatan alam semesta dengan Tuhan.

Bagi rupa yang mampu ia terjemahkan ke dalam teks akan menjelma judul-judul "aneh"--setidaknya dari kacamata sastra Indonesia--seperti Godlob, Kecubung Pengasihan, Abracadabra, Armageddon, Tuhan yang Dijual, Semar Mabuk, Percintaan dengan Pohon, Setangkai Melati di Sayap Jibril, atau 7 Sapi Kurus Memakan 7 Sapi Gemuk.

Sebaliknya, rupa yang tak mampu ia terjemahkan, jadilah gambar jantung ditusuk panah dan berdarah atau penggalan kata "abracadabra" sampai kepada huruf "A" yang disusun dalam piramida terbalik. Cerpen berjudul gambar "tanda jantung tertusuk panah dan berdarah" itu pernah dinobatkan sebagai cerpen terbaik oleh majalah Horison tahun 1968.

Sastrawann Sapardi Djoko Damono, saat masih menjabat sebagai Redaktur Horison, menolak memasukkan coretan-coretan Danarto ke dalam bentuk puisi, tetapi Danarto ngotot karyanya adalah puisi. Alhasil, karya-karya itu urung dimuat Horison. Kita lalu ingat Danarto juga pernah berpameran Kanvas Kosong tahun 1973 dan Puisi Konkret tahun 1978. Dua pameran ini sempat menghebohkan dunia sastra dan rupa di Tanah Air.

Perjalanan dan cerita tadi cukup memberi gambaran bahwa lelaki kelahiran Desa Mojo Wetan, Sragen, Jawa Tengah ini, senantiasa berangkat dari bentuk. Ini juga bisa dipahami karena ia jebolan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta tahun 1961 dan mengaku sejak balita sudah melukis.

Maka dalam banyak ceritanya, terdapat adegan-adegan yang membayangkan akan sifat pictorial: gambar-gambar yang sambung-menyambung dan membentuk plot cerita. Gambar-gambar itu terkadang memotret realitas sosial, tetapi lebih sering memunculkan peristiwa-peristiwa tak terpahami. Ia bisa berupa perlambang atau parodi.

Tentu saja pembaruan Danarto pada tahun 1970-an terhadap sastra Indonesia tidak terbatas pada itu. Ia kemudian lebih dikenal dengan upayanya memasukkan unsur sufi ke dalam karya. Karya-karyanya secara beruntun terkumpul dalam antologi:
  • Godlob (1975),
  • Adam Ma'rifat (1982),
  • Berhala (1987),
  • Gergasi (1996), dan
  • Setangkai Melati di Sayap Jibril (2000),
  • serta novelnya Asmaraloka (1999), disebut-sebut telah melahirkan kecenderungan baru dalam ekspresi kesastraan.
Karya-karya cerpen Danarto telah digubah ke dalam berbagai bentuk ekspresi seni seperti teater, tari, musik, dan film. Cerpennya Nostalgia digubah koreografer Retno Maruti menjadi Abimanyu Gugur dan dipentaskan untuk yang keempat kalinya 26-27 Juli 2002 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Danarto juga menerbitkan beberapa buku esai, di antaranya Cahaya Rasul dan Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu. Perjalanannya naik haji tahun 1983 diabadikan dalam buku Orang Jawa Naik Haji.

"Tak enak menerang-nerangkan karya, nati disangka...," tutur Danarto. Paling penting, katanya, melaksanakan syariat. "Kalau dapat honor, misalnya, kita bagikan kepada yang memerlukan."

Kalau anak keempat dari lima bersaudara putra pasangan Djakio Hardjosoewarno dan Siti Aminah ini melukiskan ceritanya dengan situasi "absurd" yang tak terperi, itu lantaran ia rajin membaca ajaran-ajaran sufi, termasuk mendengarkan ceramah para kiai.

Kunci sepenuhnya ada pada kata-kata penyamarataan derajat manusia, hewan, pepohonan, dan alam benda dalam hal penciptaan. Maka itu, bunga-bunga, padi, pohon atau hewan yang berbicara, pada konteks Danarto tidak sekadar sebuah personifikasi. Ia tak lain dari penerjemahan terhadap hikmah ajaran sufistik tadi. Dalam khazanah sastra Indonesia, sampai kini pun idiom-idiom yang dimainkan Danarto masih sangat orisinal dan khas Danarto.

"Cuma setelah tua saya mulai kehabisan stamina," ujar dia jujur.

Danarto kini memang tidak sefenomenal di masa awal kehadirannya tahun 1960-an. Tetapi, ia boleh dicatat sebagai salah satu tonggak perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, selain cerpenis-cerpenis lain seperti seperti Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan Budi Darma. Semuanya berpusar pada pencarian eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan. Bedanya, Danarto memilih penyatuan diri dengan Tuhan Tuhan sebagai titik paling sublim dalam pencarian sufisme.


Baca juga: Biografi Lengkap Sitor Situmorang
Baca juga: Biografi Lengkap Chairil Anwar
Baca juga: Biografi Lengkap HB Jassin
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar