Djoko Pekik Go International

Djoko Pekik Go International

Djoko Pekik - Roda kehidupan menggelinding di cakrawala. Matahari menempa waktu, manusia terkulai di bawahnya. Dan Djoko Pekik bangkit dari sisa-sisa sejarah. Setelah tujuh tahun di penjara dan 15 tahun sebagai tukang jahit untuk menghidupi delapan orang anaknya, lahirlah ia sebagai pelukis.

Karyanya, Indonesia 1998 Berburu Celeng, menjadi pembicaraan ramai. Bahkan, lukisan itu sudah laku seharga satu miliar rupiah. Dari segi finansial, ini adalah suatu penghargaan sejajar dengan Raden Saleh dan Hendra.

Dalam pameran tunggal ini, ia hanya memamerkan tiga lukisannya yang besar-besar. Lukisan di atas berukuran 275 cm x 450 cm (1998). Dua yang lain adalah Susu Raja Celeng, 150 cm x 180 cm (1996), dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka, 425 cm x 240 cm (1999).

Ketiga lukisan itu bercerita tentang tewasnya celeng, si babi hutan. Babi liar itu selalu diburu orang. Di samping merusak sawah, kebun, dan pekarangan, celeng dikenal sebagai binatang yang sangat rakus. Ia memakan apa saja.

Metafora rezim Orde Baru

Keluarga yang diserang celeng bisa kelaparan. Dengan demikian, ia sangat berbahaya. Di sejumlah provinsi bahkan ada tradisi berburu celeng. Pemburu beramai-ramai naik kuda dan melepas anjing-anjing pemburu untuk mengendus tempat persembunyian celeng.

Jika mereka menemukannya, secara beramai-ramai celeng itu dibantai. Di Sumatra Barat, misalnya, daging celeng itu menjadi makanan anjing yang menangkapnya. Daging celeng haram hukumnya dimakan manusia, seperti difirmankan Allah.

Lukisan celeng Djoko Pekik adalah metafora yahud bagi rezim Soeharto yang rakus akan kekayaan rakyat. Bahkan, orang awam mampu membaca perlambang itu dengan gampang--mungkin karena orang awam juga dibikin ludes harta miliknya oleh rezim itu.

Nah, kekuatan lukisan-lukisan Djoko Pekik adalah dapat dinikmati dengan mudah. Realis, dengan tema sederhana tentang kehidupan rakyat sehari-hari--tukang becak, embok-embok bakul, pemain teater tradisi, petani, pengamen, dan segala sesuatu yang kelihatannya remeh-temeh--karya-karyanya disanjung oleh kurator dari Amerika Serikat.

Mereka memilihnya untuk diikutsertakan dalam KIAS (1989). Sejumlah seniman menentangnya, ketika itu, karena Pekik anggota Sanggar Bumi Tarung di bawah Lembaga Kebudayaan Lekra (Lekra). Djoko Pekik dibela Mochta Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri saat itu, bahwa karya-karyanya tak membawa ideologi yang terlarang itu.

Rakyat adalah akar

Pameran tunggalnya ini kelihatan merupakan homage to Djoko Pekik. Tak tanggung-tanggung, Goenawan Mohamad memberikan pidato kebudayaannya yang menyentuh.

Baik Hitler maupun Mao Zhe-dong mengujarkan--begitu Goenawan menulis--bahwa kesenian harus ditujukan kepada "Rakyat" (dengan "R"), dan untuk itu beberapa syarat tertentu harus diikuti.

Djoko Pekik, sebaliknya, tidak mengikuti formula apa pun, dan "rakyat" dalam karyanya lebih merupakan sumber, atau akar, tempat lukisan-lukisan itu tumbuh, bermain, mengorak, menyentuh.

Satu di antara tiga cendekiawan--Amien Rais dan Abdurrahman Wahid--Goenawan Mohamad terlalu cerdas untuk tidak dimintai tolong memimpin bangsa ini, meski hanya untuk satu periode, misalnya.

Sayang sekali, situasi yang menyenangkan itu diinterupsi Rendra yang menulis pengantar pameran Nurinwa di Taman Ismail Marzuki. Penyair besar itu menghargai pameran tunggal Nur, yang penting untuk menyerang dominasi selera akademis yang konservatif terhadap keresmian estetika Barat.

Untuk para pelukis yang ngebet go international, Rendra menulis, "Seperti lonte lalu melupakan pentingnya go into self. Biarlah orang-orang memperdebatkan estetika lukisan-lukisanmu yang tidak menyalurkan kaidah formal dari germo-germo festival internasional."

Djoko Pekik, atau Arahmaiani, Harsono, Heri Dono, Eddy Hara, Herry Dim, Nindityo, Mulyono, Dede, Dadang, Lucia, Wara, Dolo, Astari, Ivan, Yuswanto, Ristyo, Galam, Dipo, Tisna, Suwage, Semsar, Krisna, Melodia, Amrus, Lian, dan masih banyak lagi, tidak menawar-nawarkan diri.

Sungguh, menyusuri cakrawala merupakan kebutuhan pengembaraan, seperti Rendra yang meramaikan baca puisi di Eropa. (Danarto/Koran Tempo, 21/12/1999)

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar