Pameran Retrospektif Popo Iskandar

Pameran Retrospektif Popo Iskandar

Popo Iskandar - Tidak sembarang seniman bisa mengarungi waktu yang cukup panjang. Perjalanan seorang Popo Iskandar dalam melampaui kurun waktu yang cukup lama merupakan sebuah proses perjuangan dan pergulatan kreatif dalam mewujudkan suatu gagasan yang dilakukannya tanpa henti selama 55 tahun. Di mana setiap karyanya selalu diperhitungkan oleh para penikmat dan pengamat seni.

Dalam waktu dekat ini rencananya pelukis yang lahir di Garut 17 Desember 1927 lalu itu akan menggelar pameran yang diberi nama Pameran Restrospektif, sebuah pameran yang diyakini oleh para pengamat seni yang merupakan perjalanan panjangnya selama 55 tahun berkarya sebagai seorang seniman.

Bagi Popo sendiri sebenarnya pameran ini merupakan ajang introspektif terhadap karya-karyanya sekaligus sebagai media pertanggungjawabannya selama ini kepada masyarakat luas.
Baca juga: Biografi HB Jassin
Pameran yang rencananya akan digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta dari tanggal 4-15 Februari 1999 ini merupakan potret dirinya yang paling lengkap dibandingkan dengan pameran-pameran yang pernah digelar selama ini. Karena dalam pameran inilah tergambarkan upaya pencarian, penemuan, kegagalan dan keberhasilan yang pernah dirasakannya selama dia berkiprah menjadi seorang perupa.

Sebagai seorang seniman yang dianggap senior saat ini, pameran kali ini seakan menjadi sesuatu yang esensial dari perjalanannya selama 55 tahun menggeluti seni. Popo tidak hanya dikenal sebagai seorang ekspresionis dalam setiap karyanya, tetapi dia juga seakan menceritakan kegelisahannya dalam pencarian indentitas seninya selama ini.

Totalitas dalam penciptaan seni

Bagi Popo, penciptaan seni merupakan suatu kesadaran, di mana suatu aktivitas yang dilakukannya merupakan perkembangan dari akumulasi upaya fisik maupun spiritual yang dilakukannya. Sehingga banyak orang menilai karya Popo Iskandar merupakan totalitas dari keseluruhan pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan, bacaan, renungan, dan sikap hidup yang dijalaninya.

Lukisan-lukisan yang dibuatnya merupakan suatu proses perkembangan yang tidak hanya cukup menampilkan fisiknya saja, namun lebih berusaha secara berkesinambungan mengungkapkan kesan, makna dan penampilan sehingga memungkinkan terjadinya dialog dan kontemplasi.

Karya Popo Iskandar sendiri seakan menyodorkan dua fenomena sekaligus, yakni penerjemahan dari apa yang tersirat melalui bahasa visual dan pemaknaan pikiran dari apa yang tersurat di balik perwujudannya.
Baca juga: Biografi Chairil Anwar
Penyesuaian antara kedua unsur tersebut menuntut kemantapan dan kemapanan, sehingga menyebabkan karya seni merupakan kelengkapan yang utuh dan menyeluruh dan jati diri seorang seniman.

Kalau kita melihat perjalanan Popo Iskandar yang belajar melukis sejak tahun 1943 di bawah bimbingan Angkama, Barli, dan Hendra Gunawan menjadikan perjalanan panjang kreativitas Popo memberikan satu dasar keyakinan bahwa jati diri merupakan ungkapan kepribadian yang membedakan setiap watak manusia.

Tak mengherankan ketika bergabung di Keimin Bunka Shidosho Bandung, karya Popo langsung terpilih untuk pameran keliling bersama pelukis-pelukis senior seperti Affandi, Sujoyono, Basuki Abdullah, dan Hendra Gunawan.

Seniman jenius

Perjalanan Popo sebagai seniman Indonesia sekaligus seakan menjadi penting karena dalam perkembangan seni modern di Indonesia Popo tidak hanya dikenal sebagai pelukis dan perupa saja. Dia juga dikenal sebagai kritikus seni, esais, dan pendidik.

Meskipun pada akhirnya banyak orang menilai bahwa Popo lebih dikenal sebagai pelukis obyek kucing, ayam jago, macan. Entah mengapa dia tertarik dengan obyek hewan-hewan tersebut sehingga membuatnya terobsesi pada binatang tersebut.

Dari kesan dan kenangan yang dituliskannya, Popo mengaku tertarik melukis obyek binatang ini sejak tahun 1963. Ketika itu pertama kali dia melukis seekor kucing hitam dengan mata hijau menyala menembus kegelapan. Dan sejak itulah tema itu tidak pernah lepas dalam setiap obyek lukisannya.
Baca juga: Lekra vs Manikebu
Tak mengherankan jika seorang pengamat sekelas Umar Kayam mengomentari kejeniusan Popo itu sebagai seorang pelukis yang justru tidak tertarik dengan tema-tema besar.

Seni lukis Popo yang lebih menemukan hakikat susunan rupa ketika ia melukis kucing dan macan merupakan suatu perwujudan dan representasi dari elemen rupa (garis, warna serta ruang ilusif) dan itulah yang menjadi kelebihan Popo dibanding pelukis-pelukis seangkatannya.

Terlepas dari itu semua, pameran Restrospektif kali ini diharapkan merupakan kajian pemahaman kita yang terlalu sederhana dalam melihat seni rupa. Dengan begitu, diharapkan setiap penikmat akan lebih bersifat abstrak dan semu dalam menilai sebuah karya seorang Popo Iskandar, semoga. (Republika, 3/2/1999)

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar