Pengaruh Kota Jakarta pada Puisi Chairil Anwar

Pengaruh Kota Jakarta pada Puisi Chairil Anwar

Pengaruh Kota Jakarta pada Puisi Chairil Anwar

Pengaruh Jakarta - Bila menyebut Chairil Anwar, selalu terbayang puisi-puisinya yang sangat populer, seperti Kerawang-Bekasi, Aku, Diponegoro, Senja di Pelabuhan Kecil, dan Persetujuan dengan Bung Karno.

Kumpulan puisinya seperti Tiga Menguak Takdir dan Deru Campur Debu telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan penerbit luar negeri.

Puisi ciptaan si Binatang Jalang itu masih membekas di sanubari masyarakat. Namun kariernya sebagai penyair paling tersohor di Indonesia tidak terlepas dari gegap-gempita kota Jakarta.

Mengapa kota Jakarta? Di kota metropolitan inilah, Chairil hidup berkesenian secara total. Ia berasal dari perantauan kota Medan. Namun karena terjadi perceraian antara ayah dan ibunya, maka Chairil bersama ibunya sepakat pergi ke Jakarta.

Jakarta tak hanya menjadi tempatnya bergaul dengan para seniman, tetapi juga amat turut mempengaruhi karya-karyanya.

Pemahaman tentang karya sastra Chairil Anwar dan hubungannya dengan kota Jakarta ini dibahas oleh Goenawan Mohamad, Arief Bagus Prasetyo, dan arsitek Marco Kusumawijaya dalam diskusi bertema "Chairil Anwar dan Kota Jakarta" yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, Kamis (26/6). Acara ini sekaligus dalam rangka ulang ke-481 Jakarta.

Perjalanan kreatif Chairil 

Menurut Arief, alam kehidupan masyarakat urban di Jakarta telah mengguratkan pengaruh intelektual dan psikologi yang signifikan dalam perjalanan kretif Chairil.

"Puisi Chairil Anwar, disadari atau tidak oleh penyairnya, telah mengusung dan mengedepankan pengalaman hidup di kota Jakarta. Boleh jadi Jakarta berada pada inti atom puitik Chairil. Adanya keterlibatan intens dengan kehidupan Jakarta membuat Chairil menulis puisi seperti yang telah ditulisnya."

Menurutnya, puisi-puisi Chairil yang hidup di Jakarta pada dekade 1940-an ternyata masih sangat relevan dengan keadaan Jakarta pada abad ke-21.

Sementara itu, Goenawan Mohamad berbicara dari sisi kota Jakarta. Ia melihat Jakarta tidak bisa putus hubungan dengan daerah yang bukan kota.

Goenawan mengutip pernyataan seorang pakar sosiologi perkotaan yang menyebutkan Jakarta tidak hanya mengalami urbanisasi, tetapi juga ruralisasi. Hiruk-pikuk Jakarta tidak henti-hentinya berbenturan dengan arus deras dari bawah yang datang dari desa-desa.

"Rancangan yang rasional, ketertiban yang efisien, dan kapital yang mencoba menguasai pembagian ruangan dengan perhitungan laba rugi tidak henti-hentinya berbenturan dengan arus deras dari bawah," ujar Goenawan.

Kelompok arus bawah yang diwakili masyarakat desa itu acap kali kalah, namun tetap saja mereka menyerbu Jakarta.

Aku yang merdeka

Dari pandangan Goenawan, Chairil pun mengungkapkan banyak hal yang tidak terlihat dari sekian banyak yang terlihat. "Ada sisi kelam sebuah kota, seperti halnya manusia yang juga memiliki sisi kelam. Seperti baris terakhir sajak Chairil tentang Jakarta, 'Kusalami kelam malam dan mereka dalam diriku pula'," kata Goenawan mengutip sebaris puisi Chairil.

Gong dari diskusi itu, Marco Kusumawijaya yang juga Ketua Dewan Kesenian Jakarta memaknai puisi-puisi Chairil sebagai subyek dalam serangan modernisasi kota.

Ia mencontohkan kata aku dalam puisi Chairil adalah kumpulan yang terbuang. "Artinya aku merdeka dari segalanya. Semacam kehendak meneguhkan kehadiran kepribadian yang kritis."

Kemerdekaan yang dikehendaki Chairil, kata Marco, bertujuan agar manusia dapat senantiasa membuat perhitungan dengan sekelilingnya. Dalam hal ini yang dimaksudnya ialah kota Jakarta. (Eri Anugerah/Kompas, 29/6/2008)


Jika Anda ingin membaca biografi Chairil Anwar yang paling lengkap, bisa mengunjungi halaman ini. Anda juga bisa membaca artikel yang ditulis Asrul Sani tentang pembelannya terhadap puisi Chairil yang banyak disangka orang plagiat. Lalu, ada juga sebuah esai yang berjudul Tiga Muka Satu Pokok yang ditulis oleh Chairil.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar