Puisi Sitor Situmorang Tertib Bunyi Tertib Rupa

Puisi Sitor Situmorang Tertib Bunyi Tertib Rupa

Puisi Sitor Situmorang Tertib Bunyi Tertib Rupa

Sitor - Apa yang paling mudah diingat dari puisi-puisi penyair Sitor Situmorang bukanlah isi filsafatnya, melainkan tertib bunyi dan tertib rupa. Ciri ini membebaskan Sitor dari lingkaran pengaruh pelopor Angkatan 45 Chairil Anwar.

"Bagi saya yang paling terkenang dari puisi Sitor terutama pada periode awal, bukanlah isi filsafatnya, misalnya, tentang keisengan atau keterasingan. Akan tetapi, justru pada tertib bunyi dan tertib rupa," kata sastrawan Nirwan Dewanto dalam diskusi "Menimbang Sitor Situmorang 1948-2001", Rabut (5/6) malam, di Jakarta. Selain Sitor, dalam diskusi yang terkesan tak formal itu hadir pula sastrawan Ramadhan KH serta para seniman lain.

Puisi-puisi Situmorang, menurut Nirwan, gampang diingat karena seakan-akan dia bertimpalan dengan keseimbangan yang hidup dalam tubuh biologis kita.

Susunan kata dan frase Situmorang segera meninggalkan gema di hati dan kepala, bukan lantaran rancangan intelektualnya atau ambisi pembaharuannya, melainkan karena kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

"Namun penggunaan bentuk puisi lama seperti pantun dan soneta, tidaklah terutama disebabkan oleh hasrat mengikatkan diri kepada masa lampau atau tradisi. Tertib pola bunyi dan rupa itu untuk menapis, juga menundukkan derau dan gebalau pengalaman modern," kata Nirwan.

Puisi bebas

Angkatan 45, di mana Situmorang berada di dalamnya, sangat menggandrungi puisi bebas. Sitor malah seperti bersikap sedang berada pada kutub yang berbeda.

Akan tetapi, menurut Nirwan, Situmorang tidak menghindari bentuk puisi bebas. Ia hanya menyadarinya sebagai sesuatu yang dilebih-lebihkan, mubazir, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya.

"Puisi Sitor hanyalah bentuk yang lebih lentur dan cair dari pantun dan soneta, meski jauh di kemudian hari setelah tahun 1960-an ia berpuisi secara prosais seraya terengah-engah mengejar musik dan bunyi," ujar Nirwan.

Di luar soal itu, puisi-puisi Situmorang, tambah Nirwan Dewanto, juga mendedahkan rupa: alam, kota, arsitektur, perempuan dan alam benda.

"Semuanya bukanlah pemandangan itu sendiri, tetapi kesan atas pemandangan, bukan realisme, tetapi impresionisme, di mana penyair layaknya pelukis membuang detail untuk menyelamatkan pandangan subyektifnya dari dunia objektif.


Baca juga: Biografi Sitor Situmorang
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar