Sitor Situmorang

loading...
Sitor Situmorang

Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang dari periode awal, yakni terbit pada 1950-an, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat--misalnya tentang keisengan atau keterasingan seperti yang dinyatakan oleh sejumlah pengulas sastra--melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib rupa dan tertib bunyi. Ciri demikian menarik dia dari lingkaran Chairil Anwar, pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah, "raja penyair" Pujangga Baru. Amir dan Sitor tak sepenuhnya kasmaran dengan puisi modern.

Puisi Sitor gampang teringat karena, seakan-akan, ia bertimpalan dengan kesetimbangan yang hidup dalam tubuh kita. Susunan kata dan frasa Sitor segera meninggalkan gema di hati dan kepala, bukan lantaran rancangan intelektualnya atau ambisi pembaharuannya, melainkan karena kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

Namun, penggunaan bentuk puisi lama seperti pantun dan sonet, tidaklah terutama disebabkan oleh hasrat mengikatkan diri kepada masa lampau dan tradisi. Jelaslah, tertib pola demikian adalah sarana untuk menapis, juga menundukkan derau dan gebalau pengalaman modern.

Generasi Sitor, yakni Angkatan 45, menggandrungi puisi bebas, namun Sitor tidak. Akan tetapi, puisi bebas bukan dihindarinya, melainkan disadarinya sebagai kelebih-lebihan, kemubaziran, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya. Atau, ia berkehendak menjadi sang lain, the other, dari kaum modernis yang menganggap diri sebagai pendukung the tradition of the new.

Kita lihat, puisi bebas Sitor "hanyalah" bentuk yang lebih lentur-cair dari pantun dan sonetnya, meski jauh belakangan, yakni setelah 1960-an, ia berpuisi secara begitu prosais tapi seraya juga terengah-engah mengejar musik dan bunyi.

Puisi Sitor terutama juga mendedahkan rupa alam, kota, arsitektur, perempuan, alam benda. Dan itu semua bukanlah pemandangan itu sendiri, tetapi kesan atas pemandangan: bukan sebuah realisme melainkan impresionisme, di mana penyair, layaknya pelukis, membuang detail untuk menyelamatkan pandangan subyektif dari dunia obyektif.

Pemandangan yang terbentang dalam puisi Sitor boleh jadi tertib dan manis seperti lukisan Manet atau Bonnard, namun si penyair, sadar atau tak, selalu menyisipkan "filsafat" ke dalamnya, khususnya dengan kata benda abstrak, tak jarang dengan keras kepala. Misalnya, "Kesepian di sini menjadi kehadiran," tulisnya di awal puisi Place St. Sulpice. Atau, "Kebosanan abadi jadilah lupa," dalam La Ronde.

Kesepian, juga keisengan, keterasingan, kebosanan, mungkin juga kemabukan. Filsafatkah semua ini dalam puisi Sitor: suatu pandangan dunia yang tak tertawarkan lagi? Seorang penyair modern sejati, khususnya ketika modernitas masih berusia remaja, mestinya adalah sang flaneur, sebagaimana halnya Charles Baudelaire: seorang pejalan iseng yang mengalami pemandangan, dunia, sebagai hal terpecah-pecah, dekaden, tanpa teleologi--ia pencari keburukan ketimbang keindahan.

Namun Sitor adalah seorang flaneur yang tak sepenuh hati. Ia pemburu keindahan atau sisanya. Sebagai misal, kota, termasuk  Paris-nya Baudelaire (tapi seabad kemudian), masih dilihatnya dengan pengalaman pastoral. (Kita pun ingat, Chairil Anwar, yang tak membaca Baudelaire, adalah seorang flaneur pula: tak sedikit pun ia berpikir tentang pulang dan tujuan.)

Seperti penyair Cile Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan membawa kampung halamannya dalam bungkusan. Neruda seperti hendak meluaskan tanah airnya ke seluruh bumi: sedang Sitor ingin menjadi orang-dunia, namun diganduli oleh warisan leluhurnya.

Neruda kembali ke dalam sejarah dan mitologi Amerika Selatan melalui pengaruh Walt Whitman dan surealisme--cabang modernisme yang sezaman dengannya: sedang Sitor meragukan, mungkin menyangkal, asal-usulnya justru dengan menggunakan puisi lama--sonet dan pantun.

Keduanya sampai ke "jalan kiri" dengan alasan berbeda: Neruda lantaran kejenuhannya dengan puisi modern; Sitor, justru karena keberjarakannya. (Cile, dan berkas jajahan Spanyol pada umumnya, terintegrasi ke dalam modernitas Eropa; sedangkan Indonesia barulah mampu mengaku sebagai "ahli waris kebudayaan dunia".

Sitor melakukan rekonsiliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa": demikianlah keisengan (yang tak pernah sungguh-sungguh menjadi filsafat itu) digantikan ide, bahkan ideologi. Maka impresionisme menjadi realisme; dan pantun dan sonet pun bertukar dengan puisi bebas.

Sitor, sang flaneur yang bimbang itu, tak cukup radikal dalam melawan komunitasnya, sebagaimana sang komunitas juga begitu setengah hati untuk meninggalkan masa lampaunya. Maka sang "aku" berupaya menjadi "kami" atau "kita" dalam derap "revolusi". Hasilnya adalah puisi yang berteriak sebentar saja, seperti rumus yang mubazir tentang masyarakat idaman. Puisi yang cepat layu karena tak punya lagi magi kata.

Puisi Sitor selepas 1970-an adalah upaya mendedahkan "aku" kembali, sang pejalan: kini ia bukan pemburu keisengan, melainkan pengumpul cendera mata dari pelosok Nusantara dan mancanegara. Hasilnya adalah gambar yang berupaya menyedap-nyedapkan indera, rekaman seorang kelana yang takut kehilangan segara. Inilah puisi bebas yang kikuk dengan kebebasannya sendiri. Kadang diusahakannya musik atau tertib bunyi untuk melunakkan isi sajak, tapi sering sia-sia belaka.

Puisi Sitor yang terbaik, sebagaimana arus besar puisi Indonesia, menekankan "aku" dengan begitu serius. Dalam puisi demikian kita sesungguhnya tak pernah mendapatkan alam benda (still life, nature morte), karena si aku begitu dominan melingkupkan diri kepada dunia sekitar.

Demikinalha puisi kita boleh jadi tak pernah menjadi permainan--di mana kata-kata bergelut tangkap-dan-lari dengan benda-benda--melainkan "filsafat".

Kita tak mempunyai puisi tentang alam benda yang murni semisal puisi Francis Ponge atau Juan Ramon Jimenez mungkin sampai sekitar 1974--yakni sampai terbitnya Mata Pisau, kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono.

Namun barangkali tak ada juga puisi Indonesia yang sungguh-sungguh bertolak dari filsafat namun kemudian menjadi anti-filsafat atau parodi sebagaimana puisi Zbigniew Herbert, Vasko Popa, atau Jorge Luis Borges, misalnya. Untuk menggunakan frasa Chairil Anwar "aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang", para penyair kita masih menyesali keterbuangannya, bukan menikmatinya. Kejalangannya setengah-setengah, sehingga datanglah sesal--atau kehendak bertobat. Dan untuk itu diperlukan "filsafat" atau "pedoman hidup". Ia hendak mengikat orang bijak bestari, supaya hidup ini berarti.

Tapi jika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah dari segala penjuru, "filsafat" dalam puisi singgu tak penting lagi. Itu sebabnya kita selalu kembali kepada puisi Sitor Situmorang dari 1950-an, di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni--dalam arti menjadi makhluk bermain, homo ludens--setelah kita menjadi begitu jinak, seragam, dan berguna dalam jejaring sistem.

Iseng total: menjadi "bunga di atas batu, dibakar sepi," seperti kata sebuah sajaknya: liar, keras kepala, tak menyerah. Demikianlah puisi Sitor yang terbaik, justru membuat kita mampu mengosongkan "filsafat" yang dikandungnya dengan begitu terpaksa.

Saya terbitkan catatan ringkas ini, barangkali sebagai kado kecil yang terlambat bagi penyair kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara itu, yang berulang tahun ke-78 pada 2 Oktober lalu. (Nirwan Dewanto, Koran Tempo, 24/11/2002)


Baca juga: Biografi Sitor Situmorang

loading...

Related Posts

Previous
Next Post »

0 komentar