Tips Menulis Puisi Cinta (Bagian 1)

Tips Menulis Puisi Cinta (Bagian 1)

Puisi cinta adalah bentuk yang paling banyak digemari orang, terutama mereka yang sedang dilanda kasmaran atau sedang jatuh cinta. Dari segi jumlah, agaknya puisi cinta menempati urutan yang paling teratas ketimbang tema-tema lainnya. Tak boleh dilupakan bahwa setiap penyair juga, berawal atau pada akhirnya, menulis puisi cinta. Ya, cinta seakan-akan menjadi semacam komoditas yang lebih mudah diterima dan diresapi.

Tips Menulis Puisi Cinta (Bagian 1)

Publik sastra kita amat mungkin mulai membaca puisi dari bentuk-bentuk yang paling romantik. Dengan kata lain, mereka menyukai puisi atau seni menulis puisi dengan membaca puisi-puisi cinta. Puisi demikian menjadi batu pijakan publik sastra kita dalam membaca puisi-puisi yang jauh lebih luas di kemudian hari. Tapi kita tentu tidak bisa memukul rata karena ia hanya sebuah perkiraan belaka.

Karena puisi cinta mudah diresapi dan sangat digemari, apakah mungkin juga kita akan mudah menuliskannya? Bisa iya, tetapi paling jelas justru terlalu sulit untuk ditulis. Puisi yang "menjadi" atau puisi yang berhasil merupakan susunan kata-kata, kalimat, yang padu, koheren, serta memiliki nilai sastrawi yang tinggi berdasarkan teknik dalam penulisan puisi. Jadi, bisa dikatakan, puisi cinta yang meskipun terasa sangat diresapi jiwa pada dasarnya adalah puisi yang sukar dibuat!
Baca juga: Pemaknaan pada Puisi
Tidak semata-mata Anda sedang jatuh cinta dan kemudian mengambil kertas lalu jadilah sebuah puisi! Tidak semudah itu. Mungkin saja dapat mudah Anda tulis, jika memang Anda sudah terbiasa dengan penggunaan peranti puitik serta bisa memadukan unsur-unsur yang terdapat dalam tubuh puisi. Pendek kata, sebagai penyair, atau seseorang yang ingin bisa mengekspresikan isi jiwanya dengan puisi, Anda butuh "mengendapkan" pengalaman Anda terlebih dahulu sebelum menulis puisi.

Pengendapan pengalaman itu dapat menjadikan kita berjarak sehingga kita bisa menulis puisi dengan lebih "matang", bukan pengendapan yang berada pada permukaan saja. Itulah kiranya yang menjadi titik pijak penting dalam mengekspresikan rasa kasmaran kita dalam sebuah puisi. Memang, Anda berhak menulis puisi cinta dalam bentuk sejadi-jadinya. Namun, apabila Anda hendak menjadikan puisi tersebut sebagai sebuah karya seni yang indah, maka Anda memerlukan penjarakan terhadap pengalaman atau peristiwa dan baru kemudian menuliskannya menggunakan peranti puitik.

Menulis buku harian

Saya pernah mendengar ungkapan dari Goenawan Mohamad, kurang lebih seperti ini: "Seorang penyair yang buruk adalah seorang pengarang prosa yang buruk juga!" Maknanya barangkali demikian: seorang penyair harus bisa menulis prosa yang baik, tidak hanya puisi saja. Artinya, puisi bukanlah topeng ketidakmampuan dalam menulis. Memang, puisi sangat pendek, berbeda dengan prosa yang lebih panjang dan mungkin menguras energi dalam menulis. Tetapi perlu diingat bahwa seorang penyair perlu latihan menulis.

Bagi Anda yang belum pernah menulis apa pun dan hendak menulis puisi, saya sarankan untuk berlatih menulis terlebih dahulu. Latihannya cukup mudah kok, Anda hanya perlu melakukan pembiasaan dalam menulis buku harian. Ya, buku harian memang bukan puisi, tetapi ketika Anda mulai menuliskannya berarti Anda sedang belajar mengungkapkan pengalaman sehari-hari dengan bahasa yang setidaknya bisa Anda pahami, kalimat dan paragraf yang padu, serta sesuai dengan tematik yang sedang Anda tulis.
Baca juga: Puisi Sitor Situmorang Tertib Bunyi Tertib Rupa
Cobalah setiap hari menulis pengalaman Anda di buku diari, maka lama-kelamaan Anda akan terbiasa dalam mengungkapkan ide, pengalaman, dan bahkan "perasaan" yang paling dalam. Teruslah saban hari menjelang Anda tidur, tulis pengalaman Anda dalam buku diari, hingga Anda merasa bahwa menulis bukanlah hal yang sulit. Pada saat menulis buku harian, Anda juga bisa terus melatih menulis puisi. Sembari berlatih, Anda juga jangan lupa untuk membaca puisi penyair-penyair terkenal atau setidaknya mutu puisinya baik.

Membaca puisi yang bermutu

Menulis buku harian dan senantiasa berlatih menulis puisi juga belum cukup. Anda perlu membaca juga puisi-puisi dari penyair lain yang mutunya bagus. Bagi Anda yang bingung dalam memilih puisi mana yang bermutu dan yang tidak, Anda bisa bertanya kepada teman, guru, ataupun kenalan penyair yang lebih berpengalaman. Mereka bisa memberikan rekomendasi buku puisi yang bagus. Kalau tak ada seorang pun yang bisa dimintai memberikan rekomendasi, Anda bisa membaca ulasan esai-esai dari kritikus sastra.
Baca juga: Pengaruh Kota Jakarta pada Puisi Chairil Anwar
Komentar kritikus ini setidaknya bisa menjadi jembatan Anda dalam memilih buku puisi yang hendak Anda jadikan semacam "guru" dalam menulis puisi. Kalau sudah mempunyai buku puisi yang bermutu, Anda bisa belajar menulis puisi dari buku tersebut. Pertama-tama, mungkin Anda kebingungan kenapa dan bagaimana cara penyair tersebut bisa sampai membuat kata-kata atau frase puisi yang indah seperti itu. Apa ada rumusnya untuk bisa menulis sebagus itu? Apakah ada teorinya? Ini bisa saja muncul dari benak Anda ketika tak tahu bagaimana bisa membuat larik puisi seindah itu.

Sebenarnya, Anda pun bisa menyerap "teknik" si penyair tanpa perlu membuka buku-buku teori sastra. Selama puisi yang Anda baca adalah bahasa ibu--dalam hal ini bahasa Indonesia--maka Anda tidak akan terlalu mengalami kesulitan dalam menikmati dan meniru penggunaan kiasan-kiasan dalam puisi orang lain. Inilah sebenarnya kekuatan bahasa ibu yang melampaui buku-buku tips menulis puisi. Namun, terlebih dahulu Anda harus mengasah kepekaan puitik atau bisa dengan menikmati puisi yang bermutu tersebut hingga membuat Anda sampai berkata "Wah, puisi ini begitu menyentuh hatiku!" atau "Ah, betapa mendalam penyair A ini dalam membuat frase yang unik dan keren itu!"

Jadi pembaca yang rakus

Dalam membaca puisi karya penyair-penyair yang mutu puisinya bagus, Anda bisa membaca sebanyak-banyaknya. Jadikan diri Anda pembaca yang rakus. Sediakan beberapa buku puisi di kamar Anda. Jika ada waktu luang, bacalah buku-buku dari berbagai penyair. Tentunya dari berbagai buku itu ada buku yang paling Anda suka. Bacalah buku tersebut sekali lagi dan nikmatilah bagaimana sang penyair menuliskan larik-larik puisi yang indah.

Selain itu, Anda juga harus mengasah dan meningkatkan kepekaan puitik pada diri Anda. Jadikan diri Anda peka terhadap kata-kata, bahasa kiasan, dan metafora yang diciptakan sang penyair. Pasalnya, cara demikian merupakan cara berlatih yang baik. Tetapi, jangan sampai waktu Anda terbuang dan lupa mengerjakan hal-hal lain. Buatlah jadwal untuk membaca dan berlatih menulis. Kadangkala, jika Anda adalah seorang pelajar, waktu berharga Anda untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah atau belajar jadi terbuang akibat keasyikan pada hal yang lain.
Baca juga: Sajak-Sajak Modern Prancis dalam Dua Bahasa
Ingatlah, sebagai pembaca yang rakus, Anda juga harus mencoba menikmati puisi-puisi dari penyair lain yang memiliki gaya menulis yang berbedar dari penyair favorit Anda. Cobalah untuk menikmatinya dan asah terus kepekaan puitik Anda. Begitulah. Terus-menerus. Sembari berlatih menulis, Anda secara tak langsung akan menerapkan gaya penulisan dari para penyair yang Anda baca. Selama Anda tidak melakukan plagiat, Anda boleh-boleh saja mencotoh teknik dari puisi penyair yang Anda baca.

***


Jangan lupa, baca juga biografi lengkap penyair besar Indonesia Chairil Anwar
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar