Teater Itu Menyentuh: Pentas Monolog Danarto di TIM

Lama mencari tetapi tak pernah bertemu, maka pada tanggal 27 Desember 2006 hati nurani kita tersentuh lebih dalam. Dalam sebuah monolog yang berjudul "Hanya Orang Gila yang tidak Korupsi", Danarto menggugah penonton bagai menusuk kesadaran dengan sebilah pisau. Pertunjukan monolog yang syahdu tersebut diadakan di panggung teater kecil Taman Ismail Marzuki dalam acara peringatan HUT Kedua FTI (Federasi Teater Indonesia).

Dalam pentas tersebut, ia berperan sebagai anggota DPR yang sedang ditelepon oleh Ibu Ani--kita menafsirkannya sebagai isteri Presiden SBY. Ia pun meyakini bahwa problem korupsi adalah sesuatu yang lazim dan ia juga menjelaskan bahwa hanya orang yang tidak waras yang tidak melakukan korupsi.

Bahkan dalam ibadah salatnya, ia mendengar Tuhan mengatakan akan memukulinya jika ia ketahuan korupsi. Mendengar Tuhan berbicara begitu, mulanya ia ketakutan. Namun karena terdesak dan kepepet, akhirnya ia berani menentang "suara" tersebut. Lalu ia ambil pistol dan dengan segala daya upaya ia melawan. Tapi sebenarnya apa yang sedang ia lawan? Di sini muncul banyak tafsir mengenai hal itu. Bisa jadi melawan kekuasaan yang bertangan besi atau sejenisnya.

Teater Itu Menyentuh
Sumber gambar: Pixabay/383961

Monolog tersebut sangat menarik kisahnya! Sangat menyentuh kondisi moral bangsa yang lagi tercabik-cabik. Suara Danarto terdengar lembut, tapi benar-benar menohok dan meneriakkan jika bangsa kita sangat korup! Kita tentu ingat pada tahun 1970 Arifin C. Noer dengan naskah Tengul-nya mencoba merobek kesadaran kita yang sudah rusak oleh mental korup negeri ini. Maka apabila hari ini, tahun 2006, nurani kita nyatanya masih digedor-gedor oleh cerpenis dan penulis sekaligus aktor Danarto, berarti keadaan kita tak jauh berbeda dan ini hanya membuat pilu bangsa ini.

Dari monolog ini kita dapat menimba hikmah bahwa teater sebagai salah satu pertunjukan kesenian sebetulnya mempunyai kekuatan yang besar untuk menggedor, mendobrak, menusuk segala hal ketidakbenaran yang ada pada diri manusia menggunakan cara yang menawan.

Hanya, masalahnya ialah mampukah aktor melakukan hal tersebut? Pertanyaan ini secara tak langsung menyentakkan hati kita bahwasanya teater kita telah lama mandul. Seakan-akan ada kekuatan di luar teater yang merusak secara perlahan hingga teater mati dan orang-orang pergi dengan berbagai alasannya dan yang paling mengena adalah alasan ekonomi.

Kita teringat kembali pada masa Orde Baru bahwa jika kita hendak berteater, maka kita selalu diingatkan bahwa dala kondisi ekonomi yang sulit lebih baik membuat tontonan yang menghibur. Dalam arti lain, menghibur maksudnya adalah membikin sesuatu untuk lucu-lucuan saja. Selain itu, kita diminta untuk jangan membuat rakyat berpikir berat, karena rakyat sudah letih dalam rutinitas sehari-hari dalam mencari sesuap nasi, sedangkan isteri pada pejabat negara mencari sesuap berlian.

Hari ini, Danarto membuka hati kita bahwa pekerja-pekerja teater harus dibangunkan. Mereka harus membuka mata lebar-lebar. Sebagaimana pesan yang disampaikan Edi SEdiawati, mantan Dirjen Kebudayaan, kepada Teater Keliling: bahwa di mana pun berada harus selalu membuka telinga dan mata lebar-lebar. Melihat dan mendengar merupakan latihan yang harus selalu diasah. Seorang aktor harus menajamkan telinga dan matanya!

Dalam teori teater disebutkan bahwa teater merupakan suatu kerja bersama. Kebersamaan ini harus menonjolkan cara kita melihat dan mendengar. Pemain teater pertama kali dapat belajar dengan mendengar dan melihat lawan main, pekerja artistik, sutradara, dan penonton. Untuk itu, mendengar dan melihat harus menjadi sebuah habit/kebiasaan karena akan meningkat kepekaan pikir dan rasa tatkala berada di tengah-tengah masyarakat. Hal demikian adalah modal terbesar bagi seorang aktor. Kemampuan dan kepekaan terhadap lingkungan sosial adalah modal bagi aktor untuk memainkan sesuatu yang disebut bahasa tersirat.

Pada masa Orde Baru kita masih ingat betapa terkerangkengnya jiwa lantaran tak mendapatkan ruang untuk mengungkapkan kondisi moral bangsa. Saat itu yang ada hanya rasa takut pada penguasa yang anti-kritik. Maka tak mengherankan jika saat itu ketika berkumpul, anak-anak muda sering kali membicarakan masalah sosial politik. Meski hanya terhitung jari, tetap ada seniman yang masih setia dengan hati nurani. Mereka senantiasa menyuarakan kondisi bangsa yang sedang sakit dan kekuasaan korup serta menindas.

Suasana zaman Orde Baru itu saat ini rasanya sudah menghilang. Ketika zaman sudah terbuka, anehnya kita tak lagi membicarakan masalah sosial dan politik bangsa saat ini. Padahal masalah tersebut adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Hingga banyak orang yang menulis lewat koran tetapi malah jadi hambar. Bahkan demonstrasi itu adalah pemandangan yang lazim dan tidak berefek apa-apa pada penguasa. Melihat kenyataan ini, apa yang bisa dilakukan teater?

Sebenarnya Danarto telah menyuarakan dengan baik pada monolognya. Ia mampu membuat karya teater yang menyentuh hati, tetapi tidak serampangan. Memang, bahasa dalam kesenian bukanlah bahasa "kekerasan". Karena itu, dalam obrolan kongkow-kongkow di warung kopi perlu dihidupkan lagi diskusi kritis membahas isu-isu sosial politik dan segala hal yang terjadi belakangan ini.

Pemain-pemain teater yang masih muda dan remaja perlu diajak untuk meningkatkan pendengaran dan penglihatan pada lingkungan bangsa ini. Saat jiwa mulai geram, kesal, marah, meronta-ronta, maka harus lepaskan saja. Tapi sebelumnya mereka memang sudah dibekali pelatihan seni teater agar daya gedornya tidak "kasar".

Kita yakin dan percaya bahwa teater mempunyai kekuatan untuk mengkritik, sehingga dapat membuat penonton jadi sadar bahwa kepekaan mereka telah lama terpendam oleh hiruk-pikuk kehidupan yang menyengsarakan akibat kebodohan dan kemiskinan yang mendera. Kita yakin jika teater mampu melakukan hal itu dan membuat penonton terbuka pintu hatinya. Betul apa yang dikatakan Rendra pada tahun 1970 bahwa penonton teater kita itu mandul dan tidak punya selera sehingga tugas pekerja teaterlah yang menentukan selera penonton.

Dalam 32 tahun terakhir memang para pekerja teater kita kehilangan kepekaan dan daya upaya. Dengan demikian, yang muncul hanyalah nyanyian belaka atau lagu yang membuat rakyat tidur nyenyak. Humor yang ada hanya humor tong kosong. Goyang pinggul para penyanyi membuat kita mabuk dan terlena oleh keadaan.

Sesungguhnya kita mempunyai banyak naskah dram. Begitu pun kehidupan kita sudah dipenuhi drama-drama, dari monolog sampai kolosal. Fragmen-fragmen yang menyedihkan, menyakitkan, mengenaskan, sampai komedi tersedia untuk kita dan kita hanya perlu mengambil dan mementaskannya di atas panggung.

Kita tak perlu bingung lagi mencari naskah drama. Bencana alam tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, lumpur Lapindo, Trisakti, Semanggi Satu dan Dua, flu burung, pemilihan umum, harga kebutuhan pokok yang menjulang tinggi, korupsi yang menggurita di mana-maa, dan lain-lainnya adalah modal besar untuk membuat naskah drama yang bagus. Tapi pada saat ini kita benar-benar kehilangan penulis drama yang mampu dengan peka melukiskan kenyataan tersebut menggunakan bahasa seni yang menggedor hati nurani.

Yang kita butuhkan adalah penulis yang sanggup memiliki daya renung yang kuat. Dengan demikian, karya tulis yang dibuatnya bukanlah "kekerasan" yang diungkap melalui kata-kata. Itu sebabnya, jika tidak ada perenungan yang kuat, pengendapan, dan tak ada penelitian, maka karya yang dihasilkan akan "kering", sehingga karya tulis dramanya jadi asal bunyi dan kasar. Seharusnya hal ini menjadi modal besar untuk menciptakan naskah drama dan teater Indonesia.

0 Response to "Teater Itu Menyentuh: Pentas Monolog Danarto di TIM"

Post a comment