Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Drama Absurd: Pengertian, Sejarah Singkat, dan Sejak Kapan Ada di Indonesia

Istilah absurd/absurditas ini mengacu pada sejumlah karya baik dalam drama/teater dan prosa fiksi yang mempunyai kesamaan pandangan bahwa kondisi manusia sejatinya adalah absurd dan situasi demikian hanya dapat diwakilkan secara baik dalam karya sastra yang absurd atau tidak masuk akal.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), absurd memiliki pengertian "tidak masuk akal atau mustahil".

Gerakan absurditas ini dalam sejarah literatur pernah muncul di Perancis setelah Perang Dunia II (1939-1945) sebagai pemberontakan pada nilai-nilai dan kepercayaan dalam kebudayaan dan sastra tradisional.

Drama Absurd
Source: tiburi/Pixabay

Tapi pada tahun 1940-an, terdapat suatu tendensi yang meluas terutam pada filsafat eksistensial yang didengungkan oleh Jean Paul Sartre dan Albert Camus. Mereka melihat manusia sebagai subjek eksistensi yang terisolasi dan terlempar ke alam semesta yang asing.

Selain mereka berdua, absurditas juga tecermin dalam karya-karya drama Eugene Ionesco, French author of The Bald Soprano (1949) dan The Lesson (1951), serta lakon-lakonnya yang menguarkan kalimat seperti: "Putus dari akar agama secara transendental. Manusia pun kalah. Semua tindakannya jadi tidak masuk akal dan tidak berguna."

Selain itu, Ionesco juga mengatakan bahwa orang-orang yang tenggelam dalam ketiadaan makna hanya akan menjadi aneh dan penderitaan mereka hanya tampak tragik oleh cemooh.

Penulis drama peraih Nobel, Samuel Beckett, juga menggunakan absurditas sebagai titik pijak naskah-naskah drama serta karangan prosanya. Lihat saja, misalnya, Waiting for Godot (1945) dan Endgame (1958) adalah sebuah lanskap irasionalisme, ketidakberdayaan, dan ketidakmasukakalan kehidupan dengan bentuk yang dramatis karena menolak penalaran logis, realisme, dan plot yang koheren.

Sejak kapan muncul teater absurd di Indonesia dan diperkenalkan oleh siapa?

Pada tahun 1970-an, teater di Indonesia berkembang pesat dan disebut sebagai masa keemasan. Di tahun-tahun ini, produksi teater terus meningkat, terutama ketika berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM). Adanya pusat kesenian yang terletak di Jakarta ini membuat gairah berkesenian, termasuk teater, berkembang dan produktif.

Di tahun itu juga, banyak seniman kita melakukan inovasi pada teater. Dari bentuk konvensional ke bentuk yang inkonvensional atau eksperimental. Pengaruh drama dari Barat, seperti Beckett, Ionesceo, dan Camus, memberikan warna baru bagi jejak teater absurd di Nusantara. Belum lagi, ada beberapa penerbit, seperti Pustaka Jaya, yang menerbitkan terjemahan naskah-naskah lakon absurd dari Barat tersebut turut mempopulerkan jargon absurditas.

Beberapa contoh pengarang lakon di Indonesia yang terpengaruh absurditas adalah Putu Wijaya, Wisran Hadi, WS Rendra, dan lain-lain. Misalnya, dalam lakon Bip Bop Rendra yang disebut Goenawan Mohamad sebagai teater mini kata merupakan salah satu contoh bentuk absurditas. Dalam panggung, para pemain tidak banyak bicara, melainkan “meminimalkan” ucapan karena digantikan dengan gerak sebagai “bahasa” percakapan. Penonton bisa menafsirkan bahwa situasi tersebut merupakan keadaan ketika terjadinya kegagalan komunikasi pada manusia.

Post a comment for "Drama Absurd: Pengertian, Sejarah Singkat, dan Sejak Kapan Ada di Indonesia"

Berlangganan via Email